NovelToon NovelToon
Salah Alamat Berujung Di Pelaminan

Salah Alamat Berujung Di Pelaminan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Nayla Putri tidak menyangka kalau niatnya menolong orang yang pingsan di depan pintu rumahnya harus berahir di pelaminan Bagaimana Nayla menjalani pernikahan dadakannya itu ? apakah Nayla akan bahagia ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari pertama Menjadi Istri

Gibran merasa tersindir dengan ucapan Nayla "Nayla, tolong jangan dibahas dulu bagian itu," potong Gibran sambil memejamkan mata, memegangi kepalanya yang kembali berdenyut. "Kepala gue beneran mau pecah sekarang. Bisa ... bisa gue minta air putih hangat? Atau apa saja yang bisa ngilangin rasa mual ini?"

Nayla mendengus jengkel, namun naluri kemanusiaannya (dan sedikit rasa takut kalau pria kaya ini tiba-tiba mati karena dehidrasi di kontrakannya) membuat Nayla akhirnya melangkah menuju dapur kecil yang menyatu dengan ruang tengah. Dia menyalakan kompor gas portable, menjerang sedikit air, lalu menuangkannya ke dalam sebuah gelas kaca bermotif bunga matahari, dicampur dengan air dingin biasa hingga suhunya pas.

"Ini," Nayla menyodorkan gelas itu ke hadapan Gibran dengan kasar.

"Terima kasih," Gibran menerima gelas tersebut, lalu meminumnya hingga tandas dalam beberapa tegukan besar. Dia mengembuskan napas panjang, tampak sedikit lebih segar setelah cairan itu membasahi tenggorokannya yang kering.

Setelah meletakkan gelas kosong di atas meja, Gibran kembali menatap Nayla dengan ekspresi yang kini jauh lebih serius dan tenang. "Oke, sekarang kita perlu bicara secara rasional sebagai dua orang dewasa yang waras. Situasi semalam itu ... murni kecelakaan dan pemaksaan dari warga sekitar. Lu tahu itu, kan?"

"Tentu saja saya tahu!" ketus Nayla, mengambil tempat duduk di kursi plastik tunggal di seberang sofa, menjaga jarak aman dari suaminya. "Kalau bukan karena bapak-bapak ronda yang kurang kerjaan dan obsesi Pak RT sama penghargaan kampung bermoral, saya tidak akan sudi menyerahkan sisa masa lajang saya kepada pria mabuk yang pingsan di teras saya!"

"Bagus kalau kita punya pemikiran yang sama," kata Gibran, sedikit lega karena Nayla tidak berniat memanfaatkan situasi ini untuk menguras hartanya atau menuntut hak-hak sebagai istri sah. "Jujur, semalam gue terpaksa mengiyakan karena gue panik. Gue enggak bisa bayangin kalau muka gue terpampang di media sosial dengan narasi digerebek warga karena mesum. Reputasi keluarga gue, bisnis ayah gue, semuanya bisa hancur dalam sekejap."

Nayla mencibir. "Oh, jadi karena demi menyelamatkan reputasi agung keluarga Mas Gibran yang terhormat, saya yang harus jadi korbannya? Mas tahu tidak, saya ini perempuan! Di kampung saya, kalau orang tua saya tahu saya menikah tanpa kehadiran mereka, apalagi dengan cara digerebek begini, bapak saya bisa jantungan!"

"Gue tahu, gue tahu, dan gue beneran minta maaf untuk itu," ujar Gibran dengan nada yang tulus, membuat kemarahan Nayla sedikit mereda. Gibran mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan kedua siku di atas lutut.

"Makanya, sekarang kita cari solusinya. Pernikahan ini ... kita anggap aja enggak pernah terjadi. Kita bisa urus perceraian atau pembatalan nikah diam-diam ke pengadilan agama secepatnya, tanpa perlu ada orang lain yang tahu."

Nayla terdiam sejenak. Pemikiran itu memang logis dan sempat melintas di kepalanya. Namun, ingatan tentang ancaman Pak RT semalam kembali membayang.

