transmigrasi jadi tokoh yang harusnya mati mengenaskan? tidak, Terima kasih.
saat suami CEO-ku meminta cerai, aku pastikan 2 garis biru muncul terlebih dahulu. permainan baru saja dimulai, sayang.
#jadi antagonis#ceo#hamil anak ceo#transmigrasi#ubah nasib#komedi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
taktik menaklukan gunung es
Mentari sudah pergi, menyisakan malam bertabur bintang. Lampu taman nyala temaram. Rumah Wijaya sepi. Hanya suara jam dinding sama jangkrik dari luar.
Di dapur, tangan lembut Vivian mengaduk gelas berisi kopi hitam. Pelan. Berlawanan arah jarum jam. Tiga kali. Persis seperti yang ditulis di novel. Senyumnya tulus ngadep gelas. Tapi matanya... matanya penuh rencana. Licik. Berhitung.
Menaklukkan laki-laki tak sesulit yang dibayangkan, batin Vivian. Cuma butuh sedikit taktik. Buku "Psikologi Lelaki" yang aku baca pas skripsi kepake juga akhirnya.
_Bagian pertama: Perhatian dengan tulus. Atau... keliatan tulus._
Vivian mengangkat secangkir kopi itu. Aroma-nya kuat. Pahit. Gak pake gula. Persis seperti yang Eric suka. Persis seperti yang Alea sering buatin di novel. Di novel, Alea rebut hati Eric mulai dari kopi ini. Tiap lembur, Alea nongol bawa kopi. Lama-lama Eric candu. Candu kopi... candu Alea.
Enak aja. Resep boleh sama, tapi koki-nya ganti.
Langkahnya anggun, pelan dan teratur. Gak buru-buru. Menuju sebuah ruangan di sayap barat. Ruangan kerja. Tempat di mana suaminya, Eric Wijaya, kini berada. Jam 9 malam, dan lampunya masih nyala. Tipikal workaholic.
"Suamiku, ini kopimu," ucap Vivian yang baru saja datang. Dia dorong pintu pelan. Kepalanya nongol dulu. Senyum. Lalu masuk, naruh secangkir kopi di meja, tepat di sebelah tangan Eric. Gak terlalu deket, gak terlalu jauh. Jarak aman.
Eric tak bergeming. Matanya tetap fokus pada tumpukan kertas laporan keuangan. Bolpen di tangan jalan terus. Seolah tak sadar Vivian ada di sana. Seolah Vivian cuma angin. Seolah Vivian cuma hantu.
Wanita ini sedang merencanakan apa lagi?, pikir pria itu. Pagi marah-marah sama dokter, malem bawain kopi? Bipolar?
Vivian cuma tersenyum. _Bagus. Tahap satu berhasil: dia curiga._
Hal kedua yang harus diperhatikan untuk menaklukkan hati laki-laki adalah bersikap dewasa. Jangan drama. Jangan ngambek kalau dicuekin. Itu ciri Vivian yang lama.
Dia tak marah. Tak kesal. Tak banting pintu. Dia hanya narik kursi sofa yang tak jauh dari meja Eric. Duduk. Santai. Kaki disilang. Punggung tegak. Masih tersenyum ke arah Eric. Meskipun Eric gak ngeliat.
Hening. Cuma suara AC sama "srek... srek..." bolpen Eric di kertas.
Satu menit. Dua menit.
Vivian mulai akting babak kedua. Tangannya turun, ngelus perutnya lembut. Pelan-pelan. Terus... "uhuk." Batuk kecil. Ditahan. Terus batuk lagi. "Uhuk, uhuk." Kali ini agak keras. Wajahnya dibuat sedikit pucat. Bibir digigit. Terlihat lemah. Tak berdaya. Sangat membutuhkan perhatian dan dukungan suaminya.
Itu adalah salah satu taktiknya. Dia hafal. Pada dasarnya jiwa laki-laki adalah pelindung. Algoritma dari sananya. Dia tak akan tahan melihat seseorang tak berdaya di depannya. Apalagi wanita. Apalagi wanita itu istrinya. Apalagi wanita itu sedang hamil anaknya sendiri. Insting ayah, keluarlah.
Eric denger batuknya. Bolpennya berhenti sedetik. Rahangnya mengeras. Tapi dia gak nengok.
"Istirahat. Jangan ganggu aku," ucap Eric dingin. Matanya masih di kertas. Suaranya datar. Tapi... ada jeda sepersekian detik sebelum kata "ganggu".
Vivian hore dalam hati. Bagus. Masuk perangkap. Dia peduli. Kalau gak peduli, dia udah ngusir. Ini dia nyuruh istirahat. Artinya: dia liat aku batuk.
Vivian mulai bangkit dari sofa. Dengan langkah pelan dan hati-hati, kayak orang hamil 8 bulan padahal baru 6 minggu. Tangannya masih megangin perut. Jalan ke depan meja kerja Eric. Berdiri di sana 3 detik. Kasih Eric kesempatan liat "istrinya yang lemah".
"Aku tunggu di kamar ya," ucapnya. Lembut. Nggak maksa. Nggak ngarep. Terus pergi. Pintu ditutup pelan. "Klek."
Pancing udah dilempar.
Mari kita lihat apa Eric betulan akan datang. Mari kita taruhan. Aku taruhan kalung SWAROVSKI-ku sama kalung tanah kuburan... dia datang.
...
Jam di dinding udah nunjukin angka 22.00.
