NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Kau Bawa

Rahasia Yang Kau Bawa

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Bad Boy / Cintamanis
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Keisha lari membawa rahasia hidupnya. Lima tahun ia bersembunyi, berpikir tak ada yang akan tahu. Tapi Arsen tidak pernah berhenti mencari. Ketika mereka bertemu kembali, dunia Keisha gemetar. Pria itu datang bukan untuk membenci, tapi untuk menuntut haknya sebagai seorang ayah dan ingin memiliki Keisha sepenuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA HARI UNTUK MEMILIH

BAB 18 — DUA HARI UNTUK MEMILIH

Rumah itu terasa jauh lebih sempit dan pengap sejak kehadiran Arsen kemarin.

Padahal secara fisik, tidak ada satu pun yang berubah.

Sofa masih sama.

Tirai jendela masih sama.

Meja makan dan tata letak perabotan pun tak bergeser sedikit pun.

Namun udara di dalamnya kini terasa berat, dipenuhi oleh tekanan yang tak terlihat namun sangat terasa.

Keisha berdiri di dapur sambil menuangkan teh panas ke dalam gelas, tapi tangannya gemetar hebat sampai air teh tumpah membasahi meja.

Ibunya cepat mengambil lap dan mengelapnya.

“Kamu tenang dulu, Sha. Jangan gugup begitu.”

“Aku tenang kok, Bu.”

“Kamu bohong dari kecil kalau bilang begitu. Tanganmu dingin sekali,” sahut ibunya lembut.

Keisha menundukkan wajah.

Ibunya benar. Ia sama sekali tidak tenang.

Dua hari.

Arsen memberinya waktu hanya dua hari.

Dan Keisha tahu betul, pria itu tidak pernah bicara asal-asalan. Jika ia bilang akan menggunakan caranya sendiri jika ditolak, itu berarti ia punya kekuatan dan cara untuk melakukannya.

Dan itulah yang paling membuat Keisha ketakutan setengah mati.

 

Di ruang tamu, Leo sedang asyik bermain balok kayu bersama kakeknya.

“Ini gedung tinggi, Kek!” kata Leo dengan bangga sambil menumpuk balok-balok itu setinggi mungkin.

Ayah Keisha tersenyum dan mengangguk.

“Wah, tinggi sekali. Bagus.”

“Ini kantor.”

“Kantor siapa itu?”

Leo memiringkan kepala berpikir sejenak, lalu menjawab dengan yakin,

“Kantor Mama.”

Ayah Keisha tertawa kecil mendengarnya.

“Kalau Mama sudah punya gedung sebesar ini, berarti Kakek bisa pensiun dan santai dong ya?”

Leo ikut tertawa renyah, suaranya mengisi ruangan yang tadinya sunyi.

Melihat tawa ceria anak itu, dada Keisha terasa semakin sesak dan nyeri.

Bagaimana jika Arsen benar-benar datang dan merebut Leo darinya?

Apakah ia sanggup hidup tanpa melihat senyum itu setiap hari?

 

Malam harinya, setelah Leo benar-benar terlelap di kamarnya, pembicaraan serius yang tak bisa dihindari akhirnya terjadi.

Ayah Keisha duduk tegak di sofa ruang tamu dengan wajah serius dan tegas.

“Sekarang cerita semuanya pada Ayah dan Ibu. Jangan ada yang ditutup-tutupi lagi.”

Keisha duduk di hadapan mereka dengan lutut gemetar dan tangan saling menggenggam erat.

Lalu, untuk pertama kalinya, ia menceritakan segalanya dari awal sampai akhir.

Tentang malam pesta itu lima tahun lalu.

Tentang kejadian yang tak terelakkan dengan Arsen.

Tentang keterkejutannya saat tahu dirinya hamil.

Tentang rasa takut, malu, dan panik yang melumpuhkannya.

Dan tentang keputusan nekatnya untuk kabur ke luar negeri demi menyembunyikan anak itu.

Tak ada satu pun hal yang ia sembunyikan lagi.

Ibunya sudah menangis tersedu-sedu sejak pertengahan cerita, membayangkan betapa beratnya penderitaan putrinya sendirian di negeri orang.

Ayahnya diam membatu lama sekali setelah mendengar seluruh kisah itu. Hening yang panjang terasa mencekam.

Akhirnya, pria itu menghela napas panjang dan berkata pelan,

“Kamu memang salah, Keisha. Sangat salah.”

Keisha menunduk dalam, air matanya menetes ke lantai.

“Ayah tahu... Keisha bodoh.”

“Tapi... dia juga salah kalau sampai mengancam kamu dan keluargamu seenaknya.”

Keisha mendongak menatap wajah ayahnya.

