NovelToon NovelToon
Penyesalan Suami: Mengejar Mantan Terindah

Penyesalan Suami: Mengejar Mantan Terindah

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Berbaikan
Popularitas:70.6k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Dalam hidupnya Arkana punya satu rasa penyesalan yang teramat sangat. Bahkan dia tidak tahu ketika berpisah dengan Kanaya, wanita itu sedang dalam keadaan hamil.

Sampai suatu hari Arkana bertemu kembali dengan Kanaya, mantan istrinya. Karena ingin menebus rasa bersalahnya, Arkana ingin rujuk dan membangun pernikahan yang sesungguhnya.

Namun, Kanaya yang masih menyimpan luka, enggan rujuk.

Apakah Arkana berhasil mendapatkan hati Kanaya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Kanaya tersenyum hangat saat memasuki ruang rawat Aruna. Di tangannya terdapat sebuah tas berisi beberapa kotak makanan yang ia bawa khusus untuk gadis itu. Begitu melihat kondisi Aruna yang terbaring di ranjang rumah sakit dengan kaki diperban cukup tebal, wajah Kanaya langsung berubah prihatin.

"Ya Allah, Aruna. Sakit sekali, ya?" tanyanya lembut.

Aruna tersenyum malu. "Sedikit, Mbak."

"Sedikit bagaimana? Wajahmu saja masih pucat begitu."

Bu Winda yang duduk di samping ranjang ikut menghela napas panjang. "Namanya juga anak ceroboh."

"Bukan salah Aruna," sahut gadis itu cepat.

Kanaya mengernyit. "Memangnya bagaimana kejadiannya?"

Aruna langsung menceritakan semuanya. Rupanya ia terpeleset di toilet hotel karena lantainya masih basah. Salah seorang cleaning service lupa membereskan ember berisi air dan alat pel yang digunakan. Saat kehilangan keseimbangan, tubuh Aruna terjatuh dan betisnya menghantam bagian besi ember yang cukup tajam.

"Darahnya banyak sekali waktu itu," ujar Bu Winda dengan wajah masih pucat jika mengingat kejadian semalam.

Kanaya ikut membayangkannya. "Kasihan sekali."

Aruna tertawa kecil. "Tapi sekarang sudah lebih baik."

Kanaya mengangguk pelan. Meski bukan keluarga, entah mengapa ia merasa nyaman dengan Bu Winda dan Aruna. Mungkin karena keduanya memperlakukannya dengan tulus sejak awal pertemuan.

"Aku bawakan salad buah dan puding buah," katanya sambil meletakkan kotak makanan di atas meja.

Mata Aruna langsung berbinar. "Wah! Terima kasih, Mbak."

"Harus cepat sembuh."

"Aku pasti cepat sembuh kalau makan buatan Mbak Kanaya."

Mereka semua tertawa. Suasana ruangan yang sebelumnya terasa muram perlahan menjadi hangat.

Namun Kanaya tidak bisa berlama-lama di sana.

Ponselnya sejak tadi terus berbunyi. Pesan demi pesan masuk dari para klien. Ada yang ingin mengubah menu. Ada yang meminta tambahan pesanan.

Bisnis yang semakin berkembang membuat waktu Kanaya semakin padat. Setelah hampir setengah jam mengobrol, ia akhirnya berdiri.

"Maaf, Bu. Aku harus pergi."

Bu Winda langsung mengangguk. "Tidak apa-apa. Kami malah sudah merepotkanmu."

"Jangan begitu."

Kanaya tersenyum. "Aku senang Aruna sudah lebih baik."

Aruna melambaikan tangan. "Hati-hati, Mbak."

"Jaga kesehatan."

"Iya."

Kanaya lalu berpamitan dan keluar dari ruang rawat.

Pada waktu yang hampir bersamaan, Arkana baru tiba di rumah sakit. Penampilannya jauh lebih rapi dibandingkan malam sebelumnya. Rambutnya sudah tertata. Jas yang dikenakannya terlihat sempurna. Siapa pun yang melihat matanya pasti tahu kalau pria itu tidak tidur dengan baik semalam. Ia terus memikirkan Kanaya.

