NovelToon NovelToon
Obsesi Kakak Tiriku Hyper

Obsesi Kakak Tiriku Hyper

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

"Kak Luis, tolong jangan ... ini menyakitkan!" titah Laura dengan wajah memerah. Bahkan ia memalingkan wajahnya ke arah lain. "Kamu berani menegurku!" Wajah Luis nampak menyeramkan. "Kak Luis ... Maafkan aku ... " Ucapan Laura saat tiba-tiba Luis beralih menciumnya. "Ini adalah hukuman karena kamu berani menentang perintahku Laura Ana ... " Kedua bola mata Laura membelalak sempurna, saat Luis ingin ... Luis Lucian sangat membenci Laura Ana, ia menganggap jika Laura anak haram dari ayahnya yang membuat ibunya pergi. Padahal yang sebenarnya terjadi, saat Lucian berumur 15 tahun, ibunya pergi karena berselingkuh. Sementara Laura anak dari sahabat ayah Lucian yang kedua orang tuanya meninggal saat kecelakaan. Saat umur 16 tahun, Laura dibawa kerumah Lucian dan tinggal disana. Karena kelebihan yang diderita Laura, Lucian mengira Laura pernah hamil dan melahirkan. Dia terus menganggu dan mempermainkan perasaan Laura, walaupun bagi Luis, ia dan Laura saudara satu ayah. Luis akan membuat Laur

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12.

Dalam kegelapan gubuk reyot di tengah hutan, Laura terjepit di antara wajah-wajah kasar para preman yang mengelilinginya.

Matanya melebar, napasnya memburu, tubuhnya gemetar tak berdaya.

Bau lembap dan busuk kayu lapuk menyengat hidungnya, semakin menambah rasa mual yang menggerogoti perutnya.

Tiba-tiba, sebuah denyutan nyeri menusuk pelipisnya, membuat kepalanya seperti dihantam palu berat. Telinganya berdengung, seolah suara dunia luar berubah jadi gema jauh yang memudar.

Bayangan samar masa lalu menyelinap, potongan ingatan sebelum kecelakaan tiga tahun lalu mengambang di benaknya—tangan yang kasar, jeritan tanpa suara, dan ketakutan yang membeku.

Saat para preman mulai merengkuhnya dengan niat jahat, pintu gubuk tiba-tiba terbuka, dan dua sosok muncul seperti cahaya di tengah kegelapan.

Salah satu dari mereka segera menyambar Laura, menggendong tubuhnya yang lemah dengan penuh perhatian.

Perlahan, kepalanya yang berdenyut mulai tenang saat sentuhan lembut tangan itu memberinya rasa aman yang telah lama hilang.

Nigel, dengan wajah tegas namun penuh empati, menatapnya lembut.

"Laura, aku akan membawamu ke rumah sakit," ucap Nigel dengan suara mantap, memastikan harapan mulai menyala kembali di mata yang semula penuh ketakutan itu.

Tak berselang lama, pintu pengemudi mobil terbuka. Setelah membereskan para preman itu, Gio masuk ke dalam mobil.

"Gio, kita jalan sekarang!" Ujar Nigel pada asistennya.

Di balik deru mesin mobil yang siap melaju, perlahan Laura merasakan kesadaran dan ketenangan yang mulai menyelimuti dirinya, meski luka lama masih mengintai di balik ingatan yang remang-remang.

Nigel melepaskan pelukannya, saat tubuh Laura berhenti bergetar.

Laura menatap ke luar jendela mobil, gedung rumah sakit yang tinggi menjulang menyambutnya. "kak Nigel. Antar aku pulang saja!!" Ujar Laura.

Akhirnya Nigel teringat, kalau Laura sebelumnya mendapatkan ancaman dari Luis.

"Keadaanmu sekarang sangatlah buruk!" Titah Nigel penuh perhatian, lalu memberikan kode pada asistennya untuk menghentikan laju mobil.

Ekspresi Laura yang sebelumnya sangat tenang, kembali buruk.

"Kak Nigel, sekarang jam berapa?" tanya Laura.

"Jam empat sore," sahut Nigel.

"Apa?!" Teriak Laura terkejut. Lalu tangannya memegang tangan Nigel. "Kak Nigel, tolong antar aku ke rumah sekarang! Ku mohon jangan persulit aku."

Nigel menyuruh Gio memutar stir mobil.

Didalam mobil, laura mencengkram baju Nigel yang dipakai olehnya.

Ia ingin mengembalikannya, tapi bajunya sobek. Kalau tidak dikembalikan, Luis pasti akan marah.

"Apakah kamu ingin membeli baju baru dulu?" tanya Nigel, seolah tahu semua yang menjadi kecemasan Laura.

Laura langsung menggeleng. "Langsung antar saja kak!!"

Ingatan Laura teringat saat Julian membelikan baju untuknya, waktu itu ada acara sekolah. Dia di bully oleh teman-temannya Luis, membuat bajunya kotor dan basah.

Julian dengan penuh perhatian membelikan nya baju, alhasil saar Wilson tidak ada di rumah.

Laura harus berdiri didalam kamarnya dengan jendela terbuka saat malam hari, dan hanya boleh memakai dalaman saja.

