Keana Elvaretta percaya bahwa pisau bedah di tangannya bisa mengungkap kebenaran yang disembunyikan mayat, namun ia gagal mengungkap isi hati suaminya sendiri, Ghazali Mahendra. Menikah karena sebuah wasiat dan paksaan keadaan, Keana harus menerima kenyataan pahit bahwa ranjang pengantinnya hanyalah medan perang emosional yang dingin.Bagi Ghazali, seorang Jaksa Penuntut Umum yang ambisius dan memuja kesempurnaan, Keana hanyalah wanita "berbau formalin" yang merusak citra idealnya.
Di siang hari, mereka adalah rekan profesional yang bersinergi memecahkan kasus hukum dan forensik, namun di malam hari, mereka hanyalah dua orang asing yang berbagi luka di bawah satu selimut. Saat rahasia besar mulai terkuak dari sebuah meja otopsi, Keana menyadari bahwa dirinya selama ini hanyalah 'alamat yang salah' untuk cinta yang dikirimkan Ghazali. Mampukah Keana bertahan saat luka yang ia bedah setiap hari ternyata adalah hatinya sendiri?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Di Balik Tatapan Ghazali
Bau amis air laut yang bercampur dengan limbah minyak, karat besi kapal, dan ikan busuk langsung merangsek masuk ke dalam indra penciumanku. Sedan perak usang yang kukemudikan akhirnya berhenti dengan decitan rem yang memilukan di sebuah gang sempit di kawasan kumuh pinggiran Tanjung Priok.
Hujan masih merajam atap mobil, namun badai yang sesungguhnya sedang menghancurkan seluruh kewarasanku.
Aku mematikan mesin. Tanganku yang mencengkeram setir kemudi bergetar begitu hebat hingga buku-buku jariku memutih pucat. Luka sayatan scalpel di bahuku kembali terbuka akibat pergerakan kasarku saat melarikan diri dari rumah sakit tadi. Darah segar merembes, menodai kain hoodie kebesaran milik staf kebersihan yang membalut tubuhku, menyatu dengan air hujan yang membekukan kulit.
Aku melirik secarik kertas lecek di tanganku. Alamat yang diberikan Komisaris Herman mengarah pada sebuah gudang logistik tua yang pintunya tertutup rapat oleh rolling door berkarat.
Dengan napas yang tersengal pendek-pendek—berusaha menekan nyeri di bahu dan ngilu di dadaku—aku keluar dari mobil. Udara Tanjung Priok di pukul lima pagi ini terasa seperti belati es. Aku melangkah tertatih, menekan kode akses digital yang tersembunyi di balik kotak meteran listrik sesuai instruksi yang tertulis di balik kertas tersebut.
Klek.
Pintu kecil di sudut rolling door itu terbuka. Aku menyeret langkahku masuk, lalu mengunci pintu itu rapat-rapat dari dalam.
Ruangan ini tidak terlihat seperti gudang kumuh dari dalam. Ini adalah sebuah safe house—rumah aman—yang dikamuflasekan dengan sempurna. Ada sebuah tempat tidur lipat, lemari pendingin kecil, meja kerja berbahan stainless steel, sebuah laptop dengan enkripsi tingkat militer, dan... seperangkat rak berisi peralatan pertolongan pertama (P3K) kelas bedah minor.
Aku terhuyung menuju meja kerja tersebut. Kakiku yang telanjang, lecet, dan berdarah karena berlari menuruni tangga darurat RS Bhayangkara, akhirnya menyerah. Aku merosot jatuh ke lantai beton, menyandarkan punggungku pada kaki meja logam itu.
Di sinilah aku. Keana Elvaretta. Seorang Dokter Spesialis Forensik yang biasanya berdiri gagah di atas panggung rasionalitas, kini meringkuk layaknya buronan tak berharga di sarang tikus.
Aku menarik kedua lututku ke dada, menenggelamkan wajahku di sana. Pertahananku akhirnya hancur lebur. Aku membiarkan isak tangis yang sedari tadi mencekik tenggorokanku meledak. Raunganku bergema di dalam gudang yang sunyi itu.
