"Kalau kau memang ingin mati, setidaknya selesaikan dulu 7 permintaanku. Setelah itu, aku tidak akan melarangmu gantung diri di pohon ini."
Kehilangan karier, dikhianati sahabat, dan ditinggal tunangan, Gani pulang ke desa masa kecilnya hanya dengan satu tujuan: mati dengan tenang di bawah pohon beringin tua.
Namun, rencananya berantakan saat Kirana—gadis desa yang cerewet, keras kepala, namun memiliki senyum paling tulus—menemukannya di hutan dan memberinya satu kesepakatan gila. Gani terpaksa menyetujui "7 Permintaan" gadis itu sebelum ia diizinkan mati.
Mulai dari mencuri mangga Kepala Desa hingga menari di bawah hujan badai, setiap permintaan justru perlahan mengembalikan warna di hidup Gani yang kelabu.
Namun, saat cinta mulai menunda niat kematiannya, Gani menyadari satu kebenaran yang kejam: Kirana memiliki alasan yang jauh lebih tragis darinya untuk tidak bisa hidup lebih lama lagi.
Kini, mampukah tangan yang pernah hancur itu menyelamatkan satu-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Jejak Kapal di Atas Nadi
Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah tirai jendela kamar Kirana, melukis garis-garis cahaya keemasan di atas lantai semen. Di luar, suara kokok ayam jago bersahutan, menandakan kehidupan di Karangbanyu telah kembali berdetak seperti biasa.
Namun di dalam kamar berukuran tiga kali empat meter itu, waktu seolah berjalan dengan ritme yang jauh lebih lambat, diatur oleh suara desisan pelan dari tabung oksigen.
Gani terbangun dengan posisi yang jauh dari kata nyaman. Kepalanya bertumpu pada lengan kirinya yang terlipat di tepi kasur, sementara tangan kanannya masih menggenggam erat jari-jari Kirana yang berada di balik selimut. Otot leher dan tulang punggungnya menjerit kaku, memprotes keras tidur dalam posisi membungkuk di atas kursi kayu selama lebih dari delapan jam.
Pria itu mengerang pelan, mengangkat kepalanya dengan hati-hati agar tidak melepaskan genggaman tangannya. Matanya yang merah dan dipenuhi urat-urat kelelahan langsung mencari wajah gadis di atas ranjang.
Kirana masih tertidur. Namun, sebuah beban raksasa yang menindih dada Gani semalaman suntuk akhirnya terangkat perlahan saat ia melihat perubahan pada wajah gadis itu.
Bibir Kirana tidak lagi berwarna ungu pucat yang menakutkan, melainkan telah berangsur kembali ke warna merah muda yang pucat. Embun di dalam masker oksigen bening itu muncul dan menghilang dengan ritme yang teratur dan tenang. Tidak ada lagi bunyi ngik yang menyiksa di setiap tarikan napasnya. Masa kritis itu telah berlalu. Gadis tiran kecilnya berhasil memenangkan pertarungan melawan malam yang panjang.
Gani menghembuskan napas lega yang panjang, menyandarkan keningnya kembali ke tepi kasur selama beberapa detik hanya untuk mensyukuri nikmat Tuhan yang baru saja ia saksikan.
Sebuah pergerakan pelan dari jari-jari di dalam genggamannya membuat Gani kembali menegakkan kepala. Kelopak mata Kirana bergetar, lalu perlahan terbuka. Mata sabit yang bening itu mengerjap beberapa kali menyesuaikan diri dengan cahaya pagi, sebelum akhirnya menemukan wajah Gani.
Kirana mengangkat tangan kirinya yang bebas, meraih tepi masker oksigen di wajahnya, berniat melepaskannya.
"Jangan dilepas dulu," cegah Gani dengan suara serak, sebelah tangannya dengan sigap menahan pergelangan tangan Kirana dengan sangat lembut. "Pak Mantri bilang biarkan oksigennya mengalir sampai tabung ini benar-benar habis. Kau masih butuh bantuan."
Kirana menatap Gani dari balik maskernya. Matanya melengkung membentuk senyuman. Melalui kain masker itu, terdengar suaranya yang sangat pelan dan teredam. "Kau... jelek sekali pagi ini, Komandan."
Gani mendengus, namun sebuah senyum lebar—senyum paling tulus yang mungkin pernah ia miliki sepanjang hidupnya—merekah di wajahnya yang kelelahan. Ia mengusap ibu jarinya di punggung tangan gadis itu.
