NovelToon NovelToon
Secret Marriage

Secret Marriage

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Ifra Sulistya

Bagi dunia luar, Reihan Arta Wiguna adalah sosok "Ice King" di lantai bursa—dingin, tak tersentuh, dan selalu kalkulatif. Namun, di balik kemewahan hidupnya, ia terikat oleh janji konyol kakeknya puluhan tahun silam. Ia dipaksa menikahi Laluna Wijaya, seorang gadis yang ia anggap hanya sebagai "beban" tambahan dalam hidupnya yang sudah sibuk.
Laluna sendiri tidak punya pilihan. Menikah dengan Reihan adalah satu-satunya cara untuk melindungi apa yang tersisa dari nama baik keluarganya. Mereka sepakat pada satu aturan main: Pernikahan ini harus menjadi rahasia. Tidak ada cinta, tidak ada kemesraan di depan publik, dan tidak ada campur tangan dalam urusan pribadi masing-masing.
Namun, tinggal di bawah satu atap perlahan meruntuhkan tembok yang dibangun Reihan. Laluna bukan sekadar gadis penurut yang ia bayangkan; ia adalah api yang hangat di tengah musim dingin Reihan. Saat satu per satu rahasia keluarga dan pengkhianatan bisnis mulai terkuak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: ALIANSI DI BALIK ASAP DAN CERMIN

Hujan di Jakarta tidak pernah benar-benar membersihkan jalanan, ia hanya menyamarkan kotoran dengan genangan air yang keruh.

Begitu pula dengan perasaan Laluna. Saat ia duduk di kursi belakang taksi, memeluk kardus berisi mikser dan timbangan digitalnya seolah benda-baju itu adalah pelampung di tengah samudra yang mengamuk, ia merasa jiwanya telah dikuliti.

Di luar jendela, papan reklame digital raksasa di sepanjang jalan Sudirman menampilkan wajah Reihan. Tajuk berita berjalan di bawahnya terus berkedip, mengulang-ulang kata "Skandal" dan "Penebusan Dosa".

Ponsel di genggamannya bergetar lagi. Pesan dari Clarissa masih terpampang di layar. Sebuah alamat kafe tersembunyi di kawasan Dharmawangsa tertera di sana.

Laluna tahu ia seharusnya tidak datang. Ia seharusnya pulang ke rumah ayahnya, meringkuk di kamar lamanya, dan melupakan bahwa ia pernah menjadi bagian dari dinasti Arta Wiguna. Namun, ada rasa haus akan kebenaran yang membakar tenggorokannya.

Jika Reihan menyembunyikan sesuatu, dan Danu memutarbalikkan fakta, maka Clarissa, wanita yang telah bertahun-tahun mengincar posisi di samping Reihan pasti memegang kepingan teka-teki yang lain.

"Kita ke Dharmawangsa, Pak," ucap Laluna pada sopir taksi, suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. Dingin dan bertekad.

Kafe itu bergaya kolonial, tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan kamboja yang menjatuhkan bunganya ke atas aspal basah. Di sudut ruangan yang paling remang, Clarissa sudah menunggu. Ia tampak sempurna, seperti biasa.

Tidak ada satu pun helai rambutnya yang keluar dari tempatnya, kontras dengan Laluna yang mengenakan kemeja kusut dan mata yang merah.

"Kau tampak mengerikan, Laluna," sapa Clarissa tanpa basa-basi saat Laluna duduk di hadapannya.

Ia menyesap teh kamomilnya dengan gerakan yang sangat anggun.

"Aku tidak datang untuk mendengar kritik mode darimu, Clarissa," balas Laluna tajam.

"Kau bilang kau ingin bicara tentang balas dendam. Apa maksudmu?"

Clarissa meletakkan cangkirnya perlahan.

Matanya menyipit, menatap Laluna dengan campuran antara rasa kasihan dan kebencian.