Pikiranku terus-menerus diseret kembali ke ruang ICU. Suara monitor flatline. Tubuh Ghazali yang tersentak oleh aliran listrik defibrilator. Wajahnya yang pucat pasi saat ia menolak Kalsium Glukonat dariku hanya agar aku tidak ikut keracunan Asam Hidrofluorik.
Pria itu... pria angkuh yang selama ini menjadikan ranjang pernikahan kami sebagai hamparan es abadi, ternyata telah membakar dirinya sendiri di dalam api hanya agar aku bisa tetap kedinginan dengan aman.
Tiga jam berlalu dalam keputusasaan yang melumpuhkan, hingga suara ketukan ritmis dari pintu besi menyentakkan kesadaranku.
Tok. Tok-tok. Tok.
Itu adalah kode. Aku menghapus sisa air mataku dengan punggung tangan, meraih sebuah pisau bedah cadangan dari kotak P3K, lalu merayap mendekati pintu.
"Ini aku, Keana. Herman," suara bariton yang berat dan kelelahan terdengar dari luar.
Aku membuka kunci. Komisaris Herman melangkah masuk, langsung menutup pintu dan menguncinya kembali. Perwira polisi veteran itu tampak sekacau diriku. Seragamnya kusut, rambutnya basah, dan kantung di bawah matanya menghitam gelap. Ia membawa sebuah tas ransel hitam besar.
"Ghazali?" Itulah satu-satunya kata yang meluncur dari bibirku, pertanyaanku memotong segala bentuk basa-basi. Pisau bedah di tanganku turun perlahan.
Herman menghela napas panjang yang terdengar sangat berat. Ia berjalan menuju meja kerja dan meletakkan ranselnya. "Irama jantungnya sudah kembali stabil, Dok. Dia melewati masa kritis akibat hipokalsemia itu. Tapi..."
"Tapi apa, Komisaris?" suaraku meninggi, mencengkeram lengan jaketnya. "Katakan padaku dia tidak mengalami kerusakan organ permanen!"
Herman menatapku dengan sorot mata pedih. "Secara medis, dia akan hidup. Namun secara hukum, dia sudah mati. Begitu dia membuka matanya tiga puluh menit yang lalu, penyidik dari Kejaksaan Agung langsung membacakan status penahanannya. Dia diborgol ke ranjang rumah sakitnya sendiri, Keana. Maia ada di sana, memastikan tidak ada satu pun pengacara dari pihak kita yang bisa masuk menemuinya."
Aku melepaskan cengkeramanku, melangkah mundur hingga punggungku menabrak dinding. "Pria itu... dia tidak membunuh siapa pun. Mereka memanipulasi locus delicti dan menggunakan bukti palsu untuk merusak actus reus kasus ini! Kenapa Anda membiarkan mereka menangkapnya, Komisaris?!"
"Karena aku harus menyelamatkanmu!" bentak Herman, suaranya menggelegar memantul di dinding beton, membuatku terkesiap.
Herman mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba meredakan emosinya. "Maafkan aku, Dokter. Tapi kau harus mengerti posisi kita. Jika aku melawan surat perintah penahanan itu di rumah sakit, aku akan dituduh melakukan obstruction of justice (perintangan penyidikan). Mereka akan memecatku tidak dengan hormat, dan kau akan dijebloskan ke sel isolasi Bareskrim. Jika kita berdua jatuh, siapa yang akan membedah kebohongan Maia dari luar?"
Aku terdiam. Logika kejam itu kembali memukulku.
"Kau harus merawat lukamu dulu," Herman menunjuk bahuku yang berdarah. "Aku membawa perban steril, antibiotik, dan pakaian bersih. Bersihkan dirimu. Setelah itu, ada sesuatu yang harus kau lihat."
Dengan tangan yang masih gemetar, aku membuka jaketku. Menggunakan cermin kecil dari kotak P3K dan bius lokal Lidocaine, aku menjahit sendiri kulit bahuku yang menganga akibat sayatan Maia. Aku menahan erangan rasa sakit setiap kali jarum melengkung itu menembus jaringan dermisku. Rasa perih ini adalah sauh kewarasanku; ia mengingatkanku bahwa aku masih hidup, dan mereka yang melukaiku harus membayar harganya.
Setelah mengganti pakaian dengan kemeja flanel hitam dan celana jeans yang dibawa Herman, aku kembali ke meja stainless steel.
