NovelToon NovelToon
Lima Putra Raja Biadab: Memori Koma Dan Makam Terkutuk

Lima Putra Raja Biadab: Memori Koma Dan Makam Terkutuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan / TimeTravel / Misteri
Popularitas:172
Nilai: 5
Nama Author: Herwanti

Aura membuka mata melihat dirinya sudah ada di ruangan putih dengan peralatan medis. Awalnya Aura hanya binggung, hingga dia merasa kalau dia bermimpi panjang." Sebenarnya apa yang sudah terjadi denganku,:guman Aura melihat sekitarnya. Tampak orang tua yang dia rindukan sudah ada didepan matanya. Apa yang terjadi dengan Aura sebenarnya, ingin tahu kisahnya silakan datang membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Pemicu Rahasia dan Kecepatan Pelindung

Lantai keempat Makam Kuno terasa seperti rahim batu yang luas dan dingin. Ruangan utama ini membentang tanpa batas, dengan langit-langit setinggi sepuluh meter yang disangga pilar-pilar batu basal yang diukir dengan relief-relief kuno kisah tentang dewa yang terlupakan dan monster yang dibangkitkan.

Suasana di dalam ruangan ini terasa berat dan waspada, meskipun sebagian besar ancaman telah dinetralkan. Lantai batu abu-abu itu dihiasi dengan bukti aktivasi jebakan: puluhan kelereng perunggu dan batu-batu kecil berserakan di setiap sudut, sisa-sisa yang digunakan tim untuk memicu mekanisme tersembunyi.

Tim bergerak maju dengan langkah yang sangat hati-hati, bunyi kriuk dari batu-batu kecil yang terinjak memecah keheningan. Mereka mencari celah, tombol, atau pola yang tersembunyi mereka harus menemukan jalan rahasia menuju lantai kelima di bawah.

Setiap anggota tim mengarahkan senter pada ubin lantai yang retak dan ukiran dinding yang samar, takut ada satu pun jebakan yang terlewatkan dan siap meluncurkan panah beracun. Aura bahaya tipis masih menyelimuti, menjaga adrenalin mereka tetap tinggi.

Di tengah upaya mencari yang sibuk dan tegang, Aura berdiri sedikit terpisah, tampak paling tidak terpengaruh oleh kelelahan atau kekhawatiran. Matanya yang tenang menyapu seluruh ruangan, seolah dia sedang meninjau tata letak yang sudah dia hafal, bukan mencari jalan buntu.

Falix, yang baru saja selesai memeriksa sudut pilar, mendekati Aura dari belakang. Wajahnya menunjukkan campuran rasa ingin tahu dan kecurigaan yang samar.

“Kamu sedang melihat apa, Aura?” tanya Falix, suaranya sedikit rendah, memancing.

(Aura menoleh ke belakang, wajahnya tenang dan bibirnya melengkung membentuk senyum tipis. Ia menggelengkan kepala pelan.) “Hanya melihat-lihat. Indah, ya, ukiran-ukiran di dinding ini? Pengerjaannya sangat teliti.”

(Falix menatapnya tajam, mengabaikan pujian Aura terhadap arsitektur.) “Kamu ini sangat aneh, tahu tidak? Kita baru saja melewati tiga lantai penuh jebakan, panah-panah yang hampir mematikan, dan lantai yang runtuh. Tapi, kamu sama sekali tidak tergores, tidak ada noda debu pun di pakaianmu.”

“Seperti... kamu sudah pernah masuk ke dalam makam kuno ini saja.” (Pertanyaan Falix menusuk, nadanya menuntut kejelasan tentang identitas Aura.)

Tidak jauh dari sana, di balik bayangan pilar yang samar, Kieran menghentikan pergerakannya. Ia berpura-pura memeriksa permukaan pilar, tetapi matanya mengamati dan telinganya fokus mendengarkan percakapan mereka. Kieran juga telah memendam rasa penasaran yang sama sejak mereka memulai ekspedisi.

Aura, mendengar tuduhan itu, membalas dengan kecerdasan yang memutarbalikkan logika.

(Ia menyeringai, senyumnya dingin dan menantang.) “Bukan kamu juga pernah masuk ke sini, ya, Kak? Jawab Aura santai, menunjuk Falix. “Wajahmu terlihat sangat familiar dengan cara kerja jebakan, seolah kamu tahu kapan harus menghindar.”

(Falix tertawa terbahak-bahak, merasa geli dengan keberanian Aura, tetapi tidak puas dengan jawabannya.) “Hahaha! Dasar bocah! Jangan mengalihkan pembicaraan!” (Falix melangkah maju dan merangkul bahu Aura dengan akrab, mencoba mengurangi ketegangan dan mendekatkan diri.)

Aura bereaksi seketika. Gerakannya cepat dan tegas, menunjukkan batas yang tidak boleh dilanggar.

(Dengan gerakan tiba-tiba, Aura menangkis tangan Falix, tatapannya sedikit mengeras dan dingin.) “Tidak baik merangkul wanita, apalagi yang bukan istrimu.”

