NovelToon NovelToon
Diceraikan Karena Mandul, Dihamili CEO Dingin

Diceraikan Karena Mandul, Dihamili CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Ibu Mertua Kejam
Popularitas:51.6k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Empat tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Hana hanya menuai luka. Dicap mandul oleh keluarga suaminya, dihina tanpa henti, hingga akhirnya diusir dan diceraikan oleh Farhan—pria yang seharusnya melindunginya.

Dalam keterpurukan, sebuah kesalahan membawa Hana pada malam tak terduga bersama Arsaka, pria asing yang ternyata mengubah takdir hidupnya. Dari malam itu, lahirlah harapan baru—seorang anak yang menjadi alasan Hana bangkit dan memulai hidup dari nol.

Saat kebenaran terungkap bahwa Hana sebenarnya tidak mandul, justru Farhan yang bermasalah, segalanya sudah terlambat. Farhan telah memilih jalan lain dan harus membayar mahal atas keputusannya.

Ketika masa lalu datang mengetuk kembali, mampukah Hana mempertahankan kebahagiaan yang akhirnya ia genggam? Dan apakah penyesalan Farhan masih memiliki arti?

Sebuah kisah tentang pengkhianatan, penebusan, dan cinta yang datang di waktu yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Sebelas

Langit pagi yang tadi terasa ringan, perlahan berubah menjadi siang yang terik. Namun Hana tidak benar-benar merasakannya. Ia berjalan tanpa arah yang jelas, hanya mengikuti jalanan yang terbentang di depannya. Koper di tangannya terasa semakin berat, bukan karena isinya, tapi karena semua yang ia tinggalkan barusan.

Langkahnya akhirnya melambat ketika ia sampai di pinggir jalan besar. Kendaraan lalu lalang, orang-orang sibuk dengan urusan masing-masing. Tidak ada yang peduli pada seorang perempuan yang baru saja kehilangan “rumahnya”.

Hana menghela napas panjang. Ia tidak bisa terus berjalan seperti ini. Ia butuh tempat untuk berhenti. Untuk berpikir. Untuk sekadar bernapas.

Tangannya merogoh tas, mengambil ponselnya. Jarinya bergerak pelan membuka aplikasi. Ia mencari hotel terdekat. Tidak perlu yang mewah. Yang penting cukup aman, cukup nyaman untuk sementara waktu.

Beberapa menit kemudian, sebuah mobil berhenti di depannya. Hana masuk tanpa banyak bicara. Ia menyebutkan alamat hotel yang tadi ia pilih.

Sepanjang perjalanan, ia hanya diam. Menatap keluar jendela. Pemandangan kota yang biasanya terasa biasa saja, kini terlihat berbeda. Seolah semuanya berjalan seperti biasa hanya hidupnya yang berubah drastis.

Hotel itu tidak terlalu besar, tapi cukup rapi dan tenang. Lobi dengan pencahayaan hangat menyambutnya saat ia masuk. Hana menarik koper menuju resepsionis, mengurus check-in dengan suara yang tetap tenang meski hatinya masih berantakan.

Ia memilih kamar untuk beberapa hari ke depan.

“Selamat beristirahat, Mbak,” ucap petugas dengan ramah. Hana hanya mengangguk kecil.

Begitu pintu kamar tertutup, dunia luar seakan benar-benar terputus.

Hana berdiri di tengah ruangan. Sunyi. Sepi. Tidak ada suara Mama Meri. Tidak ada tatapan ragu Farhan. Tidak ada tekanan. Tidak ada tuntutan. Namun, anehnya justru itu yang membuat dadanya terasa kosong.

Hana menjatuhkan diri di tepi ranjang. Menatap lurus ke depan. Untuk beberapa saat, ia hanya diam. Lalu perlahan, tubuhnya membungkuk. Tangannya menutup wajahnya. Air mata akhirnya jatuh juga.

