NovelToon NovelToon
Menggantikan Pengantin Yang Kabur

Menggantikan Pengantin Yang Kabur

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: Vaelisse

Ketika kakaknya, Orla, kabur dari pernikahan dengan pria berbahaya bernama Lorcan, Pearl dipaksa menggantikannya demi menyelamatkan keluarga dari kehancuran.

Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria dingin yang seharusnya menikahi orang lain, Pearl harus hidup dalam kebohongan yang bisa merenggut nyawanya kapan saja jika kebenaran terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11

Lorcan mengepalkan tangannya di atas lututnya.

Kemudian jemari Pearl yang panas bergerak.

Mencari. Meraba. Dan menemukan tangan Lorcan, menggenggamnya dengan kekuatan yang mengejutkan untuk seseorang yang sedang tidak sadar, seperti seseorang yang berpegangan pada satu-satunya hal yang solid di tengah badai.

"Jangan pergi..." bisik Pearl. Air mata merembes dari sudut matanya yang terpejam.

Lorcan menatap tangan kecil itu yang menggenggam jemarinya.

Ia seharusnya melepaskannya.

Tapi ia tidak bergerak.

Ia duduk di sana, membiarkan tangan itu menggenggamnya, membiarkan urusan kantor yang menumpuk tidak terjamah, membiarkan dirinya berada di tempat yang tidak seharusnya ia berada, selama berjam-jam tanpa bisa menjelaskan kepada dirinya sendiri mengapa.

**

Sore datang dengan cahaya keemasan yang masuk miring melalui celah tirai.

Pearl membuka matanya perlahan.

Langit-langit kamar yang tinggi. Cahaya yang berbeda dari tadi pagi. Kepala yang masih berat, tapi tidak lagi seperti diisi batu.

Ia memiringkan kepalanya.

Dan melihat Lorcan.

Pria itu tertidur di kursi di sampingnya, posisinya tidak nyaman, kepalanya sedikit miring ke bahu, kemeja mahalnya kusut di beberapa bagian dan lengannya tergulung hingga siku. Tidak ada setelan sempurna. Tidak ada wajah yang dikontrol.

Hanya seorang pria yang tertidur di kursi yang terlalu kecil untuknya.

Pearl menatap tangannya sendiri.

Masih menggenggam tangan Lorcan.

Ia menarik napas pelan, lalu mencoba melepaskan genggamannya dengan hati-hati.

Lorcan terbangun seketika.

Mata tajamnya terbuka langsung dan menatap Pearl dan untuk sepersekian detik, sebelum wajahnya kembali ke ekspresi yang Pearl kenal, ada sesuatu di sana. Sesuatu yang Pearl tidak punya nama untuknya.

Lalu semua itu hilang.

"Sudah sadar?" Suaranya serak, khas orang yang baru bangun. Ia menarik tangannya dan berdiri, mulai merapikan kemejanya dengan gerakan yang terasa seperti seseorang yang sedang memasang kembali baju zirahnya.

"Maaf," Pearl berkata pelan. "Aku tidak tahu kalau aku--"

"Jangan besar kepala." Lorcan tidak menatapnya. "Aku hanya tidak mau kamu mati di rumahku dan menimbulkan masalah yang tidak perlu."

Pearl menunduk.

Tentu saja.

"Makan." Lorcan menunjuk nampan di meja kecil di dekat sofa, semangkuk sup hangat, sepotong roti gandum, dan beberapa tablet obat di pinggirnya. "Setelah kamu merasa cukup kuat, kamu harus kembali ke tugasmu. Sakit bukan alasan untuk berhenti."

Ia berjalan ke arah pintu.

Dan berhenti.

Punggungnya masih membelakangi Pearl saat ia berkata, dengan nada yang terdengar lebih datar dari biasanya, terlalu datar, seperti seseorang yang sedang berusaha keras membuat sesuatu terdengar tidak penting:

"Aku sudah menelepon rumah sakit tadi siang. Ibumu stabil. Dokternya bilang responnya terhadap pengobatan membaik."

Pearl mendongak.

Matanya memanas sebelum ia sempat mencegahnya.

"Terima kasih," suaranya nyaris tidak keluar. "Terima kasih, Tuan."

Lorcan tidak menjawab.

Ia membuka pintu dan keluar, menutupnya dengan suara yang sedikit lebih keras dari yang diperlukan.

Di balik pintu yang tertutup, di koridor yang sepi, Lorcan berdiri diam. Punggungnya menekan dinding. Ia menarik napas panjang, menutup matanya sebentar.

Jantungnya berdegup dengan cara yang tidak ia sukai.

"Dia hanya bagian dari kontrak" ia berkata pada dirinya sendiri, pelan, seperti seseorang yang sedang mencoba meyakinkan dirinya sendiri tentang sesuatu yang mulai terasa kurang meyakinkan. "Jangan bodoh."

**

Di dalam kamar, Pearl menyendoki supnya dengan tangan yang masih sedikit gemetar.

Sup itu hangat. Rasanya sederhana, kaldu bening dengan potongan sayuran dan roti gandum di sampingnya, makanan yang paling biasa yang mungkin pernah keluar dari dapur mansion ini, tapi di lidah Pearl yang sudah beberapa hari tidak merasakan makanan yang benar, itu terasa seperti sesuatu yang jauh lebih dari sekadar makanan.

Air matanya jatuh ke mangkuk tanpa ia rencanakan.

Bukan karena sedih.

Tapi karena di tengah semua ini, di tengah kontrak, ancaman, ada satu hal kecil yang terjadi hari ini yang tidak ia sangka akan pernah terjadi.

Lorcan duduk di sampingnya selama berjam-jam.

Dan tidak pergi.

Pearl tidak tahu apa artinya itu. Mungkin tidak ada artinya sama sekali, mungkin benar bahwa ia hanya tidak ingin repot berurusan dengan masalah yang tidak perlu.

Tapi untuk malam ini, ketidaktahuan itu cukup.

Cukup untuk menghabiskan supnya sampai tandas.

Cukup untuk melewati satu malam lagi.

Dan Pearl tidak tahu bahwa di balik pintu yang tertutup itu, benih kecil yang tidak diundang sudah mulai tumbuh di tempat yang paling tidak terduga, di hati pria yang sudah lama memutuskan untuk tidak memilikinya lagi.

1
Dede D
ceritanya sangat bagus
Dede D
lanjut kak
❤️⃟Wᵃf꧄ꦿV⃗a͢n꙰a͢a⃗ꦿᵏⁱᵉˡяᷢ⃞🐰
Gegara Kk nya, adikny jdi korban😭
Dan demi ibunya, pearl rela melaksanakan pernikahan yg ia sendiri tidak mau sbnrnya🙏😓
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Vaelisse: makasii kak, jangan lupa like dan komen nya ya 😀
total 1 replies
Juli Queen
bagus
Juli Queen
kaa kapan update nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!