SMA Aexdream adalah sekolah elit yang hanya diisi oleh murid-murid dari kalangan keluarga terpandang, jenius, dan berbakat di berbagai bidang. Di sini, aturan dan gengsi adalah segalanya, apalagi bagi para pengurus OSIS yang dianggap sebagai “raja dan ratu” di lingkungan sekolah. Di antara mereka, ada satu pasangan yang selalu jadi sorotan: Mark, Ketua OSIS yang dingin, perfeksionis, dan sering dibilang kayak “robot nggak punya hati”, serta Gisel, Wakil Ketua OSIS yang cerdas, tegas, tapi punya mulut tajam dan gampang kesal kalau lihat kelakuan Mark yang sok sempurna.
Sejak awal menjabat, Mark dan Gisel selalu bertentangan. Mulai dari rapat yang berakhir debat panas, proker yang nggak pernah satu pendapat, sampai hal sepele kayak pemilihan tema acara sekolah—semua jadi ajang adu argumen. Bagi Gisel, Mark itu cuma cowok sombong yang ngira dia paling benar, sedangkan bagi Mark, Gisel cewek yang terlalu keras kepala dan susah diatur. “Dasar bossy cat! Paling seneng deh bikin aku pusing!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viana18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Tiga hari yang ditunggu sekaligus ditakuti akhirnya tiba. Pagi itu, langit cerah bersih tanpa awan, seolah ikut memberi semangat bagi ratusan siswa kelas 12 SMA Aexdream yang berdatangan sejak pukul enam pagi. Suasana sekolah terasa berbeda: tak ada lagi canda tawa berisik, tak ada lagi lari-larian di koridor. Semua berjalan pelan, wajah-wajah mereka campur aduk antara gugup, tegang, tapi juga ada kilatan semangat dan keberanian. Di dada masing-masing terselip doa dan harapan besar — ini adalah gerbang terakhir sebelum mereka melepaskan seragam putih abu-abu yang sudah tiga tahun melekat di badan.
Mark dan Gisel tiba berbarengan. Tangan mereka saling menggenggam erat, bukan lagi sekadar ungkapan kasih sayang, tapi sebagai saluran kekuatan satu sama lain. Masalah dengan Yeri sudah jadi cerita lama yang lebur jadi pelajaran; kini satu-satunya musuh yang harus dikalahkan adalah deretan soal di atas kertas ujian yang bakal menentukan masa depan mereka.
"Jangan gugup ya, Sayang," bisik Mark sambil mengusap punggung tangan Gisel dengan ibu jarinya. Napasnya sendiri sedikit memburu, tapi dia berusaha terlihat tenang demi ceweknya. "Kita udah belajar mati-matian seminggu ini, kita udah bahas semua materi, kita udah lewatin hal yang jauh lebih susah dari ini. Ini cuma kertas, cuma tulisan. Kita pasti bisa."
Gisel mengangguk, menarik napas panjang lalu menghembuskan pelan untuk menenangkan diri. Dia menatap Mark lekat-lekat, senyum kecil namun meyakinkan terukir di bibirnya. "Iya. Lo bener. Badai besar aja kita lewatin bareng, masa ujian doang bikin kita takut? Kita kerjain yang terbaik, sisanya serahin sama hasilnya. Yang penting kita udah berjuang sekuat tenaga."
Tak jauh dari sana, Jeno dan Karina juga berdiri berdua. Jeno tampak tenang seperti biasa, tapi tangannya diam-diam meremas buku catatan kecil yang berisi rumus-rumus penting. Karina, yang biasanya pemalu dan pendiam, kini berdiri tegak di sampingnya, matanya bersinar percaya diri — perubahan besar yang dibawa cinta dan dukungan Jeno. Begitu juga dengan pasangan lain: Haechan yang berusaha bercanda supaya suasana nggak kaku, Ningning yang sibuk mengecek perlengkapan, Jaemin dan Winter yang saling berdoa pelan, serta Chenle dan Miyeon yang saling mengingatkan materi pelajaran.
Bel tanda masuk ruang ujian berbunyi panjang dan nyaring. Suasana makin tegang. Satu per satu mereka melangkah masuk ke ruang masing-masing. Mark dan Gisel ternyata beda ruangan, terpisah agak jauh. Sebelum berpisah di depan pintu ruangan, Mark menahan lengan Gisel sebentar, menatapnya dalam-dalam.
