Steven ---seorang Gumiho yang telah tertidur selama 1000 Tahun demi untuk naik tingkat menjadi seorang dewa. Namun di hari terakhirnya, seorang manusia mengacaukan pengorbanan nya.
Setengah kekuatan yang di miliki Steven berpindah pada manusia itu. Membuat dirinya harus tertunda menjadi dewa.
Zoelva Erlangga---- gadis lemah yang selalu di bully oleh ketiga Kakak dan ibu tirinya setiap kali Ayah nya tidak ada. Namun segalanya berubah saat kekuatan asing melindungi nya dan menjadikan nya sangat kuat.
Steven yang menginginkan kekuatan nya kembali. Namun Zoe yang merasa bisa melawan ibu tiri serta ketiga Kakak tirinya dengan kekuatan itu. Justru menolak untuk mengembalikan kekuatan tersebut.
Sementara Rahasia lain telah menantinya.
Bagaimana kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memutuskan Pertunangan
Suasana ruang makan itu mendadak sunyi, hanya denting sendok yang beradu pelan dengan piring porselen mahal.
Maudy menyunggingkan senyum termanisnya, mencoba memecah kebekuan. "Tante, ini makanannya enak banget, Tante yang masak ya? Wah, masakan Tante luar biasa," puji Maudy dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, seolah ingin menyisipkan kesan sebagai calon menantu idaman yang apresiatif. Matanya berkilat penuh harap, mencari pengakuan dari Shasa agar posisi Zoe di hati wanita itu sedikit goyah.
Namun, Shasa hanya melirik sekilas tanpa minat, ekspresinya datar seolah baru saja mendengar suara bising yang lewat. "Bukan, pembantu yang masak. Apa gunanya gaji pembantu kalau Tante yang masak?" sahut Shasa dingin, sebuah jawaban telak yang seketika membuat rona merah malu menjalar di wajah Maudy.
Tanpa memedulikan kecanggungan Maudy, Shasa memalingkan wajahnya dengan binar yang jauh berbeda saat menatap Zoe. "Bagaimana, Zoe? Kamu suka makanannya? Ini Tante minta dimasak khusus sesuai selera kamu, lho," ujar Shasa, nada suaranya melunak penuh perhatian.
Zoe yang merasa terpanggil, melirik sekilas ke arah wanita paruh baya itu.
Di mata Zoe, Shasa sebenarnya bukan sosok mertua yang buruk---sayangnya, ia memiliki putra seperti Evander yang tampaknya buta total akan ketulusan cinta. "Aku suka, Tante," jawab Zoe singkat, namun cukup untuk membuat senyum Shasa mengembang cerah.
Di seberang meja, Evander tak mampu mengalihkan pandangannya dari Zoe. Ada kegelisahan yang merayap di benaknya melihat perubahan drastis itu. Zoe yang biasanya selalu mencari perhatiannya, kini tampak begitu dingin dan abai, seolah keberadaan Evander tak lebih dari sekedar pajangan di ruangan itu.
Merasa momentumnya hilang, Siska menyenggol tangan Maudy, memberikan kode keras agar adiknya itu segera beraksi. Maudy berdeham pelan, mencoba memancing reaksi cemburu dari Zoe. "Kak Evander, makasih ya karena waktu itu Kakak sudah antar aku ke rumah sakit buat periksa tangan aku yang patah," ucap Maudy dengan nada manja yang kental.
Seketika, atmosfer di meja makan berubah tegang. Xanders dan Shasa melemparkan tatapan menuntut penjelasan kepada putra mereka. Bagi mereka, Maudy—meski putri dari Joe—tetaplah anak tiri yang tak sebanding dengan posisi Zoe sebagai pewaris tunggal keluarga Erlangga yang kuat.
"Evan! Bisa kamu jelaskan?" tanya Shasa dengan nada mengintimidasi.
Evander sedikit tergagap, merasa terdesak oleh tatapan tajam ibunya dan sikap acuh tak acuh Zoe. "I--itu Ma, aku cuma kasihan sama Maudy. Aku cuma takut kalau tangannya terluka parah, makanya aku bawa dia ke rumah sakit," jawab Evan berusaha membela diri, meski hatinya kian tidak tenang melihat Zoe yang bahkan tidak menoleh ke arahnya.
"Kenapa kamu begitu peduli sama dia? Ingat, Evan! Tunangan kamu itu Zoe, bukan gadis yang tidak jelas asal-usulnya!" sindir Shasa dengan nada menghina, matanya melirik sinis ke arah Maudy yang duduk mematung. "Meskipun Maudy adalah putri tiri dari Joe Erlangga, tetap saja di nadinya tidak mengalir darah bangsawan sedikit pun. Berbeda dengan Zoe yang merupakan pewaris sah."
Joe Erlangga, yang duduk tepat di samping Tina, hanya diam membisu. Ia menyesap minumannya seolah-olah putri tirinya itu hanyalah pajangan mati di ruangan tersebut, tak ada sedikit pun niat untuk membela. Joe bukanlah sosok Ayah tiri yang jahat--- tapi semua itu berubah saat dia mendengar dengan telinga nya jika putri kandungnya di hina di rumahnya sendiri.
Ting.
Suara denting halus terdengar saat Xanders menaruh gelas anggur putihnya ke atas meja. Aura kepemimpinannya yang dingin menyelimuti ruangan. "Ingat posisimu, Evan. Jangan membuat masalah yang tidak perlu. Hubungan ini sudah direncanakan sejak kalian masih kecil. Kami berniat meresmikan hubungan kalian dengan ikatan pertunangan segera setelah kalian lulus sekolah, bukan?"