Bukan tangisan keras. Tidak ada suara terisak. Hanya air mata yang mengalir tanpa henti. Seolah semua yang ia tahan sejak tadi akhirnya menemukan jalannya keluar.

Empat tahun ia bertahan. Empat tahun ia percaya bahwa cinta bisa cukup untuk membuat semuanya baik-baik saja. Ternyata tidak.

Hana menarik napas dalam-dalam. Menghapus air matanya dengan cepat. Ia tidak ingin terus terjebak dalam perasaan ini. Ia harus bertahan.

Beruntung ia bukan orang yang benar-benar tidak punya apa-apa. Dulu, sebelum menikah, Hana pernah serius menjalankan bisnis kecil-kecilan. Menjual baju online. Dari sekadar iseng, sampai akhirnya berkembang cukup baik.

Ia memang sempat berhenti setelah menikah, tapi tabungan dari hasil kerja kerasnya dulu masih tersimpan rapi. Tidak banyak, tapi cukup. Cukup untuk membuatnya berdiri sendiri, setidaknya untuk sementara waktu.

Hana bangkit dari tempat tidur. Ia membuka kopernya, merapikan beberapa barang. Mengganti pakaian. Mencuci wajahnya. Berusaha terlihat “normal”.

Namun semakin sore, semakin ia merasa kosong. Sunyi di kamar itu mulai terasa menekan.

Pikirannya kembali berputar. Mengingat semua yang terjadi tadi pagi. Kata-kata Mama Meri. Diamnya Farhan. Nama Chika. Semua itu seperti kaset rusak yang terus berulang.

Hana menutup telinganya dengan kedua tangan. “Cukup …,” bisiknya pelan.

Ia butuh sesuatu untuk menghentikan ini. Sesuatu yang bisa membuatnya berhenti berpikir, meski hanya sebentar.

Dan entah sejak kapan ide itu muncul, Hana meraih tasnya. Malam datang dengan cepat. Lampu-lampu kota mulai menyala, menciptakan suasana yang berbeda. Lebih hidup. Lebih bebas.

Hana berdiri di depan sebuah bar. Musik samar terdengar dari dalam. Ia menatap pintu itu beberapa detik.

Ia bukan tipe orang yang suka tempat seperti ini. Tapi malam ini, ia tidak ingin jadi dirinya yang biasa. Ia mendorong pintu dan masuk.

Suasana langsung berubah. Musik berdentum, lampu warna-warni bergerak, suara tawa dan obrolan bercampur menjadi satu. Aroma alkohol memenuhi udara.

Hana berjalan pelan menuju bar. Duduk di salah satu kursi kosong. “Pesan apa, Mbak?” tanya bartender.

Hana sempat ragu. Lalu ia menghela napas. “Apa saja,” jawabnya. “Yang bisa buat lupakan semua."

Gelas pertama datang. Hana menatap cairan itu beberapa detik sebelum akhirnya meminumnya. Rasa pahit langsung menyentuh lidahnya. Ia meringis sedikit.

Namun beberapa menit kemudian, rasa hangat mulai menyebar di tubuhnya. Gelas kedua. Ketiga.

Perlahan, pikirannya mulai kabur. Beban di dadanya terasa sedikit lebih ringan. Suara di kepalanya mulai mereda. Ia tidak lagi memikirkan Farhan. Tidak memikirkan Mama Meri.

Di sisi lain ruangan, seorang pria berdiri bersama beberapa rekannya. Jas yang ia kenakan rapi, sikapnya tenang namun berwibawa. Wajahnya tegas, sorot matanya tajam. Ialah Arsaka.

Ia datang ke kota ini untuk urusan kerja. Undangan penting yang tidak bisa ia abaikan. Setelah acara formal selesai, rekan kerjanya mengajaknya ke tempat ini.

“Relax dikit, Saka,” ujar salah satu dari mereka sambil tertawa. “Nggak melulu kerja.”

