Arga Ardiansyah baru saja dikhianati setelah tiga tahun berdedikasi saat perusahan tersebut mencapai puncaknya, namun yang membuat dia tetap waras adalah Elina yang sedang berada di Praha.
Arga Ardiansyah kemudian bertekad untuk bangkit kembali dan menyusul cintanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilham Basri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Kebangkitan Sang Iblis
Udara dingin yang menyapu wajah Arga seketika terasa membeku oleh pemandangan di depannya. Di tengah kepulan asap dari bagian depan pondok yang hancur, sosok itu berdiri tegak. Setengah wajahnya yang dulu dikenal Arga sebagai wajah seorang sahabat, kini tertutup oleh pelat titanium yang berkilat dingin di bawah cahaya bulan. Mata kirinya telah diganti dengan lensa optik berwarna merah yang terus melakukan kalibrasi laser ke arah jantung Arga.
"Dani..." suara Arga tertahan di tenggorokan. "Bagaimana mungkin kau selamat?"
"Teknologi kakekmu lebih luar biasa daripada yang kau bayangkan, Arga," suara Dani kini terdistorsi oleh modulator suara di lehernya. "Mereka menemukanku di bawah reruntuhan Tatra. Mereka membangunku kembali hanya untuk satu tujuan: mengambil apa yang menjadi milik The Iron Circle."
Nadia tidak menunggu perintah. Dia melepaskan tembakan beruntun ke arah Dani. Namun, Dani bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal bagi manusia biasa. Dia melompat ke belakang pohon pinus, dan sedetik kemudian, rentetan peluru kaliber berat membalas dari arah hutan—anak buah grup Vulture telah mengepung mereka.
"Arga, masuk ke dalam!" teriak Haris dari balik reruntuhan pintu. "Bawa Elina lewat terowongan bawah tanah! Aku akan menahan mereka di sini!"
"Tidak, Haris! Kita pergi bersama!" balas Arga sambil membalas tembakan dengan pistol yang diberikan Nadia.
"Pergilah!" Haris mendorong Arga dan Elina menuju sebuah lubang di lantai pondok yang tersembunyi di bawah karpet tebal. "Jika kau tidak sampai ke Krakow malam ini, pengorbanan kita semua akan sia-sia! Jaga putriku, Arga!"
Arga menatap Haris untuk terakhir kalinya, lalu menggenggam tangan Elina dan melompat masuk ke dalam kegelapan terowongan. Di belakang mereka, suara ledakan dan baku tembak pecah dengan dahsyat. Pondok kayu itu menjadi medan tempur terakhir bagi Haris dan Nadia untuk memberikan waktu bagi Arga.
Di dalam terowongan yang sempit dan pengap, Arga berlari sambil menggendong Elina yang napasnya masih tersengal. Cahaya senter dari ponselnya menari-nari di dinding tanah yang lembap.
"Arga... Ayah..." Elina terisak, air matanya jatuh di bahu Arga.
"Jangan menoleh, El. Kita harus sampai ke ujung. Kita harus sampai ke Krakow," Arga mencoba menguatkan suaranya, meski hatinya hancur melihat orang-orang yang dicintainya tertinggal di belakang.
Setelah berlari selama hampir dua puluh menit, mereka sampai di ujung terowongan yang keluar di sebuah gudang tua di pinggiran hutan. Di sana, sebuah mobil sedan hitam tua sudah menunggu dengan kunci yang masih menggantung. Ini adalah kendaraan darurat yang disiapkan Haris.
Arga mendudukkan Elina di kursi penumpang, lalu dia duduk di kursi kemudi. Tangannya gemetar saat memegang setir. Dia melihat ke arah hutan yang kini dihiasi oleh kobaran api dari pondok yang terbakar.
"Aku akan menghancurkan mereka semua, El," bisik Arga. "Siska, Hendrawan, dan siapa pun yang ada di balik topeng Dani. Aku akan mengakhirinya malam ini."
Arga menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil itu melesat membelah jalanan bersalju menuju Krakow, kota di mana server pusat perbankan bawah tanah The Iron Circle berada. Jaraknya sekitar seratus kilometer, namun bagi Arga, itu adalah jarak antara hidup yang terus dihantui atau kebebasan yang sejati.
