NovelToon NovelToon
Cegilnya Mas Ajudan

Cegilnya Mas Ajudan

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Menikahi tentara / Duniahiburan
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Sebagai putri anggota DPR sekaligus model papan atas, Aurora Widjaja punya segalanya. Namun, hatinya justru jatuh pada Langit Ardiansyah, ajudan sang ayah yang kaku, dingin, dan sangat terikat protokol.
Bagi Langit, Aurora adalah tanggung jawab yang harus dijaga. Bagi keluarga Widjaja, hubungan dengan ajudan adalah skandal yang harus dihindari. Namun bagi Aurora, aturan dan kasta hanyalah rintangan yang siap ia tabrak.
Saat dunia melarangnya mendekat, Aurora justru memilih maju. Karena bagi seorang Aurora, mencintai Langit bukan lagi soal status, tapi soal hati yang sudah jatuh sedalam-dalamnya—to the bone.
“Mas Langit nggak usah repot-repot jaga jarak. Mau sejauh apa pun Mas lari, tujuannya tetep cuma satu: Jadi imam aku.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

Pintu kaca besar studio foto yang biasanya tenang dan hanya diisi oleh suara musik lo-fi pagi itu seolah nyaris terlepas dari engselnya. Detik berikutnya, sesosok gadis dengan energi yang bisa menandingi sepuluh pembangkit listrik masuk dengan langkah yang sangat ringan.

"PAGI EVERYONE!!" teriak Aurora dengan suara yang melengking riang, menggema hingga ke sudut-sudut plafon industri studio tersebut.

Beberapa kru yang sedang sibuk memasang kabel lampu tersentak kaget. Seorang asisten fotografer bahkan hampir menjatuhkan lensa kamera yang sedang ia bersihkan. Mayang, yang baru saja menyeruput kopi panasnya, tersedak dan terbatuk-batuk kecil sambil mengusap dadanya.

"Aurora! Kebiasaan deh, bisa nggak kalau masuk itu nggak pakai klakson kapal?" tegur Mayang setelah berhasil mengatur napasnya. "Untung kopi gue nggak tumpah ke baju, ini baju mahal, Ra!"

Aurora hanya menyengir lebar tanpa rasa berdosa sedikit pun. Ia berjalan menghampiri Mayang dan langsung memeluk bahu manajernya itu. "Hehe. Maaf Kak, emang mulut aku ini kan setelannya udah begini dari pabriknya. Lagian biar pada bangun, masih pagi kok mukanya udah pada ditekuk kayak cucian kotor."

Pandangan Aurora kemudian beralih ke arah pintu masuk. Di sana, Langit berdiri tegak, memegang tas perlengkapan Aurora dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya berada di samping tubuh—posisi siaga yang sudah menjadi instingnya. Ia tampak kontras di tengah studio yang artistik itu dengan kemeja taktisnya yang rapi dan tatapan mata yang selalu waspada.

"Mas! Ayo... Kamu jangan berdiri di situ dong kayak patung pancoran," panggil Aurora sambil melambaikan tangan dengan gemas. "Sini masuk, taruh tasnya di meja rias aja."

Langit berdehem pelan, melangkah masuk dengan langkah yang teratur. "Aku di sini saja, Ra. Takut mengganggu alur kerja teman-teman kamu."

"Nggak ada yang keganggu, Mas! Justru kalau kamu di situ, kru-kru cewek di sini malah nggak fokus kerja karena liatin kamu terus," goda Aurora yang sukses membuat wajah Langit sedikit bersemu merah.

Mayang menggelengkan kepala melihat tingkah pasangan pengantin baru itu. "Ra, lo beneran ya. Baru sehari nikah, kadar 'cegil' lo malah naik drastis. Mas Langit, sabar-sabar ya, emang nasib dapet istri yang setelannya high-volume begini."

Langit tersenyum tipis, kali ini lebih rileks. "Sudah biasa, Kak May."

"Ih, kok 'sudah biasa'? Harusnya jawabnya 'sudah cinta' dong!" Aurora menarik tangan Langit menuju area meja rias yang penuh dengan cermin besar bertabur lampu-lampu bulat.

Di area rias, Aurora duduk di kursi tinggi sementara penata rias mulai menyiapkan alat-alatnya. Langit berdiri tidak jauh dari sana, tetap dalam jarak pandang yang bisa menjaga Aurora.

"Mas, kamu nggak bosen apa jagain aku terus?" tanya Aurora sambil melihat pantulan wajah Langit di cermin. "Mending kamu duduk deh, tuh ada sofa kosong. Atau mau aku pesenin kopi juga?"

"Nggak usah, Ra. Aku lebih nyaman berdiri. Kalau duduk nanti malah ngantuk," jawab Langit santai.

"Tuh kan, jawabannya 'siap' mulu tapi versi halus," Aurora mencebikkan bibirnya. "Oh iya, Kak May, hari ini konsepnya apa? Jangan bilang yang aneh-aneh lagi kayak minggu lalu yang disuruh pakai baju ala-ala futuristik tapi malah kayak bungkus kado."

Mayang membuka tabletnya. "Hari ini temanya 'The Power of Love'. Tapi versinya high-fashion. Lo bakal pakai beberapa gaun yang lebih elegan, lebih classy. Dan kabar buruknya buat lo..." Mayang melirik Langit sambil tersenyum jahil. "... Andre mau lo ada sesi yang sedikit 'intim' sama model cowoknya buat dapet chemistry dramatis."

Seketika itu juga, suasana di area rias mendadak dingin. Aurora melirik Langit lewat cermin, dan benar saja, rahang suaminya itu langsung mengeras. Sorot mata Langit yang tadi sempat melunak, kini kembali tajam seolah sedang memindai ancaman musuh di medan perang.