Herman telah menyalakan laptop dengan enkripsi militer tersebut. Ia merogoh saku bagian dalam seragamnya dan mengeluarkan sebuah flash drive terenkripsi (USB token) berlapis logam perak.
"Apa itu?" tanyaku, duduk di kursi lipat di sebelahnya.
"Sebuah warisan," jawab Herman datar. Ia mencolokkan flash drive itu ke laptop. "Ghazali memberikan ini padaku sesaat sebelum kalian berdua masuk ke ruang mediasi Pengadilan Agama kemarin pagi. Dia menyuruhku menyimpannya. Dia bilang, jika terjadi sesuatu padanya, atau jika dia berakhir di balik jeruji besi, aku harus membawa perangkat ini ke safe house ini dan menunjukkannya padamu."
Jantungku kembali berdetak liar. "Ghazali... dia tahu bahwa ibunya dan Maia akan menjebaknya?"
"Suamimu adalah Jaksa Penuntut Umum terbaik di generasi ini, Keana. Dia menguasai mens rea (niat jahat) para kriminal lebih baik dari siapa pun," Herman mengetikkan beberapa baris kode sandi untuk membuka akses file tersebut. "Dia tahu Maia tidak akan menyerah hanya karena ancaman sidang cerai. Dia sudah menyiapkan skenario terburuk."
Layar laptop berkedip sejenak, lalu menampilkan sebuah direktori yang hanya berisi satu file video. Tidak ada dokumen hukum, tidak ada bukti rekaman rahasia. Hanya sebuah video berdurasi dua belas menit.
Herman menekan tombol play, lalu beranjak dari kursinya. "Aku akan berjaga di luar rolling door. Kau butuh waktu untuk melihat ini sendirian."
Pintu gudang tertutup pelan di belakang Herman, menyisakan aku dan layar laptop yang mulai memutar video tersebut.
Video itu tampaknya direkam menggunakan kamera depan laptop di dalam ruang kerja Ghazali di kediaman Mahendra. Ruangan itu tampak remang. Ghazali duduk di kursi kebesarannya, masih mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung. Wajahnya terlihat sangat lelah, rambutnya sedikit berantakan. Berdasarkan tanggal perekamannya di sudut bawah layar, video ini direkam tiga hari yang lalu—tepat di malam setelah ia mengusirku dari rumah dengan memberikan surat cerai palsu itu.
"Hai, Keana."
Suara baritonnya mengalun dari speaker laptop. Mendengar suaranya yang tenang dan hidup membuat air mataku kembali menggenang di pelupuk mata.
Di dalam video, Ghazali memaksakan sebuah senyum tipis. Senyum yang penuh dengan kepahitan.
"Jika kau menonton video ini bersama Komisaris Herman, itu berarti salah satu dari dua skenario terburuk telah terjadi. Aku mungkin sudah mati, atau aku sedang berada di dalam sel isolasi menunggu eksekusi atas kejahatan yang tidak kulakukan."
Ghazali menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap lurus ke arah lensa kamera seolah-olah ia sedang menatap langsung ke dalam retinaku.
"Selama ini, kau selalu membenci tatapanku, bukan?" Ghazali terkekeh pelan, sebuah suara yang sangat menyayat hati. "Kau benci saat aku menatapmu dengan rasa jijik di meja makan. Kau benci saat aku memicingkan mata melihat jas lab-mu. Kau bilang tatapanku adalah tatapan seorang tiran yang merendahkan martabatmu."
Ghazali menunduk sejenak, mengusap wajahnya. Saat ia kembali menatap kamera, topeng pualamnya telah hancur sepenuhnya.
"Maafkan aku, Keana. Aku benar-benar minta maaf. Karena di balik tatapan itu... di balik semua kedinginan yang kutunjukkan padamu sejak malam pertama kita... yang ada hanyalah seorang pengecut yang sedang sekarat karena ketakutan."
Napasku tercekat. Aku menyentuh layar laptop dengan ujung jariku yang dingin.
