NovelToon NovelToon
Identitas Rahasia Nyonya Yang Terbuang

Identitas Rahasia Nyonya Yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Perjodohan / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Dulu ia dibuang bak sampah, kini ia kembali untuk mengambil semuanya.
Setelah dikhianati dan dicampakkan begitu saja oleh keluarga serta suaminya, sang "Nyonya" menghilang tanpa jejak. Dunia mengira dia sudah hancur, namun mereka salah besar.
Ia kembali dengan wajah baru, kekayaan yang tak terhitung, dan identitas rahasia yang mematikan. Bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas, ia datang untuk menjatuhkan mereka yang pernah tertawa di atas penderitaannya.
"Satu per satu akan hancur, dan mereka bahkan takkan sadar siapa yang melakukannya."
Bersiaplah menyaksikan pembalasan dendam yang dingin, cerdik, dan penuh kemewahan. Siapa yang akan bertahan saat rahasianya terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Kematian Sang Nyonya

​Hujan badai mengguyur Jakarta malam itu, seolah langit ikut menangisi nasib sial yang menimpa Alana.

Di depan gerbang megah kediaman keluarga Adiguna, tubuh ramping wanita itu tersungkur di atas aspal yang dingin.

Gaun putih yang dikenakannya kini berubah warna menjadi cokelat penuh lumpur.

​"Tolong, Mas... buka pintunya! Aku tidak melakukannya! Aku dijebak!" teriak Alana dengan suara parau.

Tenggorokannya terasa seperti disayat sembilu.

​Pintu gerbang otomatis itu berderit terbuka, namun bukan pelukan hangat yang ia terima.

Sosok pria tinggi dengan setelan jas mahal melangkah keluar, memegang payung hitam yang kontras dengan kegelapan malam.

Dialah Adrian Adiguna, suaminya—atau setidaknya, pria yang tiga tahun ini ia layani dengan sepenuh hati.

​Di samping Adrian, berdiri seorang wanita dengan gaun merah menyala yang tampak sangat puas.

Siska.

Sahabat yang sudah Alana anggap seperti saudara sendiri, kini merangkul lengan Adrian dengan posesif.

​"Masih berani kamu menampakkan muka di sini, Alana?" suara Adrian dingin, lebih dingin dari air hujan yang menusuk kulit Alana.

​"Mas, foto-foto itu tidak benar! Aku tidak pernah selingkuh, aku hanya..."

​"Cukup!" Adrian melempar segepok dokumen ke wajah Alana. Kertas-kertas itu basah seketika.

"Bukti transfer dari rekeningmu ke pria simpanan itu sudah cukup menjelaskan semuanya. Kau bukan hanya wanita rendahan, tapi kau juga mencoba mencuri aset perusahaan keluargaku."

​Alana terbelalak. "Curi aset? Aku bahkan tidak tahu cara mengakses rekening perusahaan, Mas!"

​Siska maju selangkah, senyum miring tersungkur di bibirnya yang merah. "Oh, Alana sayang... berhentilah berakting.

Adrian sudah tahu semuanya. Sebaiknya kamu pergi sebelum polisi datang menyeretmu karena kasus penggelapan dana."

​"Siska, kau..." Alana mencoba berdiri, namun kakinya terlalu lemas. "Kau yang menjebakku, kan? Kau yang memberiku minuman malam itu!"

​Adrian tidak ingin mendengar lebih lama lagi.

Ia menatap Alana dengan tatapan jijik, seolah-olah wanita di hadapannya adalah hama yang merusak pemandangan indahnya.

​"Mulai detik ini, kita resmi cerai secara agama dan hukum. Surat-suratnya akan diurus pengacaraku. Jangan pernah muncul lagi di hadapanku, atau aku pastikan kau membusuk di penjara."

​Adrian berbalik, memayungi Siska masuk ke dalam rumah megah yang dulu Alana panggil 'rumah'.

Gerbang tertutup rapat, mengunci Alana dalam kegelapan dan kehinaan.

​Tiga jam kemudian, Alana berjalan tanpa arah di pinggiran jalan tol yang sepi. Pikirannya kosong.

Keluarganya sudah tidak ada, hartanya dikuras habis oleh fitnah Siska, dan suaminya sendiri yang membuangnya ke jalanan.

​Tiba-tiba, seberkas cahaya lampu mobil yang sangat terang menyilaukan matanya.

