NovelToon NovelToon
Detektif Zaidan Memburu Penjahat Mendapatkan Istri Darurat

Detektif Zaidan Memburu Penjahat Mendapatkan Istri Darurat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Janda
Popularitas:740
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Zaidan, seorang detektif yang tengah memburu penjahat, tak sengaja terjebak dalam situasi pelik saat pengejarannya masuk ke pemukiman warga. Gara-gara menginjak ekor anjing, ia terperosok masuk ke rumah Sulfi yang baru saja selesai mandi.
Teriakan histeris Sulfi mengundang massa yang langsung salah paham dan menuding Zaidan melakukan perbuatan asusila. Meski Zaidan telah menjelaskan tugasnya dan statusnya yang sudah beristri, warga yang telanjur emosi tetap memaksa keduanya untuk menikah demi "membersihkan" nama kampung. Di bawah tekanan massa, sang detektif terpaksa menjalani pernikahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Beberapa hari kemudian, kabar bahagia itu akhirnya datang.

Setelah serangkaian pemeriksaan terakhir yang menunjukkan perkembangan luar biasa, dokter memperbolehkan Sulfi pulang.

Aroma obat-obatan dan dinding putih rumah sakit yang menjemukan kini resmi ditinggalkan, berganti dengan aroma kebebasan dan pemulihan di rumah mereka yang hangat.

Sesuai janjinya, Zaidan mengajak Sulfi bulan madu.

Ia tidak ingin menunda lagi kebahagiaan bidadarinya yang telah bertaruh nyawa.

Untuk memastikan perjalanan mereka tanpa gangguan, Zaidan sudah mengajukan cuti panjang dari kepolisian, sebuah permohonan yang langsung disetujui oleh Kompol Hendrawan mengingat dedikasi luar biasa yang telah ia berikan.

Namun, tepat saat mereka sedang berkemas di rumah, sebuah ketukan pintu mengubah suasana.

Saat pintu dibuka, suasana seketika menjadi canggung.

Ternyata itu adalah kedatangan orang tua Maya yang meminta maaf kepada Sulfi dan Zaidan.

Wajah ayah dan ibu Maya tampak sangat kuyu dan penuh beban malu.

Sang ayah tertunduk dalam, sementara ibunya tak henti-hentinya menyeka air mata.

"Zaidan, Nak Sulfi. Kami datang bukan untuk membela apa yang dilakukan putri kami," ucap Ayah Maya dengan suara bergetar.

"Kami gagal mendidiknya. Kami benar-benar memohon maaf atas penderitaan dan luka yang diakibatkan oleh Maya. Kami tidak mengharapkan kalian mencabut tuntutan, kami hanya ingin menyampaikan rasa sesal yang

mendalam ini."

Zaidan sempat terdiam, rahangnya mengeras mengingat detik-detik peluru menembus dada istrinya. Namun, Sulfi yang duduk di sampingnya menyentuh lembut punggung tangan Zaidan.

Dengan kebesaran hati seorang bidadari, Sulfi tersenyum tipis.

"Kami sudah memaafkan secara pribadi, Pak, Bu," ucap Sulfi lembut.

"Biarlah proses hukum tetap berjalan sebagai bagian dari tanggung jawabnya. Kami hanya ingin hidup tenang sekarang."

Pertemuan penuh haru itu berakhir dengan jabat tangan perdamaian.

Setelah orang tua Maya pamit dengan rasa lega yang sedikit lebih ringan, Zaidan menatap Sulfi dengan penuh kekaguman.

"Hati kamu terbuat dari apa, Sayang?" bisik Zaidan sambil merangkul pundak istrinya.

"Dari cinta yang kamu berikan, Mas," jawab Sulfi sambil menyandarkan kepalanya.

"Sekarang, ayo kita lupakan semua ini. Bulan madu kita sudah menunggu."

Zaidan tersenyum, menutup pintu masa lalu rapat-rapat, dan bersiap membawa belahan jiwanya menuju cakrawala baru yang penuh dengan kedamaian.

Suasana hangat di ruang tamu rumah Zaidan dan Sulfi semakin lengkap saat bel pintu kembali berbunyi.

Kali ini, yang muncul adalah wajah-wajah yang sangat mereka kenal. Namun, ada yang berbeda dari raut wajah tamu mereka kali ini.

Kedatangan Yuana dan Kompol memberikan undangan pernikahan yang desainnya tampak elegan dan berwibawa.

Zaidan menerima amplop tebal berwarna merah marun itu dengan mata terbelalak.

Ia menatap nama yang tertera di bagian depan, lalu bergantian menatap Komandan dan asisten hukum istrinya itu dengan tidak percaya.

"Menikah? Kejutan apa ini, Yuana?" seru Zaidan sambil tertawa kecil, masih merasa tidak percaya.

Sulfi yang sedang duduk di sofa ikut condong ke depan, wajahnya berbinar senang sekaligus penasaran.

Ia menatap Yuana dengan tatapan menyelidik yang jenaka.

"Jadi, di rumah sakit kemarin kalian sudah ada pembicaraan serius ya?" goda Sulfi sambil melirik

Kompol Hendrawan yang biasanya tampak sangat kaku, kini terlihat salah tingkah sambil merapikan kerah bajunya.

Mendengar godaan bidadari itu, wajah Yuana merona merah.

