Danil Dwi Cahya, 16 tahun, lulus SMP dengan prestasi gemilang. Namun, ia tak bisa lari dari "Pernak-Pernik Kehidupan" yang keras: kemiskinan, pengkhianatan masa lalu sang ayah, dan beban mengangkat harga diri keluarga.
Hatinya makin rumit saat Ceceu Intan Nuraini, sahabat sekaligus cinta tak terucapnya, rela berkorban segalanya. Di tengah dilema merantau atau bertahan, Danil harus menghadapi intrik desa, mitos seram, dan bahaya dari majikan "buaya darat" Ceceu.
Akankah ia menemukan jalan keluar dari jeratan takdir dan cinta? Atau justru terhanyut dalam 'pernak-pernik' kehidupan yang tak terduga? Baca kisah perjuangan Danil dalam PERNAK-PERNIK KEHIDUPAN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Dia tidak pulang, dan dia tidak ada kabar sama sekali bahkan nomor ponselnya pun tidak aktif, kemana anak itu? Apakah memutuskan untuk mengelana atas apa yang di titahkan oleh sang kakek, namun kenapa dia tidak memberitahu ku atau nenek nya.
Lamunan, lamunan dan khayalan wanita setengah tua itu buyar ketika anak bungsunya meminta uang dan ingin jajan tahu bulat yang sedang mengider ke kampung nya itu.
Tahu bulat, di goreng dadakan lima ratusan haranet pisan, makk nyoss." Bunda..... Bunda..... Pengen beli tahu bulat.
Wanita setengah tua yang di panggil bunda itu tersenyum melihat tingkah anak bungsunya yang merengek minta jajan, lalu mengambil uang dari sakunya dan memberikan pada anaknya itu.
" Malam ini aku akan menginap di rumah ibu dan menanyakan tentang Daniel yang tak kunjung kembali setelah meminta izin untuk pergi ke kota menemui temannya itu." Wanita itu berkata kembali lalu masuk ke dalam rumah kecilnya itu.
Erna yang berada di halaman rumahnya sedang membereskan barang rongsokan bersama suaminya, menatap sendu pada wanita yang statusnya adalah ibu mertuanya, raut wajah kesedihan tampak di wajahnya saat ini setelah hampir dua hari anak kesayangan itu tak kunjung kembali dan telepon pun tak kunjung aktif.
" Er malam ini bunda mau nginep di rumah nenek. Sama Mela dan Amel." Sang ibu berhenti langkah kakinya dan duduk membantu menantunya yang sedang membereskan barang barang hasil pekerjaan suaminya itu.
" Yaa udah, Erna juga ikut ya Bu, intan mungkin ingin nginap di rumah buyutnya, tau sendiri ibu semalam dia nangis mulu."
" Iya bawa aja, biar suami mu aja yang tidur sendirian di rumah ini." Sang ibu menoleh ke arah anak tertua nya dan bertanya.?" Kamu tidak apa apa kan tinggal di sini malam ini?"
Mulyadi mengangguk dan berkata singkat." Iya Bunda.!
Sang ibu dan menantunya itu dengan cepat membereskan barang barangnya agar cepat selesai dan sore hari nya dia akan langsung pergi dengan berjalan kaki menuju rumah neneknya di kampung sebelah yang di tempuh memakan waktu 15 menit saja dengan berjalan kaki.
" Assalamualaikum.................!
" Assalamualaikum..................!
Ketika mereka sedang bergelut dalam sibuknya membereskan barang barang rongsokan, tiba tiba dari arah depan suara salam terdengar, ibu dari Daniel yang entah kemana dan di mana saat ini langsung bergegas untuk menyambut tamu di siang itu.
" WaallAikum Salam.......... Sebentar."
Pintu pun di buka tampak dua gadis anggun nan cantik tersenyum pada pemilik rumah, seraya meminta izin untuk masuk ke dalam.
" Bu..... Boleh kami berdua masuk ada yang mau di obrolkan bersama ibu.!
" Kalian berdua, kenapa harus meminta izin segala, ayo masuk." Pemilik rumah mempersilahkan.
"Rini, Neng, ada apa, kok ibu jadi was was sih, ada apa ya.?" Ibu Daniel bertanya setelah mereka duduk dalam amparan karpet.
Kedua gadis yang tak lain sahabatnya Daniel itu, menoleh satu sama lain ke arah nya, memberi kode untuk menjelaskan apa yang mereka dapat kiriman pesan waktu kemarin dari Daniel.
" Begini Bu." Rini menarik nafas dalam-dalam lalu menghentakkan dengan kasar dan mulai berkata.! Kemarin lusa saya dan Neng mendapatkan sms dari Daniel untuk di beritahukan pada ibu, bahwa kemungkinan Daniel untuk saat ini tidak akan pernah kembali ke sini, namun ibu tidak usah khawatir atau pun bimbang jika suatu saat Daniel tidak kembali lagi ke sini." Rini menyerahkan ponselnya dan memperlihatkan kiriman pesan pas pukul 1 siang dalam tulisan itu persis seperti yang di utarakan oleh Rini.