Arsaka hanya tersenyum tipis. Namun, matanya sempat menangkap sosok di bar. Seorang perempuan. Sendirian. Dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Bukan sekadar minum. Seperti sedang melarikan diri.

Arsaka mengalihkan pandangannya. Tidak terlalu peduli.

Sementara itu, Hana mulai merasa sedikit pusing. Kepalanya ringan. Pandangannya mulai tidak fokus.

Ia tidak sadar salah satu gelas yang ia minum bukan sepenuhnya miliknya. Seseorang sempat meninggalkan minuman di dekatnya. Dan tanpa pikir panjang, Hana meminumnya.

Beberapa menit kemudian, efeknya mulai terasa berbeda. Hana memegang kepalanya. Dunia di sekelilingnya terasa berputar lebih kencang dari sebelumnya.

Ia mencoba berdiri. Tapi langkahnya goyah. Seseorang menangkap lengannya sebelum ia jatuh.

“Hey, hati-hati.” Suara itu terdengar dalam. Tenang.

Hana menoleh. Pandangannya kabur, tapi ia bisa melihat sosok pria di depannya.

“Kamu tak apa-apa?” tanya Arsaka singkat.

Hana mencoba fokus. “Aku nggak apa-apa,” gumamnya pelan, meski jelas tidak meyakinkan.

Arsaka menghela napas kecil. Ia bukan tipe yang suka ikut campur. Tapi kondisi perempuan ini jelas tidak baik.

“Kamu sendirian?”

Hana mengangguk pelan. Arsaka melirik ke arah rekannya yang dari tadi memperhatikan.

Salah satu dari mereka mendekat, tersenyum samar. “Yang ini?” bisiknya pelan, cukup untuk Arsaka dengar.

Arsaka menatapnya tajam. “Jangan asal.”

Namun rekannya hanya mengangkat bahu. “Ya terserah. Tapi dia jelas nggak bakal bisa pulang sendiri.”

Arsaka kembali menatap Hana. Perempuan itu sudah hampir kehilangan keseimbangan. Tangannya mencengkeram lengannya tanpa sadar, seolah mencari pegangan.

Arsaka menghela napas. "Aku anter,” ucapnya akhirnya.

Ia meraih tas Hana dan membantu perempuan itu berjalan keluar dari bar. Langkah Hana tidak stabil, tubuhnya beberapa kali hampir jatuh jika tidak ditahan.

Di luar, udara malam terasa lebih dingin. Namun bagi Hana, semuanya masih terasa panas dan berputar.

“Nama kamu siapa?” tanya Arsaka sambil membuka pintu mobil.

“Hana …,” jawabnya pelan.

Arsaka mengangguk. “Aku Arsaka.”

Namun Hana hanya tersenyum samar, seolah nama itu tidak benar-benar masuk ke dalam kesadarannya.

Sepanjang perjalanan, Hana lebih banyak diam. Sesekali bergumam tidak jelas. Kepalanya bersandar ke jendela.

Arsaka sesekali meliriknya. Ada sesuatu yang aneh.

Perempuan ini bukan seperti yang biasa “diatur” oleh rekan-rekannya. Tidak terlihat seperti tipe yang datang dengan tujuan tertentu. Tapi malam ini ia terlalu lelah untuk berpikir panjang.

Mobil berhenti di depan hotel tempat Arsaka menginap. Ia turun, lalu membuka pintu untuk Hana. Membantu perempuan itu keluar. Langkah mereka pelan menuju lift.

Hana nyaris tidak sadar saat pintu lift tertutup. Tubuhnya limbung, dan tanpa sadar bersandar pada Arsaka.

Pria itu menahan tubuhnya dengan satu tangan. Tidak ada kata-kata. Hanya diam dan suasana yang semakin terasa berbeda.

Pintu lift terbuka. Mereka berjalan menuju kamar. Saat pintu kamar terbuka, udara dingin langsung menyambut.