"Kakek memaksaku menikahimu karena dia tahu ibuku adalah monster. Dia tahu Maia adalah ular berbisa yang menunggu waktu untuk mematuk. Kakek menjadikanmu 'asuransi'-ku karena integritas forensikmu tidak bisa dibeli dengan uang Mahendra," lanjut Ghazali, suaranya mulai bergetar. "Tapi bagiku, kau bukanlah asuransi. Sejak pertama kali aku melihatmu berdiri di altar itu... dengan postur tegakmu, dengan mata sendumu yang menyimpan begitu banyak rahasia kematian... aku tahu kau adalah satu-satunya entitas murni yang pernah masuk ke dalam hidupku yang kotor."
Air mataku jatuh membasahi keyboard laptop.
"Kau adalah anomali, Keana. Kau hidup di antara bangkai dan formalin, tapi jiwamu jauh lebih bersih daripada manusia mana pun di gedung pengadilan sana," Ghazali tersenyum lembut, senyum yang sama seperti saat kami berada di bawah selimut di apartemen Sudirman. "Aku ingin melindungimu. Tapi aku sadar, jika ibuku dan Maia melihat bahwa aku mencintaimu, mereka akan menggunakanmu sebagai kelemahan utamaku. Mereka akan menghancurkanmu. Sama seperti mereka menghancurkan Kakek."
Di layar, Ghazali mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya memancarkan urgensi yang sangat pekat.
"Maka aku harus membuat mereka percaya bahwa aku membencimu. Aku menghinamu, aku menyebutmu bau formalin, aku merendahkan profesimu. Setiap kali aku melontarkan kata-kata kejam itu padamu, rasanya ada pisau bedah yang menyayat tenggorokanku sendiri, Keana. Aku menatapmu dengan kebencian, agar mereka tidak pernah menyadari bahwa di balik tatapan itu, aku sedang memuja setiap jengkal keberadaanmu."
Tangisku meledak. Aku menutup mulutku dengan kedua tangan, meredam raungan kepedihan yang terasa mengoyak dadaku. Pria ini... ia telah menanggung beban sandiwara yang begitu brutal sendirian. Ia menghancurkan hatiku untuk memastikan jantungku tetap berdetak.
"Tapi Maia terlalu cerdas," suara Ghazali berubah menjadi tajam dan kalkulatif. "Dia tahu aku sedang memainkan lakon. Dia menyekap asistenmu untuk memaksaku menyerah. Dan malam ini, saat aku merekam ini, aku tahu bahwa rencanaku membawa perceraian kita ke publik akan memicu serangan balik yang mematikan dari mereka."
Ghazali mengangkat sebuah map cokelat di dalam video tersebut.
"Hukum positif mungkin akan memenangkan mereka, Keana. Karena mereka yang mengontrol narasi, mereka yang memalsukan bukti, dan mereka yang membeli hakim. Hukum prosedural, dengan doktrin 'Fruit of the Poisonous Tree' yang sangat kau benci itu, tidak akan pernah bisa menjerat Maia."
Ghazali meletakkan map itu, menatap kamera dengan intensitas seorang jaksa yang bersiap menjatuhkan tuntutan matinya.
"Tapi kau adalah dokter spesialis forensik. Duniaku dibatasi oleh dokumen dan saksi palsu, tapi duniamu dibatasi oleh sains absolut. Maia bisa membersihkan bukti, tapi dia tidak bisa mengubah hukum alam."
Ghazali menarik napas panjang. "Satu-satunya cara untuk menghancurkan mereka bukanlah dengan menyerang alibi Maia malam ini, melainkan dengan membedah kembali masa lalu yang mereka kubur rapat-rapat. Dengarkan aku baik-baik, Istriku..."
Aku mencondongkan tubuh ke layar, mendengarkan setiap silabel yang keluar dari bibirnya.
"Maia tidak bekerja sendirian saat meracuni Kakek menggunakan Digitalis. Senyawa murni Digoxin dalam bentuk cair tidak bisa dibeli di apotek tanpa izin otoritas medis tingkat tinggi. Maia mendapatkan racun itu dari seorang penyalur di pasar gelap medis. Temukan penyalur itu. Orang itu adalah saksi kunci yang bisa meruntuhkan seluruh jaringan mereka, karena dia memegang bukti transaksi atas nama asli Maia, bukan atas namaku."
Ghazali terdiam sejenak. Matanya memancarkan rasa cinta, keputusasaan, dan kebanggaan yang berbaur menjadi satu.
