Andra dan Diana sudah menikah selama lima tahun. Namun selama itu pula Diana memilih untuk menunda kehamilannya. Dengan alasan jika saat ini sedang berada di puncak karir yang selama ini dia impikan.
Selain karena tekanan dari kedua orang tua Andra yang ingin segera punya cucu. Dalam hati kecilnya, Andra juga ingin segera punya anak. Hingga akhirnya dia bertemu sahabat lamanya bernama Nadhira.
Entah ada pikiran dari mana hingga tiba-tiba Andra meminta Nadhira hamil anaknya. Jelas Nadhira menolak apalagi Andra sudah menikah.
Apakah rencana Andra aka berhasil untuk mendapatkan anak dari keturunannya sendiri. Apakah Nadhira akhirnya akan setuju? Lalu bagaimana dengan Diana dan keluarga Andra?
Konflik apa lagi yang akan terjadi setelah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahim Untuk Sahabat 11
Mama Veni menyesap tehnya dengan anggun namun tatapannya tetap menghunus ke arah Diana yang masih menunduk.
"Andra, biarkan istrimu bicara," ujar Mama Veni dingin.
"Diana, sejujurnya, apa yang kamu cari lagi? Karir? Popularitas? Uang? Keluarga Antanagara bisa memberikanmu sepuluh kali lipat dari apa yang kamu hasilkan sekarang tanpa kamu perlu melangkah keluar rumah."
Diana menarik napas panjang, mencoba mencari sisa-sisa keberaniannya.
"Ini bukan soal uang, Ma. Ini soal dedikasi. Acara besok itu sangat penting untuk citra yayasan dan..."
"Citra?" potong Mama Veni dengan tawa sinis yang pendek.
"Kamu lebih peduli pada citra di mata orang asing daripada citra sebagai menantu yang berbakti? Kamu tahu apa yang dibicarakan teman-teman Mama di arisan? Mereka bertanya, 'Veni, kapan kita menengok cucumu?'. Aku harus menjawab apa, Diana? Bahwa menantuku lebih suka difoto untuk majalah daripada menggendong bayi?"
Diana menoleh ke arah Andra.
Seolah memohon pembelaan melalui tatapan matanya. Namun, Andra justru terpaku pada ponselnya yang bergetar di bawah meja. sebuah notifikasi dari pihak rumah sakit. Fokusnya terbelah antara tekanan ibunya dan rasa khawatir pada Bu Mila.
"Andra!" tegur Papa Ardi keras, membuat Andra tersentak.
"Simpan ponselmu. Kami sedang bicara serius."
"Maaf, Pa," Andra meletakkan ponselnya dengan posisi tertelungkup.
"Kamu lihat, Andra? Dia hanya memanfaatkan nama besar kita untuk memuluskan jalannya di dunia luar. Dia tidak pernah sungguh-sungguh ingin membangun keluarga denganmu. Dia hanya mencintai dirinya sendiri."
"Cukup, Ma!" tangis Diana pecah.
"Aku sangat mencintai Andra! Tapi aku juga punya mimpi!"
"Mimpi seorang istri adalah memberikan keturunan bagi suaminya!" sahut Mama Veni tajam.
"Kalau besok kamu tidak datang ke dokter itu, atau jika dokter itu mengatakan kamu sengaja melakukan sesuatu yang membuat kamu menghindar. Maka jangan salahkan kami jika kami mencarikan wanita lain yang jauh lebih siap untuk memberikan Andra seorang anak. Wanita yang tidak takut tubuhnya rusak karena hamil."
Kalimat itu bagai petir di siang bolong bagi Diana. Dia menatap Andra, berharap suaminya akan membela atau setidaknya menenangkan kemarahan orang tuanya.
"Maaaa!" suara Andra tercekat.
"Besok jam sepuluh pagi. Supir Papa yang akan menjemput kalian," ucap Papa Ardi final sambil berdiri. Papa Ardi berdiri, memperbaiki letak jasnya.
"Cukup. Pilihannya hanya dua, Diana. Kamu ikut ke dokter yang Mama tunjuk besok dan hentikan semua kontrak kerjamu, atau kamu keluar dari rumah ini dengan membawa semua tas bermerekmu itu. Tapi tanpa nama Antanagara di belakang namamu." Tegas Papa Ardi tak bisa di bantah oleh siapapun lagi.
"Pa! Apa maksudnya?" Diana terbelalak.
"Artinya, Papa akan segera memproses perceraian kalian jika dalam tiga bulan tidak ada tanda-tanda kehamilan," tambah Mama Veni tanpa belas kasihan.
"Keluarga kami butuh masa depan, bukan sekadar pajangan di sampul majalah."
"Jangan buat kami melakukan tindakan yang lebih ekstrem dari sekadar sindiran, Diana." tambah Mama Veni sebelum pergi.
Setelah kedua orang tuanya pergi, keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Diana terisak di kursinya, sementara Andra berdiri membelakanginya, menatap ke arah jendela dengan perasaan yang campur aduk.
"Sayang! Maafkan aku tapi sepertinya ucapan Papa dan Mama benar. Lima tahun adalah waktu yang lebih dari cukup kita berikan kepada mereka untuk menunggu cucu dari kita! Aku juga tak ingin mengadopsi anak orang lain. Aku ingin anak aku sendiri, anak yang di dalam tubuhnya mengalir darah Antanagara yang asli. Bukan hanya sekedar pewaris pajangan. Aku mohon kali ini turuti keinginan mereka. Toh kamu sudah mendapatkan semuanya kan?" Andra berbalik dan memeluk bahu Diana.
