Maya Farida, mahasiswi Al-Azhar yang terobsesi pada sejarah Islam dan sains, meninggal dalam kecelakaan tragis tepat di hari kelulusannya di Kairo.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun kembali sebagai bayi perempuan bangsawan Quraisy di Mekah abad ke-6 puluhan tahun sebelum kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.
Di dunia yang belum mengenal Islam, Maya harus hidup sebagai Qatilah binti Naufal, putri dari keluarga elit Bani Asad yang berkuasa. Dengan pengetahuan modern yang tak seharusnya ada di zaman itu, ia perlahan mengubah kehidupan di sekitarnya melalui logika, sains, dan kecerdasannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
BAB 7
Namun, di dunia yang kejam ini, harapan sering kali hanyalah racun yang disamarkan.
Lima menit kemudian, tawa Kak Waraqah terhenti. Wajahnya mendadak kaku. Aku mengikuti arah pandangannya ke timur. Di atas bukit karang yang baru saja kami lewati, debu tebal membumbung ke udara. Dari balik gundukan pasir itu, muncul satu penunggang kuda. Kemudian dua. Lima. Sepuluh. Belasan.
Dadaku langsung jatuh berdebum. Napasku berhenti. Rasa lega yang baru saja kurasakan ditarik paksa, digantikan oleh keputusasaan yang sepuluh kali lipat lebih menyiksa. Mereka menemukan kami.
"Lari..." bisik Kak Waraqah. Suaranya serak. Ia berusaha bangkit, namun kedua lututnya bergetar hebat sebelum akhirnya ia kembali jatuh ke atas pasir. Tubuhnya sudah mencapai batas mutlak.
Di kejauhan, para penunggang itu mulai menuruni bukit. Mereka tidak terburu-buru lagi, menyebarkan formasi setengah lingkaran untuk menutup akses pelarian kami kembali ke padang pasir. Mereka tahu mangsanya sudah terjebak. Di depan kami hanya hamparan laut lepas. Di belakang kami para pembunuh.
Selesai sudah.
Kak Waraqah menggenggam belatinya, tangannya bergetar parah. "Maafkan aku, Qatilah..." bisiknya dengan suara hancur.
Aku menoleh. Matanya tidak lagi melihat para pengejar, melainkan menatapku.
"Aku sudah berjanji pada Umi untuk melindungimu," air mata mengalir membelah debu di pipinya. "Aku ingin membawamu ke tempat aman... tapi aku gagal. Aku tidak bisa membawamu lebih jauh."
"Tidak, Kak," balasku, mencengkeram tangannya yang dingin sekuat tenaga. "Kakak tidak gagal! Jangan menyerah sekarang, kita bisa lari ke..."
Kalimatku terputus. Otakku buntu. Lari ke mana? Ke lautan yang akan menenggelamkan kami?
Batinku menjerit putus asa.
Ya Allah inikah alasan Engkau melempar jiwaku melintasi waktu? Untuk apa aku dilahirkan kembali di Jazirah Arab ini? Hanya untuk melihat keluargaku dibantai dan mati di pinggir pantai sebagai balita yang tak berdaya?
Lalu... sebuah suara parau memecah kesunyian.
Aku menoleh ke sebelah kanan. Sekitar seratus langkah dari posisi kami, terdapat sebuah dermaga kayu tua yang nyaris lapuk. Baru sekarang aku menyadari ada kapal kayu berukuran raksasa yang sedang mengangkat jangkar di sana.
Puluhan pria asing bertubuh besar bergerak di atas geladaknya. Sebagian menata peti-peti kargo, sebagian memegang kapak dan tombak berujung besi.
Mereka memperhatikan para pengejar dari Mekah, dan mereka tampak tidak senang wilayahnya dimasuki.
Pemimpin pasukan Mekah memacu kudanya beberapa langkah ke depan, lalu berteriak keras. "Hei, orang-orang asing! Kami tidak punya urusan dengan kapal kalian! Serahkan dua anak itu, mereka buronan klan kami!"
Di atas geladak kapal, seorang pria besar berwajah pucat dengan zirah rantai yang tampak seperti kapten kapal itu mendengus kesal. Ia menggumamkan sesuatu dalam bahasa asing yang kasar kepada anak buahnya.
Seorang kru kapal yang berkulit lebih gelap dengan wajah khas Arab maju ke pinggir geladak. Kru lokal itu meludah ke arah laut, lalu meneriakkan terjemahan ancaman kaptennya kepada orang-orang Mekah.
"Ini wilayah berburu kami, anjing padang pasir!" teriak kru Arab itu dengan lantang. "Semua yang ada di pantai ini adalah properti majikan kami! Maju selangkah lagi, dan panah kami akan menembus leher kalian!"
Aku langsung mengerti situasinya.
Pemimpin para pengejar dari Mekah mengumpat kasar. Ia tahu pasukannya kalah jumlah dan kalah persenjataan dari sindikat maritim ini. "Kalian akan menyesal mencari masalah dengan majikan kami!" teriaknya.
Namun, ia akhirnya mengangkat tangan, menahan pasukannya. Mereka tidak mundur, tetapi juga tidak berani maju. Mereka hanya diam di atas kuda, mengawasi dan menunggu orang-orang asing itu membunuh kami agar pekerjaan mereka selesai tanpa perlu membuang nyawa.
"Sial..." gumam Kak Waraqah.
Kini aku sadar. Kami tidak lagi berada di antara hidup dan mati. Kami berada di antara dua kematian yang berbeda.
