NovelToon NovelToon
Purdeb

Purdeb

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Singkirkan tatapan menantangmu itu, Mahasiswa Baru. Kau terlalu sombong hanya karena dari Harvard," desis Amieyara Walker, matanya menghujam sedingin es di koridor sepi.

Maximilian Valerio hanya menyunggingkan seringai tipis yang sarat akan provokasi. "Dan kau? Merasa bisa mengaturku karena memegang gelar Asisten profesor, Nyonya Janda Satu Malam?"

"Jaga mulutmu, Valerio! Jangan menguji batas kesabaranku jika kau tidak ingin hancur di kampus ini!"

"Oh, silakan coba, Yara. Aku tidak takut dengan ancaman kosong dari wanita yang bahkan tidak bisa mempertahankan suaminya sendiri."

Dua jiwa angkuh yang sama-sama terluka, terjebak dalam lingkaran makian dan harga diri yang tinggi.

Tidak ada ruang untuk romansa lembut di antara mereka; yang ada hanyalah benturan ego, dendam, dan obrolan penuh permusuhan yang justru mengikat mereka dalam ketertarikan yang berbahaya dan mematikan.

Happy reading 🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#11

Dinding malam kota Los Angeles menjadi saksi bisu atas runtuhnya sebuah keangkuhan.

Di atas aspal jembatan yang dingin, di bawah temaram pendar lampu jalan yang berkedip pelan, Maximilian Valerio masih mendekap tubuh Amieyara Walker.

Wanita yang siang tadi berdiri bagai ratu lebah yang siap menyengat siapa saja dengan kalimat tajamnya, kini tak lebih dari seonggok raga yang rapuh, terguncang hebat oleh badai tak kasat mata yang baru saja memorak-porandakan duniasnya.

Isak tangis Yara perlahan berubah menjadi deru napas yang sesak dan putus-putus. Jemari lentiknya yang biasa memegang pena dengan tegas, kini mencengkeram kuat-kuat kain jaket kulit hitam milik Max, seolah pemuda di bawahnya adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut ditelan kegelapan malam.

Max sendiri masih terpaku. Detak jantungnya yang berdegup kencang bukan lagi karena sisa kepanikan setelah menyelamatkan Yara dari bibir jurang, melainkan karena rasa asing yang mendadak menyergap dadanya.

Aroma parfum blackcurrant dan vanilla gelap milik Yara yang siang tadi sempat mengacaukan fokusnya di kantin, kini menguar begitu pekat, bercampur dengan aroma fajar yang dingin dan anyir air mata.

"Lepas..." Suara Yara terdengar parau, nyaris habis, tenggelam di antara gemuruh angin malam. Namun, alih-alih mendorong tubuh Max, cengkeraman tangannya pada jaket pemuda itu justru semakin mengerat. Tubuhnya menolak, namun jiwanya yang hancur menjerit meminta perlindungan.

Max tidak melepaskannya. Alih-alih menuruti bisikan lemah itu, sepasang lengan kekarnya justru semakin merapatkan dekapan, membawa tubuh Yara sepenuhnya ke dalam perlindungan dadanya.

Sisi liar dan keras kepala seorang Valerio yang pernah tumbuh di Boston menolak untuk membiarkan wanita ini kembali ke atas pembatas besi itu.

"Diamlah, Yara. Jika kau bergerak sedikit saja, kita berdua bisa berguling ke tengah jalan dan ditabrak oleh truk yang lewat," bohong Max dengan nada suara bariton yang sengaja diredam, mencoba memberikan kesan otoriter agar wanita di atasnya berhenti memberontak.

Mendengar ancaman datar itu, Yara akhirnya menyerah. Dia membenamkan wajahnya yang basah oleh air mata di ceruk leher Max, membiarkan pertahanannya habis tak bersisa.

