Andra dan Diana sudah menikah selama lima tahun. Namun selama itu pula Diana memilih untuk menunda kehamilannya. Dengan alasan jika saat ini sedang berada di puncak karir yang selama ini dia impikan.
Selain karena tekanan dari kedua orang tua Andra yang ingin segera punya cucu. Dalam hati kecilnya, Andra juga ingin segera punya anak. Hingga akhirnya dia bertemu sahabat lamanya bernama Nadhira.
Entah ada pikiran dari mana hingga tiba-tiba Andra meminta Nadhira hamil anaknya. Jelas Nadhira menolak apalagi Andra sudah menikah.
Apakah rencana Andra aka berhasil untuk mendapatkan anak dari keturunannya sendiri. Apakah Nadhira akhirnya akan setuju? Lalu bagaimana dengan Diana dan keluarga Andra?
Konflik apa lagi yang akan terjadi setelah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahim Untuk Sahabat 23
Keheningan di ruang keluarga Antanagara mendadak terasa begitu pekat, seolah detak jam dinding besar di sudut ruangan pun enggan terdengar. Andra menatap lekat-lekat jemari tangannya yang saling bertautan. Rahangnya mengeras, memperlihatkan guncangan batin yang hebat.
"Andra!" desak mama Viona lagi, suaranya mulai kehilangan kesabaran.
"Jangan menjadi pengecut kamu sudah menentukan pilihan! Lagi pula ide menikahi dan menggunakan rahim Nadhira bukan dari kami. Melainkan ide kalian kan? Pikirkan masa depan perusahaan, dan umurmu juga susah tak muda lagi Andra! Apa kamu akan menunggu sampai istri kesayangan kamu itu sadar dan mau hamil anak kamu? Impossible ! Mama rasa sampai kapanpun hal itu tak akan pernah terjadi! Bahkan kamu lihat sendiri, dia benar-benar tak peduli dengan hal ini dan lebih memilih kabur!"
Kalimat terakhir Mama Viona seperti memicu pemantik api di dalam dada Andra. Bayangan wajah dingin Diana yang melenggang pergi menuju Anyer tanpa memedulikan nasib pernikahan mereka yang berada di ujung tanduk. Bahkan dia jug agak peduli dengan apapun jalan keluar yang akan dia pilih untuk membungkam keinginan kedua orang tuanya. yang terpenting dia tak mau hamil.
Mengapa dia harus mengorbankan segalanya untuk wanita yang egois seperti Diana dan lebih memilih pergi. Sementara di sampingnya ada Nadhira, wanita yang menanggung semuanya. Benar kata-kata ibunya, jika saat ini Nadhira adalah istrinya juga. Walau hanya secara agama.
Andra menarik napas dalam-dalam, lalu mendongak. Sorot matanya yang semula bimbang mendadak berubah menjadi tajam, dingin, dan penuh keputusan yang mutlak. Pria hangat masa lalu itu seolah lenyap, digantikan oleh sosok patriark muda Antanagara yang terobsesi memiliki anak.
"Aku setuju dengan Mama," ucap Andra, suaranya berat dan terdengar begitu asing di telinga Nadhira.
"Kita lakukan secara alami, Nadhira,"
DEEEEGHHH
Dunia Nadhira runtuh seketika. Dia menatap Andra dengan tatapan tidak percaya, seolah pria di depannya adalah monster yang baru saja menanggalkan topeng manusianya.
"Andra, kamu? Kamu bohong, kan?" bisik Nadhira, suaranya bergetar hebat.
Air matanya menetes deras, membasahi blus longgarnya.
"Kamu sudah berjanji, Andra! Kamu bilang ini murni transaksi medis! Kamu bilang kamu sangat mencintai Mbak Diana dan tidak mau menyentuh wanita lain! Kenapa sekarang kamu malah bicara seperti itu! Aku tak mau Andra! Aku tidak mau! Baji-ngan kamu Andra!"
Andra memalingkan wajahnya, enggan menatap binar terluka di mata Nadhira yang menusuk tepat ke ulu hatinya. Ada rasa sakit yang menyayat dadanya saat mendengar Nadhira menyebutnya 'bajingan', namun ego dan keadaan telah mengambil alih kendali logikanya.
"Situasinya sudah berubah, Dhira," jawab Andra dengan nada sedatar mungkin, mencoba menyembunyikan getar bersalah di suaranya.