Krakow, Pukul 02:00 Pagi.
Gedung Centrum Cybernetyki berdiri angkuh di tengah kota tua Krakow. Di bawah permukaannya yang tampak seperti kantor teknologi biasa, tersimpan server yang mengelola triliunan dolar uang gelap hasil kejahatan internasional.
Arga sampai di depan gedung itu dengan mobil yang sudah dipenuhi lubang peluru. Dia telah melewati dua barikade polisi dengan nekat. Elina tampak lebih sadar sekarang, matanya menatap tajam ke arah gedung itu.
"Arga, ingat," Elina memegang tangan Arga. "Begitu koin itu masuk ke server utama, sistem akan mencoba memindai kesadaranmu. Kau harus tetap fokus pada memori yang paling murni. Jangan biarkan kemarahanmu menguasai, atau sistem itu akan mengunci DNA-mu selamanya."
"Aku tahu," Arga mencium kening Elina. "Tunggu di sini. Jika dalam tiga puluh menit aku tidak keluar, aktifkan bom di mobil ini dan larilah. Jangan pernah melihat ke belakang."
Arga keluar dari mobil, mengenakan jaket hitam panjang untuk menutupi senjatanya. Dia berjalan menuju pintu masuk utama dengan langkah yang tenang namun mematikan. Penjaga di depan pintu tidak sempat bereaksi saat Arga melumpuhkan mereka dengan gerakan yang taktis dan cepat—hasil dari naluri bertahan hidup yang telah terasah selama pelariannya.
Dia sampai di lift menuju lantai bawah tanah paling dalam. Begitu pintu lift terbuka, dia disambut oleh lorong laser dan sensor biometrik. Arga mengeluarkan koin perak yang hangus itu. Dia tidak lagi ragu. Dia menempelkan koin itu ke panel utama.
DNA RECOGNIZED: ARGA ADRIANSYAH. ACCESS GRANTED.
Pintu server terbuka. Di tengah ruangan yang bersuhu sangat rendah itu, berdiri deretan server raksasa yang bercahaya biru. Arga berjalan menuju konsol utama, namun langkahnya terhenti.
Di sana, sudah berdiri Siska Winata. Dia mengenakan setelan jas putih yang elegan, kontras dengan Arga yang berlumuran darah. Di tangannya, Siska memegang sebuah tablet yang terhubung langsung ke server.
"Siska?" Arga tertegun. "Bagaimana kau bisa ada di sini?"
Siska tersenyum sinis. "Kau lupa, Arga? Keluarga Winata bukan cuma pion Hendrawan. Kami adalah pemegang saham utama di gedung ini. Aku sudah menunggumu untuk membawa 'kunci' itu padaku. Terima kasih sudah mengantarkannya sampai ke sini."
Siska memberi isyarat, dan dari balik bayangan server, dua pria berbadan besar muncul, menodongkan senjata ke arah Arga.
"Berikan koin itu, Arga. Dan mungkin aku akan membiarkan wanita cacatmu itu hidup untuk beberapa hari lagi," ucap Siska dengan nada yang sangat dingin.
Arga menatap Siska, lalu melihat ke arah koin di tangannya. Dia menyadari satu hal. Siska tidak tahu tentang kode 00000. Siska pikir koin itu adalah kunci untuk kekayaan, padahal itu adalah kunci untuk kehancuran.
"Kau ingin koin ini, Siska?" Arga mengangkat koin itu tinggi-tinggi. "Ambillah. Tapi ingat satu hal... kakekku pernah bilang, harta paling berharga adalah sesuatu yang tidak bisa kau sentuh."
Arga tidak memberikan koin itu pada Siska. Sebaliknya, dia melemparkannya ke dalam celah pendingin server yang bermuatan listrik tinggi.
ZAAAPP!
"TIDAK!" teriak Siska.
Seluruh ruangan server meledak dalam percikan api elektrik. Arga menerjang Siska, menjatuhkannya ke lantai sementara alarm kebakaran mulai berteriak.