NovelToon NovelToon
Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Isekai / Akademi Sihir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: naramas_

Aku mati karena terlalu percaya pada cinta dan persahabatan. Kini, aku terlahir kembali di dunia baru sebagai anak yang dibenci kerajaan. Mereka menyebutku sampah tanpa bakat? Silakan. Saat kalian memohon pada Dewa, aku melatih tinjuku untuk menghancurkan takhta kalian. Aku Arlan, dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun hidup setelah mengkhianatiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naramas_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gerbang Ke'empat Dan Kehancuran Mental Gort

Malam itu, di dalam gubuk yang pengap dan gelap, Arlan merasa dunianya sedang terbakar. Buah Bara Jiwa yang baru saja dia telan bukan sekadar buah sihir biasa. Begitu sari buah itu menyentuh tenggorokannya, Arlan merasa seolah olah dia telah menelan aliran lava cair yang langsung mengalir deras menuju sistem saraf pusatnya. Cairan itu tidak dicerna oleh lambung, melainkan langsung diserap oleh energi internalnya dan diledakkan ke seluruh ujung saraf di tubuhnya. Arlan jatuh tersungkur di atas lantai kayu, kedua tangannya mencengkeram lantai hingga kuku-kukunya mulai mengeluarkan darah karena tekanan yang sangat besar.

Rasa sakit yang dia rasakan saat ini jauh melampaui apa yang dia alami di Puncak Gunung Es. Jika sebelumnya rasa sakit itu bersifat fisik seperti tulang yang patah, kali ini rasa sakitnya bersifat neurologis. Arlan merasa setiap helai saraf di tubuhnya sedang ditarik, dipelintir, dan kemudian dibakar hingga hangus. Ini adalah proses pembukaan Gerbang Keempat: Gerbang Rasa Sakit. Di dalam ajaran Taijutsu kuno yang diberikan sang kakek, gerbang ini berfungsi sebagai pelepas pembatas alami otak. Manusia biasa memiliki mekanisme pertahanan yang membatasi penggunaan otot agar tubuh tidak hancur sendiri. Namun, dengan terbukanya Gerbang Keempat, pembatas itu dihilangkan.

Arlan mengejang hebat di atas lantai. Matanya melotot, memperlihatkan urat-urat merah yang pecah di bola matanya. Keringat yang keluar dari tubuhnya bukan lagi air jernih, melainkan berwarna kemerahan karena bercampur dengan darah yang keluar dari pori-pori akibat tekanan darah yang melonjak drastis. Di tengah siksaan yang tak tertahankan itu, pikiran Arlan tetap dipaksa untuk sadar. Dia menggunakan sisa-sisa kesadaran dari kehidupan lamanya untuk tidak menyerah pada kegelapan. Dia mengingat setiap detik saat Rendra tertawa di atas penderitaannya. Dia mengingat wajah dingin Siska saat meninggalkannya. Ingatan itu menjadi jangkar yang menahan jiwanya agar tidak hanyut dalam kegilaan rasa sakit.

"Teruslah bertahan, bocah," suara kakek tua itu terdengar samar di telinga Arlan. "Jika kamu bisa melewati gerbang ini, kamu akan bisa menggunakan seratus persen kekuatan ototmu tanpa merasa lelah atau terhambat oleh rasa sakit. Kamu akan menjadi mesin tempur yang tidak bisa dihentikan."

Proses itu berlangsung selama berjam jam yang terasa seperti ribuan tahun bagi Arlan. Hingga akhirnya, suara dentuman keras terdengar di dalam kepalanya. Deg! Detak jantung Arlan tiba-tiba melambat namun menjadi sangat kuat. Rasa sakit yang tadi menyiksa perlahan lahan mulai berubah menjadi sensasi mati rasa yang dingin. Arlan merasakan otaknya tidak lagi mengirimkan sinyal peringatan bahaya saat dia menggerakkan tubuhnya yang terluka. Dia telah berhasil. Gerbang Keempat kini telah terbuka, meskipun belum stabil sepenuhnya.

Keesokan paginya, Arlan bangkit dari lantai dengan tubuh yang dipenuhi noda darah kering. Dia merasa sangat ringan, seolah olah berat tubuhnya telah hilang. Dia berjalan menuju cermin kecil yang retak di sudut ruangan dan menatap pantulan dirinya. Wajah anak berusia tujuh tahun itu kini terlihat jauh lebih dewasa dan dingin. Matanya memancarkan ketenangan yang mematikan, sebuah tatapan yang hanya dimiliki oleh mereka yang sudah pernah melewati pintu kematian berkali kali.

