"Tuhan!, tidak banyak yang ku pinta, hanya kuatkan hati ku, bimbing langkahku, agar aku selalu sabar dan ikhlas dengan semua kehendak dan ketentuan mu ini".
Kisah perjuangan hidup seorang anak manusia, seorang remaja miskin, putra dari seorang penderita odgj bernama Kaenan.
Hinaan, caci maki, fitnah dan perundungan bahkan kekerasan fisik, sudah menjadi lauk makan sehari hari.
Meskipun hidup dalam kemiskinan dan tak punya siapa siapa, satu hal yang masih di yakini Kaenan, dia masih punya Allah dan doa doa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvinoor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
"Disamping baik, kau juga rendah hati nak, terimakasih sekali lagi nak, berkat bantuan mu, kakek bisa selamat hingga detik ini" ujar kakek Aji Sasongko tulus.
Beberapa saat ngobrol dengan kakek Aji Sasongko, dari luar, masuk sepasang suami istri paruh baya dan seorang anak remaja putri.
"Pah!, bagai mana keadaan mu?" tanya pria paruh baya itu.
"Alhamdulillah sudah baikan Hen!, kata dokter papah terkena serangan jantung nak, harus operasi pemasangan ring, jika tidak, sewaktu waktu sakit jantung papah bisa saja kumat dan berakibat patal, tadi pun waktu papah terkena serangan jantung, menurut dokter, jika terlambat lima menit saja lagi, papah tidak bisa diselamatkan, untung nak Kaenan ini sigap menolong membawa saya ke Rumah Sakit terdekat" ujar kakek Aji Sasongko menceritakan.
"Opa!… orang dungu mana yang sudah membawa opa ke kamar kelas rakyat jelata ini?, dasar dungu tidak tahu diri, seorang konglomerat dimasukan ke kamar kelas rakyat jelata, ini bukan hanya memalukan opa!, tapi penghinaan juga!" tiba-tiba gadis cantik yang hadir bersama istri pak Hendra mengomel panjang lebar sambil mata nya melotot kearah Kaenan.
Kaenan yang merasa dirinya menjadi obyek utama yang disalahkan oleh gadis itu, tidak berkata apa apa, hanya diam tertunduk.
"Mengapa harus mempermasalahkan hal itu?, kan kita bisa minta pindah ke kamar VVIP, lagi pula disini pun opa senang, tidak apa apa sayang" sahut kakek Aji Sasongko lembut.
"Bagi opa sih tidak apa apa!, kami yang tidak tega, masa seorang konglomerat menginap di ruangan kelas ekonomi, ini penghinaan besar opa!, lagi pula opa harus berhati hati!, jaman sekarang banyak orang yang berpura-pura baik padahal punya maksud jahat!" bantah gadis itu menatap kearah Kaenan dengan sudut matanya seraya menarik sudut bibirnya keatas.
"Om!, maafkan saya om!, tidak ada maksud sedikitpun dihati saya untuk menghina kakek, dalam pikiran saya, bagai mana menyelamatkan kakek, itu saja!, jika itu salah, saya mohon maaf om, saya senang kakek sudah sehat, karena om sudah datang, jadi saya pamit pulang dulu, maafkan kelancangan saya om!" Kaenan melangkah keluar tanpa menunggu jawaban dari kakek Aji.
"Nak!, tunggu sebentar nak!" kakek Aji Sasongko berusaha memanggil Kaenan dengan suara lemah.
Namun Kaenan pura pura tidak mendengarkan panggilan pria tua itu.
Dengan cahaya mata berkilat marah, dia menatap kearah Hendra putra nya.
"Begitukah cara mu mendidik putri mu Hendra?, anak muda itu sudah menyelamatkan nyawa ku, tahukah kau Hendra?, seandainya terlambat beberapa menit saja anak muda itu membawa ku ke Rumah Sakit, aku sudah tidak tertolong lagi, berkat pertolongan anak muda itulah papah masih hidup hingga sekarang, papah benar benar kecewa dengan mu Hendra!, kau cuma pandai bikin anak!, tapi tidak bisa mendidik nya, jangan kan membalas budi dan jasa anak itu, berterimakasih saja kalian tidak!, benar benar biadab kelakuan kalian!" suara tuan Aji Sasongko meskipun tidak terlalu nyaring, tetapi dapat didengar dengan jelas dan terasa menusuk kedalam kuping semua orang di tempat itu.