Arsaka menuntun Hana masuk. Perempuan itu masih setengah sadar. Namun saat ia berdiri di dalam kamar, matanya perlahan terangkat menatap Arsaka.

Arsaka menghela napas pelan. Ia mengira semuanya sudah diatur. Ia mengira perempuan ini memang bagian dari “malam” yang disiapkan oleh rekannya. Dan dalam kondisi seperti ini ia tidak banyak bertanya.

Hana melangkah pelan ke dalam. Melepaskan tasnya. Pandangannya masih kabur, tapi ia tidak menolak. Tidak juga bertanya. Mungkin karena ia terlalu lelah untuk berpikir. Atau mungkin ia hanya ingin berhenti merasa sakit, meski dengan cara yang salah.

Arsaka menutup pintu di belakangnya. Dan malam itu menjadi awal dari sesuatu yang tidak pernah mereka rencanakan.

1
Enny Suhartini
lanjut kak ditunggu 👍
Radya Arynda
semangaat hana,, semogah cepat nikah sama arsaka
🌷💚SITI.R💚🌷
benar ga benar hana..tp smg setekah ini ada status kejelasan buat kamu..kamu msh istriy farhan atau istriya arsaka..smg yg trbaik
Eka ELissa
bner Hana dia ayah dri ank mu...
dan dia yg bkln meratukan kan membhgiakan kmu Hana....
Sugiharti Rusli
entah lha ya laki" bisa sangat picik pikirannya seperti Farhan dan ibunya yang mengaanggap mereka Tuhan yang bisa menentukan segala sesuatu,,,
Sugiharti Rusli
karena sejatinya urusan rahim itu adalah ranahnya Allah Sang Pemilik segalanya, bukan si Hana atau si Chika yah,,,
Sugiharti Rusli
dan si Farhan maupun ibunya percaya diri gitu kalo dia menikahi si Chika akan langsung dikaruniai anak🙄🙄🙄
Sugiharti Rusli
apa sebelum mendiang ayah Farhan wafat, dia terpaksa menerima Hana yah karena atas ijin mendiang suaminya si Farhan menikahi Hana🤔🤔🤔
Sugiharti Rusli
bahkan ketika ada peringatan wafatnya sang suami, si bu Meri juga ga segan" mempermalukan menantunya di hadapan orang banyak kan,,,
Sugiharti Rusli
sedari awal ibu mertuanya memang tidak menerima si Hana sebagai menantu sepertinya sih,,,
Sugiharti Rusli
dan belum" sudah menyodorkan calon istri baru buat putranya tanpa memikirkan perasaan Hana nanti seperti apa,,,
Sugiharti Rusli
apalagi si Farhan juga belum pernah dicek kesuburannya selama ini kan, kenapa langsung vonis Hana yang bermasalah,,,
Sugiharti Rusli
kenapa yah vonis selalu datang dari ibu mertua ke menantu perempuan langsung,,
ken darsihk
Tenang Hana kamu aman ikut dngn Arsaka , ini juga untuk kebaikan baby mu 💪💪
guest1053527528
akhirx di pertemukan thor
Ida Nur Hidayati
keputusan Arsaka udah yang terbaik ikut saja Hana
vania larasati
lanjut kak
Vie
akhirnya lanjut juga.... makasih kak aku kira cerita ini bakalan gak lanjut lagi..... mudah2an ceritanya lanjut sampai tamat ya kak, jangan digantung, karena digantung itu sangatlah gak enak, ga ada kepastian... 🤭🤭👍👍
Vie: ok kak.. aku selalu menunggu..... ceritanya seru... makin penasaran nunggu lanjutnya... 👍👍👍👍👍
total 2 replies
Ilfa Yarni
pasti yg terbaik hana arsaka orang baik dan bertanggung jawab km ga usah ragu dan khawatir semua akan baik2 saja buat km dan calon ank kalian
yumna
han km kira"d hukum ga ya 🤣🤣🤣🤣🤣.....lasng bos mu yg trun tangan bjuk hana🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!