NovelToon NovelToon
Kinasih: Pengantin Keranda

Kinasih: Pengantin Keranda

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Misteri
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di Desa Karang Jati, menikah bukan soal cinta, tapi soal siapa yang terpilih untuk "menjaga" desa. Tahun ini, Kinasih—gadis panti asuhan yang tak punya siapa-siapa—mendapat kehormatan yang paling ditakuti: menjadi Pengantin Keranda.
Kinasih pikir ia akan dipasangkan dengan pemuda desa, namun impian itu hancur saat ia dipaksa bersanding dengan sebuah keranda kayu jati yang konon berisi jasad "Sang Penjaga" yang tak boleh disebut namanya. Dengan balutan kebaya merah darah yang mulai pudar, Kinasih harus menjalani ritual malam satu suro; terkunci di dalam kamar pengantin yang hanya berisi dirinya dan keranda tua yang sesekali mengeluarkan suara ketukan dari dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Yang Tinggal di Dalam Dinding

Pukul 00.04.

Tidak lagi 05.17.

Tidak lagi waktu yang berulang.

Namun—

justru itu yang terasa salah.

Karena sekarang…

waktu berjalan.

Dan sesuatu—

ikut berjalan bersamanya.

Kinasih masih duduk di lantai kamar.

Napasnya pelan.

Namun dadanya terasa kosong.

Bukan kosong karena lega.

Kosong karena… diambil.

Koin itu.

Sudah tidak ada.

Dan bersamaan dengan itu—

suara-suara di kepalanya…

hilang.

Tidak ada bisikan.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada mereka.

Seharusnya itu membuatnya tenang.

Namun—

tidak.

Karena sekarang…

sunyi itu terasa terlalu dalam.

Terlalu sepi.

Seperti…

ia benar-benar sendirian.

Atau—

ditinggalkan.

Kinasih perlahan berdiri.

Langkahnya goyah.

Ia menatap sekeliling kamar.

Semua terlihat normal.

Terlalu normal.

Cermin utuh.

Dinding bersih.

Tidak ada retakan.

Tidak ada darah.

Tidak ada apa-apa.

Namun—

di sudut ruangan—

bayangan itu masih ada.

Tidak bergerak.

Tidak berubah.

Hanya…

menunggu.

Kinasih menatapnya.

Lama.

“Sekarang apa…”

bisiknya.

Tidak ada jawaban.

Namun—

bayangan itu sedikit… bergetar.

Seperti merespon.

Lalu—

perlahan—

ia bergerak.

Satu langkah.

Maju.

Kinasih langsung mundur.

Jantungnya berdebar keras.

“Jangan…”

Namun—

bayangan itu tidak berhenti.

Ia terus mendekat.

Dan setiap langkahnya—

cahaya di ruangan itu… meredup.

Seperti ditelan.

“Kalau kamu mendekat…”

suara Kinasih gemetar.

“…aku—”

Kalimatnya terhenti.

Karena—

ia tidak tahu harus apa.

Ia tidak punya apa-apa lagi.

Koin sudah hilang.

Suara-suara sudah pergi.

Ia—

sendiri.

Bayangan itu berhenti.

Tepat di depannya.

Sangat dekat.

Dan—

untuk pertama kalinya—

ia melihat sesuatu di dalamnya.

Bukan wajah.

Bukan mata.

Namun—

kedalaman.

Seperti lubang.

Yang… melihat balik.

Dan—

suara itu muncul.

Bukan dari luar.

Dari dalam bayangan itu.

Pelan.

Serak.

“Kamu kosong sekarang…”

Kinasih membeku.

“…jadi aku bisa masuk.”

Sekejap—

bayangan itu bergerak.

Cepat.

Dan—

menyentuhnya.

Dingin.

Namun—

tidak seperti sebelumnya.

Yang ini—

menyerap.

Seperti cairan yang masuk ke kulit.

Kinasih menjerit.

Ia mencoba menjauh.

Namun—

tidak bisa.

Bayangan itu menempel.

Merambat.

Naik dari kakinya.

Ke tubuh.

Ke leher.

“KELUAR!!!”

Ia berteriak.

Namun—

tidak ada yang mendengar.

Dan dalam beberapa detik—

bayangan itu…

hilang.

Masuk.

Sepenuhnya.

Kinasih terjatuh.

Tubuhnya gemetar hebat.

Napasnya kacau.

Matanya membesar.

Dan—

ia bisa merasakannya.

Sesuatu.

Di dalam.

Bukan seperti suara-suara sebelumnya.

Yang ini—

diam.

Namun—

berat.

Sangat berat.

Seperti sesuatu yang…

tidak perlu bicara.

Karena ia tahu—

ia akan menang.

Kinasih merangkak menjauh.

Menuju pintu.

Tangannya gemetar.

Ia membuka pintu.

Keluar.

Lorong.

Gelap.

Namun—

berbeda.

Tidak lagi seperti sebelumnya.

Yang ini…

lebih nyata.

Lebih… hidup.

Dindingnya terlihat normal.

Namun—

terasa.

Seperti ada sesuatu di baliknya.

Mengawasi.

Menunggu.

Kinasih berjalan pelan.

Setiap langkah terasa berat.

Karena—

sesuatu di dalam tubuhnya…

ikut bergerak.

Mengikuti.

Menyesuaikan.

“Kamu harus keluar…”

bisiknya pada dirinya sendiri.

Namun—

suara itu tidak terdengar meyakinkan.