"Dan kau terlihat seperti pasien rumah sakit yang butuh cermin. Kita impas," balas Gani ringan.
Terdengar suara ketukan pelan dari arah pintu depan, disusul suara salam yang familier. Bibi Ratna dan Pak Mantri masuk ke dalam kamar. Bibi Ratna langsung mengucap syukur berkali-kali saat melihat Kirana sudah membuka mata, sementara Pak Mantri segera mengeluarkan stetoskopnya.
Gani mundur selangkah, memberikan ruang bagi pria medis itu untuk bekerja. Ia memperhatikan dengan saksama setiap perubahan ekspresi di wajah Pak Mantri saat stetoskop itu ditempelkan ke dada dan punggung Kirana.
"Syukurlah," Pak Mantri mengangguk lega, melepaskan stetoskopnya. "Suara ronki (bunyi napas tambahan akibat cairan) di paru-parunya sudah jauh berkurang. Obat diuretiknya bekerja dengan baik malam tadi. Tapi ini belum tuntas, Nduk Kirana. Kamu harus bed rest total. Tidak ada taman bacaan, tidak ada jalan-jalan, dan tidak ada festival apa pun."
Kirana mengangguk patuh. Untuk pertama kalinya, gadis keras kepala itu tidak membantah. Ia tahu persis seberapa dekat ia dengan maut semalam.
"Pak Mantri," Gani melangkah maju, nada suaranya berubah menjadi formal dan tegas, mengambil alih kendali layaknya seorang wali. "Apakah dia perlu dibawa ke rumah sakit kabupaten hari ini?"
Pak Mantri menatap Kirana, lalu menatap Gani. Pria itu menghela napas panjang. "Secara prosedural, iya. Tapi melihat riwayat kesehatannya... membawa Kirana ke sana hanya akan berujung pada rawat inap berhari-hari di bangsal umum yang penuh sesak. Kecuali jika kita punya akses ke ruang ICCU (Intensive Cardiovascular Care Unit) spesialis di Jakarta, tindakan di rumah sakit kabupaten hanya bersifat suportif, sama seperti yang kita lakukan di sini."
Pak Mantri menatap lurus ke arah Kirana dengan pandangan iba. "Dan Kirana pernah bilang pada saya, dia benci bau rumah sakit."
Kirana mengangguk lemah, membenarkan ucapan itu.
Gani mengatupkan rahangnya. Rasa tidak berdaya itu kembali menggodanya, namun ia menepisnya jauh-jauh. Uangnya di Jakarta memang sudah habis disita, ia tidak bisa menyewa helikopter medis atau membayar miliaran rupiah untuk transplantasi jantung. Tapi di sini, saat ini, ia memiliki dua tangan, waktu, dan tekad baja.
"Baik," ucap Gani final. "Dia akan dirawat di rumah. Saya yang akan memastikan dia makan tepat waktu, meminum semua obatnya, dan tidak beranjak dari kasur ini."
Bibi Ratna menatap Gani dengan mata berkaca-kaca, penuh rasa terima kasih. "Mas Gani, Bibi ndak tahu harus membalas budi pakai apa. Bibi harus jaga warung dari pagi sampai sore untuk makan sehari-hari, kalau harus jaga Kirana terus..."
"Bibi tidak berutang apa-apa pada saya," potong Gani cepat, menepuk bahu Bibi Ratna dengan hormat. "Bibi urus saja warungnya. Biarkan Kirana menjadi tanggung jawab saya."
Pernyataan itu diucapkan dengan begitu natural, seolah menjaga Kirana memang sudah menjadi tujuan penciptaannya di bumi. Di atas ranjangnya, Kirana menatap Gani dengan dada yang berdesir hangat. Rasa bersalahnya karena merepotkan pria itu masih ada, namun dikalahkan oleh rasa aman yang luar biasa pekat.
Setelah Pak Mantri dan Bibi Ratna pergi, suasana rumah kembali sepi. Gani menyuapi Kirana dengan sop kaldu ayam yang dibawa Bibi Ratna, memaksakan gadis itu menelan setidaknya setengah mangkuk. Setelah meminum obatnya, pengaruh kantuk kembali menyerang Kirana. Gadis itu kembali tertidur pulas tanpa bantuan oksigen, karena tabungnya memang sudah habis dan dilepas.
Melihat Kirana tertidur lelap, Gani keluar dari rumah itu. Ia tidak pergi jauh, hanya kembali ke pekarangan rumahnya sendiri yang berjarak tidak sampai lima ratus meter.
