NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Pembantu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:19.7k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

-Spin off 'NOVEL PURA-PURA JADI SUPIR'-

Sepuluh tahun mendekam di penjara mengubah Bianca Adytama dari nona muda angkuh menjadi wanita yang haus akan ketenangan. Membuang nama besarnya, ia pergi ke sebuah desa di Jawa Barat dan menyamar sebagai pelayan bernama Gita.
Di sebuah villa mewah milik seorang juragan perkebunan, Gita berharap bisa hidup tenang. Namun, kedatangan Arlan Dirgantara—putra sulung sang juragan yang baru bercerai—mengacaukan segalanya.
Arlan tidak buta. Ia tahu Gita bukan pelayan biasa. Gerak-geriknya terlalu elegan, bicaranya terlalu cerdas, dan sorot matanya menyimpan rahasia gelap. Dari rasa penasaran menjadi obsesi, Arlan mulai menjerat Gita dalam permainan cinta yang menegangkan.
Sanggupkah Bianca mempertahankan penyamarannya saat masa lalu yang ia kubur mulai tercium oleh pria yang terobsesi memilikinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Stella merangsek masuk sebelum Arlan sempat mencegahnya. Ia berjalan menuju Bianca dengan langkah angkuh. Bianca tetap berdiri tegak. Meski hanya mengenakan pakaian sederhana dan jari-jarinya masih terbalut perban tipis sisa pengobatan Arlan tadi, aura "putri" yang ia miliki tidak luntur. Ia tidak menunduk. Ia tidak gemetar. Ia hanya menatap Stella dengan ketenangan yang mematikan.

"Oh, jadi ini?" Stella melangkah mendekati Bianca, memutarinya seperti predator yang sedang menginspeksi mangsa. "Ini perempuan yang membuatmu mendadak jadi pria suci, Arlan? Pelayan desa yang baunya saja masih bau tanah perkebunan?"

Bianca tetap diam, namun matanya mengikuti setiap pergerakan Stella.

"Kamu!" Stella berhenti tepat di depan wajah Bianca. "Kamu perempuan murahan yang tidak tahu diri. Apa kamu tahu siapa yang kamu hadapi? Kamu pikir dengan wajah memelas dan seragam pembantumu itu, kamu bisa merebut suamiku? Kamu hanyalah selingkuhan yang digunakan Arlan untuk membalas dendam padaku!"

Arlan melangkah maju, tangannya mengepal. "Stella, jaga bicaramu! Kita sudah bercerai. Tidak ada rumah tangga yang dirusak di sini, karena kamu sendiri yang menghancurkannya dengan keserakanmu!"

Tapi Stella sedang dalam puncak histerisnya. Ia tidak mengindahkan Arlan. Jarinya yang berkutek merah terang menunjuk tepat ke hidung Bianca.

"Kamu perusak rumah tangga orang! Demi kamu, Arlan berubah. Demi kamu, dia berani mengirimkan surat gugatan balik padaku. Apa yang kamu berikan padanya, hah? Tubuhmu? Atau ramuan desa?"

Bianca menarik napas dalam-dalam. Ia tidak berteriak. Ia tidak menangis. Sebaliknya, ia melangkah maju satu inci, membuat Stella sedikit terkesiap oleh keberaniannya.

"Nyonya Stella," suara Bianca keluar dengan tenang, berat, dan penuh wibawa—suara yang biasanya dimiliki oleh mereka yang terbiasa memberi perintah, bukan menerima.

"Kata 'murahan' adalah proyeksi yang menarik dari seseorang yang baru saja mengakui bahwa dia menyogok petugas keamanan untuk masuk ke rumah orang lain tanpa izin."

Stella membelalak. "Kamu berani menjawab?!"

"Saya tidak menjawab, saya hanya meluruskan fakta," lanjut Bianca, suaranya mengalir seperti air dingin di tengah api. "Anda menuduh saya merusak rumah tangga? Sebuah rumah tangga dibangun di atas kepercayaan, bukan atas berapa banyak aset yang bisa dikeruk saat perceraian. Jika Tuan Arlan berubah, mungkin itu karena dia akhirnya menemukan kedamaian yang tidak pernah bisa Anda berikan."

"Kamu... dasar tidak tahu—" Stella dengan emosinya yang meluap, namun ia segera mengerem bicaranya saat melihat kilat berbahaya di mata Arlan.

"Cukup, Stella!" Arlan menyambar lengan Stella, tarikannya tegas namun tidak kasar, cukup untuk membuat wanita itu berpaling darinya. "Jangan pernah lagi kamu menginjakkan kakimu di sini. Dan jangan pernah, seumur hidupmu, kamu menghina Gita lagi."

"Kamu membelanya, Arlan? Kamu membela pembantu ini di depan istrimu?!"

"Mantan istri," koreksi Arlan dengan nada sedingin es. "Dan ya, aku membelanya karena dia memiliki martabat yang jauh lebih tinggi daripada semua perhiasan yang kamu pakai malam ini. Sekarang, keluar. Sebelum aku memanggil polisi untuk menyeretmu atas tuduhan masuk tanpa izin."