Diana melepaskan pelukan Andra dengan gerakan perlahan namun tegas. Dia berdiri, menghapus air mata yang membasahi pipinya dengan punggung tangan. Sorot matanya berubah, tak seperti saat ada kedua orang tua Andra tadi.
"Toh aku sudah mendapatkan semuanya?" Diana mengulang kalimat Andra dengan nada getir.
"Apa salah jika aku hanya menginginkan karir yang selama ini menjadi impianku sejak lama? Apa salah kita menunda punya anak atau adopsi? Bukankah sama saja kan? Kita adopsi anak tanpa tahu siapapun jika itu adalah anak orang lain! Kenapa kamu tak mendukung karirku Andra? Kenapa kalian malah berusaha untuk menghancurkan semua impianku hanya karena ingin punya cucu!
"Diana! Mereka sudah menunggu selama lima tahun! Apa yang salah jika sekarang mereka menuntut. Aku mencintaimu Diana! Tapi aku juga tak mau kalau mengikuti idemu. Aku mencintaimu, tapi aku tak bisa membohongi keluarga Antanagara dengan mengambil anak orang lain yang aku akui sebagai anakku! Selamanya di tubuh anak itu tak akan pernah ada darah murni Antanagara! Tolong mengerti Diana!"
"Jadi sekarang kamu lebih membela keluargamu daripada aku?" teriak Diana histeris.
"Besok adalah peluncuran kampanye global di mana aku menjadi wajah utamanya. Kontrak itu bernilai miliaran, Andra. Tapi ini bukan soal angka. Ini adalah puncak dari tujuh tahun perjuanganku sejak aku masih bukan siapa-siapa. Kamu tahu berapa banyak wanita yang ingin berada di posisiku? Dan sekarang, tepat saat aku berada di puncak, kalian memintaku terjun bebas hanya demi sebuah ego tentang darah asli?"
Andra mengusap wajahnya dengan kasar.
"Dunia modeling dan yayasan itu ada masanya, Diana! Kamu tidak akan selamanya muda. Tapi anak? Anak adalah warisan. Apa kamu tidak mengerti betapa tertekannya aku berada di antara kamu dan orang tuaku? Apa kamu tak mau punya anak dan merasakan bagaimana rasanya mengandung seperti wanita lain pada umumnya?"
"Lalu apa kamu mengerti betapa hancurnya aku saat tahu suamiku sendiri menganggap rahimku lebih berharga daripada otak dan mimpiku?" Diana mendekat, suaranya merendah namun penuh penekanan.
"Kalian benar-benar tak punya perasaan dan hati!" Diana mengambil tasnya yang tergeletak di kursi.
"Aku tidak akan datang ke dokter itu besok jam sepuluh pagi. Aku akan tetap datang ke acara yayasan dan menandatangani perpanjangan kontrak untuk dua tahun ke depan. Itu adalah komitmenku." Diana pergi dari sana.
Selalu seperti itu, Diana akan menghindar dan bersikap seolah dia adalah korban dari keegoisan keluarga Antanagara. Padahal dirinyalah yang egois. Setelah lima tahun di beri waktu tapi Diana seolah tak peduli.
"Diana! Kalau kamu melangkah keluar besok tanpa supir Papa, itu artinya kamu menantang mereka! Papa tidak pernah main-main dengan ucapannya soal perceraian," seru Andra panik.
Diana berhenti di ambang pintu ruang makan, menoleh sedikit tanpa benar-benar berbalik.
"Kalau mencintaiku! kamu pasti akan mendukung setiap tindakanku, Andra!" Tanpa menunggu balasan suaminya, Diana melangkah pergi.
Meninggalkan suaminya yang terpaku dalam keheningan rumah yang terasa semakin dingin dan asing. Andra meremas rambutnya sebelum akhirnya harus pergi ke kantor. Walau pikirannya kacau, tapi dia tak bisa melepaskan tanggungjawabnya.
"Nadhira!"
Suara berat itu membuat Nadhira tersentak. Dia mendongak dan menemukan Andra berdiri di sana, rapi dengan kemeja slim-fit dan aroma parfum mahal yang seketika memenuhi kubikelnya yang sempit. Namun wajahnya terlihat lesu dan kusut
"Pak Andra," suara Nadhira hampir tidak keluar. Dia segera berdiri, merasa kecil di bawah tatapan pria itu.
"Bagaimana kabar ibumu?" tanya Andra.
Nada suaranya datar, namun ada kilat kepemilikan di matanya yang membuat Nadhira merasa tidak nyaman.
"Sudah stabil, Pak. Terima kasih... atas bantuannya." Nadhira menunduk. Mengucapkan kata terima kasih itu rasanya seperti menelan pecahan kaca.
"Ada yang harus kita bicarakan setelah ini! Bawa berkas yang sudah kamu input. Aku butuh laporannya sekarang juga! Masalah kemarin belum selesai dan kamu harus segera menyelesaikannya!" Suara Andra tegas saat melihat beberapa staff mulai berdatangan.
"Baik Pak Andra!" Nadhira menunduk.
Membuat beberapa teman satu ruangannya berbisik dan tak sedikit yang terkekeh. mereka mengira jika Nadhira sedang di marahi oleh Andra.
percuma kaya raya tp ga punya penerus atau keturunan mh