Sesampainya di halaman belakang rumah tuanya, Gani tidak beristirahat. Ia tidak memedulikan matanya yang perih karena kurang tidur. Ia melepas kemejanya, menyisakan kaus dalam putih, lalu meraih parang baja milik Kang Ujang.
Ia kembali pada tumpukan bambu petungnya.
Jika kemarin ia memotong bambu-bambu ini dengan semangat seorang arsitek yang menemukan kembali passion-nya, hari ini, ia memotong bambu-bambu ini dengan keputusasaan seorang pria yang sedang berpacu melawan waktu.
Trak! Trak! Krak!
Bunyi parang yang menghantam bambu bergema lebih keras dan lebih cepat dari biasanya. Keringat membanjiri tubuh Gani, menetes dari ujung hidung dan dagunya, meresap ke dalam tanah Karangbanyu.
Semalam, saat ia menggenggam tangan Kirana yang sedingin es, Gani menyadari satu realitas yang sangat brutal. Waktu Kirana bukan sekadar sebuah konsep puitis tentang 'menunggu ajal'. Waktu gadis itu adalah bom waktu fisik yang detaknya semakin cepat. Rencana Gani untuk membangun Taman Bacaan secara perlahan harus diubah. Ia harus menyelesaikannya secepat mungkin. Ia ingin memastikan bahwa ketika Kirana akhirnya bisa berjalan keluar dari rumahnya nanti, gadis itu bisa langsung melihat mahakaryanya berdiri tegak, siap mengabadikan jejaknya di desa ini.
Gani mengukur, memotong, dan melubangi ruas-ruas bambu itu. Tangannya yang kasar bergesekan dengan serat bambu yang tajam. Beberapa kali, serpihan bambu (lugas) menusuk permukaan telapak tangannya. Gani hanya menarik serpihan itu keluar dengan gigi, meludahkan sedikit darahnya, lalu kembali bekerja tanpa memedulikan rasa perihnya.
Kalus di telapak tangannya menebal, beberapa di antaranya pecah menimbulkan lepuhan baru. Tangan ini dulu hanya mengenal tuts keyboard laptop mahal, gelas kristal wine, dan kulit lembut wanita-wanita sosialita. Kini, tangan ini dipenuhi memar, luka gores, dan kapalan. Dan Gani tidak pernah merasa sebangga ini pada sepasang tangannya sendiri.
Tepat pukul dua siang, setelah empat jam bekerja tanpa henti, Gani akhirnya berhenti. Semua pilar bambu dan kerangka atap untuk fondasi utama taman bacaan telah terpotong dan memiliki takikan pengunci yang presisi. Sisa perakitannya akan ia lakukan nanti. Ia harus kembali untuk melihat keadaan Kirana.
Gani membersihkan diri secepat kilat di sumur, berganti pakaian dengan kaus abu-abu bersih, lalu berjalan kembali menuju rumah gadis itu.
Saat ia membuka pintu kamar Kirana pelan-pelan, ia melihat gadis itu sudah terbangun. Kirana sedang duduk bersandar di tumpukan bantal. Wajahnya terlihat jauh lebih segar dibandingkan pagi tadi, meski kantung matanya masih terlihat jelas. Ia sedang membaca sebuah buku novel terjemahan yang sampulnya sudah lusuh.
Mendengar derit pintu, Kirana mendongak. Senyumnya langsung merekah.
"Aku pikir kau kabur karena tidak tahan merawat pasien rewel," goda Kirana, menutup bukunya. Suaranya sudah tidak terlalu parau, meskipun volume-nya masih pelan.
"Di mimpimu," balas Gani, menarik kursinya dan duduk di samping ranjang. "Bagaimana perasaanmu? Ada yang sakit? Dada kirimu sesak lagi?"
Kirana menggeleng pelan. "Tidak. Aku merasa jauh lebih baik. Hanya lemas. Seperti... seperti seluruh tenagaku habis disedot vakum cleaner."
Gani mengangguk paham. Ia mengambil teko air di nakas dan menuangkan segelas air putih untuk gadis itu. Saat ia mengulurkan gelas tersebut, lengan kausnya sedikit tersingkap, mengekspos telapak dan punggung tangannya di bawah cahaya matahari siang.
Mata Kirana yang tajam langsung menangkap pemandangan itu. Gerakan tangannya yang hendak mengambil gelas terhenti di udara.
"Tanganmu," bisik Kirana, matanya membelalak kecil.
