Satu malam kelam menumbuhkan benih kehidupan dalam diri Miranda. Namun naasnya, hubungan terlarang itu di ketahui sang Majikan, yang tak lain Ibu dari kekasihnya~Ezar Angkasa.
Merasa tidak terima atas hubungan itu, Majikanya memfitnah Miranda secara keji, dan mengharuskan gadis malang itu angkat kaki dari rumah dalam keadaan berbadan dua.
5 tahun berlalu~
Miranda mencoba bangkit. Melamar kerja pada sebuah perusahaan ternama di kotanya. Namun siapa sangka, Bos barunya itu.....? Dia adalah Ezar Angkasa, mantan kekasihnya 5 tahun yang lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
"Saya antarkan ke rumah sakit saja. Motor kamu biar di antarkan pulang sama sopir saya. Bisa berikan alamat rumah kamu?" Afran sedikit memiringkan wajahnya.
Miranda mengangguk. Ia bersyukur masih di pertemukan orang baik dalam situasi seperti ini. Setelah memberitahu, Miranda segera masuk ke dalam mobil Afran, dan pria itu segera melajukan kembali mobilnya.
Brug!
Ezar memukul setir mobilnya. "Siapa pria itu? Bisa-bisanya dalam keadaan seperti itu dia masih menekuni sifat jalangnya. Dasar wanita murahan!"
Drttt!
Di tengah hantaman emosi yang hampir meledak itu, gawai Ezar kembali berdering ke sekian kalinya.
"Hallo, ada apa Mah?"
"Zar, kamu ini dimana sih? Tolong beri pengertian Sinta dulu. Pulanglah, ini... Dewa malah membanting semua obatnyanya. Mamah kualahan, Ezar!" suara Bu Ria sangat resah, batinya sangat muak sejak tadi.
Mendengar nama sang Kakak, Ezar menghela napas lelah.
"Baik, Ezar pulang sekarang!" Putusnya.
*
Miranda mendekap tubuh Putranya. Tama masih saja mengigau sejak tadi.
"Ayah... Ayah...." Dalam mata terpejam, mulut kecil itu bak lantunan tasbih yang senantiasa mengingat sosok Arya dalam pikiranya.
Hal menyakitkan itu membuat Afran menoleh sekilas. Rasa simpati terdorong, menimbulkan sikap hangat yang masih tertahan.
"Dia merindukan Ayahnya," ucap Afran.
Miranda mengiyakan. "Tidur sore tadi dia sudah memanggil-manggil nama Ayahnya."
Sejak tadi, ada perasaan bersalah menggerogoti hatinya. Andai saja ia tak mengajak putranya mengunjungi Toko roti tadi sore, pasti pertemuan menyakitkan itu tak akan pernah terjadi. Dan semua yang Tama rasakan saat ini; sebuah rindu yang tak dapat lepas dengan bebas.
Rindu yang sudah membongkah, tertanam bertahun begitu lamanya, sore itu meleleh namun tempatnya terlalu semit untuk menuangkan. Yang ada hanya menimbulkan rasa sakit.
"Maaf, kalau saya boleh tahu... Sudah lama kah meninggalnya suami kamu?" Afran kembali menimpali pertanyaan.
"Sudah hampir 3 tahun lamanya."
Afran cukup bersimpati. "Saya turut beduka. Dan maaf jika kehadiran saya membuat luka dalam diri putramu."
Miranda mencoba memaksakan senyumnya. "Di dunia ini, orang memang mendapat jatah memiliki 7 kembaran. Mungkin Anda salah satu di antara pria yang mirip mendiang suami saya."
Afran pun tidak pernah mengira pertemuan itu terjadi. Malam itu dirinya sudah berniat mengajak kekasihnya~Lita makan malam. Namun, di depanya ada hal serius yang wajib ia dahulukan. Apalagi menyangkut masalah anak yatim. Afran rasa, Lita dapat memaklumi itu.
Meksipun asumsinya tak begitu yakin, jika setelah ini masalah besar akan datang.
Mobil terus melaju, dan kini sudah memasuki halaman rumah sakit. Afran dengan sikap sigapnya segera keluar, berjalan cepat berputar untuk membantu Miranda membuka pintu.
Miranda segera turun, Afran masih mengikutinya menuju ruang IGD. Disana, perawat menyambutnya dengan pelayanan hangat.
Tama segera dibaringkan diatas ranjang pasien. Perawat dengan cekatan memasang infus pada punggung tangan lemah itu.
"Ibu, Bapak... Tolong tunggu sebentar. Dokter masih dalam perjalanan. Saya sudah memberikan cairan Paracetamol pada infus putra Anda," jelas perawat wanita tadi.
Miranda yang sudah di hantam perasaan cemas, kini langsung memberi pertanyaan. "Sus... Apa putra saya akan dirawat? Kalau bisa di kasih obat saja, ya! Saya nggak tega lihat dia di infus lebih lama."
