NovelToon NovelToon
Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Teen
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Widia ayu Amelia

Setelah 17 tahun hidup dalam kemiskinan dan menjadi korban perundungan oleh Clarissa, si "Putri Mahkota" sekolah, sebuah kecelakaan tragis mengungkap rahasia besar: Adel adalah putri kandung keluarga konglomerat Mahendra yang tertukar saat lahir.
Kembali ke rumah mewah ternyata bukan akhir dari penderitaan. Adel harus menghadapi penolakan dari ibu kandungnya sendiri yang lebih menyayangi Clarissa si anak palsu. Namun, Adel bukanlah gadis lemah yang bisa ditindas. Dengan bantuan Devan, tunangan Clarissa yang dingin dan berbahaya, Adel bangkit untuk merebut kembali takhtanya, membalas setiap penghinaan, dan membuktikan siapa pemilik sah dari nama besar Mahendra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8

Pagi itu, atmosfer di dalam mobil Rolls Royce keluarga Mahendra terasa jauh lebih dingin daripada hembusan AC yang menyentuh kulit. Adel duduk merapat di pojok kiri, matanya menatap deretan pohon yang melesat di balik jendela kaca antipeluru. Di sampingnya, Clarissa duduk dengan keangkuhan yang meluap, seolah-olah kehadiran Adel di dalam mobil itu telah menodai kesucian interior kulit asli kendaraan tersebut.

"Ingat satu hal, Adel," desis Clarissa tiba-tiba, suaranya rendah namun tajam seperti sembilu. Ia tidak menoleh, matanya sibuk memoles lipstik merah muda di bibirnya. "Hanya karena Ayah merasa bersalah dan mengizinkanmu duduk di sini, bukan berarti kau adalah bagian dari kami. Di sekolah, kau tetaplah debu yang harus disapu. Jangan pernah berpikir untuk menyapaku."

Adel hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang lebih mirip dengan seringai tenang. "Terima kasih atas sarannya, Clarissa. Aku juga tidak berencana merusak reputasimu dengan terlihat berteman dengan 'keponakan miskin' sepertiku."

"Baguslah kalau kau sadar diri," sahut Clarissa ketus.

Begitu mobil mendekati persimpangan yang jaraknya sekitar lima ratus meter dari gerbang SMA Garuda Nusantara, Adel mengetuk kaca pembatas supir. "Pak Jajang, berhenti di sini saja."

Supir pribadi itu tampak ragu. "Tapi Nona Adel, Tuan Mahendra berpesan agar saya mengantar Anda sampai ke lobi depan bersama Nona Clarissa."

"Turunkan dia di sini, Jajang! Kau dengar kan dia yang minta sendiri?" bentak Clarissa.

Adel turun dari mobil dengan tenang. Begitu Rolls Royce itu melesat pergi meninggalkan kepulan asap, Adel menarik napas dalam. Ia merapikan seragam barunya yang terasa pas dan elegan di tubuhnya. Ia tahu, hari ini bukan sekadar hari kembali ke sekolah. Hari ini adalah awal dari sebuah pembalasan yang terukur.

Namun, saat Adel melangkah melewati gerbang utama, ia menyadari ada yang salah. Ratusan siswa yang biasanya sibuk dengan dunianya sendiri, kini berdiri berkerumun di koridor. Begitu melihat Adel, suara bisik-bisik yang riuh mendadak menjadi hening, sebelum berubah menjadi gumaman sinis yang menyakitkan.

"Lihat, itu dia."

"Gila, berani banget ya dia masuk sekolah setelah rumor itu keluar."

"Kudengar ibunya itu wanita simpanan kelas bawah yang mencoba memeras Tuan Mahendra pakai bayi haram."

Adel mengerutkan kening. Langkahnya tetap stabil meski jantungnya berdegup kencang. Ia terus berjalan menuju lobi utama, tempat di mana kerumunan paling besar berkumpul. Di sana, di tengah-tengah keramaian, Clarissa berdiri dengan dikelilingi oleh antek-anteknya. Ia memegang sebuah ponsel dan tampak sedang menunjukkan sesuatu yang membuat teman-temannya tertawa mengejek.

"Oh, lihat! Si 'Anak Haram' sudah datang!" teriak salah satu teman Clarissa, Sarah, dengan nada melengking.

