Jutaan tahun lalu, Ras Dewa Naga Primordial dimusnahkan oleh Aliansi Sembilan Penguasa Surga karena kekuatan mereka yang terlalu menentang takdir. Sejarah mereka dihapus, meninggalkan abu dan kutukan.
Di Benua Azure yang terpencil, Chu Chen hidup dalam kehinaan sebagai pemuda dengan "Akar Roh Cacat". Namun, nasibnya berputar tragis ketika desanya dibantai tanpa ampun oleh Sekte Serigala Darah demi sebuah gulungan usang peninggalan leluhurnya.
Dalam genangan darah dan keputusasaan, kutukan di dalam tubuh Chu Chen hancur. Ia membangkitkan garis keturunan Dewa Naga Primordial terakhir dan mewarisi teknik terlarang. Teknik ini memungkinkannya melahap segala energi di semesta—racun mematikan, pusaka suci, hingga Api Ilahi—untuk memperkuat dirinya.
Membawa dendam lautan darah, Chu Chen merangkak dari jurang kematian, bersumpah untuk membelah sembilan cakrawala dan menarik para Penguasa Surga dari takhta agung mereka!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pecahnya Es Yin
Tiga hari berlalu dengan cepat. Puncak Luar Sekte Awan Suci yang biasanya diselimuti oleh suasana suram kini dipenuhi oleh hiruk-pikuk ribuan murid.
Hari ini adalah hari Ujian Penilaian Puncak Luar, sebuah ajang pertarungan berdarah yang diadakan setahun sekali. Pemenang dari ujian ini tidak hanya akan mendapatkan hadiah Batu Roh yang melimpah, tetapi juga hak istimewa untuk memasuki Wilayah Terbengkalai—sebuah kawasan penuh peluang dan bahaya yang terletak di perbatasan sekte.
Di pusat pelataran Puncak Luar, sepuluh gelanggang batu giok raksasa telah didirikan. Ribuan murid menyoraki jagoan mereka masing-masing, sementara di atas panggung kehormatan, belasan Penatua duduk mengawasi jalannya pertandingan. Tatapan mereka tajam, mencari bibit-bibit bakat yang mungkin terlewatkan saat ujian masuk.
Chu Chen berdiri dengan tenang di pinggir Gelanggang Nomor Empat, menanti gilirannya. Jubah abu-abunya tampak biasa saja, dan ia menyegel rapat-rapat aura Lautan Qi serta panas Api Teratai Merah di dalam Dantiannya. Di mata semua orang, ia hanyalah seorang murid Lapis Kesembilan Penempaan Raga biasa.
"Chu Chen, kau yakin tidak apa-apa?" Meng Fan berbisik cemas di sebelahnya. "Kudengar Perkumpulan Harimau Hitam menyuap pengawas pertandingan untuk mengatur undianmu. Lawan pertamamu bukan murid sembarangan. Dia adalah Lei Kuang, petarung terkuat di kelompok mereka!"
"Lei Kuang?" Chu Chen mengulang nama itu dengan nada datar, seolah sedang menyebut nama serangga.
"Ya! Dia berada di Lapis Kesembilan Puncak, sama sepertimu. Tapi fisiknya sangat buas, dan dia terkenal karena selalu meremukkan tulang lawannya di gelanggang hingga cacat seumur hidup," Meng Fan menelan ludah. "Lebih buruk lagi, aturannya melarang penggunaan senjata tajam. Ini murni pertarungan tangan kosong. Jika dia menggunakan ilmu andalannya, kau bisa—"
"Peserta Nomor 4044, Chu Chen! Naik ke gelanggang!"
Suara nyaring seorang wasit memotong ucapan Meng Fan.
Chu Chen tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia melangkah menaiki tangga batu giok dengan santai, seolah sedang berjalan-jalan di taman.
Di seberang gelanggang, sesosok pemuda raksasa dengan tinggi hampir dua meter telah berdiri menunggunya. Otot-ototnya menonjol keluar seperti bongkahan batu cadas, dan tubuhnya dipenuhi oleh bekas luka sayatan. Itu adalah Lei Kuang.
"Hahaha! Jadi kau sampah yang berani melukai anggota Perkumpulan Harimau Hitam kami di Paviliun Bela Diri?" Lei Kuang tertawa meremehkan, mematah-matahkan buku jarinya hingga terdengar suara derak yang mengerikan. "Kudengar kau punya kulit yang sedikit keras. Kebetulan sekali, aku sangat suka menghancurkan benda-benda keras."
Chu Chen menatap Lei Kuang dengan sepasang mata yang sedalam sumur mati.
"Mulai!" teriak wasit.
BUM!
Lei Kuang tidak membuang waktu. Ia menghentakkan kakinya hingga lantai giok gelanggang itu retak, melesat maju bagaikan badak mengamuk. Tinju kanannya yang sebesar kepala manusia dewasa melesat lurus ke arah wajah Chu Chen, membawa kekuatan angin yang memekakkan telinga.