"Dokter Haryo bilang prosedur medis berbahaya untukmu yang masih suci. Aku tidak mau mengambil risiko rahimmu rusak karena hormon. Dan seperti kata Mama, kita tidak punya waktu. Lusa ibumu harus dioperasi, dan dalam tiga bulan akta cerai aku dan Diana dari Papa akan turun jika tidak ada kehamilan. Ini jalan tercepat."
Nadhira bangkit berdiri, tubuhnya gemetar hebat oleh amarah yang meluap.
"Jalan tercepat untukmu, tapi neraka jahanam untukku! Aku tidak mau! Batalkan pernikahan siri ini! Aku akan keluar dari rumah ini dan mencari uang dengan caraku sendiri! Hanya karena kamu menyela-mat-kan cintamu kepada Diana, kamu benar-benar mengorbankan aku Andra! Kamu memanfaatkan aku karena keadaan aku yang miskin! Kalian semua jahat! Aku tak mau! batalkan semuanya. Aku akan segera mencari uang dengan cara apapun mengembalikan semuanya walau harus membayar dengan nyawaku! Tapi tidak dengan harga diriku sebagai seorang wanita kamu injak begini!" teriak Nadhira his-teris.
Nadhira berbalik hendak berlari menuju pintu keluar, namun dengan gerakan kilat, Andra bangkit dan mencekal pergelangan tangan Nadhira dengan cengkeraman yang begitu kuat hingga Nadhira memekik pelan.
"Lepaskan aku, baji-ngan!" teriak Nadhira, memukul-mukul dada Andra dengan tangan satunya yang bebas.
Mama Viona yang melihat adegan itu hanya tersenyum tipis, berdiri dari kursinya sambil merapikan pakaian tenunnya.
"Bagus, Andra. Bawa istri sirimu ke paviliun belakang. Kamar di sana sudah Mama siapkan. Lakukan bagaimana pun caranya sebelum tiga bulan Nadhira harus hamil dan kamu bisa apilih tetap bersama dengan Diana. Jika memang kamu sangat mencintai wanita tak tahu diri itu!"
Kedua orang tua Andra melangkah pergi meninggalkan ruang keluarga, memberikan perintah mutlak yang mengunci takdir Nadhira malam ini.
"Nadhira, ingat satu kali kamu melangkah keluar dari gerbang rumah ini, detik itu juga seluruh alat pacu jantung dan biaya operasi ibumu di RSUD akan dihentikan oleh pihak rumah sakit atas perintahku. Pilihannya ada di tanganmu." Mama Viona berbalik saat mendengar Nadhira masih berusaha berontak.
Mendengar ancaman kejam dari Viona, seluruh tenaga Nadhira mendadak menguap. Pukulan tangannya di dada Andra melemah, berubah menjadi remasan putus asa pada kemeja pria itu. Dia menangis histeris, menenggelamkan wajahnya di dada Andra yang bidang.
"Kenapa kamu lakukan ini padaku, Andra? kenapa?" ratap Nadhira di sela tangisnya yang memilukan. "Aku menjaga diriku selama ini bukan untuk menjadi pemuas egomu dan istrimu!"
Andra tidak menjawab. Dia hanya bisa memejamkan mata erat-erat, merasakan kehangatan air mata Nadhira yang menembus kemejanya. Rasa bersalah, hasrat, dan tanggung jawab bercampur aduk menjadi satu badai yang mengerikan di dalam dadanya. Nadhira sampai pingsan. Tanpa berkata apa-apa lagi, Andra mengangkat tubuh Nadhira dan mengendongnya menuju paviliun belakang rumah Antanagara.
Andra mantap wajah Nadhira yang pucat. Dia tahu semua ini salah. Tapi dia tak punya pilihan. Dia terlalu mencintai Diana. Dia tak mau kehilangan wanita yang begitu dia cintai. Tanpa dia tahu tabiat asli dari istrinya itu. Dan kini di hadapannya ada Nadhira yang harus dia seret dan tumbalkan demi kebahagiaan Diana dan keluarganya. Sahabat yang dulu dia lindungi tapi pada akhirnya menjadi orang yang memberikan luka paling dalam untuk Nadhira. Apalagi Andra menekan Nadhira melalui titik lemah Nadhira. Ibunya. Nadhira tak punya siapa-siapa selain ibunya.
percuma kaya raya tp ga punya penerus atau keturunan mh