Perawat tadi menjawab, "Untuk masalah itu biar Dokter yang memutuskan ya, Bu! Ibu tenang saja... Kalau begitu saya permisi. Jika ada pertanyaan lagi, silahkan tekan tombol nurse call di atas ranjang."
Perawat tadi sudah keluar. Dan disinilah Miranda sejak tadi menunggui putranya.
Tatapan Miranda mengendur. Ia sejak tadi menggenggam tangan putranya, mengusap kepala Tama yang masih terasa panas. Menatap tubuh lemas Tama membuat rasa bersalah Miranda semakin menguar.
Afran masuk. Cepat-cepat Miranda mengusap air matanya. Pria itu berdiri di samping ranjang. Ia tatap wajah pucat Tama dengan perasaan mencelos. Lalu pandangan pria itu jatuh ke arah Miranda. Di saat bersamaan itu, Miranda juga menoleh.
"Saya Afran! Kita belum berkenalan sejak tadi," tangan terbalut kemeja hitam itu terulur.
Miranda menerimanya dengan segan. Ada keraguan dibalik irish hitamnya. "Saya Miranda. Saya ucapkan banyak terimakasih, Mas Afran sudah mau memberi tumpangan untuk kami."
"Bukan masalah besar, Miranda."
Miranda menatap kembali. Ia tahu, sejak tadi gawai pria itu bergetar. Miranda juga mendengar bagaimana cara Afran menjelaskan semuanya kepada sang pujaan. Namun sepertinya, suara wanita di sebrang itu sangat kecewa. Ada rasa bersalah yang barusan menyelinap dalam hatinya. Hanya karena dirinya, pertemuan Afran dengan kekasihnya harus terhalang karena malam itu.
"Mas Afran kalau mau balik sekarang nggak papa kok. Saya nggak enak sama-"
Kalimat Miranda menggantung ragu. Afran lebih dulu menyelanya. "Kamu mendengar semuanya?"
Miranda tertunduk. Lalu mendongak mengerjab. "Maaf, tapi saya tidak bermaksud menguping. Saya tidak sengaja mendengar saja."
Afran tersenyum. Dan disaat itulah Miranda seolah menatap senyum Arya yanh terasa hidup kembali. Hatinya berdesir, rasa rindu kembali menyibak. Bahkan, tanpa sadar, hampir beberapa detik itu Miranda terkesima.
"Saya akan tetap di sini sampai Dokter datang dan memutuskan. Untuk masalah kekasih saya... Kamu tidak perlu khawatir. Nanti juga bakal baik sendiri."
Meksipun kalimat itu hanya sebagai ungkapan penenang, Miranda masih tetap merasa tak enak hati, apalagi dengan status dirinya sebagai 'Janda'.
Selang menunggu 15 menitan, ruangan itu terbuka. Dokter anak itu masuk di dampingi satu perawat yang membawa sebuah catatan.
"Permisi, Bu... Saya periksa dulu adiknya. Oh, ini tidur ya adiknya... Bukan pingsan! Efek obat yang masuk membuat kantuknya datang." Dokter tadi mulai menekan stetoskop pada dada seta perut Tama.
Miranda mendekat setelah Dokter tadi menurunkan stetoskopnya. "Dok, apa perlu rawat inap?"
"Oh, ini panasnya tidak terlalu tinggi. Hanya kelelahan bermain mungkin. Tidak perlu rawat inap. Nanti saya resepkan obat, dan jika tengah malam masih panas, obatnya bisa di minumkan tanpa harus makan dulu," jelas sang Dokter.
Miranda dapat bernapas dengan lega. Afran melihatnya juga merasa tenang.
"Ini resepnya, Bu!" Perawat tadi memberikan secarik kertas kepada Miranda.
Setelah menerimanya, Dokter tadi keluar. Sementara perawat segera melepaskan infus dari tangan Tama. Saat tarikan jarum itu, Tama terbangun. Tangisanya kembali pecah.
"Bunda... Hua... Sakit...." Rengeknya. Tama masih belum menyadari sosok yang mirip Ayahnya kini sudah bersiap menunggunya menatap.
Miranda mencoba menenangkan. "Sayang... Udah ya, jangan nangis lagi! Tuh infusnya udah di lepas sama Suster."
Dan begitu Tama berusaha bangkit, reflek matanya menoleh kearah samping.
Mata kecil itu terbuka lebar. Cepat-cepat bangkit, lalu segera bersiap ingin memeluk.
"Ayah....!!!"
Afran sudah bersiap. Kedua tanganya sudah merentang. Akan tetapi, Tama urungkan niatnya. Ia teringat ucapan Ibunya, jika pria sore itu hanya sekedar orang mirip dengan Ayahnya. Jadi, Tama kini hanya dapat tertunduk menahan tangis.
"Tama minta maaf ya, Paman!" sesaknya.