Gani refleks menarik tangannya sedikit, mencoba menyembunyikan telapak tangannya dengan menggenggam gelas itu lebih erat. "Bukan apa-apa. Hanya tergores sedikit saat membersihkan semak di rumah tadi."
Namun Kirana tidak bisa dibohongi semudah itu. Gadis itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menepis pelan tangan Gani dari gelas, lalu meraih pergelangan tangan pria itu. Dengan sentuhan yang luar biasa lembut, Kirana membalik telapak tangan Gani hingga menghadap ke atas.
Garis-garis merah akibat gesekan tali rafia, luka tusuk kecil dari serpihan bambu, dan lepuhan kapalan yang pecah di pangkal jari, terpampang jelas bagaikan peta sebuah pertempuran.
Kirana menatap luka-luka itu dalam diam. Ibu jarinya perlahan mengusap salah satu kalus keras di bawah telunjuk Gani. Sentuhan dingin dari jari Kirana berpadu dengan panasnya telapak tangan Gani yang bekerja keras, menciptakan sebuah kontras yang membuat napas keduanya tertahan sesaat.
"Kau tidak mendapatkan kapalan seperti ini hanya karena memotong semak belukar, Gani," ucap Kirana pelan. Ia mengangkat pandangannya, menatap lurus ke dalam mata Gani. "Apa yang sedang kau lakukan di rumahmu?"
Gani terdiam. Ia menatap wajah Kirana yang penuh selidik. Insting pertamanya adalah berbohong untuk mempertahankan elemen kejutannya. Tapi menatap mata sebening telaga itu, Gani menyadari bahwa berbohong adalah pengkhianatan terhadap keintiman yang baru saja mereka bangun semalam.
Gani menarik napas panjang. Ia tidak melepaskan tangannya dari genggaman Kirana.
"Aku sedang bersiap untuk membuktikan ucapanmu," jawab Gani akhirnya, suaranya mengalun rendah dan bergetar pelan di ruangan yang sunyi itu.
"Ucapanku yang mana?"
"Bahwa seorang arsitek bisa menciptakan sesuatu yang abadi." Gani menatap tangan kecil yang sedang menggenggam tangannya yang terluka. "Kau bilang padaku di taman bacaan tempo hari... bahwa kau ingin meninggalkan jejak agar sebagian dari dirimu terus hidup bersama anak-anak itu. Jadi, aku menggunakan tanganku ini... untuk memastikan jejak yang kau tinggalkan itu memiliki fondasi yang paling kuat. Aku sedang merancang ulang taman bacaanmu."
Mata Kirana membelalak sempurna. Udara di sekelilingnya seolah tersedot habis, bukan karena jantungnya bermasalah, tapi karena rasa haru yang luar biasa besar menghantam dadanya tanpa ampun.
"Gani..." suara Kirana tercekat. Matanya seketika memanas dan berkaca-kaca. "Kau... kau melakukan pekerjaan kasar itu sendirian? Dengan tanganmu yang biasa menggambar di ruangan ber-AC?"
"Tangan ini belum pernah menghasilkan sesuatu yang lebih membanggakan dari apa yang kulakukan sejak pagi tadi, Kirana," potong Gani cepat, nada suaranya tegas dan penuh keyakinan. Ia memutar telapak tangannya, balik menggenggam jari-jari Kirana yang mungil.
"Di Jakarta, aku mendesain gedung untuk orang-orang yang tidak peduli padaku," lanjut Gani, tatapannya membakar tepat ke jantung Kirana. "Di sini, aku memotong bambu untuk seseorang yang... yang telah menyelamatkan nyawaku. Aku tidak peduli jika tanganku hancur, selama aku bisa menyelesaikan bangunan itu sebelum kau sembuh nanti."
Seberkas air mata akhirnya lolos dari sudut mata Kirana. Gadis itu menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang memerah, sementara air matanya jatuh menetes tepat di atas telapak tangan Gani yang kasar. Air mata itu terasa hangat, membasuh luka-luka di tangan Gani seperti air suci yang menghapus semua dosa masa lalunya.
Gani membiarkan gadis itu menangis dalam diam. Ia tahu ini bukan tangisan kesedihan atau ketakutan seperti semalam. Ini adalah tangisan kelegaan. Tangisan seseorang yang selama bertahun-tahun berjuang sendirian melawan ketakutan akan kematian dan dilupakan, yang kini menemukan bahwa ada seseorang yang bersedia memastikan namanya akan terus hidup.