Tangisannya tidak lagi meledak-ledak, melainkan menjelma menjadi rintihan-rintihan kecil yang menyayat hati. Bagi Max, setiap helaan napas hangat Yara yang menerpa kulit lehernya terasa laksana sebongkah es yang mencair—menghancurkan seluruh prasangka buruk dan rasa benci yang sempat dia pelihara sejak kemarin.

Apa yang sebenarnya membuatmu seperti ini? batin Max bertanya-tanya, matanya menatap kosong ke langit malam yang pekat. Apakah Ditinggalkan David Joseph dan cemoohan manusia-manusia dangkal di kampus itu benar-benar sanggup meremukkan wanita sekeras dirimu?

Max masih meyakini bahwa alasan di balik runtuhnya mental Yara malam ini adalah karena status barunya sebagai 'janda satu malam' yang menjadi bahan tertawaan seisi universitas. Dia tidak pernah tahu, dan tidak akan pernah menduga, bahwa kenyataan yang dihadapi Yara jauh lebih busuk dan mengerikan daripada sekadar perceraian kilat.

Setelah beberapa menit yang terasa bagai keabadian berlalu dalam keheningan yang magis, isak tangis Yara mulai mereda, menyisakan tubuh yang masih sesekali tersentak kecil karena sisa kedukaan.

Kesadaran Yara perlahan kembali menapak bumi. Dia menyadari posisi mereka yang terlampau intim di atas aspal publik, dan rasa gengsi yang selama ini menjadi jubah pelindungnya mendadak menyengat kesadarannya.

Dengan sisa tenaga yang dia miliki, Yara mendorong dada Max, memaksa tubuhnya untuk bangkit berdiri. Kakinya masih terasa goyah laksana jeli, namun dia menolak untuk terlihat lemah lebih lama lagi di depan mahasiswanya sendiri—pria yang pernah beberapa waktu lalu dia permalukan di depan umum.

Max ikut bangkit berdiri dengan gerakan yang tangkas. Dia mengibaskan debu dan kerikil jalanan yang menempel pada celana jeans-nya, lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket, menatap Yara dengan pandangan menilai yang intens.

Yara berdiri membelakangi Max, menghadap ke arah jalanan, jemarinya bergerak cepat menghapus sisa air mata di pipinya dengan kasar. Rambut hitamnya yang berantakan tertiup angin malam membuat penampilannya malam ini tampak begitu liar namun tetap memikat.

"Kenapa kau ada di sini, Valerio?" tanya Yara, suaranya diusahakan kembali dingin dan datar, meskipun getaran parau di ujung kalimatnya tidak bisa disembunyikan. "Apakah menguntit asisten dosenmu hingga ke jembatan malam-malam seperti ini adalah hobi baru yang kau pelajari di Harvard?"

Max mendengus pelan, sebuah tawa sinis tanpa suara lolos dari bibirnya. Ternyata, taring wanita ini langsung tumbuh kembali begitu tangisannya mereda.

"Jangan terlalu percaya diri, Nona Walker," balas Max, melangkah maju dua tapak hingga posisinya kini berdiri tepat di samping Yara, ikut menatap hamparan lampu kota di kejauhan.

"Aku baru saja pulang dari apartemen teman, dan jembatan ini adalah satu-satunya akses menuju rumahku. Aku tidak sudi membuang-buang bensin mobilku hanya untuk mengikuti wanita yang hobi buat Hal Gila tengah malam."

Max melirik ke arah bawah, di mana sebuah koper besar tergeletak mengenaskan di dekat roda mobil sport-nya. "Dan melihat koper besar itu... sepertinya kau bukan sedang ingin menikmati udara malam. Kau sedang melarikan diri, atau kau baru saja diusir dari tempat tinggalmu?"

Pertanyaan Max menghantam tepat pada luka yang baru saja menganga di dada Yara. Bayangan kamera tersembunyi di balik cermin wastafel, rekaman suara ayahnya yang menyebutnya sebagai 'aset pertukaran', serta wajah manja Caca yang menjijikkan kembali berputar di dalam benaknya bagai kaset rusak. Rasa mual itu kembali naik ke tenggorokannya.