Stella menggeram, wajahnya yang cantik kini tampak buruk karena amarah yang tidak terkendali. "Kamu akan menyesal, Arlan. Kamu akan menyesal memilih sampah ini daripada aku!"

"Kita akan bertemu di pengadilan, Stella. Persiapkan pengacaramu, karena aku tidak akan memberikan satu sen pun dari aset yang kamu coba curi melalui dokumen palsu itu," ujar Arlan tanpa emosi.

Setelah beberapa makian terakhir yang tidak digubris, Stella akhirnya keluar dengan menghentakkan kakinya. Suara pintu yang tertutup dengan dentuman keras seolah menandai berakhirnya satu babak drama, namun justru memulai badai baru di dalam ruangan itu.

Keheningan kembali menyelimuti penthouse. Arlan mengatur napasnya, bahunya yang tegang perlahan turun. Ia berbalik menatap Bianca yang masih berdiri di tempat yang sama. Wanita itu tampak sangat tegar, namun Arlan bisa melihat sedikit getaran di bahunya.

Arlan mendekat, mencoba menyentuh lengan Bianca. "Gita... maafkan dia. Dia gila."

Bianca mundur selangkah, menghindari sentuhan Arlan. Ia menatap Arlan dengan sorot mata yang sulit diartikan—sedih, namun juga penuh determinasi.

"Terima kasih, sudah membela saya, Tuan," bisik Bianca.

**

Di lantai teratas gedung pencakar langit itu, kebisingan kota hanya terdengar seperti dengung rendah yang jauh. Di dalam kamar tamu yang luas namun terasa asing, Bianca—akhirnya menyerah pada kelelahan yang menghimpit jiwanya. Ia terlelap di atas ranjang dengan sprei sutra yang dingin, sebuah kemewahan yang dulu adalah rutinitasnya, namun kini terasa seperti beban yang mengingatkannya pada masa lalu yang ingin ia kubur.

Napasnya teratur, namun jemarinya sesekali bergerak gelisah di atas selimut. Dalam tidurnya, ia seolah masih mencium aroma tanah basah dari kebun teh, tempat di mana ia merasa benar-benar bisa bernapas tanpa perlu takut pada penilaian dunia.

Sementara itu, hanya terpisah beberapa koridor, cahaya lampu meja dari ruang kerja Arlan masih menyala terang.

Arlan menyandarkan punggungnya di kursi kulit yang ergonomis, namun tubuhnya sama sekali tidak merasa rileks. Di depannya, tumpukan berkas penting menunggu tanda tangan mutlaknya, namun fokus pria itu sudah buyar sejak mereka menginjakkan kaki di Jakarta. Matanya terpaku pada sebuah folder cokelat tanpa label yang ia dapatkan dari penyelidik pribadinya beberapa hari lalu.

Isinya sangat minim. Gita Ivara. Wanita tanpa riwayat media sosial, tanpa catatan pekerjaan formal di kota besar selama sepuluh tahun terakhir. Hanya ada satu catatan yang membuat rahang Arlan mengeras setiap kali membacanya: Baru menyelesaikan masa hukuman di lembaga pemasyarakatan wanita atas kasus rencana pembunuhan.

"Siapa sebenarnya kamu, Gita?" gumam Arlan, suaranya parau membelah kesunyian ruangan.

Ia memutar kembali ingatan tentang makan malam tadi. Cara wanita itu memegang pisau steak, cara dia meletakkan serbet di atas pangkuan dengan satu gerakan halus yang presisi, hingga caranya memasak hidangan Barat yang rumit tanpa sedikit pun kebingungan. Itu bukan keterampilan yang didapat dari sekadar menonton televisi di desa. Itu adalah muscle memory—ingatan otot yang tertanam karena kebiasaan bertahun-tahun dalam lingkaran elite.

Ada sebuah paradoks yang menarik hati Arlan. Ia melihat seorang wanita yang mencoba menghapus eksistensinya dengan menjadi pelayan, namun aura berkelas di balik seragam abu-abunya justru bersinar lebih terang daripada berlian Stella yang paling mahal sekalipun.

Arlan, yang selama ini skeptis dan menganggap wanita hanyalah pemburu harta, merasa dinding pertahanannya mulai goyah. Ia tidak melihat kerakusan di mata Gita. Ia justru melihat sebuah luka yang dalam, sebuah keinginan untuk menghilang, dan ketegaran yang membuatnya ingin mendekat bukan untuk menguasai, melainkan untuk melindungi.

Arlan berdiri, berjalan menuju dinding kaca yang menampilkan kerlip lampu Jakarta. Posisinya saat ini sangat berbahaya. Stella sedang mencoba membekukan asetnya, gosip mulai beredar, dan ia justru membawa seorang wanita misterius dengan catatan kriminal ke dalam rumah pribadinya.

Impulsif. Tidak logis. Sangat bukan Arlan Dirgantara.

Namun, rasa penasaran itu sudah berubah menjadi obsesi yang lebih dalam. Ia ingin menyelami kehidupan yang sesungguhnya dari perempuan itu. Ia ingin tahu dosa apa yang sebenarnya ia tebus hingga ia rela membuang semua kemewahan yang jelas-jelas pernah ia miliki.