"Terima kasih," bisik Kirana di sela isakannya, suaranya sangat lirih. "Terima kasih, Tuan Kota."
"Itu tugasku, Tiran Kecil," balas Gani dengan senyum lembut, mengusap punggung tangan gadis itu dengan ibu jarinya. "Tugasmu sekarang hanya satu: fokuslah untuk tetap bernapas. Aku yang akan mengurus sisanya."
Keheningan yang sangat intim memeluk mereka berdua. Cahaya matahari sore merambat lambat di lantai kamar, menandakan waktu perlahan bergulir menjauh. Untuk beberapa saat, Gani merasa bahwa hidupnya telah mencapai titik ekuilibrium (keseimbangan) yang sempurna. Tidak ada Raka, tidak ada utang bank, tidak ada Paman Lukman. Hanya ada dirinya, Kirana, dan sebuah taman bacaan yang menunggu untuk diselesaikan.
Namun, kedamaian di dunia nyata tidak pernah bertahan selamanya.
Sekitar pukul empat sore, saat Kirana kembali memejamkan mata untuk beristirahat dan Gani sedang membaca buku novel yang ditinggalkan gadis itu, terdengar suara sepeda motor yang berhenti di depan pagar.
Suara knalpotnya yang berisik dimatikan, disusul oleh teriakan nyaring yang tidak asing.
"Assalamualaikum! Mas Gani! Eh... Kirana!"
Itu suara Pak Yono, penjaga palang pintu kereta sekaligus salah satu perangkat desa yang sering membantu urusan administrasi warga.
Gani meletakkan bukunya, memastikan selimut Kirana tertutup rapi, lalu berjalan keluar kamar menuju teras depan. Ia mendapati Pak Yono sedang berdiri di halaman, masih mengenakan seragam hansip hijaunya yang kedodoran. Di tangan kirinya, Pak Yono memegang sebuah amplop cokelat tebal yang tersegel rapi.
"Waalaikumsalam, Pak Yono. Jangan berteriak, Kirana sedang tidur," tegur Gani pelan sambil menuruni undakan teras.
Pak Yono langsung menutup mulutnya dengan tangan, memasang wajah bersalah. "Maaf, maaf, Mas Gani. Saya kira Mas Gani di rumahnya sendiri, makanya saya cari ke sini kebetulan lihat pintunya terbuka."
"Ada apa, Pak? Kirana sedang tidak bisa dijenguk dulu hari ini."
"Bukan, bukan mau jenguk Kirana," Pak Yono menggeleng, lalu menyodorkan amplop cokelat tebal itu kepada Gani. Ekspresi wajah pria tua itu terlihat sedikit tegang. "Ini, Mas. Tadi siang ada petugas pos dari kantor kecamatan yang datang ke Balai Desa. Katanya ada surat penting, sangat kilat, khusus untuk Mas Gani."
Gani mengerutkan dahi. Ia menerima amplop tersebut. Permukaan kertas cokelatnya terasa tebal dan kasar. Tidak ada nama pengirim di bagian depan, hanya tertulis nama lengkapnya: Gani Raditya, beserta alamat Balai Desa Karangbanyu (karena rumah Gani tidak memiliki alamat yang terdaftar rapi).
Namun, saat Gani membalik amplop itu, darah di seluruh tubuhnya serasa mendidih lalu membeku dalam waktu yang bersamaan.
Di bagian penutup amplop, terdapat sebuah stempel lilin merah yang dicap dengan logo timbul sebuah firma hukum paling terkenal dan paling mahal di Jakarta Selatan. Firma hukum yang sama yang mendampingi para investor perusahaannya untuk merampas seluruh aset yang ia miliki sebulan yang lalu.
"Bapak posnya bilang..." Pak Yono melanjutkan dengan suara tertahan, menatap wajah Gani yang mendadak pucat pasi. "Surat itu dari pengadilan Jakarta, Mas. Katanya... sangat penting."
Gani mencengkeram amplop itu hingga kertasnya berkerut.
Masa lalunya, hantu-hantu dari ibukota yang ia pikir sudah berhasil ia tinggalkan, ternyata memiliki penciuman yang sangat tajam. Mereka telah mengendus keberadaannya di tempat persembunyian ini.
Gani menoleh ke arah jendela kamar Kirana yang tertutup. Di dalam sana, gadis yang baru saja mengembalikan makna hidupnya sedang tertidur pulas. Dan di tangannya, surat ini mengancam untuk merenggut semuanya kembali.
Badai yang sebenarnya, baru saja tiba di Karangbanyu.