Yara memejamkan matanya erat-erat, mengepalkan tangan hingga kuku-kukunya memutih. "Itu bukan urusanmu, Mahasiswa Baru. Masuklah ke mobil mewahmu dan pergilah dari sini. Anggap saja kau tidak pernah melihat apa pun malam ini."

"Aku bisa saja melakukan itu, Yara," potong Max cepat, intonasi suaranya mendadak berubah menjadi serius dan berat, menghilangkan kesan gurauan di antara mereka. "Aku bisa saja mengabaikanmu, membiarkanmu melompat, atau membiarkanmu telantar di jembatan sepi ini sendirian dengan koper besarmu. Tapi ibuku mengajarkanku untuk tidak meninggalkan seorang wanita dalam kondisi hancur, bahkan jika wanita itu adalah musuhku sendiri."

Max berbalik, berjalan menuju pintu penumpang mobilnya, lalu membukanya lebar-lebar. Dia menoleh ke arah Yara. "Masuk ke dalam. Udara malam ini terlalu dingin untuk paru-parumu yang payah itu."

Yara menoleh, menatap pintu mobil yang terbuka dengan pandangan penuh keraguan. "Aku tidak sudi berutang budi padamu, Valerio. Aku bisa memesan taksi lain."

"Taksi?" Max terkekeh hambar, menunjuk ke arah jalanan jembatan yang kini sepi melompong. "Di jam sepert ini, di area jembatan layang yang rawan, kau pikir ada sopir taksi waras yang mau berhenti untuk menjemput wanita depresi yang membawa koper besar? Jangan bodoh, Yara. Masuk ke dalam mobil sebelum aku berubah pikiran dan benar-benar meninggalkanmu di sini sebagai santapan preman jalanan."

Yara menatap Max, lalu beralih menatap kopernya, dan akhirnya menatap hamparan jalanan yang sunyi.

Logikanya berputar cepat. Dia tidak mungkin kembali ke mansion Walker—tempat itu sudah menjelma menjadi neraka baginya. Dia juga tidak memiliki hotel yang dipesan, dan membawa koper besar sendirian di tengah malam Los Angeles adalah tindakan bunuh diri sekunder. Mau tidak mau, pria sombong di hadapannya ini adalah satu-satunya pilihan rasional yang dia miliki saat ini.

Dengan langkah yang berat dan sisa harga diri yang dipertahankan, Yara berjalan menghampiri mobil Max. Dia melewati pemuda itu begitu saja dan langsung mendudukkan tubuhnya di kursi penumpang bagian depan.

Max menggelengkan kepala melihat tingkah angkuh yang masih tersisa dari Yara. Dia berjalan menuju bagian depan jembatan, mengangkat koper besar milik Yara dengan satu tangan kekarnya, lalu memasukkannya ke dalam bagasi belakang mobil dengan mudah.

Setelah memastikan semuanya aman, Max masuk ke kursi pengemudi, menutup pintu, dan menghidupkan mesin mobil yang menderu halus.

Atmosfer di dalam kabin mobil mewah itu seketika berubah menjadi sunyi dan sarat akan ketegangan yang canggung. Pendingin ruangan yang berembus pelan membawa aroma parfum mereka berdua berbaur menjadi satu, menciptakan distorsi kenyamanan yang aneh.

Max menjalankan mobilnya membelah jalanan aspal, meninggalkan jembatan layang yang penuh kenangan pahit itu di belakang mereka.

"Kita mau kemana?" tanya Yara setelah keheningan menyelimuti mereka selama hampir sepuluh menit berkendara. Matanya menatap lurus ke luar jendela, memperhatikan kerlip lampu pertokoan yang mulai tutup.

Max melirik Yara sekilas lewat sudut matanya. "Aku yang seharusnya bertanya padamu, Nona Walker. Kau yang membawa koper besar, bukan aku. Di mana alamat rumah baru atau hotel yang sudah kau pesan?"