"Mama setuju," sambung Shasa cepat, suaranya kembali melunak namun tetap pedas. "Keluarga kita sudah saling mengenal sejak lama. Jadi tidak perlu ditunda lagi. Mama juga tidak mau nantinya kamu malah tergoda oleh gadis yang tidak selevel."
Di bawah meja, tangan Maudy terkepal sangat kuat hingga kuku-kukunya memutih, berusaha sekuat tenaga meredam emosi dan harga diri yang diinjak-injak.
"Kalau begitu, kita tentukan tanggalnya sekarang. Bagaimana jika kurang dari satu minggu? Bukankah beberapa hari lagi liburan semester akan usai?" usul Xanders dengan nada final, seolah tak ada ruang untuk negosiasi.
"Aku setuju saja. Bagaimana menurutmu, Zoe?" tanya Joe, kini melirik putri kandungnya dengan tatapan penuh harap.
Zoe tampak sangat tenang, nyaris seperti patung porselen yang sempurna. Ia melirik satu per satu wajah orang-orang di meja makan yang tengah menunggu keputusannya dengan napas tertahan. Sebuah senyum tipis, hampir tak terlihat, terukir di wajah cantiknya.
Srettt...
Suara gesekan kursi kayu mahal itu terdengar halus namun tegas saat Zoe berdiri. "Maaf Om, Tante, Papa... tapi Zoe tidak bisa melanjutkan pertunangan ini."
Kalimat itu meluncur begitu tenang, namun dampaknya seperti sambaran petir di siang bolong yang menghanguskan seluruh atmosfer ruangan. Keheningan mencekam seketika menyergap.
"Apa Evander tidak bilang pada kalian? Jika aku sudah memutuskan pertunangan ini sejak kemarin?" lanjut Zoe, menatap lurus ke arah Evan yang kini memucat pasi.
Seketika, perhatian semuanya beralih. Semua mata kini menghujam ke arah Evan yang duduk mematung dengan wajah seputih kapas. Lidahnya kelu. Evan tidak pernah menyangka bahwa perkataan Zoe kemarin bukanlah gertakan sambal atau drama mencari perhatian belaka. Ia terlalu percaya diri, mengira Zoe hanyalah gadis pemuja yang tak akan sanggup melangkah pergi darinya.
"Evander! Apa-apaan ini?!" Shasa memekik dengan mata melotot, menuntut penjelasan yang tak kunjung keluar dari bibir putranya.
Evan akhirnya bersuara, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya. Ia menatap Zoe dengan tatapan tidak percaya yang bercampur amarah. "Berhenti bermain-main, Zoe! Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Kamu sangat mencintaiku, kan? Mustahil kamu membuang perjodohan ini begitu saja!" serunya, masih dengan nada sombong yang kental.
Zoe hanya menyunggingkan senyum simpul—sebuah senyum yang tak lagi memancarkan kehangatan, melainkan kelelahan yang mendalam. "Cinta? Mencintai sendirian itu tidak ada enaknya, Van. Daripada membiarkan hatiku terus terluka, aku memilih untuk mengalah. Lagi pula, bukankah Maudy yang selama ini mengisi hatimu? Aku hanya memberimu kesempatan untuk bersamanya sekarang," ujar Zoe dengan nada yang terlampau tenang, hampir seperti robot.
Mata Maudy berbinar seketika, kilat kemenangan sulit ia sembunyikan.
Tina segera menimpali dengan suara yang dibuat selembut sutra namun terasa berbisa. "Zoe, sayang, kamu tidak perlu merasa harus berkorban sejauh itu. Tapi... yah, jika kamu merasa ini yang terbaik, mungkin kamu memang sudah memikirkannya matang-matang."
Dika ikut mengangguk setuju dengan nada dingin. "Benar, Zoe. Terkadang menjadi penghalang kebahagiaan orang lain hanya akan membuatmu menderita. Keputusanmu sudah tepat."
Mendengar itu, Shasa meletakkan gelasnya dengan dentuman kasar hingga airnya menciprat ke taplak meja. "Zoe, sayang! Dengar, ini keputusan yang terlalu mendadak. Bagaimana jika kamu pertimbangkan sekali lagi? Evander itu cuma... dia cuma buta sesaat, Nak," bujuk Shasa penuh kepanikan.
Namun, sebelum argumen lain terlontar, sebuah simfoni notifikasi memecah ketegangan. Ting! Ting! Ting! Ponsel semua orang yang tergeletak di atas meja makan berbunyi serempak. Mereka mengernyit bingung, saling lirik, lalu perlahan meraih perangkat masing-masing. Sebuah pesan masuk—sebuah video tanpa identitas pengirim.
Begitu video diputar, suasana ruang makan mendadak senyap total. Tidak ada lagi perdebatan. Hanya suara dari rekaman video itu yang terdengar menggema, menguliti rahasia yang selama ini tersimpan rapat di balik topeng kesempurnaan mereka.
•
•
•
BERSAMBUNG
tapi semoga stev adalah jodoh Zoe dan nanti anak" mereka mewarisi kekuatan orang tuanya, pasti seru tuh...ayo Thor tambah semangat, buat ceritanya tambah menarik dan seru 💪💪💪💪😘😘😘😘