“[Ikan Langka! Hadiah 100 Emas!]”
Beni hanyalah nelayan miskin yang hidup penuh penderitaan. Ia dikhianati istrinya, dijebak hingga terlilit hutang, dan hampir kehilangan harapan hidup.
Namun saat berlayar di tengah badai, ia malah tersesat ke lautan misterius yang dipenuhi bahaya. Di sanalah sebuah sistem aneh tiba-tiba muncul di hadapannya.
Dengan bantuan sistem pengumpul emas, bisakah Ye Fan mengubah nasibnya dan menjadi orang terkaya di lautan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Kena NTR wak O_o
Ah! Jangan di dalam... Kai, nanti kalau aku hamil bagaimana? Sudah aku bilang berkali-kali... pakai pengaman dulu..." suara manja Serena terdengar terengah-engah.
"Tidak apa-apa, Serena sayang. Biarkan saja. Kalau kau hamil, itu bagus. Nanti aku yang akan bertanggung jawab. Lagi pula, si pecundang Beni itu tidak akan pernah tahu. Dia terlalu bodoh untuk menyadarinya," jawab sebuah suara pria yang sangat angkuh dan penuh kemenangan.
Itu suara Kai. Anak tunggal dari Kepala Desa yang kaya raya dan berkuasa di tempat ini.
Dunia seakan runtuh menimpa kepala Beni. Seluruh kerja kerasnya, malam-malam dingin yang ia habiskan di tengah laut, rasa lapar yang ia tahan demi memberikan makanan terbaik untuk Serena... semuanya hancur berkeping-keping menjadi abu tidak berharga.
"Sudah... cukup... aku... bersabar!" desis Beni dengan suara yang bergetar hebat karena amarah yang telah mencapai ubun-ubun.
Matanya yang merah karena sedyih melirik ke sudut ruangan dekat pintu. Di sana tergeletak sebuah kapak pemotong kayu berkarat. Tanpa berpikir panjang, Beni menyambar kapak tersebut. Genggamannya begitu kuat hingga buku jarinya memutih dan gemetar.
BRAAKK!
Beni menendang pintu kamar kayu itu hingga engselnya jebol dan menghantam dinding.
Di dalam kamar, di atas ranjang bambu yang reyot, Serena sedang dihimpit oleh Kai. Keduanya tersentak kaget.
"Bangsat! Ke sini kau anjing!" raung Beni. Amarahnya meledak seperti gunung berapi. Ia mengangkat kapaknya tinggi-tinggi, namun tubuhnya bergetar begitu hebat karena luapan emosi yang terlalu besar, membuat langkahnya tertahan di ambang pintu.
Serena melotot dengan mata membelalak sempurna. Seluruh warna di wajah cantiknya mendadak lenyap, menyisakan pucat pasi bagai mayat. "B-Beni?! Ini... ini tidak seperti yang kau kira! Dengarkan penjelasanku dulu!" teriaknya panik sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos.
Berbeda dengan Serena, Kai justru tidak menunjukkan rasa takut sama sekali. Dengan gerakan yang sengaja diperlambat untuk menghina Beni, ia melepaskan dirinya dari Serena, berdiri, lalu memungut pakaian mewahnya di lantai dan memakainya dengan santai.
"Mau ngapain kau, Beni? Mengayunkan kapak karatan itu?" Kai terkekeh sinis, menatap Beni dari atas ke bawah dengan pandangan muak. "Kau mau bertingkah seperti pahlawan? Jangan naif. Lagi pula, asal kau tahu saja, kami sudah melakukan hal ini jauh sebelum kau menikahi Serena. Bahkan... anak pertamamu yang mati karena sakit tahun lalu itu? Itu sebenarnya anak kandungku. Dia memiliki darahku, bukan darah miskinmu."
DEGG!
Beni terdiam. Kapak di tangannya perlahan turun. Kalimat Kai barusan seperti gada raksasa yang menghantam jiwanya hingga berkeping-keping.
Anak pertamanya yang ia tangisi semalaman saat meninggal... ternyata bukan darah dagingnya sendiri. Selama ini, hidupnya hanyalah sebuah lelucon besar yang diatur oleh dua orang di depannya.
Beni menundukkan kepalanya. Bahunya berguncang. Namun, bukannya menangis, sebuah tawa getir dan gila keluar dari tenggorokannya.
"Haha... Hahaha!" Beni terkekeh pelan, lalu tawanya semakin keras, penuh dengan keputusasaan yang mendalam. "Ambil saja! Ambil saja barang murahan itu! Sialan, bangsat, babi, anjing... Kalian berdua tidak lebih dari sepasang hewan hina yang menjijikkan!"
Beni membalikkan badannya, berniat untuk pergi dari tempat terkutuk ini sebelum ia benar-benar kehilangan akal sehatnya dan memotong leher mereka berdua.
Namun, Kai yang merasa terhina dengan ucapan Beni tidak membiarkannya pergi begitu saja. "Berani-beraninya kau mengatai kami hewan?!" Raung Kai sambil berlari cepat dari belakang Beni.
BUGGG!
Sebuah pukulan telak menghantam rahang kiri Beni dari arah belakang. Kekuatan pukulan Kai yang terlatih membuat Beni terjerembap ke lantai tanah, sudut bibirnya pecah dan mengeluarkan darah segar.
"Rasakan ini, Pecundang! Beraninya kau bertingkah sok keras di depanku!" teriak Kai sambil bersiap melayangkan tendangan.
Namun, Beni yang sudah dibutakan oleh amarah tidak tinggal diam. Sambil bangkit berdiri dengan cepat, ia memegang erat kapaknya dan menghantamkannya secara membabi buta ke arah Kai.
"Kau lupa siapa aku, hah?!" teriak Beni dengan mata melotot liar. "Jika bukan karena statusmu sebagai anak kepala desa... aku tidak akan pernah bersikap selembut dulu kepadamu!"
CRAASSH!