Yara terdiam. Lidahnya mendadak kelu. Dia tidak bisa menyebutkan nama hotel mana pun karena dia memang belum memesannya. Dia juga tidak mungkin pergi ke rumah kerabat atau kenalan lamanya, karena di mata mereka, Yara hanyalah sosok mandiri yang tidak pernah butuh bantuan—dan dia terlalu gengsi untuk menunjukkan keruntuhannya pada orang-orang yang selama ini menggunjingkannya di belakang.

"Turunkan saja aku di motel terdekat di pinggiran kota," jawab Yara pelan, suaranya terdengar lelah.

Max mengerutkan alisnya tajam. "Motel pinggiran kota? Apakah otak geniusmu sudah bergeser karena terlalu banyak menangis tadi? Tempat-tempat seperti itu adalah sarang transaksi obat-obatan dan prostitusi liar di Los Angeles. Wanita dengan pakaian seperti dirimu dan membawa koper besar hanya akan menjadi sasaran empuk bagi mereka."

"Lalu aku harus kemana, Maximilian?!" Yara tiba-tiba berteriak kecil, menoleh ke arah Max dengan pandangan mata yang kembali berkaca-kaca oleh rasa frustrasi yang memuncak.

"Aku tidak punya tempat untuk pergi! Rumahku... rumahku bukan lagi tempat yang aman! Aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini! Apakah kau puas mendengarnya, hah?! Apakah kau puas melihat aku yang angkuh ini ternyata tidak punya tempat bernaung?!"

Ledakan emosi Yara membuat Max tertegun. Kalimat "rumahku bukan lagi tempat yang aman" dan "aku tidak punya siapa-siapa lagi" bergema kuat di dalam rongga dadanya.

Ada rasa perih yang asing yang menyelinap masuk ke dalam hati Max saat melihat air mata kembali mengalir di pipi wanita itu. Kerapuhan Yara malam ini benar-benar meruntuhkan seluruh niat buruknya untuk membalas dendam soal kejadian di kantin siang tadi.

Max menarik napas panjang, lalu memutar setir mobilnya ke arah kanan, memasuki jalur jalan tol utama yang menuju ke arah kawasan distrik finansial dan apartemen mewah di pusat kota.

"Aku tahu satu tempat yang aman untukmu," ucap Max, suaranya kini melunak, sepenuhnya melepaskan nada provokasi yang biasa dia gunakan. "apartemen pribadi milik keluargaku di pusat kota. Tempat itu kosong dan jarang digunakan sejak aku pindah dari Boston. Kau bisa tinggal di sana sampai kau bisa menjernihkan pikiranmu dan menyelesaikan masalahmu."

Yara menatap profil samping wajah Max yang tampak tegas di bawah siraman cahaya lampu jalanan. Rasa heran mendadak menyelimuti hatinya.

Pria di sampingnya ini adalah orang yang ia tuduh sebagai bocah birahi yang mengintip fotonya, pria yang dia maki di depan umum. Namun malam ini, pria yang sama justru menjadi satu-satunya orang yang mengulurkan tangan untuk menariknya dari tepi jurang kematian dan memberinya tempat perlindungan.

"Kenapa kau melakukan ini, Max?" tanya Yara, suaranya kini terdengar sangat lirih, hampir menyerupai bisikan. "Bukankah kita... kita saling membenci? Aku sudah menghinamu di depan teman-temanmu."

Max terus menatap lurus ke arah jalanan di depan, seulas senyuman tipis yang sulit diartikan terukir di sudut bibirnya. "Anggap saja ini adalah investasi masa depan, Nona Walker. Aku menolongmu malam ini, agar di kelas bisnis besok pagi, kau tidak punya alasan lagi untuk memberiku nilai buruk atau mengataiku sebagai bocah birahi di depan mahasiswa lain."