Sama sekali tidak boleh makan, tidur atau pun duduk. Ia haru berdiri selama 12 jam malam itu.

Luis sendiri juga tidak tidur, pria keji itu duduk di kursi didepannya seraya memainkan ponselnya.

Setelah itu, Laura sakit untuk waktu yang lama.

Mengingat dulu, Luis belum sekejam sekarang. Ntah bagaimana nasibnya sekarang, jika ia sampai memakai baju pemberian orang lain.

Nigel sendiri membantu Laura membersihkan baju bagian bawahnya dengan tisu basah, sementara Laura mulai membersihkan tubuh bagian atasnya tanpa canggung.

Tatapan Nigel tanpa sengaja mengarah ke arah dada Laura, sontak saja jakunnya naik turun.

Selama tiga tahun, tidak bertemu dengan Laura. Ia tidak menyangka, gadis yang sebelumnya mempunyai tubuh setipis triplek bisa berubah menjadi sangat ...

Sontak Nigel menggelengkan kepalanya, lalu memalingkan pandangannya.

Bagaimana pun juga, ia sangat mencintai gadis itu sejak keduanya masih sama-sama berumur 7 tahun. Nigel tidak ingin berpikiran buruk tentang Laura.

Tak berselang lama, mobil pun berhenti.

"Kak Nigel, kapan tim basketmu kembali bertanding dengan tim basket sekolahku?" Tanya Laura yang mana langsung membuyarkan lamunan Nigel.

Nigel menjawab, "dua hari lagi. Memangnya kenapa Laura?"

Laura menatap Nigel penuh senyuman tanpa beban, "aku pasti akan datang membawakan mu bekal makanan yang ku buat. Sebagai ucapan terimakasih karena kamu sudah meminjamkan jaketmu ini!"

"Aku terima niat baikmu untuk memberikanku bekal makan siang, tapi jaketnya buat kamu saja nggak papa!"

Laura tetap menggeleng sungkan, "aku akan mengembalikannya."

Nigel tersenyum seraya mengelus pucuk kepala Laura, "baiklah. Aku nggak akan memaksa."

Laura mengangguk lalu melangkah turun dari mobil Nigel dengan langkah ringan, wajahnya tetap tenang meski hatinya bergejolak.

Matanya yang tajam menatap gerbang rumah yang tak pernah ia rindukan.

Nigel menahan diri untuk tidak mengantar Laura masuk.

Ia tahu, memberi ruang bagi Laura adalah keputusan terbaik saat ini.

Dengan suara dingin namun penuh tekad, Nigel berkata pada Gio, asistennya yang setia, "Cari tahu, kehidupan apa yang Laura jalani selama tiga tahun bersama keluarga Wilson Julian?"

Di sisi lain, Luis berdiri tidak jauh dari situ, tepatnya di lantai dua balkon rumah mewahnya.

Kepalan tangannya mencengkeram erat, otot-otot lengannya menegang.

Dadanya terasa terbakar, sesak yang menyesakkan dada setiap kali ia melihat Laura bersama dengan laki-laki lain.

Wajahnya memerah, campuran antara amarah dan rasa cemburu yang tak bisa ia sembunyikan.

Suaranya bergetar saat akhirnya ia melontarkan kata-kata penuh tuduhan, "Ternyata kamu mulai nggak patuh!" Tatapannya menusuk seperti bara api, ingin membakar setiap keberanian Laura yang kini mulai mandiri dan menjauh dari bayang-bayang keluarganya.

Laura melangkah masuk ke kamarnya dengan napas terengah-engah, dada yang sesak membuatnya sulit menenangkan diri.

Ia menutup pintu perlahan, memastikan tak ada suara lain di sekitar. "Untung kak Luis nggak ada," bisiknya, suara serak menandakan betapa lega hatinya.

Tangan gemetar saat ia meraih jaket yang melekat pada tubuhnya, perlahan melepasnya.

Mata Laura tertuju pada bekas merah membara di dadanya yang terlihat jelas menembus kain baju yang sudah sobek di sana-sini.

Luka itu bukan hanya luka fisik, tapi juga luka yang menggores hatinya dalam-dalam.

Setelah masuk ke kamar mandi, ia menutup pintu rapat, membiarkan air hangat mengalir, seolah ingin membersihkan bukan hanya kotoran di kulitnya tapi juga kepedihan yang membekas.

Namun bayangan kejadian tadi tak kunjung pergi, membuatnya menahan isak yang hampir pecah.

Di luar pintu kamar mandi, Luis berdiri dengan tangan terkepal, wajahnya membara oleh amarah yang salah paham.

Matanya menatap baju robek itu dengan kebencian yang membuncah.

Dalam benaknya, ia menyimpulkan hal terburuk—adiknya menjual diri pada Nigel, lelaki yang baru-baru ini muncul dalam kehidupan mereka.

Perasaan dikhianati dan marah menguasai seluruh pikirannya, membuat dada Luis sesak dan tangannya bergetar menahan dorongan untuk menghancurkan apa pun yang ada di hadapannya.

Luis memilih untuk ikut masuk ke dalam kamar mandi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!