Arlan keluar dari kamarnya dan mendapati Elena sedang duduk di meja makan dengan wajah yang sangat pucat. Ibunya itu sedang memegang selembar surat resmi dengan stempel merah milik kantor kepala desa. Arlan mendekat dan mengambil surat itu dari tangan ibunya yang gemetar.

"Arlan, Tuan Gort memerintahkan kita untuk segera mengosongkan gubuk ini," ucap Elena dengan suara parau. "Dia mengatakan bahwa tanah ini akan digunakan untuk pembangunan barak ksatria yang akan mengawasi ujian akademi. Kita diberikan waktu hanya sampai sore ini untuk pergi."

Arlan membaca surat itu dengan teliti. Ini adalah taktik kotor yang sangat dikenali oleh Arlan. Gort sedang mencoba menghancurkan mental Arlan dan ibunya sebelum ujian dimulai. Dengan membuat mereka menjadi tunawisma, Gort berharap Arlan akan kehilangan fokus dan stamina, sehingga mudah dihabisi saat ujian nanti. Ini adalah bentuk serangan psikologis yang bertujuan untuk merendahkan harga diri keluarga Vandermir sampai ke titik terendah.

"Jangan khawatir, Ibu," ucap Arlan sambil meletakkan surat itu kembali ke meja. "Siapkan barang-barang kita yang paling penting. Aku akan pergi menemui Tuan Gort sebentar untuk membicarakan kompensasi atas rumah ini."

"Jangan, Arlan! Itu berbahaya!" teriak Elena.

Namun Arlan tidak berhenti. Dia melangkah keluar gubuk dengan langkah yang sangat stabil. Gerbang Keempat yang baru saja dia buka membuatnya bisa merasakan getaran di tanah dari jarak jauh. Dia bisa merasakan posisi setiap penjaga desa hanya dari embusan angin yang mereka timbulkan. Arlan berjalan menuju kantor kepala desa yang terletak di pusat desa. Sepanjang jalan, penduduk desa yang melihatnya segera menghindar. Ada aura yang sangat menekan keluar dari tubuh kecil Arlan, sesuatu yang membuat bulu kuduk mereka berdiri tanpa alasan yang jelas.

Arlan sampai di depan kantor kepala desa dan langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Dua pengawal yang berjaga di depan pintu mencoba menghentikannya, namun Arlan hanya menatap mereka sejenak. Tatapan mata Arlan yang mengandung aura pembunuh dari Gerbang Keempat membuat kedua pengawal itu membeku di tempat, tangan mereka gemetar hingga hampir menjatuhkan tombak. Arlan melangkah melewati mereka seolah olah mereka adalah patung batu.

Di dalam ruangan kantor yang mewah, Gort sedang duduk sambil meminum anggur mahal bersama beberapa anak buahnya. Dia sedang tertawa terbahak bahak saat merencanakan bagaimana dia akan melihat Elena mengemis di jalanan desa nanti malam. Namun tawa itu terhenti seketika saat pintu ruangannya terbuka dan Arlan masuk dengan wajah yang sangat tenang.

"Gort," ucap Arlan tanpa menggunakan sebutan kehormatan sedikit pun. "Aku datang untuk membatalkan surat pengusiran itu."

Gort tersentak kaget, lalu wajahnya berubah menjadi merah karena marah. Dia menggebrak meja hingga gelas anggurnya tumpah. "Berani sekali kau masuk ke sini tanpa izin, sampah! Surat itu sudah sah secara hukum kerajaan. Kamu dan ibumu yang pengkhianat harus pergi dari desa ini sekarang juga!"

Arlan tidak berteriak balik. Dia justru berjalan mendekati meja Gort. Setiap langkah Arlan menciptakan suara ketukan yang sangat teratur di lantai kayu, sebuah suara yang entah kenapa membuat jantung Gort berdegup kencang secara tidak alami.

"Hukum?" Arlan tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat menyeramkan. "Hukum di dunia ini dibuat oleh yang kuat untuk menindas yang lemah. Dan saat ini, di ruangan ini, aku ingin tahu siapa yang sebenarnya lebih kuat."

Gort segera mengaktifkan Berkah Tanah miliknya. Lengan kanannya mulai ditutupi oleh lapisan batu yang tebal. "Kamu benar-benar ingin mati lebih cepat, ya?! Aku akan menghancurkan kepalamu sekarang juga!"

Gort melayangkan pukulan besarnya ke arah wajah Arlan. Namun, Arlan tidak menghindar. Dia hanya mengangkat tangan kanannya secara perlahan. Dengan Gerbang Keempat yang terbuka, Arlan bisa melihat setiap serat otot di tangan Gort yang sedang bergerak. Arlan menangkap kepalan tinju batu Gort hanya dengan telapak tangan kirinya.