Ia sampai di ruang tamu.

Kosong.

Sunyi.

Namun—

televisi menyala.

Sendiri.

Layar berkedip.

Putih.

Lalu—

gambar muncul.

Kinasih membeku.

Di layar—

terlihat rumah itu.

Dari luar.

Namun—

tidak sama.

Rumah itu tampak lebih besar.

Lebih gelap.

Dan—

di jendelanya—

ada sesuatu.

Berdiri.

Menatap keluar.

Kinasih menoleh ke jendela asli.

Kosong.

Tidak ada siapa-siapa.

Namun—

di layar—

sosok itu masih ada.

Dan perlahan—

ia bergerak.

Mendekat ke kaca.

Dan—

wajahnya terlihat.

Kinasih menjerit.

Itu dirinya.

Namun—

berbeda.

Matanya gelap.

Kulitnya retak.

Dan—

senyumnya.

Sama seperti yang lain.

Layar mati.

Seketika.

Sunyi kembali.

Kinasih mundur.

Tubuhnya menabrak meja.

Ia hampir jatuh.

“Ini nggak nyata…”

bisiknya.

Namun—

suara itu muncul lagi.

Dari dalam dirinya.

“Kamu yakin?”

Kinasih membeku.

Karena—

itu bukan suaranya.

Dan bukan suara-suara sebelumnya.

Yang ini…

lebih dalam.

Lebih berat.

Lebih… tua.

“Kamu kosong…”

bisik suara itu.

“…dan aku isi.”

Kinasih memegang kepalanya.

“Pergi…”

Namun—

tidak ada yang pergi.

Sebaliknya—

sesuatu mulai berubah.

Di dalam dirinya.

Denyut.

Bukan jantung.

Namun—

sesuatu yang lain.

Lebih lambat.

Lebih berat.

DUM…

DUM…

DUM…

Ia menatap tangannya.

Dan—

kulitnya bergerak.

Sedikit.

Seperti ada sesuatu di bawahnya.

Menggeliat.

“Tidak…”

Ia mundur.

Namun—

terlambat.

Karena—

tangannya bergerak.

Sendiri.

Mengangkat.

Menyentuh dinding.

Dan saat itu—

dinding itu berubah.

Menjadi lunak.

Seperti…

daging.

Kinasih menarik tangannya.

Namun—

terlambat.

Karena—

dinding itu merespon.

Ia membuka.

Pelan.

Seperti mulut.

Dan dari dalam—

suara.

Banyak suara.

“Tolong…”

“Tolong…”

“Tolong…”

Kinasih menjerit.

Ia mundur cepat.

Namun—

dinding di belakangnya juga berubah.

Semua dinding.

Semua.

Menjadi sama.

Berdenyut.

Hidup.

Dan dari dalam—

tangan keluar.

Banyak.

Meraih.

Mencari.

“Kami masih di sini…”

bisik suara itu.

“Kamu tidak benar-benar menutup…”

Kinasih gemetar.

Air matanya jatuh.

“Diam…”

Namun—

suara itu semakin keras.

Lebih banyak.

Lebih dekat.

Karena—

mereka tidak di luar lagi.

Mereka—

di dalam.

Dan sesuatu yang baru—

mulai berbicara.

Dari dalam dirinya.

“Ini rumah kita sekarang…”

Kinasih membeku.

“Tidak…”

Ia menggeleng.

Namun—

tubuhnya tidak mendengar.

Ia berdiri.

Tegak.

Dan—

perlahan—

tersenyum.

Senyum yang bukan miliknya.

Senyum yang… sama.

Dengan yang lain.

“Ya…”

bisik suara itu.

“…rumah ini hidup.”

Sekejap—

lampu mati.

Semua.

Gelap total.

Namun—

dalam kegelapan itu—

ada cahaya.

Merah.

Pucat.

Dari dinding.

Dari lantai.

Dari langit-langit.

Dan—

semua itu…

berdenyut.

Seperti satu tubuh besar.

Dan Kinasih—

berdiri di tengahnya.

Diam.

Tidak melawan.

Tidak menolak.

Karena—

ia mulai mengerti.

Ia tidak lagi melawan sesuatu.

Ia—

sudah menjadi bagian dari itu.

Dan suara itu—

kini jelas.

Tidak lagi bisikan.

Tidak lagi samar.

Melainkan—

perintah.

“Hidupkan kami.”

Kinasih melangkah.

Pelan.

Menuju pintu utama.

Membukanya.

Dan di luar—

bukan dunia.

Bukan jalan.

Melainkan—

kabut.

Tebal.

Dalam.

Tak berujung.

Namun—

di dalam kabut itu—

ada banyak bayangan.

Bergerak.

Menunggu.

“Kita tidak sendirian…”

bisik suara itu.

Kinasih tersenyum.

Dan—

melangkah keluar.

Kabut itu menelannya.

Pelan.

Dan saat tubuhnya hilang—

rumah itu berubah.

Dindingnya bergerak.

Lantainya berdenyut.

Dan di setiap sudut—

muncul sesuatu.

Wajah.

Tangan.

Bayangan.

Semua hidup.

Semua… bangun.

Dan di dalam—

suara itu menggema.

Lebih keras.

Lebih jelas.

Lebih… nyata.

“Rumah ini…”

“…tidak pernah kosong.”

Sunyi.

Lalu—

ketukan.

Tok.

Tok.

Tok.

Dari dalam dinding.

Dan kali ini—

tidak berhenti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!