Clarissa berbalik, senyum kemenangannya merekah. "Adel, selamat pagi. Bagaimana rasanya berangkat pakai mobil keluarga Mahendra? Nyaman, bukan? Kasihan sekali, pasti ibumu dulu tidak pernah merasakan kemewahan seperti itu saat dia 'bekerja' melayani laki-laki."

Adel berhenti tepat di depan Clarissa. Matanya yang jernih menatap lurus ke dalam mata Clarissa yang penuh kebencian. "Apa yang sedang kau bicarakan, Clarissa?"

"Jangan pura-pura bodoh!" Clarissa mengangkat ponselnya tinggi-tinggi. Di layarnya, terlihat sebuah pesan berantai yang sudah viral di grup angkatan. Pesan itu berisi narasi kejam bahwa Adel adalah hasil hubungan gelap Tuan Mahendra dengan seorang pelayan di masa lalu, dan kehadirannya di mansion hanyalah karena Tuan Mahendra merasa kasihan, bukan karena pengakuan status. "Seluruh sekolah sudah tahu identitas aslimu. Kau bukan keponakan, kau adalah noda hitam dalam keluarga kami. Kau hanyalah sampah yang dipungut dari panti asuhan karena rasa iba!"

Seluruh lobi meledak dalam tawa dan ejekan. "Pergi saja kau dari sini!" teriak seorang siswa figuran dari belakang. "Sekolah ini untuk orang-orang terhormat, bukan untuk anak haram!"

Adel tidak bergeming. Ia menarik napas panjang, menenangkan gemuruh di dadanya. "Rumor yang menarik, Clarissa. Sangat kreatif. Tapi kau tahu apa yang lebih menarik daripada sebuah cerita karangan?"

Adel melangkah maju, memaksa Clarissa mundur satu langkah. "Kenyataan yang tertulis di atas kertas. Dan sepertinya, kenyataan itu baru saja ditempel di papan pengumuman lobi."

Tepat saat itu, bel sekolah berbunyi bersamaan dengan pengumuman dari pengeras suara. *“Diberitahukan kepada seluruh siswa kelas 12, hasil ujian simulasi nasional mandiri telah resmi dirilis. Harap melihat peringkat di papan pengumuman utama.”*

Kerumunan itu perlahan bergeser menuju papan pengumuman besar di tengah lobi. Clarissa, yang sangat yakin dengan hasil belajar privatnya yang mahal, berjalan paling depan dengan dagu terangkat.

"Kalian akan lihat," ujar Clarissa pada teman-temannya. "Prestasi tidak bisa dibeli dengan belas kasihan. Aku akan membuktikan siapa yang benar-benar pantas menyandang nama Mahendra di sini."

Semua orang mulai mencari nama di daftar peringkat. Clarissa mencari namanya di urutan teratas. "Mana... mana namaku?"

"Peringkat 10, Clarissa. Nilai rata-rata 82," suara bariton yang dingin terdengar dari arah belakang. Devan Dirgantara berdiri di sana dengan tangan terbenam di saku celana, matanya menatap tajam ke arah papan.

"Sepuluh?" Clarissa terbelalak. "Itu tidak mungkin! Aku sudah belajar mati-matian!"

"Kalau peringkat sepuluh saja kau sebut belajar mati-matian, lalu apa sebutan untuk orang yang ada di peringkat pertama ini?" Devan menunjuk ke baris paling atas papan pengumuman.

Seluruh siswa terdiam. Napas mereka seolah tertahan saat membaca nama yang tertulis di sana.

**PERINGKAT 1: ADELARD (SKOR: 99.5)**

**PERINGKAT 2: DEVAN DIRGANTARA (SKOR: 98.0)**

**...**

**PERINGKAT 10: CLARISSA MAHENDRA (SKOR: 82.0)**

Keheningan yang mencekam menyelimuti lobi. Skor 99.5 adalah rekor tertinggi dalam sejarah SMA Garuda Nusantara. Itu adalah angka yang hampir sempurna, angka yang hanya bisa dicapai oleh seseorang dengan kecerdasan luar biasa.

"Sembilan puluh sembilan koma lima?" bisik Sarah tidak percaya. "Bahkan Devan yang jenius saja kalah?"

Adel berjalan mendekati papan itu, berdiri tepat di samping Clarissa yang wajahnya kini pucat pasi, lalu perlahan berubah menjadi merah padam karena malu yang luar biasa.