Vivian masih duduk sambil bersandar di kepala ranjang. Selimut nutup sampe pinggang. Lampu tidur nyala temaram. Kuning. Romantis. Dia gak tidur. Gak main HP. Matanya menatap lurus ke arah pintu. Kayak nungguin ojek online.
Senyum kecil di wajahnya. Dia seolah sedang menghitung hitungan mundur. _10... 9... 8..._
Betul saja. Tak lama kemudian, "klik." Pintu itu terbuka.
Nampak Eric dengan piyama tidurnya. Kaos polos navy, celana panjang abu. Rambutnya masih agak basah. Habis mandi. Wajahnya... datar. Standar.
Dia berjalan ke arah kasur. Langkahnya tenang. Tanpa memperhatikan Vivian yang ada di sisi kasur. Tanpa "hai". Tanpa "kamu belum tidur?". Dinginnya bahkan mengalahkan dingin AC di ruangan yang udah 18 derajat.
Tanpa banyak bicara, Eric langsung narik selimut, tiduran di kasur. Di sisinya. Jarak satu meter. Matanya terpejam. Napas teratur. Kayak emang niatnya tidur. Bukan nemenin.
Menyisakan hening yang berbeda. Bukan lagi canggung kayak malam-malam sebelumnya. Bukan lagi musuhan. Tapi... genjatan senjata. Damai sementara. Zona netral.
Vivian sudah dalam misi menaklukkan gunung es. Tak boleh ada canggung seperti sebelumnya. Tak boleh ada takut. Anggap saja mereka memang suami istri. Anggap saja ini kamar mereka. Anggap saja dia gak tau kalau 7 tahun lalu Eric punya foto wisuda sama Dr. A.
Vivian menekan senyumnya. Tenang, Vi. Tenang.
Hal ke-3 yang paling penting adalah tidak berlebihan.
Tidak terlalu manja, nanti dikira beban. Tidak terlalu lemah, nanti dikasihani doang. Tidak terlalu dewasa, nanti dianggap gak butuh dia. Tapi secukupnya. _lThe Golden Ratio of Bucin.
Pada dasarnya laki-laki suka mengejar, bukan dikejar. Psikologi dasar. Eric itu tipe hunter. Vivian asli yang 2 tahun belum pernah memberi sedikit pun perhatian, belum pernah nanyain "kamu udah makan?", tiba-tiba mengantarkan kopi ke mejanya... itu jadi tanda tanya besar bagi Eric. Ada maksud apa dia?
Vivian yang meringis sambil memegangi perut tadi di ruang kerja, menjadi titik awal rasa iba Eric muncul. Insting melindungi aktif.
Kemudian yang terakhir, saat Vivian hendak pergi, dia bilang "aku tunggu di kamar ya". Itu bukan ajakan. Itu umpan. Itu bahan bakar.
Eric akan semakin penasaran dengan apa yang mau Vivian lakukan. Apa yang akan Vivian rencanakan. Apakah mau minta uang? Mau minta cerai dipercepat? Mau nangis? Mau ngancem?
Rasa penasaran adalah langkah pertama dari... peduli.
Eric balik badan. Membelakangi Vivian. Tapi Vivian tau dia belum tidur. Napasnya belum berat.
Vivian ikut rebahan. Pelan. Ngadep punggung Eric. Jarak satu meter itu kayak Samudra Pasifik.
"Aku ganti dokter kandungan ya," ucap Vivian tiba-tiba. Ke punggung Eric. Suaranya pelan. Netral.
Punggung Eric kaku. Sedetik.
"Kenapa?" Suara Eric akhirnya keluar. Berat.
"Dr. A... aku gak sreg." Vivian sengaja. Ngetes.
Hening. 5 detik. 10 detik.
"Alea dokter bagus," kata Eric akhirnya. Nama itu keluar. Pertama kalinya. "Lulusan terbaik. Dia... profesional."
JDEG. Alea. Dia manggil Alea.
Vivian senyum di kegelapan. Dapet. Konfirmasi. Mereka kenal. Dekat.
"Aku tau," jawab Vivian. "Tapi aku pasien-nya. Aku berhak pilih dokter yang bikin aku nyaman. Atau... kamu yang gak nyaman kalau aku gak sama Alea?"
Eric balik badan cepet. Sekarang hadap-hadapan. Mata mereka ketemu di temaram. Deket. 30 cm.
"Urus kehamilan kamu. Jangan urus masa laluku," bisik Eric. Dingin. Tapi ada api di matanya. Marah? Panik?
Vivian gak mundur. Malah maju 5cm. "Kalau masa lalumu ganggu kehamilanku gimana? Kalau 'Dokter Alea' itu jadi stres buatku gimana?"
Eric diem. Natap Vivian lama. Kayak baru liat Vivian versi ini. Vivian yang berani. Vivian yang nyerang. Vivian yang... takut kehilangan dia?
"Kamu berubah," bisik Eric akhirnya.
Vivian senyum. "Kamu juga. Kamu mau tidur di sini. Padahal dulu kamarku haram buat kamu."
Eric gak jawab. Dia balik badan lagi. Tapi kali ini... dia gak ngejauh. Jaraknya jadi setengah meter.
Vivian merem. Ronde 1: Vivian menang. Skor 1-0.
Badai Alea emang gede. Tapi aku udah punya payung. Payungnya namanya "Istri Sah". Dan sekarang... Eric mulai mau berteduh di bawah payungku.
Besty absen dulu yang dukung Vivian. 🥰🥰