Sikap Aura yang acuh dan penuh penolakan itu membuat Falix terdiam, canggung. Aura tidak peduli. Ia berbalik dan melangkah santai menuju salah satu dinding batu yang terlihat paling kokoh dan tebal. Dinding itu tampak seperti titik mati.

Ia berhenti di sana, dan seolah membutuhkan istirahat dari perdebatan, Aura meletakkan telapak tangan kirinya di permukaan dinding, bersandar dengan santai.

Pada saat telapak tangan Aura menyentuh permukaan dinding kuno itu, terjadi sebuah getaran halus bukan gempa, melainkan resonansi dari dalam mekanisme.

Kejutan melintas di mata Aura. Ekspresi yang sebelumnya tenang kini digantikan oleh keterkejutan yang nyata dan langka. Dalam hitungan milidetik, ia segera menarik tangannya ke belakang dengan refleks tajam.

Gemuruh rendah membelah keheningan. Dinding batu di hadapan Aura mulai bergerak. Dinding itu berputar pelan ke samping dengan suara gesekan batu yang memekakkan telinga.

Semua anggota tim yang sibuk mencari seketika menoleh ke sisi ruangan di mana Aura berdiri. Mereka segera menarik senjata, bersiap menghadapi ancaman baru.

Kieran bereaksi paling cepat. Instingnya mengambil alih. Ia tidak repot mencari tahu apakah itu jebakan atau jalan keluar. Yang ia tahu, Aura berada dalam bahaya. Ia melesat dengan kecepatan luar biasa lebih cepat daripada refleks tentara terbaik dan dalam satu gerakan, ia menarik tangan Aura dengan kuat, menariknya menjauh dari dinding yang bergerak.

Tepat di belakang punggung Kieran, celah gelap itu terbuka sepenuhnya, memperlihatkan sebuah jalan menurun yang curam sebuah tangga spiral menuju Lantai Lima.

Kieran melonggarkan genggamannya, wajahnya tenang namun matanya masih memindai area di sekitar celah tangga, memastikan tidak ada jebakan susulan.

Kieran: (Ia melirik ke jalan menurun, lalu kembali ke tim, nadanya santai seolah dia hanya mengkonfirmasi.) “Apa ini tangga menuju ke lantai lima?”

Semua orang memandang ke arah Aura, yang ditarik Kieran ke posisi aman. Wajah Aura kini kembali tenang, seolah keterkejutan tadi hanya ilusi.

Seorang tentara segera mendekat, rasa cemas jelas terlihat di wajahnya.

Tentara 1: (Berbicara dengan sopan, mencoba menyembunyikan keterkejutannya pada kecepatan Kieran.) “Aura, apa kamu baik-baik saja? Tidak ada yang terluka, bukan, di tubuhmu?”

Aura menggelengkan kepalanya pelan.

Kieran tidak puas. Ia kembali memegang tangan Aura yang tadi menyentuh dinding, memeriksanya secara visual dengan seksama, seolah mencari goresan mikroskopis. Setelah yakin tidak ada luka, matanya menatap tajam ke bawah celah tangga. Ruangan di bawah tampak sunyi dan gelap.

Kieran berbalik menghadap tim utama.

Kieran: (Mengumumkan dengan otoritas.) “Ini benar-benar jalan menuju ke Lantai Lima. Auranya tenang. Kita bisa turun.”

Keputusan Kieran diterima. Tim mulai bersiap. Namun, suasana di antara Falix, Aura, dan Kieran tetap tegang.

Falix menatap Aura dengan kecurigaan yang membara. Aura menyentuh dinding yang tepat. Aura memicu jalan keluar. Dia tahu. Dia pasti tahu. Falix juga melihat bagaimana Kieran bergerak kecepatan absolut yang hanya ditujukan untuk melindungi Aura. Kecurigaan Falix kini bukan hanya pada Aura, tetapi juga pada hubungan tak terucapkan antara kedua orang aneh ini.

Kieran merasa lega, tetapi perasaannya gelisah. Sentuhan sederhana? Bagaimana mungkin sentuhan sesantai itu bisa menjadi pemicu? Ketenangan Aura yang terlalu cepat pulih setelah kejutan nyata itu membuatnya semakin yakin bahwa gadis ini adalah kunci dan juga sumber bahaya terbesar dalam tim. Tindakan protektifnya tadi hanya menguatkan nalurinya untuk menjaga rahasia Aura dan menjaganya tetap hidup.

Tim mulai bergerak, satu per satu, melewati celah dinding yang baru terbuka.

Aura berjalan paling akhir, sekali lagi santai, seolah kejadian barusan hanyalah penemuan biasa. Ia melirik sekilas ke Falix, yang membalas tatapannya dengan dingin, sebelum akhirnya mengikuti Kieran yang sudah mulai menuruni tangga spiral. Suara langkah mereka menghilang, meninggalkan lantai keempat kembali sunyi, hanya ditemani debu dan sisa-sisa jebakan yang gagal.

1
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Herwanti: terima kasih sudah berkunjung
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!