Sang kapten berzirah rantai dan sekelompok pria asing itu melompat turun dari dermaga dan berjalan mendekati kami di pesisir. Ada sekitar dua puluh orang. Tubuh mereka tinggi besar, membawa jaring berantai dan tongkat besi.
Kak Waraqah memaksakan diri berdiri dan memosisikan tubuhnya di depanku. Belati kecilnya tampak seperti mainan berkarat dibandingkan senjata mereka.
"Larilah ke air kalau ada kesempatan, Qatilah!," bisiknya tanpa menoleh padaku.
"Kak, tapi..."
"Apapun yang terjadi.., jangan pernah menoleh ke belakang."
Kapten bertubuh paling besar di antara mereka akhirnya berhenti tepat di depan kami. Wajahnya dipenuhi bekas luka tebasan yang mengerikan. Matanya menyipit menilai kami dari atas ke bawah, lalu ia tersenyum menyeringai.
Ia mengatakan sesuatu dalam bahasa asing yang kasar kepada anak buahnya. Aku tidak mengerti bahasa itu, tetapi dari nada suara dan isyarat tangannya, aku tahu itu bukan pertanda baik.
Kak Waraqah menerjang lebih dulu. "JAUHI ADIKKU!"
Ia mengayunkan belati ke arah dada pria itu. Cepat. Berani. Dan sepenuhnya sia-sia.
Pria besar itu bahkan tidak repot-repot mencabut pedangnya. Tangannya bergerak secepat kilat menepis tangan Waraqah, lalu punggung tangannya menghantam keras sisi kepala kakakku.
BRAK!
Tubuh Kak Waraqah langsung terlempar ke samping seperti boneka kain yang putus talinya. Ia menghantam pasir dengan sangat keras.
"KAKAK!" Teriakku.
Darah segar mengalir deras dari pelipisnya. Kak Waraqah tidak bergerak. Tidak bangun. Matanya terpejam rapat.
Dadaku seolah diremukkan oleh batu raksasa. Beberapa menit yang lalu, ia masih tersenyum dan tertawa lega di sampingku. Dunia serasa berhenti berputar.
Tidak, kumohon jangan dia juga! batinku menjerit histeris.
Aku berlari ke arahnya, namun sebuah tangan sekeras batu mencengkeram pinggangku dari belakang. Aku menendang, mencakar punggung tangannya, menggigit, dan meronta sekuat tenaga. Tidak ada gunanya. Tubuh balita ini terlalu lemah. Salah satu kru kapal itu mengangkatku ke udara dengan sebelah tangan, seolah aku tidak lebih berat dari seekor anak domba.
"KAKAK! BANGUN, KAK!" Aku terus berteriak, air mataku tumpah mengaburkan pandangan.
Pria itu memanggulku dengan kasar, membawaku berjalan kembali menuju dermaga. Sambil meronta di atas bahunya, mataku akhirnya menangkap pemandangan jelas dari kapal raksasa yang akan membawaku ke nasib yang tidak kukenal.
Di layar utamanya yang terlipat setengah, terlukis samar seekor elang berkepala dua. Jantungku berdetak lebih keras. Ingatan dari kehidupan asliku sebagai mahasiswi langsung muncul. Lambang yang sering kulihat di buku sejarah. Kekaisaran Bizantium.
Namun yang membuat darahku membeku bukanlah benderanya, melainkan isi geladaknya.
Di sana tidak ada peti rempah atau gulungan sutra. Kulihat barisan manusia kurus kering dari berbagai ras, beberapa berkulit sangat gelap, yang lain berambut pirang kotor kusam. Mereka berdiri meringkuk saling berdempetan. Tercium bau anyir darah, keringat asam, dan luka infeksi yang membusuk. Leher, pergelangan tangan, dan kaki mereka disatukan oleh rantai besi tebal yang bergemerincing setiap kali ombak menghantam lambung kapal.
Napas pendekku seketika tercekat. Orang-orang itu bahkan tidak menoleh saat aku dibawa lewat di depan mereka. Seolah harapan telah lama mati di dalam diri mereka. Tak satu pun dari mereka yang tampak terkejut melihat anak kecil baru dilemparkan ke neraka ini. Aku baru saja lolos dari pembantaian di Mekah, hanya untuk dirantai layaknya binatang dan dijual ke negeri yang sama sekali tidak kukenal.
Pantai. Hamparan laut biru. Kak Waraqah yang terkapar tak berdaya di atas pasir.
Pasukan pembunuh Mekah yang menonton dari kejauhan bak burung nasar. Semua itu perlahan menghilang dari pandanganku saat aku dibawa masuk menembus lorong sempit menuju dasar lambung kapal.
Aku dilemparkan dengan kasar ke sebuah ruangan pengap di bawah palka. Kegelapan seketika menyergap, diiringi bau pesing, kotoran manusia, dan anyir yang membuatku langsung muntah.
Sesaat sebelum pintu palka di atasku ditutup, celah cahaya terakhir itu memperlihatkan langit duniaku yang perlahan menyempit, lalu menghilang sepenuhnya. Tempat di mana kehidupan lamaku sebagai Qatilah binti Naufal, putri bangsawan Mekah, resmi mati.
Hasbunallah wani'mal wakil... bisikku gemetar di tengah kegelapan pekat yang berbau kematian ini. Cukuplah Engkau sebagai penolongku...
BRAK!
Pintu kayu ditutup sangat keras, menyisakan derit gerendel besi yang dikunci paksa dari luar. Kegelapan mutlak langsung menelanku bulat-bulat.
Dan untuk pertama kalinya sejak terlahir kembali di dunia ini... aku benar-benar sendirian.
Tapi kalau ini zaman sebelum kelahiran nabi... manusianya kan udah pada pendek. 😭