Anya Clarissa, seorang Arsitek Lanskap yang terbiasa menata keteraturan dari kekacauan tanaman, menemukan hidupnya sendiri berantakan. Ibunya, Mama Clarissa, terjerat hutang miliaran setelah ditipu oleh rekan bisnis butiknya. Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran datang dari Keluarga Arkatama, penguasa industri logistik laut yang legendaris.Devan Arkatama, CEO muda yang dingin, angkuh, dan efisien, sedang dalam posisi terhimpit. Sang ayah, Papa Arkatama, mengancam akan mencopot jabatannya dan mengalihkan warisan kepada sepupunya jika Devan tidak segera menikah dan memperbaiki citranya yang dikenal sebagai "Playboy Tak Berperasaan."Pertemuan pertama mereka di sebuah acara peresmian taman kota berakhir dengan bencana. Anya menganggap Devan adalah pria sombong yang tidak menghargai seni, sementara Devan menganggap Anya adalah wanita kelas menengah yang mencoba mencari perhatian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 28 : SIMFONI PERLAWANAN DAN MISTERI INSTRUKTUR YOGA
Pagi di kediaman Arkatama tidak lagi diawali dengan kecanggungan. Di meja makan kayu jati yang panjang, suasananya kini menyerupai ruang rapat komando. Laptop terbuka di depan Devan, sementara di depan Anya berserakan sketsa denah silsilah keluarga dan dokumen catatan sipil yang baru saja ia dapatkan dari Tuan Baskoro. Aroma kopi Arabika bercampur dengan aroma jus pare madu yang dipaksakan oleh Mama Sarah, menciptakan atmosfer yang unik antara ketegangan bisnis dan kehangatan rumah tangga.
"Valerie akan merilis klaim fitnah itu dalam konferensi pers di Hotel The Grand Suites pukul dua siang ini," ucap Devan, suaranya rendah dan penuh otoritas. Matanya yang tajam menatap layar yang menampilkan pergerakan media sosial yang mulai memanas. "Dia ingin menggiring opini bahwa kamu adalah anak haram Darmawan Arkatama. Jika publik percaya, bukan hanya saham kita yang hancur, tapi martabatmu akan diinjak-injak."
Anya meletakkan cangkir tehnya, menatap Devan dengan ketenangan yang luar biasa—ketenangan seorang arsitek yang tahu bahwa pondasi bangunannya sudah diperkuat. "Dia lupa satu hal, Devan. Aku adalah seorang arsitek lanskap. Tugasku adalah membaca sejarah tanah dan akar. Aku sudah menemukan bukti pernikahan tante-ku dengan Darmawan di sebuah desa kecil di Jawa Tengah. Mereka menikah secara sah sebelum Darmawan meninggal karena kecelakaan. Dan dokumen kelahiranku dengan jelas mencantumkan Pramudya sebagai ayah biologis."
Devan tersenyum miring, sebuah senyum yang memancarkan rasa bangga. "Kalau begitu, kita tidak akan menunggu dia menyerang. Kita akan melakukan counter-attack di jam yang sama, di tempat yang sama. Kita akan mengubah panggungnya menjadi kuburannya sendiri."
Di tengah rencana serius itu, Mama Sarah (Nyonya Sarah Arkatama) tiba-tiba masuk ke ruang makan dengan mengenakan pakaian yang sangat mencolok: setelan legging ketat berwarna neon pink, jaket olahraga berwarna kuning terang, dan handuk kecil yang dilingkarkan di leher. Di dahinya terikat ikat kepala kain dengan tulisan "YOGA IS LIFE".
"Ma? Mama mau ke mana pakai baju stabilo begitu?" tanya Devan, hampir tersedak kopinya.
"Mama mau menjalankan misi spionase tingkat tinggi!" seru Mama Sarah sambil melakukan gerakan peregangan yang kaku. "Mama tahu Valerie itu gila kesehatan dan meditasi. Pagi ini dia panggil instruktur yoga privat ke presidential suite-nya. Mama sudah menyuap instruktur aslinya supaya Mama yang masuk!"
Anya melotot. "Ma! Itu berbahaya! Valerie pasti mengenali Mama!"