"Mas Gibran, Mas pikir urusan dengan warga di sini semudah itu?" tanya Nayla dengan nada sangsi. "Pak RT dan Pak Rohiman itu memegang buku catatan pernikahan kita semalam. Mereka bilang, mereka akan memantau rumah ini selama beberapa bulan ke depan untuk memastikan kita benar-benar hidup sebagai suami istri, bukan cuma pura-pura untuk menghindari sanksi adat. Kalau dalam waktu dekat mereka tahu kita cerai atau Mas pergi begitu saja dari sini, mereka bisa menganggap kita mempermainkan warga, dan saya ... saya bisa diusir dari kampung ini dengan tidak hormat."

Gibran mengernyitkan dahi, tidak habis pikir dengan tingkat kefanatikan warga di lingkungan kontrakan Nayla. "Gila ya orang-orang di sini. Kenapa mereka hobi banget ngurusin selangkangan dan rumah tangga orang lain?"

"Sambutlah kenyataan hidup di lingkungan masyarakat menengah ke bawah, Mas Gibran," sindir Nayla dengan senyum getir.

"Tidak semua tempat se-individualis dan se-bebas kompleks perumahan elit di Jakarta Selatan."

Gibran kembali terdiam, otaknya yang biasa digunakan untuk menyusun strategi bisnis korporasi kini dipaksa bekerja keras untuk menyelesaikan krisis domestik tingkat rukun tetangga. Dia menatap ruangan di sekelilingnya kembali sempit, pengap, dan hanya dihiasi perabotan seadanya. Membayangkan dirinya harus tinggal di tempat seperti ini bersama seorang gadis asing yang judes adalah hal yang tidak pernah ada dalam rencana hidupnya.

Namun, sebelum mereka bisa melanjutkan diskusi penting tersebut, sebuah suara dering ponsel yang sangat nyaring mendadak memecah keheningan.

Jeng-jeng-jeng-jeng!

Suara nada dering bawaan ponsel pintar itu bukan berasal dari ponsel Nayla, melainkan dari dalam saku celana jins Gibran. Gibran tersentak, segera merogoh ponselnya.

Begitu dia melihat nama yang tertera di layar sentuhnya, matanya langsung membelalak panik.

"Mampus gue," umpat Gibran lirih.

"Siapa?" tanya Nayla, ikut tegang melihat ekspresi suaminya.

"Sekretaris bokap gue," bisik Gibran dengan suara gemetar. Pria itu menatap Nayla dengan pandangan memohon. "Tolong, lu diam dulu ya. Jangan bersuara sedikit pun. Kalau bokap gue tahu gue enggak pulang semalaman dan terdampar di sini, habis gue."

Gibran menggeser tombol hijau di layarnya, lalu menempelkan ponsel itu ke telinga dengan senyum yang dipaksakan, meskipun lawan bicaranya tidak bisa melihat wajahnya. "Halo, selamat pagi, Pak Baskoro ... eh, maksud saya, Pak Gunawan? Iya, ada apa ya sepagi ini menelepon saya?"

Suara dari seberang telepon tidak terdengar jelas oleh Nayla, namun dia bisa melihat bagaimana perubahan ekspresi wajah Gibran yang semula panik mendadak berubah menjadi sangat pucat, seolah-olah seluruh darah di tubuhnya baru saja disedot habis.

"Apa?! Bapak ... Papa ada di kantor saya sekarang?!" seru Gibran, suaranya naik satu oktav karena syok. "Dan ... Papa minta saya segera datang membawa berkas laporan keuangan kuartal pertama dalam waktu tiga puluh menit?! Tapi Pak Gunawan, saya ... saya sekarang lagi ..."

Gibran melirik ke arah Nayla, lalu beralih menatap kakinya sendiri yang salah satunya masih bertelanjang tanpa sepatu kanvas yang semalam hilang entah ke mana.

" ... saya lagi ada urusan di luar kantor yang sangat mendesak, Pak!" Gibran mencoba bernegosiasi dengan panik. "Bisa tolong sampaikan ke Papa kalau saya akan sedikit terlambat?"

Jawaban dari seberang telepon tampaknya tidak memuaskan, karena sedetik kemudian panggilan itu diputus sepihak oleh sang sekretaris. Gibran menatap layar ponselnya yang menggelap dengan pandangan kosong dan putus asa.