"Kau pikir kau tahu segalanya karena Danu memberimu dokumen polisi yang sudah berdebu itu? Danu adalah ular, Laluna. Dia hanya menunjukkan kepadamu apa yang ingin kau lihat agar kau meninggalkan Reihan dan membuat posisi Reihan semakin goyah di mata dewan."

Laluna mengerutkan kening.

"Maksudmu dokumen itu palsu? Ayahku sendiri mengakuinya! Kakekku yang menyebabkan kecelakaan itu!"

"Oh, kecelakaannya memang nyata. Truk keluarga Wijaya memang menabrak mobil ayah Reihan," Clarissa condong ke depan, suaranya merendah hingga hampir berupa bisikan.

"Tapi tahukah kau mengapa rem truk itu blong? Tahukah kau bahwa seminggu sebelum kejadian, ayahmu sudah mengajukan laporan kerusakan rem ke bagian logistik, namun laporan itu 'hilang' di meja kantor pusat Arta Wiguna?"

Jantung Laluna seolah berhenti berdetak.

"Apa?"

"Keluarga Arta Wiguna saat itu sedang dalam masa transisi kekuasaan. Ayah Reihan adalah pewaris tunggal yang terlalu jujur, terlalu idealis. Dia ingin membersihkan perusahaan dari praktik korupsi yang dilakukan oleh paman-pamannya termasuk ayah Danu," Clarissa menyeringai pahit.

"Kecelakaan itu bukan sekadar kelalaian kakekmu, Laluna. Itu adalah pembunuhan yang dirancang agar terlihat seperti kecelakaan logistik biasa.

Keluarga Wijaya hanyalah kambing hitam yang sempurna.

Dan kakek Surya? Dia tahu. Dia tahu putra kesayangannya dibunuh oleh anggota keluarganya sendiri, tapi dia memilih untuk diam demi menjaga nama baik dinasti."

Laluna merasa mual. Ruangan itu seakan berputar.

"Jadi... kakek Surya menjodohkan kami bukan sebagai penebusan untuk keluarga Wijaya, tapi karena dia merasa bersalah telah menjadikan keluarga kami tumbal?"

"Tepat sekali," Clarissa menyandarkan punggungnya.

"Dan Reihan... selama ini dia mencari bukti itu. Dia menikahi kau karena dia tahu kakek Surya hanya akan memberikan akses ke brankas dokumen pribadi keluarga kepada Reihan jika Reihan memenuhi syarat pernikahan itu. Reihan tidak menggunakanmu untuk warisan, Laluna. Dia menggunakan status pernikahan ini untuk menghancurkan orang-orang yang membunuh ayahnya dari dalam."

Air mata Laluna jatuh tanpa bisa dibendung. Semua kedinginan Reihan, semua rahasianya, semua dinding es yang ia bangun... itu bukan untuk membenci Laluna, tapi untuk melindunginya dari kebenaran yang jauh lebih busuk. Reihan sedang berperang sendirian melawan monster di dalam keluarganya sendiri.

"Lalu kenapa kau memberitahuku sekarang?" tanya Laluna sesenggukan.

"Bukankah kau ingin aku pergi agar kau bisa memiliki Reihan?"

Clarissa terdiam sejenak.

Ada kilatan luka di matanya yang segera ia tutupi dengan keangkuhan.

"Karena aku mencintai Reihan dengan caraku sendiri. Dan aku tahu, jika kau pergi sekarang, Reihan akan kehilangan satu-satunya alasan dia tetap ingin menjadi manusia. Jika dia kehilanganmu, dia akan menjadi monster yang sama seperti kakek dan paman-pamannya. Dan aku tidak ingin melihat pria yang kucintai berubah menjadi seperti itu."

Clarissa mengeluarkan sebuah flashdisk dari tasnya dan mendorongnya ke arah Laluna.

"Di dalam sini ada salinan laporan rem yang 'hilang' itu. Ayahku menyimpannya sebagai jaminan selama bertahun-tahun. Gunakan ini. Selamatkan suamimu, Laluna. Karena saat ini, dialah yang sedang berada di ujung tanduk."