"Kau bilang aku aib?" suara Adel kini terdengar jernih, bergema di seluruh lobi. "Kau bilang aku anak haram yang tidak pantas berada di sini? Lalu, bagaimana denganmu, Clarissa? Kau punya semua fasilitas, kau punya guru les terbaik, kau punya segala kemewahan... tapi nilai rata-ratamu bahkan tidak bisa menyentuh angka 85."

Adel menoleh ke arah kerumunan siswa yang tadi menghujatnya. "Kalian semua tadi menertawakanku karena rumor yang tidak jelas sumbernya. Tapi lihatlah sekarang. Apakah menurut kalian, kecerdasan semacam ini bisa didapatkan hanya dengan menjadi 'anak haram yang dikasihani'? Atau mungkin... justru kalian yang harus malu karena dikalahkan oleh orang yang kalian sebut sampah?"

Clarissa gemetar hebat. Ia merasa ribuan pasang mata kini menatapnya dengan pandangan yang meremehkan. "Kau... kau pasti menyontek! Ayah pasti memberikanmu bocoran soal! Aku akan melapor pada Kepala Sekolah!"

"Ayahmu?" Devan menyela, langkahnya mendekat ke sisi Adel, memberikan aura perlindungan yang tak terbantahkan. "Tuan Mahendra bahkan tidak tahu draf soal ini dibuat oleh dewan guru internasional. Dan aku adalah saksi di ruang ujian kemarin. Adel menyelesaikan soal fisika dan kalkulus dalam waktu setengah dari waktu yang ditentukan, sementara kau, Clarissa, aku melihatmu sibuk mengirim pesan singkat di bawah meja."

Tawa kecil yang mengejek mulai terdengar dari beberapa siswa. Keadaan berbalik 180 derajat.

"Jadi rumor itu... mungkin Clarissa cuma iri ya karena nilainya kalah jauh?" bisik seorang siswi di barisan depan.

"Iya, kalau dipikir-pikir, Adel emang pinter banget dari dulu pas masih jadi pelayan perpus. Cuma kita aja yang tutup mata."

Clarissa tidak sanggup lagi menahan rasa malunya. Ia menjerit frustrasi, lalu berlari membelah kerumunan menuju toilet sambil menangis histeris. Teman-temannya, Sarah dan Bella, saling lirik dengan canggung sebelum akhirnya memutuskan untuk tidak mengikuti Clarissa. Di sekolah ini, mereka setia pada kekuasaan, dan saat ini, Clarissa tampak sedang kehilangan kekuasaannya.

Adel menatap kepergian Clarissa dengan tatapan kosong. Tidak ada rasa senang yang meluap, yang ada hanyalah rasa pahit karena ia harus bertarung sekeras ini hanya untuk diakui.

"Langkah yang berani," bisik Devan tepat di samping telinga Adel. "Kau baru saja merobek topeng kesempurnaan keluarga Mahendra di depan umum."

Adel menoleh pada Devan. "Aku tidak merobek apa pun, Devan. Aku hanya menunjukkan apa yang ada di balik topeng itu. Selebihnya, biarkan mereka yang menilai."

"Kau tahu kan, setelah ini Nyonya Siska tidak akan tinggal diam? Dia akan sangat marah karena kau mempermalukan 'putri' kesayangannya," Devan memperingatkan.

Adel tersenyum tipis, sorot matanya berkilat penuh tekad yang tidak pernah Devan lihat sebelumnya. "Biarkan saja dia marah. Justru itu yang aku inginkan. Aku ingin mereka semua sadar... bahwa putri yang sebenarnya telah kembali, dan dia tidak datang untuk meminta maaf, tapi untuk mengambil kembali takhtanya."

Devan terpaku melihat keberanian di mata Adel. Untuk pertama kalinya, sang pangeran dingin itu merasa bahwa ia telah menemukan lawan—atau mungkin pasangan—yang sepadan.

Adel berjalan meninggalkan lobi menuju kelasnya, melewati para siswa yang kini memberikan jalan baginya dengan rasa hormat yang dipaksakan oleh kekaguman. Hari itu, SMA Garuda Nusantara menjadi saksi; bahwa emas tetaplah emas, meski pernah terkubur di dalam lumpur penderitaan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!