Langit tidak pernah lagi memerah sejak Harmoni tumbang. Yang tersisa hanya kelabu pucat, puing kuil, dan seorang pemuda bernama Ling Xu—berambut putih bercorak warna-warna aneh, berdiri di tebing tertinggi, menyaksikan lembah yang dulu suci kini dipenuhi tiang-tiang pancang ritual mengerikan.
Mereka menyebut diri mereka Ilahi Kedua. Tapi siapa sebenarnya mereka? Dan apa yang benar-benar terjadi pada sore ketika Harmoni runtuh? Ling Xu hanya memiliki mimpi buruk yang sama, luka yang tak pernah sembuh, dan ingatan tentang ibunya yang ia goreskan kembali setiap malam. Sementara ayahnya—yang pernah berkata "jangan benci"—kini tak lagi punya kepala untuk mengucapkannya.
Di tengah sunyi yang lebih mengerikan dari jeritan, Ling Xu merangkai ritual sendirian di atas altar ayahnya yang bersisa. Ia bersumpah. Bukan untuk berduka, tapi untuk bersiap. Tapi pertanyaannya tetap menggantung di angin yang bau anyir: apakah ia benar-benar sendirian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girenda Dafa Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Waktu untuk Menjadi Pengecut
...Chapter 11...
Ling Xu terdiam.
Ia bisa mendengarnya sekarang—derap kaki yang teratur, suara besi yang bergesekan, dan yang paling mengerikan, teriakan.
Dari kejauhan, dari arah tenda-tenda di selatan, suara para dewa yang belum sempat menjadi kultivator mulai berteriak.
Bukan teriakan perang, melainkan teriakan kematian, teriakan yang ia kenal terlalu baik karena ia pernah mendengarnya dari mulut ibunya dulu, sebelum sunyi yang lebih mengerikan dari jeritan itu datang.
"Kau pikir aku tidak dengar?" bisik Ling Xu, suaranya bergetar.
Bukan takut, karena rasa takutnya sudah habis terkubur bersama ibunya, melainkan marah, marah karena sekali lagi ia harus lari, sekali lagi ia harus meninggalkan sesuatu yang belum selesai, sekali lagi ia menjadi korban yang tidak berdaya di hadapan kekuatan yang lebih besar.
"Tapi setidaknya biarkan aku—biarkan aku mencabik satu kali—satu kali saja—daging sialan itu, biar kurasakan—"
Ia tidak bisa melanjutkan kalimat, karena Huan Zheng tiba-tiba mencubit pipinya.
Bukan cubitan keras, bukan pula cubitan main-main, melainkan cubitan yang tepat, seperti seorang kakak yang membangunkan adiknya dari mimpi buruk di tengah malam.
"Dengar, Nona Racun," ucap Huan Zheng, suaranya tiba-tiba serius—serius dengan cara yang aneh, seperti badut yang melepas topengnya di belakang panggung, "kau boleh mencabik-cabik seribu mayat besok lusa. Kau boleh membakar seluruh semesta jika itu membuatmu lega. Tapi tidak sekarang. Tidak ketika enam pasukan sedang mengepung kita dari semua arah, dan satu-satunya yang membedakan kita dari para Dewa yang berteriak-teriak di selatan adalah kenyataan bahwa kita masih bisa berlari."
Ia melepaskan cubitannya, lalu menghela napas panjang—napas orang yang sudah terlalu sering melihat kematian hingga ia tahu kapan waktu yang tepat untuk bertarung dan kapan waktu yang tepat untuk menjadi pengecut.
"Percayalah padaku. Aku sudah melihat terlalu banyak orang mati karena tidak mau meninggalkan daging yang sudah tidak bernyawa."
Ling Xu menatap Huan Zheng lama-lama, lalu menatap gumpalan daging Whou Ming yang masih berdenyut-denyut aneh di belakang pria itu, dan untuk sesaat, ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Rasa ikhlas yang dipaksakan, seperti menelan ramuan pahit karena tahu itu satu-satunya yang bisa menyelamatkan nyawanya.
"Baiklah," bisiknya akhirnya, suaranya lirih seperti angin yang kehabisan napas, "tapi suatu saat nanti—"
"... Kau akan mencabik-cabik mayat sepuasnya," sambung Huan Zheng sambil tersenyum—senyum malas yang khas, senyum yang membuat orang ingin menonjoknya, tapi anehnya juga membuat orang merasa aman.
“Aku janji. Aku akan memegangi tanganku jika perlu."
Maka berlarilah mereka.
Bukan terbang—karena di langit, pasukan umat manusia telah memasang jaring-jaring Qi yang akan menjebak siapa pun yang mencoba melesat—melainkan berlari, dengan kaki yang menapak tanah basah, dengan napas yang tersengal-sengal, dengan sesekali menoleh ke belakang hanya untuk mendengar teriakan-teriakan para Dewa yang mulai melemah, satu per satu, seperti lilin yang padam ditiup angin malam.
Kabut pagi mulai merayap di antara pepohonan saat mereka akhirnya berhenti di sebuah tepian sungai kecil, jauh dari Perkemahan Xuelan yang kini hanya tinggal gumpalan asap di ufuk timur.
Ling Xu terduduk di atas batu licin, membasuh wajahnya dengan air dingin yang terasa seperti tamparan lembut, sementara Huan Zheng berdiri di sampingnya dengan tangan di saku, matanya yang malas tiba-tiba menatap Ling Xu dengan cara yang berbeda—bukan seperti biasa.