Langkah Arkana terburu-buru menyusuri koridor rumah sakit. Dia menerima telepon dari asistennya untuk urusan pekerjaan.

Sementara itu di arah berlawanan, Kanaya juga berjalan cepat sambil menunduk memperhatikan layar ponselnya. Dia membalas pesan dari kliennya.

Keduanya sama-sama sibuk. Sama-sama tidak melihat ke depan. Dan takdir kembali mempermainkan mereka.

Mereka berpapasan hanya berjarak beberapa langkah dan hanya beberapa detik saja. Namun, tidak ada satu pun yang menyadari. Mereka melewati satu sama lain begitu saja. Tanpa Arkana sadari bahwa orang yang dirindukan sebenarnya berada sangat dekat.

Saat Arkana masuk ke ruang rawat, Aruna langsung tersenyum lebar. "Wiiis, udah ganteng!"

Arkana menghampiri adiknya. "Gimana kaki kamu?"

"Masih sakit."

"Makanya jangan ceroboh."

Aruna langsung cemberut. "Itu bukan salah aku."

Bu Winda tertawa kecil melihat mereka.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Perhatian Arkana tertuju pada semangkuk salad buah yang sedang dimakan Aruna. Aroma manis segar yang familiar tiba-tiba membuatnya berhenti bergerak.

"Enak?" tanya Arkana.

"Banget." Aruna menyodorkan sendok. "Kakak mau coba?"

Awalnya Arkana hanya ingin mencicipi sedikit. Namun begitu salad itu masuk ke mulutnya, tubuhnya langsung membeku. Sendok di tangannya berhenti bergerak. Matanya membesar dan jantungnya berdetak lebih cepat. Rasa yang sangat dikenalnya. Rasa yang tidak pernah ia temukan lagi selama lima tahun terakhir.

"Ini ...." Suara Arkana terdengar pelan.

Aruna dan Bu Winda menatapnya bingung. "Kenapa?"

Arkana kembali menyuapkan satu sendok lagi. "Tidak mungkin. Namun, rasanya benar-benar sama," batinnya.

Dulu Kanaya sering membuat salad buah untuknya. Wanita itu selalu berkata bahwa resep tersebut diraciknya sendiri setelah mencoba puluhan kombinasi saus. Bahkan Sadewa pernah bercanda bahwa rasa salad buatan Kanaya terlalu khas dan tidak mungkin ditemukan di tempat lain.

Arkana langsung meraih puding buah yang ada di meja. Ia mencicipinya dan lagi-lagi rasanya sama persis.

Kenangan lima tahun lalu seakan menghantam kepalanya tanpa ampun. Kanaya yang sibuk di dapur. Istri yang tersenyum saat menyuapinya dan wanita itu akan tertawa ketika ia meminta tambahan.

"Ma ...." Suara Arkana mulai bergetar.

Bu Winda mengangkat kepala. "Ya?"

"Makanan ini dari mana?"

"Oh, dari Kanaya."

Deg.

Jantung Arkana seperti berhenti berdetak. Tubuhnya langsung menegang. Matanya membelalak.

"Apa?"

"Barusan Kanaya datang menjenguk Aruna."

Arkana langsung berdiri begitu cepat sampai kursinya bergeser keras. "Kapan dia pergi?" Nada suaranya terdengar panik.

Bu Winda sampai terkejut. "Mungkin lima menit yang lalu."

"Lima belas menit! Artinya Kanaya baru saja berada di rumah sakit ini," batin Arkana.

"Kenapa?" tanya Bu Winda heran.

Arkana sama sekali tidak menjawab. Dadanya naik turun hebat, rasa marah yang selama ini ia pendam tiba-tiba muncul. Bukan marah kepada Kanaya, melainkan kepada dirinya sendiri.

"Kalau kamu suka, nanti Mama kasih alamat tokonya. Kanaya juga punya toko dessert."

Arkana sudah tidak mendengarnya lagi. Tanpa mengatakan apa pun, ia langsung berlari keluar ruangan.

"Arkana mau ke mana kamu!"

Arkana berlari sekuat tenaga menuju lift. Napasnya memburu dan jantungnya seperti hendak meledak.