"Kau adalah pisau bedah terakhirku, Keana Elvaretta. Jangan biarkan mereka mematahkanmu. Jangan pernah percaya pada siapa pun, bahkan pada penegak hukum berseragam. Jika aku tidak bisa memelukmu malam ini... ketahuilah bahwa aku meninggalkan separuh jiwaku di dalam jaket flanel yang sedang kau pakai sekarang."
Aku terkesiap. Tanganku refleks meraba saku jaket hoodie flanel yang kubawa lari dari rumah sakit tadi. Tadi aku mengira ini adalah milik staf kebersihan. Namun, tanganku menyentuh sebuah benda logam kecil di dalam saku yang dalam.
Aku menariknya keluar.
Itu adalah lencana timbangan emas. Lencana identifikasi khusus milik Ghazali yang asli. Lencana yang selama ini diklaim Maia telah digunakan untuk membunuh Bramasta. Lencana ini tidak pernah hilang; Ghazali menyimpannya, dan memberikannya pada Herman bersama jaket ini untuk diserahkan padaku.
"Berjanjilah padaku satu hal, Keana," ucap Ghazali di akhir videonya. Senyum tipis kembali menghiasi bibir pucatnya. "Saat kau datang membebaskanku nanti, jangan pernah lagi mencoba menghilangkan bau formalin dari kulitmu. Karena aku ingin menghirup aroma keberanianmu itu sepanjang sisa hidupku."
Layar laptop berubah menjadi hitam. Video itu selesai.
Aku terdiam di kursi lipat itu, memandangi pantulan wajahku di layar laptop yang gelap. Wajahku kacau, mataku memerah, dan rambutku berantakan. Namun, ada sesuatu yang berubah secara fundamental di dalam diriku.
Di balik tatapan Ghazali selama ini, ia telah memberikan nyawanya untukku. Dan kini, ia memberikan tongkat estafet pertarungan ini kepadaku.
Rasa takut, rasa terabaikan, rasa dikhianati oleh sistem hukum—semuanya menguap lenyap, digantikan oleh ketenangan klinis yang mematikan. Air mataku telah mengering sepenuhnya.
Aku berdiri. Aku tidak lagi merasa seperti seorang istri yang disakiti atau janda dari seorang pembunuh. Aku adalah seorang ilmuwan forensik yang baru saja diberikan pisau bedah taja untuk melakukan autopsi pada institusi paling busuk di negara ini.
Aku berjalan menuju pintu rolling door, memutar kuncinya, dan membukanya dengan satu tarikan keras.
Komisaris Herman yang sedang bersandar di dinding luar, terkejut dan langsung memutar tubuhnya. "Dokter? Kau sudah selesai?"
"Kita berangkat sekarang, Komisaris," ucapku dengan suara yang begitu tenang hingga terdengar mengancam. Aku menatap mata perwira veteran itu dengan sorot mata predator yang telah menemukan target buruannya.
"Berangkat ke mana? Polisi sedang memburumu di seluruh kota!" Herman memperingatkan.
"Biarkan mereka memburu hantu," aku memakai tudung hoodie-ku, menggenggam lencana emas Ghazali di tangan kiriku. "Ghazali mengatakan bahwa Digoxin mematikan itu dipasok oleh pasar gelap medis. Nyonya Ratna dan Maia mungkin bisa mengontrol hakim di pengadilan terang, tapi mereka tidak bisa mengontrol para bajingan di pasar gelap."
Herman menelan ludah, melihat transformasi radikal pada postur tubuhku. "Kau ingin mencari penyalur racun itu? Di mana?"
"Kita akan turun ke dunia yang tidak peduli pada Fruit of the Poisonous Tree, Komisaris," aku melangkah keluar menembus gerimis sisa badai, mataku menatap tajam ke arah hiruk pikuk pelabuhan Tanjung Priok di kejauhan. "Kita akan ke Glodok. Malam ini, Sang Dokter Forensik tidak akan menggunakan hukum untuk melawan Maia. Aku akan menggunakan racunnya sendiri untuk mencekik lehernya."
Jika ranjang pengantin kami tidak bisa memberikan keadilan, maka meja autopsi dan jalanan kotor Jakarta ini yang akan memberikannya.
baca part ini aku merinding
nunggu update selanjutnya kak😍