NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti

Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ifra Sulistya

“Aku tidak sudi menghabiskan sisa hidupku menjadi pengasuh pria cacat yang membosankan. Jika Papa ingin menjual anak, jual saja Alesha. Dia sudah terbiasa hidup susah.”
Darah Alesha mendidih. Ia meremas kertas itu hingga hancur dalam kepalannya. "Si brengsek itu..." desisnya. Ia tidak terkejut Kiara kabur; kakaknya itu memang egois. Namun, menyebut pria yang akan dinikahinya sebagai 'pria cacat yang membosankan' adalah penghinaan yang rendah, bahkan untuk standar Kiara.
"Alesha, tolong... Papa mohon," Bramasta tiba-tiba menjatuhkan dirinya. Ia berlutut di atas lantai marmer dingin, memegang ujung jubah Alesha. "Keluarga Matteo Al-Ricci bukan orang sembarangan. Mereka adalah penguasa bisnis di Roma. Utang Papa pada mereka... Papa menggunakan seluruh aset perusahaan sebagai jaminan. Jika pernikahan ini batal, Papa akan dipenjara, dan kita akan gelandangan dalam semalam!"
Alesha menatap ayahnya dengan pandangan jijik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: PERJANJIAN GENCATAN SENJATA

Lantai marmer hitam di koridor Villa terasa sedingin es di bawah kaki Alesha.

Ini adalah wilayah terlarang, sebuah zona yang bahkan para pelayan senior pun enggan memasukinya tanpa izin tertulis.

Kantor pribadi Matteo bukan sekadar ruang kerja, itu adalah pusat komando bagi kerajaan bisnis Al-Ricci yang gelap dan rumit.

Alesha berdiri di depan pintu kayu jati ganda yang menjulang tinggi. Di tangannya, ia meremas kunci logam kecil yang ia "pinjam" dari ruang bawah tanah tempo hari.

Ia tahu, melangkah masuk ke ruangan ini berarti menyerahkan sebagian dari kemerdekaannya. Namun, setelah sabotase di gudang kain tadi sore, ia sadar bahwa ia sedang melawan badai dengan payung kertas.

Ia mendorong pintu itu.

Ruangan itu luas, namun terasa menyesakkan karena dipenuhi oleh rak-rak buku setinggi langit-langit dan layar monitor yang menampilkan grafik pasar saham serta rekaman CCTV dari berbagai sudut villa.

Matteo duduk di balik meja kerja raksasa yang terbuat dari obsidian. Cahaya lampu meja yang redup memberikan bayangan tajam pada tulang pipinya, membuatnya tampak seperti patung kuno yang hidup.

Matteo tidak mendongak saat Alesha masuk.

"Kau terlambat lima menit dari waktu yang kubayangkan," ucapnya dingin.

Alesha berjalan mendekat, tidak membiarkan intimidasi ruangan itu mempengaruhinya. Ia meletakkan kunci logam itu di atas meja obsidian dengan bunyi klik yang tajam.

"Aku tidak di sini untuk membicarakan waktu, Matteo. Aku di sini untuk sebuah proposal," ujar Alesha, suaranya tetap stabil meski jantungnya berpacu.

Matteo perlahan mengangkat kepalanya. Matanya yang kelabu menatap kunci itu, lalu beralih ke wajah Alesha yang masih sedikit kotor karena debu gudang.

"Proposal? Setelah kau mencoba mematahkan kaki suamimu dengan vas bunga dan mencuri kuncinya, kau datang untuk menawarkan kesepakatan?"

Alesha menarik napas panjang.

Ia mencondongkan tubuhnya ke depan meja. "Keluargaku mencoba menghancurkan butikku. Mereka mencekik pasokanku. Mereka ingin aku gagal agar aku bisa mereka jual kembali seperti barang sisa. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."

Matteo menyandarkan punggungnya ke kursi roda, posisi yang kini terlihat sangat mencurigakan di mata Alesha.

"Lalu, apa hubungannya denganku?"

"Jadilah investor rahasiaku," tembak Alesha langsung.

"Buka akses untukku ke pemasok kain terbaik di Italia, beri aku jalan menuju redaktur Vogue, dan pastikan tidak ada satu pun orang dari keluargaku yang bisa mendekati bisnisku lagi."

Matteo tertawa kecil, suara yang kering tanpa humor.

"Dan apa yang didapatkan oleh seorang Al-Ricci dari membantu desainer 'amatir' sepertimu?"

Alesha tersenyum tipis, sebuah senyum yang ia asah di jalanan San Lorenzo.

"Kau butuh warisan kakekmu, bukan? Aku dengar wasiat kakekmu sangat spesifik, warisan itu hanya akan jatuh ke tanganmu jika kau menunjukkan stabilitas pernikahan dan citra keluarga yang sempurna selama dua tahun pertama. Saat ini, dunia melihatmu sebagai pria lumpuh dengan istri yang liar. Aku bisa mengubah itu."

Alesha mengitari meja, berdiri di sisi Matteo.

"Aku akan menjadi istri yang kau inginkan di depan umum. Aku akan menjadi penurut, memakai gaun yang kau pilih, tersenyum pada rekan bisnismu, dan memainkan peran 'Nyonya Al-Ricci yang anggun' dengan sempurna. Aku akan membantumu mengklaim warisan itu tanpa cela."

Matteo terdiam cukup lama.

Ruangan itu menjadi sunyi senyap, hanya menyisakan suara detik jam kuno di sudut ruangan.