Yara tidak membalas. Dia memalingkan wajahnya kembali ke arah jendela, menyembunyikan senyuman samar yang terpaksa muncul di bibirnya di tengah rasa sakit yang masih mendera.

Di dalam keheningan mobil yang melaju menembus malam, sebuah babak baru yang tak terduga di antara sang genius Harvard dan sang asisten profesor baru saja dimulai—sebuah garis takdir yang perlahan mulai mengikis jarak di antara benci dan rasa yang tak bernama.

1
sitanggang
kukira Valeri kuat ternyata oncom belaka, masa sama 2 cewek bego bisa kalah🤣🤣 parah jalan ceritanya hadeuhh🫣
Ros 🍂: hehhe ceritanya nyambung sama Cerita yang sebelah Ya kak, judulnya "Fi A Ti"
ada Ceritanya sendiri 🫶🥰
total 1 replies
Hotmayanti Yanti
ceritanya menegangkan dsn selalu membuat penasaran,semoga masih ada lanjutannya Thor 😁
Ros 🍂: Ma'aciww Sudah mampir kak🥰
jangan lupa baca Cerita ku yang lain kak 🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Satu kantin kena prank emmie🤣🤣,,
Ros 🍂: Hahah 🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
wes Amieyara Walker-nya cie udah diklaim mutlak nie ceritanya bang😍😍😍😍
Ros 🍂: Nggak klaim Malu Soalnya kak🤭🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
absen dulu kak othor😍😍😍
Ros 🍂: Fanbase Setia 🫶😁🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
gasken bang max tembak langsung😍😍😍biar GK jomblo dan dibilang gamonin si kulanak🤣🤣tumben kak cuma satu
Ros 🍂: tumben satu apa kak?🤭
total 2 replies
Zahra Alifia Hidayat
duo kuntilanak yg kegatelan🤭
Ros 🍂: Ketemu mereka kak🤣🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
gasken bang max buat selidikin asdos cantik
Ros 🍂: hehe iya kak🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
pengen dengerin kekehan sexi bang max juga aku thor sesexi apa sich jadi penasaran?🤭
Ros 🍂: kak 🤭 nanti tak suruh max kekeh sampe nembus layar yaa🤣🫶
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
dih si kuntilanak sok Sokan yg paling tersakiti padahal dirinya sendiri jalang,ayo bang max tunjukan pesona kegendengan klan Valerio🤣🤣
Ros 🍂: hihihi kak basmi kuntilanak 🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
waoooh Bella mengerikan jauhkan babang max dari kuntilanak thorr🤭GK rela daku MBK asdos tolong kekepin bang max jauhin dari si kuntilanak🤭🤣🤣🤣
Ros 🍂: Bell Kuntilanak🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
duh,,,bawa pulang aja bang max kasian banget😭😭😭😭
Ros 🍂: huhuhu bantu angkut kak🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
Bang max jangan galak gitulah entar kecintaan gimana coba🤭
Ros 🍂: Aaa🫶🫶🫶 Ma'aciww kak 🥰
Terharu 🤩
total 5 replies
Zahra Alifia Hidayat
yaah,,,,, kak kok Caca sich itu nama panggilan aku tega banget kaaaak😭😭😭😭😭😭 padahal aku anaknya baik,rajin belajar dan suka menabung🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: Kak 😭 sorry ... 🤣🤣🤣🙏🏻
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
waooh,,,,,pertemuan pertama yg sangaatt- sangaattt😍😍😍
Ros 🍂: Hihihi meresahkan ya kak ? 🤣🤣🙏🏻
total 2 replies
Zahra Alifia Hidayat
Bang max i am coming di tunggu kegendengannya🤭🤣🤣
Ros 🍂: Hahaha Max tunggu kak 🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
fanbase nomer satu absen dulu,,,,😍😍😍😍😍
Ros 🍂: Hallo kak 🫶🥰 Happy Reading ❤️
total 1 replies
winpar
ceritanya keren💪
Ros 🍂: Ma'aciww jejaknya kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!