Brakk!

Suara benturan itu sangat keras, namun Arlan tidak bergeser satu inci pun. Telapak tangan kecil Arlan menahan pukulan batu Gort dengan sangat mudah. Gort terbelalak tidak percaya. Dia merasa pukulannya baru saja menghantam dinding baja yang tidak bisa ditembus.

"Ini saja?" tanya Arlan dingin.

Arlan kemudian meremas kepalan tinju batu Gort. Dengan kekuatan murni dari Gerbang Keempat, lapisan batu itu retak dan hancur berkeping-keping menjadi debu di tangan Arlan. Gort berteriak kesakitan saat tulang tangannya mulai terasa remuk di bawah cengkeraman Arlan. Arlan menarik tubuh Gort mendekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.

"Dengarkan aku baik-baik, Gort," bisik Arlan dengan nada yang sangat tajam. "Aku akan membiarkanmu tetap hidup hari ini karena aku ingin kamu menyaksikan bagaimana aku menghancurkan segalanya yang kamu banggakan di ujian akademi nanti. Tapi, jika kamu mengirim satu orang lagi ke rumahku, atau mencoba menyentuh ibuku lagi, aku akan merobek jantungmu keluar dan memaksamu memakannya sebelum kamu mati. Apakah kamu mengerti?"

Gort tidak bisa menjawab. Dia sangat ketakutan hingga celananya mulai basah karena air kencing. Dia melihat di mata Arlan ada sebuah kegelapan yang sangat dalam, sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada binatang sihir paling buas sekalipun. Dia menyadari bahwa bocah di depannya bukan lagi manusia, melainkan iblis yang lahir kembali.

Arlan melepaskan cengkeramannya dan mendorong Gort hingga jatuh terduduk di kursinya. Arlan kemudian mengambil surat pengusiran yang ada di meja dan merobeknya menjadi potongan-potongan kecil di depan wajah Gort.

"Siapkan panggung ujianmu dengan baik, Gort," ucap Arlan sambil berbalik menuju pintu. "Dan pastikan Julian berlatih lebih keras, karena aku tidak ingin menghancurkan mainan yang terlalu rapuh."

Arlan keluar dari kantor kepala desa dengan langkah yang sangat tenang. Para pengawal di luar tidak ada yang berani mendekatinya. Mereka hanya bisa berdiri diam sambil melihat Arlan menghilang di kejauhan. Di dalam kantor, Gort jatuh tersungkur ke lantai, tubuhnya gemetar hebat. Mentalnya baru saja dihancurkan sepenuhnya. Dia menyadari bahwa dia tidak akan pernah bisa mengendalikan Arlan.

Kembali di gubuknya, Arlan melihat Elena yang sedang mengemasi barang-barang mereka dengan wajah sedih. Arlan menghampirinya dan memegang tangan ibunya.

"Ibu, letakkan kembali barang-barang itu," ucap Arlan lembut. "Kita tidak akan pindah ke mana-mana. Tuan Gort baru saja berubah pikiran dan meminta maaf atas kesalahpahaman ini."

Elena menatap anaknya dengan bingung. "Berubah pikiran? Bagaimana bisa?"

"Mungkin dia baru saja menyadari bahwa berurusan dengan kita adalah kesalahan besar," jawab Arlan sambil tersenyum tipis.

Malam itu, Arlan kembali bermeditasi. Dia merasakan Gerbang Keempatnya mulai menyatu dengan sempurna ke dalam sistem energinya. Dia merasa sangat puas. Kekuatan fisiknya kini sudah mencapai tingkat di mana dia bisa menyaingi ksatria tingkat menengah meskipun tanpa mana. Namun, dia tahu ini belum cukup untuk menghadapi ujian akademi yang sesungguhnya. Dia harus mulai melatih teknik Tanpa Bayangan untuk melengkapi kekuatan fisiknya.

Di kegelapan malam, Arlan terus mengasah dirinya. Di kehidupan keduanya ini, dia akan memastikan bahwa setiap orang yang mencoba mengkhianati atau menindasnya akan merasakan kehancuran mental yang sama seperti yang dialami Gort. Dia adalah Arlan Vandermir, dan badai yang dia bawa baru saja dimulai.

1
Nanda 123
trus ga bls dendam ama shabat ny tu??
M Agus Salim II: oke siap, masih dalam proses 😅
total 1 replies
Aqil Septian
UDAHLAH KEBANYAKAN NOVEL KAYAK GINI BUATAN CHATGPT, HALAH TAIK AUTHOR TAIK
Jerry K-el: gass keun💪💪💪💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!