"Ada apa?" tanya Nayla, rasa penasarannya mengalahkan rasa jengkelnya.

"Bokap gue ... dia mendadak datang dari Surabaya dan sekarang sudah nungguin gue di kantor pusat," kata Gibran dengan suara lemas, menjatuhkan kembali tubuhnya ke sofa. "Dia tipe orang tua yang sangat disiplin dan perfeksionis. Kalau dalam tiga puluh menit gue enggak menampakkan batang hidung gue di depan dia dengan pakaian rapi ... posisi gue sebagai direktur operasional di perusahaan keluarga bisa dicopot malam ini juga."

Nayla tertegun. ("Direktur operasional? Anak orang kaya tingkat dewa ternyata,") batinnya. Namun, melihat kepanikan Gibran yang begitu nyata, ada secercah rasa iba yang mendadak menyelinap di hati Nayla.

Nayla melirik jam dinding di ruang tamunya. Sudah pukul tujuh lewat lima belas menit pagi. Jika Gibran harus pulang dulu ke rumahnya di Jakarta Selatan untuk berganti pakaian, maka dalam situasi macetnya jalanan Jakarta pada jam berangkat kerja, hal itu adalah misi yang mustahil dilakukan dalam waktu tiga puluh menit.

Nayla menghela napas panjang, meratapi nasibnya yang tampaknya harus kembali terlibat lebih dalam dengan pria asing ini.

Dia berdiri dari kursinya, lalu berjalan menuju lemari pakaian kecil yang berada di sudut ruang tengah, tempat dia biasa menyimpan beberapa barang cadangan atau pakaian yang jarang dipakai.

"Mas Gibran," panggil Nayla, membuat pria itu menoleh lesu.

Nayla mengeluarkan sebuah kemeja putih polos berkerah yang masih terbungkus plastik rapi dari dalam lemari. Kemeja itu adalah ukuran pria dewasa, berukuran cukup besar yang awalnya dibeli Nayla beberapa bulan lalu sebagai bahan proyek contoh desain seragam kantor, namun belum sempat digunakan.

Nayla melemparkan kemeja plastik itu tepat ke pangkuan Gibran. "Pakai ini. Kemeja flanelmu itu sudah bau alkohol dan mirip kain pel. Di kamar mandi saya ada sabun, sikat gigi baru cadangan, dan handuk bersih. Mandi sana dalam waktu lima menit, pakai kemeja ini, lalu berangkat ke kantormu."

Gibran menatap kemeja putih di pangkuannya, lalu beralih menatap Nayla dengan pandangan mata yang tidak percaya. "Lu ... lu mau bantuin gue?"

Nayla melipat kedua tangannya di depan dada, memutar bola matanya dengan angkuh. "Jangan kegeeran dulu, ya. Saya bantu Mas Gibran sekarang supaya Mas bisa menyelamatkan kariermu. Dan sebagai gantinya, setelah urusan dengan papamu selesai, Mas Gibran harus kembali ke sini untuk membereskan masalah kesalahpahaman dengan bapak-bapak ronda ini sampai tuntas! Bagaimana, setuju?"

Gibran menatap gadis di depannya dengan sebuah senyuman kecil yang pertama kali muncul di wajahnya pagi itu sebuah senyuman yang kali ini tidak terlihat menyebalkan, melainkan penuh dengan rasa hormat yang baru tumbuh.

"Setuju, istriku," jawab Gibran dengan nada bercanda yang sengaja ditonjolkan untuk mencairkan ketegangan.

"Mas Gibran, jangan panggil saya dengan sebutan itu atau saya siram kemeja itu pakai air kopi!" ancam Nayla dengan wajah memerah padam, menyembunyikan rasa canggung yang mendadak menyergap hatinya.

Gibran tertawa pendek, sebuah tawa renyah yang membuat dadanya terasa sedikit lebih ringan, sebelum dia bergegas melangkah menuju kamar mandi untuk memulai hari pertama dalam kehidupan barunya yang sangat tidak terduga ini.

1
SANG
Ceritanya seru banget💪👍
SANG
Hadi💪👍
falea sezi
lanjut q kasih nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!