Laluna keluar dari kafe dengan perasaan yang campur aduk.

Hujan sudah berhenti, menyisakan bau tanah yang basah. Ia segera memanggil taksi kembali ke kantor pusat Arta Wiguna. Ia tidak peduli lagi pada kerumunan wartawan atau penjagaan keamanan. Ia harus sampai ke sana.

Sementara itu, di lantai eksekutif gedung Arta Wiguna, suasana sangat mencekam. Reihan berdiri di tengah ruang rapat besar, dikelilingi oleh dewan komisaris yang menatapnya dengan pandangan menghakimi.

Danu duduk di sisi meja dengan senyum penuh kemenangan, sementara kakek Surya duduk di kepala meja, wajahnya tampak sangat tua dan lelah.

"Reihan, spekulasi ini telah merusak kredibilitas perusahaan," ucap salah satu komisaris senior.

"Pernikahanmu dengan putri dari keluarga yang bertanggung jawab atas kematian ayahmu adalah penghinaan bagi sejarah kita. Kami menuntut pengunduran dirimu secara sukarela."

Reihan menatap mereka satu per satu.

"Keluarga Wijaya tidak bertanggung jawab atas kematian ayahku. Kalian semua tahu itu."

Danu tertawa.

"Bukti polisi mengatakan sebaliknya, Sepupu. Kau hanya mencoba menutupi rasa malumu karena telah mencintai seorang 'pembunuh'."

"Cukup!" suara kakek Surya menggelegar, namun ia segera terbatuk.

"Reihan, apakah kau punya bukti lain? Jika tidak, aku tidak bisa melindungimu lagi dari keputusan dewan."

Reihan terdiam.

Ia memiliki bukti, namun ia tidak ingin membukanya di sini. Jika ia membuka bukti itu, ia akan menghancurkan nama Arta Wiguna selamanya, dan itu berarti menghancurkan warisan yang ingin ia bersihkan.

Ia berada di posisi buah simalakama.

Tepat saat itu, pintu ruang rapat terbuka paksa.

Laluna masuk dengan napas tersengal, pakaiannya masih sedikit basah, dan rambutnya berantakan. Namun, matanya memancarkan kekuatan yang belum pernah dilihat oleh siapa pun di ruangan itu.

"Dia punya bukti!" seru Laluna, suaranya menggema di ruangan yang luas itu.

Reihan terperanjat. "Laluna? Apa yang kau lakukan di sini?"

Laluna berjalan mantap menuju meja rapat, mengabaikan protes dari para petugas keamanan yang mencoba mengejarnya.

Ia meletakkan flashdisk itu tepat di depan kakek Surya.

"Di dalam sini ada bukti bahwa rem truk kakek saya telah disabotase oleh bagian logistik Arta Wiguna dua puluh tahun lalu," ucap Laluna lantang.

"Keluarga saya bukan pembunuh. Keluarga saya adalah korban, sama seperti Reihan. Dan orang yang memerintahkan sabotase itu ada di ruangan ini sekarang."

Danu memucat.

"Itu bohong! Itu pasti dokumen palsu yang dia buat di dapur rotinya!"

"Diam, Danu!" bentak kakek Surya. Ia memberikan flashdisk itu kepada sekretaris pribadinya untuk segera ditampilkan di layar besar.

Saat dokumen-dokumen itu muncul, memo internal yang ditandatangani oleh ayah Danu, laporan teknis yang disembunyikan, dan aliran dana untuk menutupi kasus tersebut.

Ruangan itu menjadi sunyi senyap. Kebenaran yang terkubur selama dua dekade akhirnya muncul ke permukaan dengan cara yang paling tidak terduga.

Laluna menoleh ke arah Reihan. Pria itu menatapnya dengan pandangan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ada rasa syukur, rasa bersalah, dan cinta yang membuncah di sana.

"Kau kembali," bisik Reihan.

"Aku tidak pernah benar-benar pergi, Reihan," jawab Laluna pelan.