Para penonton menahan napas. Pukulan kekuatan penuh dari Lei Kuang bisa menghancurkan batu gilingan menjadi debu.
Namun, Chu Chen tidak menghindar. Ia bahkan tidak berkedip. Saat tinju raksasa itu berjarak satu cun dari wajahnya, Chu Chen hanya memiringkan kepalanya sedikit ke kanan, membiarkan tinju itu meleset dari hidungnya, sementara tangan kirinya melesat maju bagaikan kilat dan menampar sisi pergelangan tangan Lei Kuang.
Plak!
Tamparan itu terlihat pelan, namun mengandung kekuatan tolakan dari fisik Lapis Kesembilan Chu Chen yang telah diperkuat tulang naga. Lengan Lei Kuang seketika terlempar ke samping, membuat kuda-kudanya terbuka lebar.
"Apa?!" Lei Kuang terbelalak.
Sebelum Lei Kuang bisa menarik kembali lengannya, telapak tangan kanan Chu Chen telah menampar keras dada bidang Lei Kuang.
BUGH!
Tidak ada gejolak Qi. Hanya murni tenaga fisik mutlak.
Lei Kuang terbatuk darah. Tubuh raksasanya terlempar ke udara sejauh lima tombak dan bergulingan di atas lantai gelanggang dengan sangat menyedihkan.
Suasana di sekitar Gelanggang Nomor Empat mendadak sunyi senyap. Semua orang menganga tak percaya. Petarung terkuat Perkumpulan Harimau Hitam baru saja diterbangkan dengan satu tamparan sederhana?
Di atas panggung kehormatan, beberapa Penatua sedikit mencondongkan tubuh mereka, mulai tertarik.
"Kekuatan fisik yang sangat murni," gumam salah satu Penatua. "Anak itu memiliki dasar otot yang luar biasa untuk ukuran fana."
Di atas gelanggang, Lei Kuang bangkit dengan susah payah. Wajahnya merah padam karena malu dan amarah yang meledak-ledak. Ia meludah darah ke lantai.
"Keparat... Kau berani mempermalukanku?!" raung Lei Kuang. "Aku akan membunuhmu! Aku akan meremukkan setiap tulang di tubuhmu!"
Tiba-tiba, Lei Kuang merogoh ke balik sabuknya dan menarik keluar sepasang sarung tangan yang terbuat dari bahan aneh. Sarung tangan itu tidak terbuat dari kulit atau kain, melainkan memancarkan hawa dingin yang sangat mematikan, seolah terbuat dari bongkahan es abadi. Warnanya biru pucat dan dipenuhi duri-duri tajam.
Begitu Lei Kuang memakainya, udara di sekitarnya seketika membeku. Lapisan es tipis mulai merayap di lantai batu giok tempat ia berdiri.
"Itu Sarung Tangan Es Yin!" seru seorang murid tingkat tinggi dari kursi penonton dengan ngeri. "Itu pusaka tingkat menengah yang dilarang di pertarungan fisik! Sarung tangan itu bisa membekukan darah dan merapuhkan tulang siapapun yang disentuhnya!"
Wasit di pinggir gelanggang mengerutkan kening dan hendak menghentikan pertandingan, namun seorang Penatua dari panggung kehormatan memberi isyarat tangan untuk melanjutkannya. Penatua itu, yang ternyata memiliki hubungan gelap dengan Perkumpulan Harimau Hitam, ingin melihat Chu Chen dihancurkan.
Lei Kuang menyeringai buas, merasakan hawa dingin yang mengalir dari sarung tangannya. "Matilah, sampah!"
Ia menerjang maju, kali ini jauh lebih cepat. Kedua tangannya yang kini dilapisi es abadi menebas ke arah dada Chu Chen seperti cakar beruang.
Chu Chen menatap sarung tangan es tersebut. Di dalam dadanya, Zirah Tulang Naga Hitam menanggapi ancaman tersebut dengan pendaran yang tertahan. Jika ia mau, ia bisa saja melepaskan Api Teratai Merah dan menguapkan Lei Kuang beserta sarung tangannya dalam sekejap. Namun, dengan belasan Penatua yang sedang mengawasi, ia tidak akan melakukan kebodohan itu.
Biarkan aku menguji seberapa keras tulang naga ini di hadapan pusaka, batin Chu Chen dengan akal sehat pembunuh.
Chu Chen sengaja menyilangkan kedua lengannya di depan dada, membiarkan Lei Kuang mendaratkan pukulannya.
KRAAAAS!
Cakar es itu menghantam lengan Chu Chen. Seketika, hawa dingin yang sangat mematikan meledak. Udara membeku. Lapisan es tebal berwarna biru pucat langsung merayap dan membungkus kedua lengan Chu Chen, lalu menyebar ke dada dan kakinya. Dalam hitungan detik, Chu Chen telah berubah menjadi patung es di tengah gelanggang.
