Naufal hanyalah seorang sales smartphone miskin yang sering diremehkan karena tidak pernah mencapai target. Ditekan oleh target yang mustahil, dikhianati oleh rekan kerja, dan dianggap remeh oleh pelanggan sombong adalah makanan sehari-harinya.
Namun, segalanya berubah saat sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Analisis Nilai Aktif!]
[Menganalisis Target...]
[Budget: Rp150.000.000 ]
[ Keinginan: memboron 50 unit untuk yayasan pendidikan |
[Tingkat Kepercayaan: 15%]
[Misi Terbuka! Closing produk!]
[Hadiah misi pembukaan RP 10.000.000!]
Dengan bantuan Sistem Analisis Nilai, Naufal tidak hanya bisa melihat isi dompet pelanggan, tapi juga titik lemah kompetitor dan tren pasar masa depan. Dari seorang sales yang hampir dipecat, ia merangkak naik menjadi raja industri teknologi.
Satu per satu wanita hebat mulai masuk ke dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21--COD Dan Hadiah Keuntungan selangit
Naufal memarkirkan Ducati-nya di depan pendopo kayu jati yang megah. Pak Hendro sudah duduk santai di sana, masih dengan kaos partai yang sama, namun kali ini beliau sedang menyesap kopi dari cangkir keramik kuno yang harganya—menurut analisis sistem Naufal—bisa untuk membeli satu unit motor mahal.
[Ding analisis nilai aktif]
[Cangkir kuno]
[Tahun 1982]
[Harga jual 20.000.000]
Bahkan harga jual cangkirnya saja melampaui harga COD hpnya.
"Tepat waktu. Saya suka anak muda yang menghargai jam," ucap Pak Hendro sambil memberi isyarat agar Naufal duduk.
Naufal mengeluarkan tiga kotak OMNI R-15F dari tasnya dan menatanya rapi di meja.
"Sesuai janji saya, Pak. Tiga unit hitam, segel utuh, dan nota resmi dari toko."
Sambil membantu Pak Hendro mengecek unitnya, Naufal mengaktifkan Analisis Nilai pada lingkungan sekitar.
[Ding!]
[Objek Terdeteksi: Kompleks Griya Hendro]
[Nilai Aset: Rp 2 Miliar]
Naufal tersenyum tipis. Ini lebih dari sekadar juragan kost. Harga lahan tanah di sini sampai 2 miliar, pak Hendro itu definisi sultan. Beruntung dia bisa bertemu dengannya di lapangan.
"Cucu saya pasti senang. Mereka sudah ribut dari semalam," Pak Hendro mengeluarkan amplop cokelat tebal dan menyerahkannya ke Naufal. "Ini lima belas juta. Pas, silahkan dihitung."
"Saya percaya Bapak," jawab Naufal tanpa menghitungnya kembali, sebuah langkah psikologis untuk mengunci kepercayaan. Lagian tanpa menghitung sama sekali pun kemampuan analisis milik dia otomatis aktif, itu sudah benar 15 juta.
"Oh ya Pak, sesuai janji saya tadi, ini kartu nama pribadi saya. Jika dalam tiga tahun ke depan ada masalah teknis, Bapak tidak perlu repot ke pusat servis. Cukup hubungi saya, saya yang akan urus semuanya."
Pak Hendro menatap kartu nama Naufal, lalu menatap pemuda di depannya dengan saksama. "Kamu punya ambisi besar, Naufal. Saya bisa lihat dari cara kamu menatap aset saya, bukan dengan rasa iri, tapi seperti orang yang sedang menghitung rencana."
Naufal sedikit terkejut, namun tetap tenang. Ia tidak menyangka Hendro menyadari bahwa dia menatap lahan. Suatu saat dia akan membuat usaha juga, sebagai awalan pembentukan brand HP dia akan membuat toko hp besar terlebih dahulu.
"Insting Bapak tajam. Menjadi sales bagi saya hanyalah langkah awal untuk memahami pasar sebelum saya membangun sesuatu yang lebih besar."
Pak Hendro terkekeh, suaranya berat dan berwibawa. "Bagus. Itu baru anak muda. Penuh semangat dan ambisi.”
“Terima kasih pak atas pujiannya.”
Dan transaksi 15 juta berhasil terselesaikan
### **Pukul 13.30 WIB - Kembali ke Toko
Naufal melangkah masuk ke toko dengan langkah ringan. Di kasir, Andre sedang berdiri gelisah, sesekali melirik pintu masuk. Ia jadi kalang kabut, sudah dua hari semenjak bulan baru dan dia masih belum jualan.
Kalau atasan dia tahu bahwa dia kalah saing sama sales sebelah—naufal apalagi jualan dua produk seperti r-14, mampus dia bisa digoreng habis-habisan.
Ia berharap Naufal kembali dengan wajah lesu karena ditipu. Bagus untuk kesehatan mental dia dan bagus untuk atasannya agar tidak rewel.
Namun itu semua cuma delusi Andre. Naufal langsung menuju meja kasir dan meletakkan amplop cokelat tebal itu di depan Amel dengan suara *'buk'* yang cukup keras untuk memecah suasana.
"Lunas, Mel. Lima belas juta tunai. Tolong diproses setorannya," ucap Naufal santai.
Amel membuka amplop itu dan matanya membulat melihat tumpukan uang merah yang masih rapi. Ini masih awal bulan, Naufal sudah pecah penjualan cukup banyak.
"Gila... beneran tunai, Kak!"
Andre hanya bisa membuang muka, pura-pura sibuk memeriksa stok barang padahal tangannya sedikit gemetar karena marah. ‘kok bisa! Pasti ada yang salah!’ batin dia
Naufal menoleh ke arah Andre, lalu tersenyum miring. "Gimana, Mas Andre? Masih mau bilang ini cuma keberuntungan?"
Naufal tidak menunggu jawaban. Ia sudah cukup tahu bahwa Andre sudah sangat putus aja dan tentu saja Andre tidak akan bisa menjawab pernyataan tersebut.
****************
A/N : Author bawa novel baru lagi nih, jangan lupa dibaca juga gays
Judul : Sistem Petani : Mengubah Sampah Menjadi cairan Dewa
Sinopsis:
Aris adalah definisi pecundang di mata dunia. Dipecat dari pekerjaan kasarnya, dikhianati oleh kekasih yang paling ia cintai, dan dihina oleh teman-teman sekolahnya saat reuni karena hanya mengendarai motor butut.
Satu-satunya harta yang ia miliki hanyalah sebidang tanah warisan kakeknya di pinggiran kota.
Namun, harapan Aris hancur saat ia kembali. Tanah yang ia impikan menjadi tempat tinggal yang tenang, telah berubah menjadi gunung sampah ilegal—sebuah "borok" kota yang dikuasai mafia dan oknum korup.
Di titik terendah hidupnya, sebuah suara dingin bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Petani Sultan Diaktifkan!]
[Misi Pemula : bersihkan 10 KG sampah]
[Hadiah : alat penyulingan esensi emas]
[Mulai Proses Penyulingan... Menghasilkan: Cairan Dewa Tingkat 1!]
Satu tetes cairan itu mampu mengubah tanah beracun menjadi Lahan Surgawi.
. Satu tetes lagi mampu membuat tanaman mati tumbuh kembali dengan khasiat luar biasa,
dengan cairan ini dia aka menjadi petani sultan!
(sekalian nunggu novel ini up gays baca yuk)
DAYA KHALYAL MEMBAGINGKAN