"Kanaya tunggu aku!"

Pintu lift terlihat masih terbuka. Namun saat ia hampir sampai pintu itu tertutup tepat di depan wajahnya.

"Sial!"

Arkana memukul tombol lift berulang kali. Namun indikator menunjukkan lift sudah bergerak turun. Ia tidak punya waktu menunggu. Tanpa berpikir panjang, Arkana berbalik dan langsung berlari menuju tangga darurat. Langkah kakinya menggema di seluruh lorong.

Begitu sampai di area parkir, Arkana langsung menghentikan langkahnya. Matanya bergerak ke segala arah mencari Kanaya. Namun, wanita bercadar itu tidak ada.

Arkana berdiri mematung. Lalu perlahan ia menundukkan kepala. Rasa frustrasi kembali menghantamnya.

"Kenapa ...?" Suara pria itu terdengar serak. "Kenapa selalu terlambat?"

Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepala Arkana. Matanya kembali menyala dan mengepalkan tangan.

"Oh, iya ... rumahnya!"

Kalau Kanaya memang pemilik BUNDA AYA, maka ia tidak perlu lagi mencarinya secara membabi buta. Ia bisa mencari alamatnya dan bisa menemuinya langsung.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Arkana berlari menuju mobilnya. Mesin langsung dinyalakan, lalu mobil melesat keluar dari area rumah sakit.

Sementara itu, jauh di depan sana, Kanaya sama sekali tidak tahu bahwa seseorang sedang mengejar jejaknya dengan putus asa. Seseorang yang selama lima tahun hidup bersama penyesalan. Dan sebentar lagi akan mengguncang kembali kehidupan yang telah susah payah ia bangun.

1
SasSya
😩
bunda masih sulit
SasSya
yg ngajarin si kicik cantik ini siapa sieeee
anak umur 4 thn udah ngerti kata2 orang dewasa
Kemarin cemburu, sekarang romantis
hayooo siapa mentornya Ay???😃
SasSya
hahahaha
kayanya akan ada konspirasi si kembar iniiii 😃😆😆😆😆
Sri Supriatin
Tks upnya thor 💪💪💪
Sri Supriatin
Taktik anak2 🤣🤣🤣
Sri Supriatin
Alhamdullilah Abi mulai membaik 🙏🙏🙏
Ita rahmawati
Kanaya berhasil mendidik anak²nya dg baik
vania larasati
lanjut
SasSya
ada cara yg ampuh meredakan panas demam
skin to skin Ar,itu bisa Kamu lakukan
SasSya: 😃😃👍👍👍👍
total 2 replies
SasSya
paling bingung kalo bocil sakit tapi gak mau minum obat
serasa mau nangis, menjerit 😬😬😬
SasSya
eeeeeee
anak kicik cantik tepat nembaknyaa
tau bahasa cemburu 😃
Sugiharti Rusli
perlahan tapi pasti semoga apa yang kamu impikan bersama keluarga kecil kalian yang utuh bisa segera terwujud yah Ar,,,
Sugiharti Rusli
tapi melihat ketulusan Arkana menjaganya bersama sang bunda semalaman, akhirnya pertahanannya runtuh juga,,,
Sugiharti Rusli
mungkin selama ini sejatinya Abi juga merindukan sosok yang ingin dia panggil ayah, tapi masih menahan dirinya,,,
Sugiharti Rusli
ternyata benar yah ikatan emosional itu sangat penting disamping kedekatan fisik
Sugiharti Rusli
ah ikutan melow bacanya sih😪😪😪
Sugiharti Rusli
apalagi di saat sekarang putra mereka sakit dan ternyata ga suka minum obat jadi proses pemulihannya jadi ga mudah,,,
Sugiharti Rusli
intinya si Arkana memang sabar saja nunggu proses Kanaya mau menerima diri nya lagi seutuhnya yah,,,
Sugiharti Rusli
etapi si Kanaya saat Arka panggil sayang dia reflek langsung menyahut donk😝😝😝
Sugiharti Rusli
Aya kamu peka dan jujur sekali sih bilang kalo ayahnya cemburu😅😅😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!