"Ma… maafkan saya pah!, saya minta maaf atas kelakuan Kelyandra yang keterlaluan tadi!, saya benar benar menyesal sekali!" ucap Hendra menundukkan kepalanya.
Tuan Aji Sasongko hanya diam saja, dia menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskan nya dengan kasar.
"Papah kecewa dengan mu Hen!, kau gagal mendidik putri mu menjadi manusia yang berbudi, untuk sementara, penyerahan perusahaan papah yang ada di kota ini kepada mu, papah tunda!, telpon kakak mu Indra sekarang, bilang jemput papah secepat nya, papah mau pulang saja!" suara tuan Aji Sasongko, meskipun tidak nyaring, namun terasa menggelegar di dalam liang telinga Hendra dan keluarga nya. Terutama Kelyandra, gadis cantik itu gemetar mendengar keputusan opa nya yang membatalkan penyerahan perusahaan di kota ini kepada papah nya. Dia tidak menyangka sikap nya tadi membuat opa nya sangat murka, padahal dia hanya ingin menunjukan rasa sayang dan rasa perduli nya dia pada opa nya itu.
Setelah berkata seperti tadi, tuan Aji Sasongko tidak lagi mau berkata kata, meskipun tuan Hendra mengajak nya berbicara.
Siang itu juga, tuan Aji Sasongko dipindahkan ke Rumah Sakit yang lebih besar dengan peralatan dan fasilitas yang lebih lengkap, serta tinggal di ruang VVIP, ruang rawat inap yang lebih mirip kamar Hotel itu.
Namun tuan Aji Sasongko menjadi irit bicara, pikiran nya selalu terbayang kepada Kaenan , seorang anak muda miskin, namun memiliki hati yang kaya raya.
"Tuhan!, jangan cabut nyawa ku sebelum aku bertemu kembali dengan anak muda itu" bisik tuan Aji Sasongko di saat malam malam di dalam kesendirian nya di ruangan yang lebih mirip kamar hotel bintang lima itu.
Tiba-tiba hati nya merasa kesepian, meskipun tidur di ruangan VVIP yang serba mewah itu, berbeda dengan beberapa saat yang lalu, dia masih mendengar dan bisa berinteraksi dengan beberapa keluarga pasien kelas ekonomi lain nya.
Di rumah Kiai Nuruddin, Kaenan baru saja tiba. setelah meletakan motor Aisyah di tempat biasanya, Kaenan langsung mengambil sapu lidi, untuk menyapu daun daun Kelengkeng yang berserakan di halaman rumah itu.
Seorang dara berwajah sangat cantik rupawan terlihat muncul dari arah dalam, berdiri menatap kearah Kaenan beberapa saat.
"Dik!, adik!, sini sebentar!" panggil nya sambil melambaikan tangan nya kearah Kaenan.
Kaenan meletakan sapu lidi di tangan nya begitu saja, lalu melangkah mendekat kearah gadis cantik rupawan itu.
"Ada apa kak?" tanya nya.
"Kenapa wajah mu terlihat kusut?" tanya Aisyah menatap kearah wajah Kaenan.
Kaenan menggelengkan kepala nya, berusaha tersenyum, meskipun senyum itu tampak menjadi senyum lirih.
"Ah!, tidak apa apa kak" jawab nya menghindar.
Aisyah menarik nafasnya dalam-dalam, "dik!, meskipun adik berusaha menutupi, tetapi kakak lah orang yang paling tahu adik, kita kumpul bukan sehari dua hari, tetapi sembilan tahun dik, kakak tahu ada hal yang adik pikirkan, ayo bicara, berbagi dengan kakak!" ....
"Ah bukan hal yang berat kok kak!, Kae hanya teringat nasib diri Kae sendiri, juga teringat nasib ibu kak!, itu saja" kilah Kaenan berdalih.
Namun gadis pemilik wajah cantik jelita dengan tatapan mata teduh itu merasa jika Kaenan ada menyimpan masalah.
"Bagai mana dengan keadaan pria tua itu dik?" tanya Aisyah perlahan seraya duduk di kursi teras.
"Alhamdulillah, sudah mulai sehat kak, keluarga nya sudah datang" sahut Kaenan.
"Bagaimana tanggapan dari keluarga nya?" pancing Aisyah.
Kaenan terdiam beberapa saat, lalu mengangkat wajah nya, menatap wajah dara cantik rupawan itu, "kak!, sulit jadi orang hina itu ya, berbuat baik saja dikira modus" tukas nya dengan suara bergetar.