Ia tidak bisa lagi menyembunyikan binar kebahagiaan di matanya.

Yuana menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis, seolah membenarkan bahwa di tengah ketegangan dan aroma rumah sakit kemarin, sebuah janji suci telah terucap.

"Semuanya terjadi begitu saja, Mbak Sulfi," jawab Yuana malu-malu.

"Mas Hendra memberikan kepastian di saat yang paling tidak terduga."

Kompol Hendrawan berdeham, mencoba mengembalikan wibawanya meski senyum kemenangannya tidak bisa ditutupi.

"Kami ingin kalian berdua hadir sebagai saksi perjalanan kami. Kalian yang membuat saya sadar bahwa hidup terlalu singkat untuk dijalani sendirian."

Zaidan menjabat tangan Kompol dengan erat, ikut merasakan kebahagiaan pemimpinnya itu.

"Kami pasti datang, Komandan. Ini adalah kabar terbaik setelah semua badai yang kita lalui."

Ruang tamu itu pun dipenuhi dengan tawa dan rencana-rencana indah.

Setelah semua drama di ruang sidang, kini yang tersisa hanyalah rencana bulan madu dan pesta pernikahan yang akan menyatukan kembali hati-hati yang sempat terluka oleh tugas dan masa lalu.

Sinar matahari terasa begitu hangat saat mereka berangkat.

Mobil yang dikemudikan oleh Kompol Hendrawan melaju stabil membelah jalanan kota, menuju ke bandara diantarkan oleh Yuana dan Kompol.

Di kursi belakang, Zaidan menggenggam erat tangan Sulfi, memastikan istrinya tetap nyaman selama perjalanan.

Suasana di dalam mobil dipenuhi dengan keceriaan yang ringan.

Tidak ada lagi pembahasan tentang berkas kasus atau ancaman bahaya.

Yuana sesekali menoleh ke belakang, memberikan daftar rekomendasi tempat makan romantis yang harus mereka kunjungi di tempat tujuan nanti.

Sesampainya di area keberangkatan internasional, Kompol Hendrawan membantu menurunkan koper-koper milik Zaidan.

Sebelum mereka berpisah menuju pintu pemeriksaan, sang Komandan menepuk bahu Zaidan dengan sorot mata penuh harap.

"Bersenang-senanglah kalian berdua. Lupakan sejenak urusan kantor. Dan satu lagi..." Kompol Hendrawan menjeda kalimatnya sambil melirik ke arah Sulfi yang tampak sangat cantik meski masih dalam masa pemulihan.

"Semoga setelah ini ada Zaidan Junior," ucap Kompol sambil terkekeh pelan.

Mendengar celetukan itu, wajah Sulfi merona merah sementara Zaidan tertawa lebar, merasa doa sang Komandan adalah harapan yang paling ia nantikan.

"Aamiin..." jawab Zaidan dan Sulfi hampir bersamaan.

"Kami tunggu kabar baiknya!" seru Yuana sambil melambaikan tangan dengan semangat.

Zaidan merangkul pinggang Sulfi, menuntun bidadarinya melangkah masuk ke dalam bandara.

Mereka melangkah dengan mantap, meninggalkan semua memori kelam di kota ini untuk menjemput masa depan yang penuh cinta.

Di antara hiruk-pikuk calon penumpang lainnya, Zaidan berbisik di telinga Sulfi bahwa perjalanan ini adalah awal dari babak paling indah dalam hidup mereka.

Getaran halus mesin pesawat mulai terasa saat burung besi itu melaju kencang di atas landasan pacu.

Tak lama kemudian, tubuh mereka sedikit tertekan ke sandaran kursi saat pesawat mulai lepas landas, perlahan meninggalkan daratan dan menembus gumpalan awan putih yang berarak.

Zaidan mengeratkan genggaman tangannya pada Sulfi, memastikan istrinya tidak merasa cemas selama proses take-off.

Setelah tanda kenakan sabuk pengaman dipadamkan dan pesawat mencapai ketinggian stabil, suasana di dalam kabin menjadi lebih tenang.

Tak berselang lama, seorang pramugari memberikan makan dan minuman kepada Zaidan dan Sulfi dengan senyum yang ramah.

"Silakan dinikmati makan siangnya, Pak, Bu," ujar pramugari tersebut sambil menata nampan di atas meja lipat mereka.

Zaidan membantu membuka bungkus makanan Sulfi dengan sangat telaten.

Aroma harum nasi hangat dan lauk pauk yang menggugah selera langsung tercium.

Ia memastikan Sulfi mendapatkan posisi duduk yang paling nyaman agar luka di dadanya tidak terasa tertekan saat makan.

"Makan yang banyak, Sayang. Kita butuh tenaga ekstra untuk jalan-jalan nanti," bisik Zaidan sambil memberikan segelas jus jeruk segar kepada istrinya.

Sulfi tersenyum, menyesap minumannya sambil menatap ke luar jendela pesawat.

Di bawah sana, daratan terlihat mengecil, seolah membawa pergi semua beban dan trauma yang selama ini menghimpit mereka.

Di ketinggian ribuan kaki ini, hanya ada ketenangan dan janji petualangan baru yang akan mereka ukir bersama sebagai pasangan yang telah berhasil melewati ujian maut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!