"Hanya karena aku miskin, kau membuangku seperti sampah?"
Andra, seorang kurir yang bekerja keras 14 jam sehari, baru saja diusir dari kontrakannya dan diputuskan oleh kekasihnya demi pria bermobil mewah. Namun, di saat titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Saldo Tak Terbatas Diaktifkan!]
[Level 1: Menghasilkan Rp 1.000 setiap detik secara otomatis.]
[Saldo saat ini: Rp 1.000... Rp 2.000...]
Dalam satu menit, ia mendapatkan Rp 60.000. Dalam satu jam, jutaan rupiah masuk ke rekeningnya tanpa melakukan apa pun. Dunia yang dulu menghinanya kini harus bersiap. Siapa pun yang pernah memandangnya rendah akan bersujud di bawah kakinya.
Bagi Andra, satu-satunya masalah sekarang bukan lagi cara mencari uang, tapi bagaimana cara menghabiskannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Darah di Atas Es
Jet pribadi itu berguncang hebat saat menembus badai salju di wilayah udara Antartika. Di dalam kabin, suasananya jauh dari kata mewah. Meja jati yang biasanya rapi kini berantakan dengan peta navigasi fisik dan botol kopi yang sudah kosong. Andra duduk di kursi kemudi, matanya merah karena kurang tidur. Di sampingnya, Sang Jagal terus memelototi radar yang hanya menampilkan garis-garis statis.
"Tuan, kita nggak bisa mendarat kalau begini terus. Jarak pandang nol. Kalau dipaksa, kita cuma bakal jadi rongsokan di bawah tumpukan es," gerutu Sang Jagal sambil mengusap wajahnya yang kasar.
Andra tidak menjawab dengan bahasa teknis sistem seperti biasanya. Ia hanya mendesis, "Gue nggak peduli. Kita udah jauh-jauh ke sini bukan buat putar balik gara-gara salju. Turunkan ketinggian. Sekarang."
"Tapi Tuan..."
"Lakukan saja, Jagal!" bentak Andra. Suaranya serak. "Gue butuh jawaban. Kalau si Kurator benar soal Siska dan skenario konyol alien ini, gue harus tahu siapa yang ada di bawah sana."
Pesawat itu menukik tajam. Guncangannya makin gila sampai-sampai beberapa botol di rak pecah berantakan. Tiba-tiba, radar yang tadinya mati mendadak berbunyi nyaring. Sebuah sinyal kuat datang dari bawah permukaan es—tepat di koordinat yang diberikan Kurator sebelum dia jadi abu.
"Itu dia," gumam Jagal.
Begitu jet itu menyentuh landasan pacu yang tersembunyi di balik gua es raksasa, Andra langsung melompat keluar bahkan sebelum pintu hidrolik terbuka sempurna. Udara dingin yang ekstrem langsung menusuk paru-parunya, tapi amarah di dadanya jauh lebih panas.
Ia berjalan cepat menuju sebuah pintu baja raksasa yang tertanam di dinding es. Di sana, sudah menunggu sekelompok pria berseragam putih bersih. Mereka bukan tentara, tapi mereka punya tatapan mata yang dingin, seolah-olah mereka sudah nggak punya perasaan lagi.
"Tuan Andra," salah satu dari mereka maju. "Kami sudah menunggu Anda. Silakan masuk, tapi pengawal Anda harus tetap di sini."
Jagal langsung mengokang senjatanya. "Nggak ada cerita. Gue ikut."
Pria berseragam itu tersenyum tipis. "Di sini, senjata api Anda cuma mainan plastik. Silakan coba kalau mau mati konyol."
Andra mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Jagal mundur. "Tunggu di sini, Gal. Kalau dalam satu jam gue nggak keluar, hancurkan tempat ini pakai semua bom yang kita punya di jet. Jangan sisakan satu baut pun."
Andra melangkah masuk ke dalam fasilitas itu sendirian. Begitu pintu tertutup, suasana berubah total. Tidak ada lagi suara badai, hanya keheningan yang menyesakkan. Koridor di depannya dilapisi bahan seperti kaca yang memperlihatkan teknologi yang belum pernah ia lihat di buku mana pun.
[Ding! Deteksi Sinyal Asing.] [Koneksi dengan 'Pusat' terjalin...]
"Selamat datang, Andra," suara itu bukan lagi digital seperti Kurator. Kali ini, suaranya sangat mirip dengan ibunya—suara yang sudah lama sekali tidak ia dengar sejak dia hidup susah di jalanan.