"Inget ya... apa pun yang terjadi nanti, seberat apa pun soalnya, seberapa susah pun rasanya... tarik napas, inget kita ada tujuan yang sama, dan kita bakal ketemu lagi di sini sore nanti buat ngerayain langkah pertama kita menuju masa depan. Semangat ya, Cantik. Gue bangga banget sama lo."
Gisel tersenyum haru, mengangguk mantap. "Semangat juga ya, Kak. Gue percaya sama lo. Sampai ketemu sore nanti."
Mereka pun masuk ke ruangan masing-masing. Di dalam, suasana hening, dingin, dan penuh ketegangan. Pengawas ujian berjalan mondar-mandir, langkah kakinya bergema pelan. Begitu kertas soal dibagikan dan perintah mulai mengerjakan dikumandangkan, detik demi detik berjalan terasa lambat namun menegangkan.
Mark duduk di bangku dekat jendela. Matanya menyapu deretan soal di halaman pertama. Ada beberapa yang langsung bisa dia jawab dengan lancar, hasil belajar keras semalam. Tapi ada juga yang bikin dia berhenti sejenak, mengerutkan kening, berusaha mengingat-ingat materi yang sudah dipelajari. Di saat-saat buntu itu, bayangan kejadian beberapa minggu lalu melintas sekilas: saat dia dikurung di kamar, saat dia dituduh, saat dia hampir kehilangan segalanya.
"Lo mau nyerah cuma gara-gara soal susah? Gue hampir kehilangan lo, hampir kehilangan nama baik, hampir kehilangan semuanya... dan gue tetep berdiri. Lo pasti bisa, Mark. Lo punya alasan besar buat berjuang: Gisel, mimpi lo, dan masa depan lo bareng dia."
Pikiran itu jadi bahan bakar. Semangatnya bangkit kembali. Dia mulai menulis lagi, tangannya bergerak cepat dan pasti. Setiap kali dia merasa lelah atau bingung, dia selalu melirik ke arah jendela, membayangkan wajah Gisel yang tersenyum dan bilang "Kamu pasti bisa". Dukungan itu terasa nyata, seolah ceweknya itu ada di sebelahnya, memandu dia melewati setiap soal sulit.
Di ruangan lain, Gisel juga merasakan hal yang sama. Ada beberapa mata pelajaran yang memang bukan keahliannya, ada beberapa soal yang terasa seperti teka-teki tak terpecahkan. Rasa cemas sempat merayap masuk: "Gimana kalau nilai gue jelek? Gimana kalau gue nggak lolos universitas yang sama sama Mark? Gimana kalau kita harus pisah jauh?"
Tapi kemudian dia ingat janji mereka. Dia ingat saat Mark bilang: "Jarak nggak bakal jadi apa-apa buat kita." Dia ingat perjuangan mereka membuktikan kebenaran, membuktikan cinta mereka lebih kuat dari kebohongan apa pun. Dia menarik napas panjang, memejamkan mata sebentar, lalu kembali fokus. Dia berjuang bukan cuma buat nilai, tapi buat mimpi mereka berdua. Dia nggak boleh kalah, nggak boleh nyerah, karena dia tau di ruangan lain, cowoknya juga sedang berjuang mati-matian demi masa depan mereka.
Tiga hari ujian berlalu dalam keheningan, keringat dingin, dan ketegangan yang memuncak. Setiap jam istirahat dan sore harinya, di depan gerbang sekolah selalu jadi tempat berkumpul utama. Begitu pintu ruangan terbuka, Mark dan Gisel selalu saling mencari pandangan duluan. Begitu mata mereka bertemu, semua rasa lelah, rasa khawatir, dan rasa tegang langsung luruh seketika.
"Gimana? Susah banget nggak?" tanya Mark cemas sambil langsung menyodorkan botol minuman dingin ke tangan Gisel begitu mereka bertemu di hari kedua.
Gisel mengangguk sambil menghela napas panjang, tapi senyumnya tetap ada. "Ada beberapa yang bikin pusing banget sih... tapi udah dikerjain sebaik mungkin. Gimana lo? Lo oke kan?"