"Aku hanya butuh waktu untuk memahami bahwa di rumah ini, aromanya memang kotor, tapi kau adalah satu-satunya bagian yang masih murni."

Setelah rapat yang berakhir dengan penangkapan Danu oleh pihak kepolisian atas tuduhan pemalsuan dokumen dan keterlibatan dalam konspirasi masa lalu, Reihan dan Laluna akhirnya kembali ke apartemen mereka.

Malam telah larut, dan Jakarta tampak lebih tenang dari balkon lantai teratas. Reihan berdiri di samping Laluna, menatap cakrawala. Lengan kirinya yang masih diperban terasa berdenyut, namun beban di bahunya telah lama hilang.

"Kau tidak perlu melakukan itu, Laluna," ucap Reihan.

"Kau bisa saja pergi dan membiarkan aku hancur. Itu akan jauh lebih aman bagimu."

Laluna bersandar pada pagar balkon, merasakan angin malam menerpa wajahnya.

"Dan membiarkanmu menang sendirian? Itu bukan kesepakatan kita, Reihan. Di dalam kontrak, aku adalah sekutumu. Dan sekutu tidak meninggalkan rekannya di tengah medan perang."

Reihan menarik Laluna ke dalam pelukannya. Kali ini, tidak ada lagi dinding es. Tidak ada lagi rahasia. Yang ada hanyalah kehangatan dari dua jiwa yang telah melewati badai bersama.

"Kontrak itu..." Reihan berbisik di rambut Laluna.

"Aku ingin mengubahnya."

Laluna mendongak.

"Mengubahnya menjadi apa?"

Reihan mengeluarkan sebuah map dari saku jasnya.

Itu adalah draf kontrak baru.

Laluna membukanya dan matanya terbelalak.

Tidak ada lagi tanggal kadaluarsa. Tidak ada lagi larangan kontak fisik. Tidak ada lagi urusan tentang ahli waris yang dipaksakan.

Di sana hanya tertulis satu poin utama:

Pihak Pertama dan Pihak Kedua sepakat untuk membangun masa depan bersama, di mana tepung, gula, dan kasih sayang menjadi satu-satunya mata uang yang berlaku.

"Ini bukan kontrak bisnis, Reihan," ucap Laluna sambil tertawa kecil, air mata kebahagiaan mengalir di pipinya.

"Memang bukan," sahut Reihan, mencium kening Laluna dengan lembut.

"Ini adalah janji. Aku mungkin tidak tahu cara membuat donat yang sempurna, tapi aku berjanji akan menjadi pria yang selalu menyiapkan kopinya untukmu setiap pagi."

Laluna memeluk Reihan erat, menyadari bahwa meskipun istana es mereka telah runtuh, di atas puing-puingnya, mereka akan membangun sesuatu yang jauh lebih kokoh, sebuah rumah yang sesungguhnya.

***

Keesokan harinya, ruko "Khay Bakery" dibuka kembali.

Namun kali ini, tidak ada lagi pengawal yang berjaga secara sembunyi-sembunyi. Di depan toko, sebuah karangan bunga baru tiba. Isinya bukan lagi ucapan formal, melainkan sebuah pesan singkat :

"Untuk istriku, sang pembuat roti terbaik. Hari ini, biarkan aku yang mencuci piringnya. R"

Laluna tersenyum, mengenakan apronnya, dan mulai mengayak tepung. Hidupnya mungkin tidak lagi sesederhana dulu, tapi di tengah aroma vanila dan cokelat yang memenuhi tokonya, ia tahu ia telah menemukan bahan paling penting dalam resep kebahagiaannya yaitu Kejujuran.

Dan di kantor pusat Arta Wiguna, Reihan duduk di kursinya, menatap foto Laluna yang kini menghiasi meja kerjanya. Ia bukan lagi sang Ice King yang ditakuti karena kedinginannya, melainkan seorang pemimpin yang dihormati karena integritasnya.

Perang memang belum sepenuhnya berakhir, namun dengan Laluna di sampingnya, Reihan tahu ia tidak akan pernah kalah lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!