Bunyi klakson panjang memekakkan telinga.

​TIIIIIIIIIIIIT!

​Sebuah truk kontainer kehilangan kendali di jalanan yang licin. Alana tidak sempat menghindar.

Tubuhnya terpental jauh, menghantam pembatas jalan sebelum akhirnya jatuh berguling ke dalam jurang yang gelap di sisi jalan tol.

​Saat matanya perlahan menutup, hanya ada satu hal yang tersisa di benaknya: Rasa benci yang membara.

​"Jika aku hidup kembali... aku akan membuat kalian semua berlutut di bawah kakiku," bisiknya dalam hati sebelum kegelapan total menjemputnya.

​Dua tahun kemudian.....

​Bandara Internasional Soekarno-Hatta tampak sibuk seperti biasanya.

Namun, suasana di terminal kedatangan internasional mendadak terasa berbeda saat seorang wanita melangkah keluar dari pintu VIP.

​Ia mengenakan kacamata hitam besar, trench coat berwarna krem dari brand ternama, dan sepatu hak tinggi yang setiap langkahnya berbunyi klik-klak penuh percaya diri di atas lantai marmer.

Rambut hitamnya yang dulu lurus sederhana, kini bergelombang elegan, membingkai wajah yang tampak sangat sempurna—mungkin terlalu sempurna untuk manusia biasa.

​Beberapa pria di bandara menoleh, terpana oleh aura kemewahan dan kecantikan yang dipancarkan wanita itu.

​"Selamat datang kembali di Indonesia, Nona Elena," sapa seorang pria paruh baya dengan pakaian rapi yang sudah menunggu di samping mobil Rolls-Royce hitam.

​Wanita itu melepas kacamata hitamnya, menatap langit Jakarta yang mendung.

Matanya tajam, tidak ada lagi jejak kerapuhan di sana.

​"Terima kasih, Paman Han. Bagaimana kabarnya?" suara wanita itu rendah dan tenang, namun mengandung wibawa yang tak terbantahkan.

​"Semuanya sudah siap sesuai rencana Anda. Kediaman baru, identitas baru, dan... target utama kita," jawab Paman Han sambil membukakan pintu mobil.

​Wanita itu tersenyum tipis. Senyum yang tidak mencapai mata.

Ia bukan lagi Alana, si istri penurut yang malang.

Ia adalah Elena, pewaris tunggal dari The V Group yang misterius di Singapura yang baru saja mengakuisisi beberapa perusahaan besar di Indonesia.

​Sambil menyandarkan punggungnya di kursi kulit mobil yang empuk, Elena membuka tabletnya.

Di layar muncul foto pernikahan megah yang akan diadakan minggu depan: Adrian Adiguna dan Siska Pratama.

​"Kalian merayakan kebahagiaan di atas kematianku?" gumam Elena sambil mengusap layar tablet dengan kuku merahnya yang tajam.

"Sayang sekali, pestanya harus sedikit... berantakan."

​Elena melirik bekas luka kecil di pergelangan tangannya yang kini tertutup gelang berlian mahal.

Luka itu adalah pengingat abadi tentang malam berdarah dua tahun lalu.

Malam di mana Alana mati, dan monster cantik bernama Elena lahir.

​"Paman Han," panggilnya tanpa menoleh.

​"Ya, Nona?"

​"Kirimkan karangan bunga duka cita terbesar ke kantor Adrian besok pagi. Pastikan tulisannya: 'Selamat atas awal dari akhir'."

​Paman Han sedikit terkejut, namun segera mengangguk patuh. "Baik, Nona. Akan segera dilaksanakan."

​Elena memejamkan mata, membayangkan wajah pucat Adrian dan Siska saat melihatnya nanti.

Ia tidak butuh pisau untuk membunuh mereka. Ia akan menghancurkan reputasi, harta, dan mental mereka sampai mereka sendiri yang memohon untuk mati.

​Permainan baru saja dimulai, Adrian. Dan kali ini, aku yang memegang kendali.

​Mobil mewah itu melesat membelah jalanan Jakarta, membawa sang Nyonya yang terbuang kembali ke takhtanya—untuk membalas dendam.

​Bersambung...

1
gaby
Aq baru gabung thor, sepertinya menarik. Smoga upnya rajin jgn kelamaan, biar pembaca ga kabur
Alya Alya
Saya baru saja rilis Karya baru....
Ayo buruan baca...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!