“Tapi sekarang bukan waktunya mencari siapa yang paling salah,” lanjut ayahnya dengan nada bijak. “Sekarang segalanya berpusat pada Leo. Masa depan cucu Ayah.”

Ruangan kembali hening.

“Kamu tidak bisa selamanya menghapus fakta biologis bahwa Arsen adalah ayah kandung anak itu.”

Keisha menggigit bibir bawahnya hingga terasa perih, menahan isak tangis.

“Jadi... Ayah memihak dia?”

“Ayah tidak memihak siapa-siapa. Ayah membela kebahagiaan dan hak cucu Ayah untuk mengenal ayahnya sendiri.”

Kalimat itu menembus tepat ke ulu hati Keisha.

 

Ibunya memegang tangan putrinya erat, mencoba menenangkan.

“Mungkin... melakukan tes DNA itu bukan hal yang buruk, Sha.”

“Bu?” Keisha menatap tak percaya.

“Kalau memang dia ayahnya, setidaknya semuanya menjadi jelas dan terang benderang. Kamu tidak perlu lagi hidup dalam ketakutan dan kebohongan.”

“Tapi Bu... bagaimana kalau setelah itu dia mau merebut Leo dari Mama? Bagaimana kalau dia menuntut hak asuh?”

Pertanyaan itu membuat ibunya terdiam dan tak bisa menjawab apa-apa.

Karena itu juga adalah ketakutan terbesar mereka semua.

 

Keesokan paginya, Leo bangun tidur dengan semangat yang aneh.

“Mama!” panggilnya lantang.

“Iya, Sayang? Kenapa?”

“Om serem yang kemarin datang lagi nggak?”

Keisha hampir tersedak kopi yang baru saja diminumnya.

“Kenapa tiba-tiba tanya soal Om itu?”

“Karena dia bilang ‘sampai ketemu lagi’ kan? Berarti dia bakal datang lagi dong.”

Anak itu menatap ibunya dengan wajah polos namun penuh logika.

“Terus menurut Leo, Om itu gimana? Tinggi banget ya badannya?” tanya Keisha mencoba mengalihkan topik sambil tersenyum tipis.

Meski panik setengah mati, ia hampir tertawa melihat reaksi anaknya.

Leo mengangkat kedua bahunya dengan gaya dewasa.

“Gak tahu juga. Tapi... pas dia lihatin mata Leo, rasanya kayak... orang yang udah kenal lama gitu, Ma.”

Jawaban polos itu membuat tubuh Keisha membeku kaku.

Anak-anak memang seringkali memiliki insting dan perasaan yang jauh lebih tajam daripada orang dewasa. Mereka bisa merasakan ikatan batin yang tak bisa dijelaskan oleh logika.

 

Sementara itu, di lantai tertinggi gedung perkantoran Arsen Group, suasana kantor terasa mencekam seperti biasa.

Semua karyawan dan direktur bekerja dengan cepat, hati-hati, dan tak berani bersuara keras.

Arsen sedang memimpin rapat penting ketika ponsel pribadinya bergetar pelan di atas meja.

Sebuah pesan masuk dari asistennya:

Data lengkap Ibu Keisha dan Master Leo sudah siap, Pak. File sudah dikirim.

Dengan wajah datar, ia membuka file digital tersebut tanpa ada satu pun orang di ruangan yang berani bertanya.

Ia membaca cepat riwayat hidup Keisha selama lima tahun terakhir.

Alamat tempat tinggal di Kanada.

Pekerjaan paruh waktu yang pernah ia lakoni.

Nama sekolah Leo.

Dokter yang biasa memeriksa kesehatan anak itu.

Semua detail ada di sana dengan rapi.

Matanya bergerak cepat menelusuri baris demi baris data, hingga berhenti di satu bagian penting.

Status Pernikahan: BELUM MENIKAH.

Entah kenapa, otot rahang yang sebelumnya tegang itu perlahan mengendur sedikit saja. Ada perasaan lega yang aneh dan tak terjelaskan menyelinap di dadanya.

Di depannya, seorang direktur masih saja bicara panjang lebar menjelaskan detail proyek dengan gugup.

Arsen tiba-tiba memotong pembicaraan itu dengan suara dingin.

“Disetujui. Lanjutkan eksekusi. Rapat selesai.”

Semua orang di ruangan itu saling berpandangan terkejut.

Biasanya bos mereka akan mengkritik, membedah, dan meminta revisi berkali-kali sampai proposal itu sempurna.

Hari ini ia menyetujuinya dalam hitungan detik.

Pikiran pria itu jelas sedang berada di tempat lain. Jauh dari sini.

 

Sore harinya, sebuah mobil hitam berhenti pelan di depan rumah Keisha.

Leo yang sedang duduk menggambar di teras langsung berseru kaget.

“MAMA! LIHAT ITU! MOBIL HITAM!”