"Chu Chen!" jerit Meng Fan dari bawah gelanggang, wajahnya pucat pasi.
Lei Kuang tertawa terbahak-bahak, napasnya mengeluarkan kabut putih. "Hahaha! Kau lihat itu?! Daging dan darahnya sudah membeku sepenuhnya! Sekarang, aku hanya perlu menyentuhnya, dan dia akan hancur menjadi ribuan serpihan es!"
Di atas panggung kehormatan, beberapa Penatua menggelengkan kepala kecewa.
"Sayang sekali," ucap salah satu Penatua. "Fisiknya bagus, tapi terlalu sombong untuk mencoba menahan Es Yin secara langsung. Darahnya telah berhenti mengalir. Dia sudah mati."
Lei Kuang mengangkat kepalan tangannya tinggi-tinggi, bersiap menghantamkan pukulan terakhir ke arah patung es Chu Chen untuk menghancurkannya berkeping-keping.
"Hancurlah, kau sam—"
KRETAK.
Sebuah suara retakan pelan terdengar, memotong tawa Lei Kuang.
Mata Lei Kuang terpaku pada patung es di depannya. Sebuah retakan kecil muncul di permukaan es yang membungkus lengan Chu Chen.
Di dalam tubuh Chu Chen, meskipun kulit dan darahnya berusaha dibekukan oleh energi Yin yang terlampau dingin, tulang-tulangnya yang berwarna hitam legam sama sekali tidak terpengaruh. Zirah Tulang Naga Hitam Primordial itu bahkan tidak merasa kedinginan. Sebaliknya, tulang itu menyerap hawa dingin tersebut dan memantulkannya kembali dengan kekuatan tolakan yang murni.
Terlebih lagi, panas bawaan dari Lautan Qi Api Teratai Merah di dalam Dantian Chu Chen—meski tidak ia lepaskan—secara alami menolak unsur es yang berani menyusup ke wilayahnya.
KRETAK! KRAAAAS!
Retakan itu menyebar dengan kecepatan gila.
Mata Lei Kuang melebar. "T-Tidak mungkin! Es Yin tidak bisa dipecahkan oleh tenaga fisik!"
BUMMM!
Es yang membungkus Chu Chen meledak menjadi ribuan serpihan kristal. Chu Chen berdiri di sana, tanpa satu pun luka beku, bahkan tidak ada satu pun rambutnya yang membeku. Sepasang matanya yang gelap kini menatap Lei Kuang dengan tatapan yang membuat darah pria raksasa itu benar-benar membeku karena kengerian mutlak.
"Hanya segini dinginnya?" suara Chu Chen sedatar kedalaman jurang es.
Sebelum Lei Kuang sempat menarik tangannya, tangan kanan Chu Chen melesat ke depan dan langsung mencengkeram Sarung Tangan Es Yin di kepalan tangan Lei Kuang.
"B-Bagaimana kau bisa memegangnya?!" jerit Lei Kuang panik, mencoba menarik tangannya.
"Karena tulangku jauh lebih keras dari keangkuhanmu," bisik Chu Chen.
Chu Chen meremas tangannya. Murni menggunakan tenaga fisik Lapis Kesembilan yang didukung tulang naga, tanpa Qi, tanpa api.
KRAAAK! CRAT!
Suara besi patah bercampur dengan suara tulang manusia yang hancur berkeping-keping terdengar sangat keras di seluruh pelataran.
Pusaka Sarung Tangan Es Yin tingkat menengah itu hancur berantakan di bawah cengkeraman Chu Chen, bersamaan dengan seluruh jari, pergelangan, dan tulang telapak tangan Lei Kuang yang remuk menjadi bubur daging.
"AAAAAARRRGHHH!!!"
Jeritan yang paling menyayat hati sepanjang sejarah Puncak Luar meledak dari mulut Lei Kuang. Pria raksasa itu jatuh berlutut, memegangi tunggul tangannya yang hancur, darah menyembur membasahi lantai giok.
Seluruh ribuan murid terdiam. Sorak-sorai mereka membeku di kerongkongan. Para Penatua di panggung kehormatan terperanjat dari kursi mereka, mata mereka membelalak melihat sebuah pusaka tingkat menengah dihancurkan hanya dengan jepitan tangan kosong seorang fana!
"Monster..." bisik Meng Fan dengan bibir gemetar, namun kali ini ia tersenyum ngeri.
Di atas gelanggang, Chu Chen menunduk menatap Lei Kuang yang merintih dalam genangan darahnya sendiri.
"Pemenang, Peserta 4044," ucap Chu Chen pelan ke arah wasit yang masih terbengong, suaranya tenang tanpa sedikit pun nada kemenangan yang berlebihan. Ia telah membuktikan satu hal hari ini: bahkan tanpa menggunakan gigitannya, kulit keras seekor naga sudah cukup untuk membuat manusia fana putus asa.