Bukan dengan ejekan atau kebosanan, melainkan dengan ketelitian seorang ahli bedah yang sedang membedah mayat untuk mencari jawaban atas kematian yang tak wajar.
"Hei, Nona Racun," panggilnya tiba-tiba, suaranya masih terdengar malas tapi ada sesuatu di baliknya yang membuat Ling Xu menegang, "Lintang Kemanusiaan yang kau pecah menjadi 51 keping itu... siapa yang memberikannya?"
Ling Xu mengerjap, agak terkejut dengan pertanyaan yang keluar begitu saja tanpa pendahuluan.
"Seorang manusia," jawabnya singkat, tangannya masih sibuk membasuh luka di lengannya yang tergores, "pria tua. Jubah compang-camping. Memberikannya padaku di dalam gua, lalu lenyap seperti debu."
Huan Zheng tidak menjawab.
Ia hanya terus menatap—menatap dada Ling Xu, lalu kepalanya, lalu dadanya lagi, seperti sedang menghitung sesuatu yang tidak terlihat oleh mata telanjang.
Dan di dalam benaknya, suara yang hanya ia sendiri yang bisa mendengar mulai bergumam, bukan dengan kata-kata biasa, melainkan dengan getaran yang terasa seperti lonceng tua yang berdentang di ruang bawah tanah yang gelap.
"Kepingan Lintang Kemanusiaan ini... baik yang ada padanya maupun yang ada padaku... semuanya memiliki hawa yang sama. Hawa yang bukan berasal dari manusia. Hawa yang lebih tua, lebih berat, lebih... ilahi."
Huan Zheng menggeser pandangannya dari dada Ling Xu ke kepalanya.
Bukan ke wajah, melainkan ke ubun-ubun, ke dahi, ke pelipis, ke tempat-tempat di mana energi spiritual biasanya berkumpul pada seorang Dewi.
Dan di sana, di antara aliran Qi Ling Xu yang masih kacau karena pertarungan tadi, ia merasakan sesuatu yang ganjil.
Bukan satu hawa, melainkan dua.
Dua hawa yang berputar dalam satu poros yang sama, seperti dua ular yang saling melilit tanpa pernah benar-benar menjadi satu, tanpa pernah benar-benar terpisah.
"Lintang Kemanusiaan dan Lintang Kemahakuasaan," gumam Huan Zheng dalam hatinya, matanya menyipit, "dalam satu Pondasi Lintang. Dalam satu tubuh. Dalam satu jiwa."
Ia belum pernah melihat hal seperti ini.
Sebagai salah satu dari tiga Roda Kultivasi, sebagai makhluk yang telah mencapai ranah Kepala Kemanusiaan dan jatuh lagi ke lumpur, ia telah melihat ribuan—bahkan puluhan ribu—kultivator dari berbagai ras, berbagai tingkat, berbagai keanehan.
Tapi tidak pernah, tidak pernah ia melihat seorang dewi yang Pondasi Lintangnya memiliki dua hawa sekaligus.
"Ada apa?" tanya Ling Xu tiba-tiba, menoleh karena merasakan tatapan Huan Zheng yang terlalu lama, terlalu dalam.
“Wajahku ternoda sisa tidur?"
Huan Zheng tersenyum tipis, menggeleng, lalu berpaling—tapi di dalam benaknya, gumaman itu tidak berhenti.
Bahkan semakin keras, semakin jelas, seperti seseorang yang sedang menyusun potongan-potongan puzzle yang berserakan di lantai.
"Tapi aku pernah mendengar tentang ini. Sekali. Dalam catatan yang bahkan para Roda Kultivasi lain tidak berani membacanya. Tentang seorang Dewa—bukan Dewi biasa, bukan Dewa rendahan, melainkan Dewa yang menjadi momok menakutkan dalam Pertentangan Harmoni. Dewa yang Pondasi Lintangnya juga memiliki dua hawa. Lintang Kemanusiaan dan Lintang Kemahakuasaan. Dalam satu tubuh."
Huan Zheng menutup matanya sejenak, membiarkan ingatan-ingatan tua yang selama ini ia kubur di sudut paling gelap kesadarannya muncul satu per satu.
Ia teringat pada masa-masa ketika tiga Roda Kultivasi—dirinya, si nomor satu yang pendiam, dan si nomor tiga yang suka bernyanyi—masih berkumpul di paviliun bambu di ujung semesta, membahas strategi perang melawan para Dewa.
Ia teringat pada nama yang tidak pernah berani mereka ucapkan dengan keras, nama yang hanya ditulis dengan tinta emas di gulungan sutra yang disimpan di dalam peti besi berlapis seratus mantra.
God of the Vast Cosmos.
"Itu sebabnya," gumam Huan Zheng dalam hatinya, matanya terbuka kembali, menatap sungai kecil yang mengalir di hadapannya dengan pandangan kosong, "itu sebabnya para Dewa kalah dalam Pertentangan Harmoni. Bukan karena mereka lengah. Bukan karena mereka lemah. Tapi karena dia—God of the Vast Cosmos—mengorbankan dirinya."
Ia teringat pada ledakan yang mengguncang seluruh semesta saat itu, ledakan yang bahkan ia rasakan dari jarak tiga galaksi, ledakan yang membuat langit terbelah menjadi tujuh lapis dan bumi berguncang seperti sedang dimuntahkan dari rahim alam semesta.
Bersambung….