"Ya!, bila yang kau cari pandangan manusia, tidak semua perbuatan baik itu berharga baik pula, bisa jadi perbuatan baik itu ditanggapi dengan jelek, beda bila yang kau cari pandangan Allah, setiap perbuatan baik akan bernilai baik, meskipun cara dan tanggapan orang buruk, tetapi di sisi Allah pasti bernilai baik, seluruh dunia memuja mu, tetapi jika menurut Allah kau jelek, maka kecelakaan bagi mu, tetapi walaupun seluruh dunia menghina dan menghujat mu, tetapi di sisi Allah kau baik, maka itu saja cukup bagi mu, jangan berbuat kebaikan karena mengejar pujian, kerjakan lah perbuatan baik itu murni karena Allah, tanpa mengharap kan imbalan apapun, tidak juga karena berharap pahala, masa bodoh dengan pahala, itu hanya nilai dari Allah, jangan berbuat amal kebaikan karena mengharapkan pahala, itu tidak ikhlas namanya, yang ikhlas karena Allah itu, kita mengerjakan semua perbuatan baik, tanpa mengharapkan apapun, hanya mengharapkan ridho Allah saja" ucap Aisyah lembut.
Kaenan tersenyum lega, hatinya kini terasa lebih plong setelah mendengar wejangan singkat dari Aisyah tadi. Rasa sakit setelah diperhinakan oleh gadis cantik cucu dari kakek Aji Sasongko tadi pun sirna seketika.
"Mengapa aku harus sakit hati, toh yang dikatakan gadis tadi semua nya benar, aku memang orang miskin yang rendah dan hina, jadi buat apa aku sakit hati, itu bukan fitnah, memang kenyataan nya seperti itu" pikir Kaenan dalam hati, meski hanya sekedar menghibur hati nya sendiri.
Aisyah berdiri, sebelum masuk, dia menetap kearah anak muda di hadapan nya itu, "tunggu sebentar ya, kakak punya sesuatu untuk mu" ujar nya seraya melangkah masuk ke dalam.
Beberapa saat kemudian, dara itu keluar sambil menenteng sebuah handphone warna hitam.
"Ini kakak belikan untuk mu beberapa hari yang lalu, tetapi karena kesibukan, kakak jadi lupa mengasihkan nya pada adik" ujar Aisyah menyerahkan handphone produk China itu kepada Kaenan.
Untuk beberapa saat, Kaenan terpaku menatap kearah handphone baru itu.
"Ta… tapi Kae tidak memerlukan ini kak, ini terlalu mewah bagi Kae, terlalu mahal, Kae tidak bisa menerima nya" tolak Kaenan.
Nampak rona kekecewaan di wajah dara cantik itu, "apa adik tidak suka dengan pemberian kakak?" tanya nya.
"Bu… bukan itu kak, tentu saja Kae suka kak, te… Tetapi ini terlalu mahal bagi Kae kak" tolak nya.
"Baiklah jika adik tidak mau menerima pemberian kakak tak apa, tapi ini kakak beli murni dari uang hasil Tausiyah kakak yang kakak kumpulkan untuk membelikan handphone untuk adik, harganya tidak seberapa, hanya dua juta lebih sedikit, nanti akan kakak jual lagi aja" ucap dara cantik itu dengan nada kecewa.
Sebagai manusia normal, Kaenan pernah bermimpi memiliki harta benda seperti kepunyaan anak muda lain nya, tapi itu hanya sebatas mimpi, dia menyadari jika mimpi itu jauh dari jangkauan tangan nya, seibarat Anai anai bermimpi ingin mencapai bulan dengan membangun Blambika (istana Anai anai, biasanya berupa gundukan tanah mirip gunung mini), sampai kiamat sekali pun, tidak mungkin tercapai.
Namun hati kecilnya terasa perih melihat rona kekecewaan diwajah wanita yang paling disayangi nya itu.
Bagi Kaenan, Aisyah adalah manusia pertama yang menerima dirinya apa adanya, tanpa mengungkit ungkit siapa dan bagai mana latar belakang kehidupan nya.
"Kak!, kak Aisyah!" suara Kaenan bergetar.
Dara cantik itu menoleh kearah Kaenan, "ada apa?" tanya nya.
"Apakah saya pantas memiliki benda itu kak?, saya hanya anak sampah, putra seorang penderita odgj, benda itu akan mendatangkan masalah baru bagi saya kak, tetapi jika kakak anggap saya pantas memiliki nya, saya akan menerima nya kak" ujar Kaenan.
...****************...