Mark tertawa kecil, mengacak rambutnya sedikit berantakan. "Sama. Ada yang gampang, ada yang bikin mikir keras. Tapi yang penting udah dijawab semua. Gue yakin kita udah ngelakuin yang terbaik."
Di hari terakhir ujian, suasana rasanya campur aduk banget. Saat bel tanda berakhirnya seluruh ujian berbunyi panjang dan nyaring seisi sekolah, hening sejenak... lalu meledaklah sorak sorai, teriakan lega, dan tangis bahagia dari seluruh siswa kelas 12. Ratusan siswa keluar dari ruangan dengan wajah lega, berpelukan satu sama lain, saling memukul bahu, tertawa, ada yang menangis karena terharu dan rasa lega yang luar biasa.
Mark keluar ruangan dengan langkah lemas tapi hati penuh kelegaan. Dia berjalan cepat menuju gerbang, matanya berputar mencari sosok yang paling dia rindukan hari itu. Dan di sana, di tengah kerumunan siswa yang bersorak, Gisel berdiri, tersenyum lebar sambil melambaikan tangan.
Tanpa pikir panjang, Mark berlari kecil menghampirinya, lalu langsung memeluk tubuh Gisel erat sekali, mengangkatnya sedikit ke atas karena rasa bahagia yang meluap-luap. Gisel tertawa renyah sambil memeluk leher Mark erat, membiarkan dirinya terbuai dalam pelukan itu.
"Selesai... semuanya selesai..." bisik Mark di telinga Gisel, suaranya bergetar karena emosi. "Ujian selesai, masa-masa sulit selesai, perjuangan kita sampai di tahap ini. Kita berhasil melewatinya, Sayang. Kita berhasil."
Gisel mengangguk kuat di dada Mark, air mata bahagia menetes membasahi seragam putih abu-abu cowoknya. "Iya... kita berhasil. Semua rasa sakit, semua belajar malam-malam, semua doa... terbayar udah. Kita udah selesaiin tugas kita di sini."
Teman-teman mereka pun berkumpul berkerumun, semua tertawa, bersorak, saling berpelukan. Jeno dan Karina, Haechan dan Ningning, Jaemin dan Winter, Chenle dan Miyeon — semuanya ada di sana, sama-sama merasakan kelegaan luar biasa. Rasanya seperti beban berat baru saja diangkat dari pundak mereka semua.
Matahari sore mulai condong ke barat, menyinari SMA Aexdream dengan cahaya keemasan yang indah sekali. Angin sore berhembus lembut, membawa rasa haru yang mendalam. Mereka sadar, ujian selesai berarti satu bab besar dalam hidup mereka juga selesai. Sebentar lagi, seragam ini akan dilepas, kelas-kelas ini akan ditinggalkan, dan mereka akan berjalan ke arah yang berbeda-beda mengejar mimpi masing-masing.
Tapi sore itu, di halaman sekolah yang penuh kenangan itu, mereka nggak memikirkan perpisahan dulu. Mereka cuma menikmati momen kemenangan ini. Mark menggenggam tangan Gisel, menatap langit jingga di atas sana, lalu menatap wajah ceweknya yang tampak bersinar bahagia.
"Langkah pertama selesai, Sayang. Sekarang kita tinggal nunggu hasilnya. Mau hasilnya apa pun, mau kita satu kota atau beda pulau... inget janji kita ya?" ucap Mark pelan tapi tegas.
Gisel menatap balik, matanya penuh keyakinan dan cinta yang tak tergoyahkan. "Inget. Cinta kita udah teruji segalanya. Jarak, waktu, atau apa pun nggak bakal bisa pisahin kita. Kita bakal tetap bareng, sampai kapan pun."
Mereka berjalan beriringan keluar gerbang sekolah, diikuti teman-teman yang masih tertawa dan bersorak riang. Masa SMA yang penuh warna, penuh konflik, penuh cinta, dan penuh pelajaran berharga, perlahan akan berakhir. Namun, kisah cinta dan persahabatan mereka baru saja memasuki babak baru: babak kedewasaan, babak mimpi, dan babak masa depan yang cerah.