"Tenang saja, Nyonya Arsitek!" Mama Sarah mengeluarkan kacamata hitam besar dan masker penutup wajah yang dihiasi manik-manik. "Mama akan menyamar jadi 'Master Sarahwati', pakar yoga dari pegunungan Himalaya yang baru saja turun gunung. Mama akan ambil tablet yang isinya bukti fitnah itu dari tasnya saat dia lagi posisi downward dog!"
"Ma, Mama bahkan nggak bisa menyentuh ujung jempol kaki sendiri kalau rukuk," sindir Devan sambil menahan tawa.
"Heh! Meremehkan Mama ya? Lihat nih!" Mama Sarah mencoba melakukan posisi pohon (tree pose), namun ia justru limbung dan menabrak lemari pajangan kristal. Klinting! Klinting!
"Ma! Sudah, biar Anya saja yang urus!" Anya mencoba mencegah.
"Nggak bisa! Ini tugas Ibu Mertua untuk melindungi menantu dari ulat bulu Paris!" Mama Sarah tetap bersikeras, ia bahkan menyiapkan sebuah botol kecil berisi minyak angin yang sangat bau. "Kalau dia curiga, Mama olesin ini ke matanya biar dia nangis beneran!"
Sementara Mama Sarah berangkat dengan misi konyolnya, Devan dan Anya berangkat menuju kantor pusat untuk mempersiapkan serangan balik. Pekerjaan mereka hari ini benar-benar melebur. Devan menggunakan jaringan intelijen perusahaannya untuk melacak aliran dana dari investor Prancis yang mendanai Valerie, sementara Anya menyusun presentasi visual yang membedah silsilah keluarga menggunakan perangkat lunak desain arsitekturnya agar mudah dipahami publik.
"Lihat ini, Devan," Anya menunjukkan layar laptopnya. "Aku membuat pemetaan DNA menggunakan diagram arsitektur. Kita bisa menunjukkan secara visual bahwa garis keturunan Arkatama dan Clarissa adalah dua garis paralel yang hanya bertemu di pernikahan kita, bukan garis yang bersinggungan secara darah."
Devan terpukau. "Kamu benar-benar jenius. Orang akan lebih percaya pada gambar dan data teknis daripada sekadar omongan."
Pekerjaan Devan sebagai CEO maritim menuntutnya untuk selalu siap dengan 'Rencana B'. Ia menelepon direktur bea cukai dan otoritas pelabuhan. "Pastikan semua kapal logistik kita tetap beroperasi normal. Jangan biarkan isu ini memengaruhi moral awak kapal. Katakan pada mereka, bos mereka sedang membersihkan sampah keluarga."
...****************...
Di Hotel The Grand Suites, penyamaran Mama Sarah ternyata berjalan lebih "sukses" sekaligus berantakan dari yang dibayangkan. Di dalam kamar Valerie yang mewah, Mama Sarah mulai memberikan instruksi yoga dengan suara yang diberat-beratkan.
"Ayo, Nona Valerie... sekarang posisi 'Monyet Mencari Kutu'! Angkat kaki satu, tangan digaruk-garuk ke atas!" perintah Mama Sarah.
Valerie yang sedang stres mengikuti instruksi itu dengan ragu. "Instruktur, apa ada posisi yoga namanya begitu? Rasanya aneh sekali."
"Ini teknik rahasia Himalaya! Biar aura negatif dan niat jahat keluar dari pori-pori!" jawab Mama Sarah sambil matanya liar melirik tas kerja Valerie yang tergeletak di atas sofa.
Saat Valerie sedang melakukan posisi telungkup dengan mata terpejam, Mama Sarah mengendap-endap menuju tas tersebut. Namun, nasib sial menimpanya. Saat ia hendak mengambil tablet itu, ponsel di saku legging-nya berbunyi kencang dengan nada dering lagu dangdut "Kopi Dangdut".
"Instruktur?! Kenapa hp Anda bunyi lagu pasar?!" teriak Valerie sambil bangkit berdiri.
Mama Sarah panik. Ia langsung melakukan gerakan tari piring dadakan. "Ini bukan hp! Ini... ini musik relaksasi tradisional pegunungan! Ayo, ikuti iramanya! Goyang pinggulnya biar lemak jahatnya rontok!"