Tiba-tiba, pendengaran Arlan yang tajam menangkap suara samar dari arah luar ruang kerja. Suara langkah kaki yang tergesa-gesa, diikuti oleh bunyi benda terjatuh yang cukup keras dari arah dapur.

Arlan segera beranjak. Ia tidak menyalakan lampu koridor, membiarkan tubuhnya bergerak dalam kegelapan yang familiar. Saat ia mencapai area dapur terbuka, ia melihat Bianca berdiri di sana. Wanita itu tidak lagi mengenakan seragam pelayannya, melainkan piyama satin tipis berwarna gelap yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang rapuh.

Bianca tampak sedang mengatur napasnya yang memburu. Di lantai, sebuah gelas kristal sudah hancur berkeping-keping.

"Gita?" panggil Arlan pelan.

Bianca tersentak, bahunya bergidik hebat saat ia berbalik. Cahaya bulan yang menembus jendela kaca besar menerangi wajahnya yang pucat. Matanya berkaca-kaca, penuh dengan sisa-sisa mimpi buruk yang baru saja menyerangnya.

"Tuan... Maaf, saya... saya hanya haus dan saya tidak sengaja menjatuhkan gelasnya," bisik Bianca, suaranya bergetar hebat. Ia mencoba membungkuk untuk memungut pecahan kaca itu dengan tangan telanjang.

"Jangan disentuh!" Arlan melangkah cepat, menyambar pergelangan tangan Bianca sebelum jemarinya menyentuh pecahan tajam itu. "Kamu bisa terluka."

Arlan menarik Bianca berdiri. Dalam jarak yang sangat dekat ini, ia bisa merasakan panas tubuh wanita itu dan aroma samar bunga kamboja yang seolah dibawa dari desa. Posesifitas Arlan muncul seketika; ia tidak membiarkan Bianca menjauh. Tangan Arlan berpindah ke bahu Bianca, menahan wanita itu agar tetap di depannya.

"Mimpi buruk?" tanya Arlan, suaranya melembut, kehilangan semua otoritas dinginnya.

Bianca menunduk, tidak berani menatap mata Arlan. "Hanya... bayangan masa lalu, Tuan."

Arlan mengangkat dagu Bianca dengan jemarinya, memaksa wanita itu menatapnya.

"Lupakan masa lalu yang pahit itu, sekarang waktunya kamu meraih masa depanmu."

Bianca terpaku, setelah sadar Bianca langsung menundukkan kepalanya sambil mengangguk. “Iya, Tuan.”

Arlan meraih tangan Bianca, menggenggamnya begitu erat seolah wanita itu adalah satu-satunya pegangannya di tengah badai.

***

1
Anisa Sudarwanto
lnkut thorr
Mundri Astuti
Kirana coba muncul sama Raditya yak
Verawati Naycyl
Stella kamu salah memilih lawan.....bisa bisa kamu sama Mahendra bakalan di bikin nangis darah
fatmawati (pipit)
stella kamu blm mengenal keluarga adytama, jari lentik seseorang bisa membuka tabir kebusukan mu dan keluarga mu dlm pencurian aset milik arlan
Mundri Astuti
lanjut thor 🙏
Mukeseh
stella belum ae siapa gita ivara 🤣🤣 apalagi kalau mahendra tau apa gak syok dia 🤭
Sri Murtini
Byanka tenang saja blm saatnya kau kembali ke Surabaya
ryuka
adduuhhh duuhh bianca gimana ini 🤭🤭🤭🤭🤭
Mukeseh
lagi thorr
fatmawati (pipit)
stella kau blm mengenal bianca secara seluruhnya, mungkin dia di penjara bukan karna kemauannya karna ada seseorang yg menjebak dia dan keluarga adytama hancur
mungkin juga karna musuh raditya
fatmawati (pipit): yg itu aku lupa🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
fatmawati (pipit)
kau blm mengenal biaca adytama (gita Ivana) kau ingin menjatuhkan bianca maka kau akan berhadapan dengan sisi lainnya bianca
ryuka
aduuhhh bianca kamu berhak bahagia 🫠🫠🫠🫠🫠
Mundri Astuti
Mahendra minta dikepret ma Kirana dan raditya
Mundri Astuti
jangan harap bisa nyentuh Bianca kaya si bunglon Stella Mahendra, krn da Raditya, Kirana dan Aditama ...
mudah"an Kirana cepet tau dan mintol Radit buat kasih bodyguard jaga Bianca dari jarak jauh
Mukeseh
huuuu 😂😂semoga atrlan bisa mrlindu gi
Verawati Naycyl
gak sabar nunggu kelanjutannya thor....bakalan di apain Bianca sama Arlan..
Verawati Naycyl
lanjut thor..
Mundri Astuti
diihhhh Arlan, Gita atau Bianca ga terus terang itu krn privasinya, emang selama ini dia ngerugiin kamu kaya mantanmu itu...ngga kan
Sri Murtini
Arlan...siapapun Gita kamu harus hati " bikin dia nyaman disisimu jgn sampai lepas
Mukeseh
deg deg thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!