Jantung Keisha nyaris berhenti berdetak seketika. Ia langsung berlari keluar.

Namun yang turun dari mobil itu bukan Arsen.

Melainkan seorang pria muda berpakaian rapi dan sopan.

Pria itu membawa beberapa buah kotak kardus besar dan berat.

“Permisi, Bu. Ini kiriman khusus untuk Tuan Leo.”

“Kiriman? Dari siapa?” Keisha mengernyitkan dahi curiga.

“Dari Tuan Arsen, Bu. Silakan.”

Ia meletakkan kotak-kotak itu di teras dengan hati-hati, lalu masuk kembali ke mobil dan pergi meninggalkan tempat itu secepat datangnya.

Leo sudah berlari mendekat dengan mata berbinar-binar antusias.

“Mama! Cepat buka! Isinya apa tuh?!”

Keisha menatap tumpukan kotak itu seolah-olah itu adalah bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Dengan tangan gemetar, ia membuka salah satu kotak terbesar.

Dan isinya membuatnya terpana.

Mobil-mobilan miniatur premium yang sangat detail dan mahal.

Robot besar yang bisa bergerak.

Buku-buku cerita bergambar impor dengan kertas tebal.

Puzzle 3D yang rumit.

Dan sebuah boneka singa berukuran sangat besar, jauh lebih besar dari tubuh Leo sendiri.

Melihat semua itu, Leo menjerit kegirangan sekuat tenaga.

“WAAAAH! KEREN BANGET!!!”

Anak itu langsung memeluk boneka singa besar itu erat-erat sambil melompat-lompat kegirangan.

“MAMA! Om serem itu ternyata baik ya! Dia baik banget!” seru Leo girang.

Keisha memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa pusing, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Ya Tuhan... apa lagi yang mau dia lakukan...” gumamnya lemas.

 

Di bagian paling dasar kotak terakhir, tergeletak sebuah kartu kecil bergaya elegan.

Tulisan tangan di atasnya tegas, rapi, dan sangat khas.

Untuk Leo.

Mainan ini tidak akan pernah bisa mengganti lima tahun waktu yang hilang.

Tapi ini permulaan.

— Arsen

Tangan Keisha gemetar hebat membaca kalimat demi kalimat itu.

Ia benci sekali harus mengakuinya...

Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia melihat sisi lain dari pria itu.

Sisi yang tidak kejam, tidak dingin, tapi... terluka dan berusaha memperbaiki segalanya.

 

Malam datang menyelimuti hari.

Leo tertidur pulas dengan sangat nyenyak, masih memeluk erat boneka singa hadiah dari Arsen yang baru ia dapatkan sore tadi.

Keisha duduk sendirian di teras rumah yang sejuk, memutar-mutar kartu kecil itu di jarinya.

Ia tahu betul apa yang sedang dilakukan Arsen.

Itu adalah strategi.

Tampak lunak dan memberi hadiah di luar, tapi sebenarnya menekan perasaan dan perlahan masuk tanpa disadari.

Dan yang paling berbahaya...

Sedikit demi sedikit, tanpa Keisha sadari, pria itu mulai berhasil memasuki dunia kecil Leo.

Tiba-tiba ponsel di tangannya bergetar.

Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

Keisha sudah bisa menebak siapa peneleponnya.

Dengan napas yang ditarik panjang dan berat, ia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.

“Hallo.”

Suara berat dan dalam terdengar tenang di seberang sana, sangat jelas.

“Sudah lihat hadiahnya?”

“Apa maumu sebenarnya, Arsen? Apa yang kamu cari?” tanya Keisha dengan suara bergetar menahan emosi.

“Aku mau menjemput kalian besok pagi. Pukul sembilan aku sampai di sana.”

“Kami tidak pergi ke mana-mana sama kamu!”

“Kita lihat saja nanti. Jangan lupa siapkan Leo.”

TUT.

Panggilan terputus sepihak begitu saja.

Keisha menatap layar ponselnya dengan jantung berdebar kencang seperti mau copot.

Besok pagi.

Badai berikutnya ternyata datang jauh lebih cepat dan besar dari yang ia duga selama ini.

Bersambung...

1
Lasmin Alif nur sejati
ceritanya bagus Thor, tapi kadang bingung, alurnya maju mundur apa gimana ini ya, kemarin sudah ada Aluna sekarang cuma ada leo
wiwi: kemarin habis ku revisi kak, soalnya mulai melenceng🙏🙏🙏 jadi revisi lagi🤭 tpi insya allah udah selesai revisi kak
total 1 replies
Erna Wati
ayolah keisha masak kamu LBH percaya sama org lain dari pada suami mu buka mata kamu keisa KLO Kevin itu org jahat
wiwi: iyaa nih kak, padahal kan kita harus lebih percaya suami😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!