Ia menatap Alesha, seolah sedang menimbang-nimbang apakah wanita di depannya ini adalah aset atau ancaman yang lebih besar.

"Kau menawarkan kesetiaan palsu untuk kesuksesan nyata," gumam Matteo.

"Menarik. Tapi itu tidak cukup."

Alesha mengerutkan kening.

"Apa maksudmu tidak cukup?"

Matteo memutar kursi rodanya, menghadap langsung ke arah Alesha.

Jarak mereka kini sangat dekat.

"Warisan itu hanya sebagian kecil dari masalahku. Villa ini... tempat ini dipenuhi oleh mata-mata. Ayahku, para pemegang saham, bahkan para pelayan, semuanya mencari celah untuk menjatuhkanku. Jika aku membantumu, aku butuh sesuatu yang lebih dari sekadar senyuman di depan kamera."

Matteo mencondongkan tubuhnya, suaranya merendah menjadi bisikan yang berbahaya.

"Kau harus menjadi mata-mataku. Setiap tamu yang datang ke Villa ini, setiap percakapan yang kau dengar di acara amal atau makan malam, setiap bisikan yang kau tangkap dari teman-teman Kiara, kau harus melaporkannya padaku. Kau akan menjadi telingaku di tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh kursi roda ini."

Alesha merasakan desakan penolakan di dadanya.

Ia ingin menjadi desainer, bukan agen ganda dalam perang keluarga yang kotor. Namun, ia teringat wajah ayahnya yang penuh penghinaan dan kain-kain sutranya yang hampir hilang.

"Jadi, aku harus menjadi mata-mata di rumahku sendiri?" tanya Alesha pahit.

"Ini bukan rumahmu, Alesha. Ini adalah medan perang. Dan di medan perang, kau harus memilih pihak," sahut Matteo tanpa emosi.

"Jadi, bagaimana? Apakah butikmu sebanding dengan jiwamu?"

Alesha menatap mata kelabu itu cukup lama. Ia melihat kegelapan yang sama dengan yang ia miliki. Kegelapan dari seseorang yang harus bertarung untuk setiap inci keberadaannya.

"Baik," ucap Alesha tegas.

"Investor rahasia dan perlindungan bisnis, sebagai imbalan atas sandiwara istri sempurna dan informasi intelijen. Kita punya kesepakatan."

Matteo mengulurkan tangannya yang besar dan kokoh.

"Gencatan senjata, Alesha. Sampai tujuan kita tercapai."

Alesha menyambut uluran tangan itu. Saat telapak tangannya yang kasar terkena bekas jahitan bersentuhan dengan kulit Matteo yang halus namun kuat, sesuatu yang tidak terduga terjadi.

Ada sebuah percikan aneh semacam aliran listrik yang tiba-tiba menyengat saraf mereka berdua.

Bukan sekadar sentakan fisik, tapi sebuah getaran yang terasa hingga ke dasar perut. Rasanya seperti menyentuh kabel yang terkelupas.

Panas, mengejutkan, dan membuat bulu kuduk berdiri.

Keduanya tertegun.

Mata mereka bertemu dalam sebuah momen yang terasa abadi di bawah lampu remang-remang. Alesha bisa merasakan tekstur kulit Matteo, panas tubuhnya, dan kekuatan yang tersembunyi di balik jemarinya.

Matteo pun tampak membeku, pupil matanya melebar sesaat sebelum ia dengan cepat menarik tangannya kembali.

Alesha segera menarik tangannya, menyembunyikannya di balik punggung. Jantungnya berdegup kencang, kali ini bukan karena amarah, melainkan karena sesuatu yang jauh lebih membingungkan.

"Kesepakatan tercapai," ucap Matteo dengan suara yang sedikit serak, matanya segera beralih kembali ke layar monitor seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

"Marcello akan mengirimkan dokumennya besok pagi. Sekarang keluar. Aku punya banyak urusan."

Alesha tidak membantah. Ia berbalik dan berjalan cepat menuju pintu. Namun, saat tangannya menyentuh gagang pintu, ia menoleh kembali sejenak.

Matteo masih duduk di sana, namun tangannya tampak mencengkeram pinggiran meja obsidian itu dengan sangat erat hingga buku jarinya memutih.

Alesha melangkah keluar ke koridor yang dingin, memijat telapak tangannya yang masih terasa panas. Ia datang untuk menyelamatkan bisnisnya, namun ia merasa baru saja menandatangani kontrak dengan iblis yang tidak hanya menginginkan informasinya, tapi juga mulai mengusik ketenangan batinnya.

Di dalam kantor, Matteo memejamkan matanya rapat-rapat. Ia mengusap telapak tangannya yang baru saja bersentuhan dengan Alesha ke celana kainnya, mencoba menghapus sensasi asing yang masih tertinggal di sana.

"Wanita itu benar-benar gangguan," gumam Matteo pada kegelapan.

Gencatan senjata telah dimulai, namun di balik dinding-dinding Villa Al-Ricci yang agung, perang yang baru saja dimulai bukan hanya soal warisan atau bisnis.

Ini adalah perang melawan perasaan yang mulai tumbuh di tengah-tengah kebohongan yang mereka bangun bersama. Dan bagi Matteo, itu adalah jenis ancaman yang paling sulit untuk dikendalikan.

1
Ani Basiati
lanjut thor
Yoyoh Rokayah
double up thor
partini
Ale be smart main yg halus jangan gedebak gedbuk kaya lain ga seru
lyfyah
saya suka dengan karyanya. Tidak pasaran.
partini
alasan buat kamu hidup dan bucin akut,kamu terlalu sombong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!