"Model cowok?" tanya Langit pelan, namun nadanya sangat dalam.

"Ehh... Kak May, nggak bisa diganti apa konsepnya? Masa pakai model cowok sih?" Aurora mencoba menengahi, ia tahu betul suaminya ini punya tingkat cemburu yang tersembunyi di balik sikap kaku-nya.

"Nggak bisa, Ra. Ini permintaan klien dari Paris. Kenapa? Takut ada yang cemburu ya?" ledek Mayang.

Aurora tertawa canggung. Ia meraih tangan Langit yang berada di dekat kursi riasnya, mengusap punggung tangan suaminya itu dengan lembut. "Mas... itu cuma kerjaan kok. Cuma akting. Nanti aku jaga jarak deh, sumpah."

Langit menatap Aurora, lalu menghela napas panjang. Ia mencoba meredam egonya. "Aku tahu itu kerjaan kamu, Ra. Aku nggak akan melarang. Tapi kalau dia tangannya macem-macem, jangan salahin aku kalau tiba-tiba studio ini jadi tempat latihan karate."

"Tuh kan! Serem banget suamiku!" Aurora justru tertawa kegirangan, malah merasa senang karena Langit menunjukkan sikap protektifnya. "Tenang aja, Mas. Nggak akan ada yang berani macem-macem kalau ada 'Pawang Naga' kayak kamu di sini."

Satu jam kemudian, sesi pemotretan dimulai. Aurora tampil memukau dengan gaun satin berwarna champagne. Saat model pria—seorang blasteran yang tampak cukup tampan—mendekati Aurora untuk memulai pose, Langit berdiri tepat di samping fotografer dengan melipat tangan di dada.

Setiap kali model pria itu meletakkan tangannya di pinggang Aurora, Langit berdehem cukup keras. Setiap kali wajah mereka terlalu dekat, Langit akan membetulkan letak kacamata hitamnya dengan gerakan yang sangat intimidatif.

"Andre, kayaknya gue nggak bisa fokus kalau ajudan Aurora natap gue kayak mau makan orang gitu," bisik sang model pria pada fotografer.

Andre, sang fotografer, tertawa. "Sabar, Bro. Itu suaminya. Lo profesional aja, jangan cari mati."

Aurora yang melihat situasi itu dari tengah set hanya bisa menahan tawa. Ia sesekali memberikan kedipan nakal ke arah Langit di sela-sela jepretan kamera, seolah ingin mengatakan, 'Tenang Mas, hatinya tetep punya kamu.'

Di sela istirahat, Aurora langsung berlari kecil menghampiri Langit, mengabaikan asisten yang mau merapikan gaunnya.

"Gimana, Mas? Aku cantik nggak?" tanya Aurora sambil berputar kecil.

"Cantik," jawab Langit singkat. Ia kemudian merapikan sedikit helai rambut Aurora yang menutupi matanya. "Tapi lain kali, bilang sama Kak Mayang konsepnya dikurangi bagian pegang-pegangannya."

"Ciee... suamiku cemburu berat nih ceritanya?" Aurora mencubit pinggang Langit gemas.

"Bukan cemburu, Ra. Hanya menjalankan tugas penjagaan... terhadap aset paling berharga milikku," balas Langit dengan bisikan rendah yang sukses membuat Aurora tersipu malu di tengah keramaian studio.

Pagi itu, meski diisi dengan ketegangan kecil dan rasa cemburu, Aurora merasa sangat bahagia. Memiliki Langit di sampingnya, bukan lagi sekadar sebagai penjaga yang dibayar papanya, melainkan sebagai suami yang tulus menjaganya, membuat setiap jepretan kamera terasa jauh lebih bermakna. Bagi Aurora, setelan mulutnya yang 'berisik' pagi ini hanyalah cara untuk merayakan bahwa kini, ia tidak perlu lagi menyembunyikan siapa pemilik hatinya yang sebenarnya.

***

Cegilnya mas langit jangan lupa tinggalkan jejak ya 🤣🤣💃💃

Hari ini up 2 kali 😮‍💨🤏

1
apiii
kapan jinaknya ini bapak"🤣
Rita Rita
🤭🤣🤣 Aurora bikin mas ajudan hidup terasa mati tapi mati paling nikmat, AQ aja berasa Jak jek Jak jantung baca aksi nekad Aurora 🤣😍😍
Istrinya _byeonwooseok💃: tungguin gebrakan Aurora selanjutnya ya kak🤣🙏
total 1 replies
Yosi Indah
alur dan penulisannya bagus, lanjut kak 😍
Istrinya _byeonwooseok💃: hehe maaciw😍
total 1 replies
apiii
si cegil makin cegil🤣
Fitri Yama
Mereka ngapain Thor??main kuda2 an kah???
Istrinya _byeonwooseok💃: belom sampe itu padahal 🤣
total 1 replies
Rita Rita
kasihan dengan dua anak manusia yg sama Dimata tuhan tapi sangat berbeda Dimata manusia yg punya pangkat dan jabatan. cinta terhalang kasta dan restu,,
apiii
lebih ganas ternyata dari singa nasution🥲
Istrinya _byeonwooseok💃: no no jangan disamain ya. yang ini diam-diam menghanyutkan 🤭🙏
total 1 replies
apiii
semangat ya cegil dan mas langit💪
apiii
demi apapun kagetttt🤣
Istrinya _byeonwooseok💃: jangan kaget ya sama cegil🤭
total 1 replies
apiii
akhirnya ya
apiii
semangat cegilll🤣
apiii
berhasil gasihh si cegil ini🤣
SuryaDharma S
bagus sich ceritanya...
apiii
kerja bagus kejar terus cegill
English Lesson
😍
English Lesson
bagus👍🏻
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
bapaknya jahat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!