Wanita tua itu termenung berpikir positif thinking aja, berharap anaknya baik baik saja. Ada rasa gundah gulana ketika melepas kepergian Daniel pagi itu meminta izin untuk ke kota menemui temannya.
" Apa kalian membalas pesan dari Daniel dan menanyakan dia mau ke mana?" Tanya ibu Daniel pada Rini dan Neng.
" Sudah Bu, bahkan aku sempat telepon namun di rijek oleh Daniel, jadi setelah bertemu dengan Neng dan hal sama pun Neng dapatkan namun setelah ini nomor Daniel tak aktip sampai sekarang, jadi memutuskan untuk datang ke sini.!
Aneh tidak biasanya Daniel menolak telepon dariku atau pun dari Neng, ada sesuatu rahasia besar dan itu menjurus pada sahabat ku yang satu lagi, dan yang lebih anehnya lagi, Ceceu sahabat dekat Daniel mendadak berhenti bekerja. Mungkinkah ini ada kaitannya pada Ceceu atau kah jangan jangan...............
Rini berspekulasi ke arah yang membuatnya bergidik ngeri, pikirannya melanglang buana kepada kawin lari antara Ceceu dan Daniel.
"Rini, Neng, terima kasih informasinya, seandainya ada kabar terbaru tentang di mana nya anak ibu, mohon segera beritahu ibu ya." Pintanya, wanita tua ini tidak mau berpikiran ke arah yang negatif, sejatinya keputusan akan di putuskan setelah mengobrol dengan ibu kandungnya yaitu nenek Daniel.
" Baiklah Bu, kalau begitu kami pamit dan secepatnya kalau ada kabar terbaru akan kami kabari." Rini bangkit dari duduk nya di ikuti oleh Neng melangkah ke arah pintu keluar.
Anak ini bikin khawatir saja, kemana kamu nak, di mana pun kamu semoga kamu selamat ya." Wanita tua itu melangkah kembali ke samping rumahnya meneruskan kembali aktivitas membereskan barang barang rongsokan.
" Rini dan Neng bukan Bun yang datang?" Erna bertanya seraya kedua matanya terfokus pada barang rongsokan.
" Iya.! Nanyain keberadaan Daniel, namun orangnya gak ada jadi mereka pulang lagi." Jawab sang Bunda berbohong.
" Ohk.! Tumben atuh ya si Daniel gak pulang kemana dia?" Erna bertanya kembali namun mertua nya itu tak menjawab lagi.
##
Sementara di waktu yang sama tepat nya di pusat kota, Prediansyah setelah usai menelepon dengan sang orang kepercayaan nya, tak lama kemudian Santi pun datang menentang beberapa plastik kecil.
Nanti dalam perjanjian arah pulang, aku akan bertanya padanya, apakah ada orang yang bisa di percaya untuk mengantar temanku yang akan datang dari kota untuk mengantarkan dan menemuiku di rumah pak Kodir." Kilasan dan tatapan penuh arti seraya berkata dalam hatinya Prediansyah.
" San......... Udah beres belanja nya.?" Prediansyah bangkit dari duduknya tersenyum manis ke arahnya.
" Udah Bang, maaf ya lama, karna harus mencari obat yang gak ada di apotek biasa." Ucap Santi.
" Iya tidak apa apa kok, lagian ponsel Abang juga lama penuhnya dan ini sudah hidup, jadi Abang juga baru saja menelepon teman Abang." Terang nya. Santi tersenyum.
" Apa semuanya sudah selesai atau kah ada yang ingin di beli lagi.?" Tanya Prediansyah, Santi menggelengkan kepalanya dan semua catatan yang di tulis oleh sang ibu sudah semua di beli, lagian uangnya juga tinggal sisa buat ongkos.
Prediansyah dan Santi pun melangkah pergi ke arah mobil angkutan umum untuk kembali kerumahnya, Predi sesaat sebelum pergi mengucapkan rasa terima kasih dan pamit dari kios counter itu dan berjanji untuk kembali bertemu bila sudah saat nya tiba.
Santi berkerut keningnya tidak mengerti tentang obrolan mereka berdua, namun ia enggan untuk mencari tahu tentang obrolan mereka berdua saat di tinggalnya pergi.
" San, ini ada uang sisanya seratus ribu lebih, tapi Abang lapar, gimana kita beli nasi Padang mungkin cukup kali ya kalau makan berdua." Ucap Predi hingga langkah kaki Santi berhenti.
Kalau makan di Padang dengan lauk rendang paling kalau berdua habis sekitar 40 ribuan, kecuali makan nya dengan lauk lebih baru gak bakalan cukup.
" Kalau untuk makan sama rendang doang dan teh manis dingin, paling mahal 40 ribuan berdua, kecuali makanya di campur yang lain baru gak bakalan cukup. Gini aja gimana kalau kita makan bakso saja, paket 15 ribu, jadi kita beli enam bungkus dan sisanya bawa ke rumah." Santi memberikan pilihan lain pada Prediansyah.
" Boleh juga tuh San, ayo kita ke tukang bakso." Semangat Prediansyah menarik tangan, menyebrang ke depan tampak kios bertuliskan Bakso Syetan, Bakso Urat, Bakso daging.
Bersambung.