Aksi konyol Mama Sarah membuat Valerie semakin curiga, namun beruntung, pada saat yang sama Anya menelepon resepsionis hotel meminta layanan darurat kebakaran sebagai pengalihan. Alarm kebakaran berbunyi, dan di tengah kepanikan itu, Mama Sarah berhasil menyambar tablet Valerie dan berlari keluar dengan kecepatan yang mengagumkan bagi wanita seusianya, bahkan sepatu olahraganya sempat terlepas satu di koridor hotel.
...****************...
Pukul dua siang. Aula utama hotel sudah dipadati wartawan. Valerie muncul dengan gaun mewah, bersiap menghancurkan nama Arkatama. Namun, saat ia hendak naik ke podium, pintu besar aula terbuka.
Devan dan Anya melangkah masuk dengan aura yang begitu megah. Mereka tidak tampak seperti pasangan yang sedang dilanda skandal; mereka tampak seperti penguasa yang sedang meninjau wilayahnya.
"Maaf, Nona Valerie. Sepertinya panggung ini terlalu besar untuk kebohongan kecil Anda," ucap Devan melalui mikrofon yang sudah disiapkan timnya secara mendadak di pojok ruangan.
Anya segera menyambungkan tablet (yang baru saja didapatkan Mama Sarah) ke layar proyektor raksasa di aula. Bukannya foto fitnah, yang muncul justru adalah rekaman percakapan Valerie dengan investor Prancis-nya tentang rencana sabotase pelabuhan, lengkap dengan data transfer uang ilegal.
"Publik ingin tahu kebenaran," suara Anya terdengar jernih dan tegas. "Dan kebenarannya adalah: Nona Valerie telah melakukan pemalsuan dokumen negara dan pencemaran nama baik demi keuntungan finansial pribadinya. Inilah bukti silsilah keluarga saya yang sebenarnya, diverifikasi oleh kantor hukum Baskoro dan catatan sipil negara."
Valerie mematung di atas podium, wajahnya yang tadi sombong kini pucat pasi seperti mayat. Wartawan yang tadi haus akan gosip, kini beralih menyerangnya dengan pertanyaan tentang kriminalitas ekonominya.
"Devan! Kamu tidak bisa melakukan ini padaku!" teriak Valerie histeris.
"Aku tidak melakukan apa-apa, Valerie. Kamu yang menghancurkan dirimu sendiri," jawab Devan dingin. Polisi yang sudah dihubungi Devan sejak tadi pagi masuk ke aula dan membawa Valerie keluar dengan tangan diborgol.
...****************...
Sore harinya, setelah badai media mereda dan harga saham Arkatama justru melonjak naik karena transparansi mereka, Devan, Anya, dan Mama Sarah duduk di ruang tengah mansion.
Mama Sarah sedang mengompres kakinya yang terkilir saat lari di hotel tadi. "Aduh... kaki Mama Sarah mau copot, tapi rasanya puas banget lihat muka ular itu pucat pas tabletnya hilang!"
Anya memeluk mertuanya dengan penuh kasih. "Terima kasih, Ma. Mama benar-benar pahlawan hari ini."
"Pahlawan yang kehilangan sepatu sebelah, ya?" goda Devan sambil menyuapi Anya sepotong pie susu.
Anya tertawa, menyandarkan kepalanya di bahu Devan. "Kita berhasil, Devan. Pondasi kita ternyata jauh lebih kuat dari yang aku bayangkan."
"Bukan cuma pondasi, Anya," Devan mencium kening istrinya. "Tapi seluruh strukturnya. Mulai hari ini, tidak ada lagi kontrak, tidak ada lagi rahasia. Hanya ada kita."
Namun, saat mereka sedang merayakan kemenangan, Papa Arkatama yang baru pulang dari kontrol rumah sakit masuk dengan wajah serius sambil membawa sebuah surat berlogo pengadilan internasional. "Devan, Anya... kemenangan ini baru di Jakarta. Investor Prancis Valerie baru saja menuntut ganti rugi triliunan rupiah atas kegagalan proyek mereka di sini. Kita harus berangkat ke Paris minggu depan untuk persidangan."
Anya dan Devan saling pandang. Paris. Kota di mana masalah ini bermula, kini menjadi tempat di mana mereka harus benar-benar menyelesaikannya.