Andra berhenti. Dadanya sesak. "Jangan berani-berani pakai suara itu, sialan!" teriaknya. "Keluar lo! Siapa yang sebenarnya nanam barang ini di kepala gue?!"
Dinding di ujung koridor bergeser, memperlihatkan sebuah ruangan besar yang melayang di atas jurang es. Di tengah ruangan itu, duduk seorang pria paruh baya yang sedang asyik menyesap kopi hitam dari cangkir porselen murah—sangat kontras dengan teknologi di sekitarnya.
"Duduk dulu, Ndra. Kopi di sini lumayan, meskipun nggak seenak warung kopi di pinggir jalan Jakarta," ucap pria itu santai.
Andra terpaku. Pria itu adalah ayahnya—orang yang seharusnya sudah meninggal dalam kecelakaan kerja saat Andra masih kecil. Ayah yang dulu membuat ibunya harus banting tulang hingga sakit-sakitan karena nggak punya biaya berobat.
"Papa?" suara Andra bergetar.
"Papa? Oh, bukan. Aku cuma memakai memori terdalammu supaya kamu merasa 'nyaman'," pria itu tertawa kecil, tapi tawanya terasa hampa. "Aku adalah perwakilan 'The Void' untuk sektor Asia Pasifik. Kamu boleh panggil aku 'H'. Dan ya, aku yang memilihmu dari jutaan manusia miskin lainnya."
Andra melangkah maju, tangannya sudah memijar dengan energi emas. "Lo main-main sama hidup gue? Lo bikin gue dihina Siska, lo bikin gue hampir mati konyol, semua cuma buat eksperimen 'Benih' sampah ini?!"
"Marahlah, Ndra. Marah itu bagus. Emosi itu yang bikin saldo galaksimu naik drastis," pria bernama H itu berdiri. "Kamu pikir Siska mengkhianatimu karena dia jahat? Kami yang menghapus memori cintanya padamu setiap malam saat dia tidur. Kami yang menanamkan obsesi harta ke kepalanya. Kenapa? Supaya kamu menderita. Karena hanya manusia yang menderita yang punya ambisi gila untuk kaya."
Andra merasa otaknya mau pecah. Jadi semua rasa sakitnya, tangisannya di bawah hujan saat diputusin Siska, itu semua adalah hasil "tuning" dari orang-orang ini?
"Lalu kenapa sekarang? Kenapa lo bongkar semuanya sekarang?" desis Andra.
"Karena 'Benih' itu sudah mekar. Bumi sudah terlalu kecil buatmu, Ndra. Kamu sudah menguasai semua uang di sini. Sekarang, kami butuh kamu untuk naik ke level berikutnya: Perang Saham Galaksi. Ada peradaban di luar sana yang butuh ditekuk secara finansial sebelum armada tempur kami datang menjajah. Kamu adalah 'Pedang' kami."
Andra tertawa. Tawanya makin lama makin keras, sampai air matanya keluar. "Jadi gue cuma jadi 'debt collector' alien? Lo salah pilih orang, H."
"Salah pilih? Kamu baru saja membuktikan loyalitasmu dengan menyelamatkan Siska. Itu artinya kamu masih bisa dikendalikan lewat perasaan."
Andra menatap tangannya. Ia memanggil Sistem. Tapi kali ini, dia tidak meminta uang.
"Sistem... hapus semua protokol 'The Void'. Ambil alih kendali penuh. Bakar sisa saldo galaksi gue buat hancurkan fasilitas ini sekarang juga!"
[Ding! Perintah Diterima.] [Peringatan: Ini akan membuat Inang menjadi buronan galaksi nomor satu!]
"Gue udah terbiasa hidup susah di jalanan. Menjadi buronan galaksi terdengar jauh lebih keren daripada jadi anjing peliharaan kalian," ucap Andra tajam.
Pria bernama H itu wajahnya mendadak berubah datar. "Pilihan yang sangat bodoh, Andra."
Sebelum H sempat bergerak, Andra sudah menghantamkan tinjunya ke lantai kaca. Energi emas meledak, bukan ke arah H, tapi ke arah generator utama yang menopang seluruh fasilitas Antartika itu.
KABOOM!
Ledakan itu mengguncang seluruh benua es. Andra tidak lagi peduli pada uang. Dia hanya ingin menghancurkan siapa pun yang sudah berani menganggap hidupnya sebagai mainan. Pertempuran yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan kali ini, musuhnya bukan lagi manusia dengan angka di bank, tapi entitas yang bisa mengubah takdir.