Lin Xiaoxi tewas kelaparan, namun jiwanya digantikan oleh Chu Yue, Putri Tabib jenius dari masa kuno. Terbangun di tubuh gadis desa miskin, ia dibekali Ruang Dimensi berisi herbal ajaib untuk mengubah nasibnya.
Di kota, sang penguasa Mo Yan sedang sekarat karena penyakit aneh yang tak tersembuhkan. Takdir mempertemukan mereka di jalanan, di mana satu tusukan jarum Xiaoxi menyelamatkan nyawa sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28 两个八
Sinar matahari pagi yang cerah menembus celah gorden sutra di kamar mewah Mo Yan, namun sang pemilik kamar tidak lagi berada di atas tempat tidur empuknya. Mo Yan berdiri tegak di depan jendela besar yang menghadap ke arah pusat kota, menatap cakrawala dengan pandangan yang tajam dan tubuh yang sangat stabil. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun menjalani hidup yang suram, ia tidak merasakan rasa dingin yang biasanya menusuk hingga ke sumsum tulangnya setiap kali ia mencoba berdiri.
Ia mencoba melangkah. Satu langkah, dua langkah, hingga akhirnya ia berjalan memutari ruangan itu berkali-kali tanpa bantuan apa pun. Kakinya terasa ringan, otot-ototnya yang dulu layu dan lemah kini telah kembali berisi dan kuat, berkat kombinasi latihan fisik rahasia yang menyiksa dari Coach Maya dan ramuan herbal ajaib yang setiap hari dicekokkan oleh Xi'er.
Tepat saat ia ingin mendorong kursi roda peraknya ke sudut ruangan yang gelap sebagai tanda pensiun selamanya, pintu kamar terbuka dengan kasar. Xi'er masuk dengan nampan berisi sup herbal hitam pekat yang baunya sangat tajam.
"Jangan berani-berani menyentuh benda perak itu, Tuan kaku." ucap Xi'er tegas, matanya menatap kursi roda itu seolah-olah benda itu adalah benda keramat yang tidak boleh ditinggalkan.
Mo Yan menoleh dengan wajah penuh kebanggaan, ia bahkan sempat melakukan gerakan memutar sedikit untuk pamer. "Xi'er, lihat aku. Aku sudah sembuh total. Aku bisa merasakan setiap inci lantainya sekarang. Aku tidak butuh kursi roda ini lagi untuk menopang harga diriku di depan para pemegang saham."
Xi'er meletakkan nampannya di meja dan mendekat dengan langkah mantap. Tanpa banyak bicara, ia menekan bahu Mo Yan dengan satu jari, namun dengan teknik tekanan syaraf yang membuat Mo Yan mau tidak mau harus kembali duduk di kursi rodanya.
"Dengarkan aku pria kaku. Di dalam peperangan, informasi adalah senjata yang jauh lebih mematikan daripada peluru." ucap Xi'er dengan nada yang sangat serius. "Semalam kau sudah mempermalukan Surya Bramantyo di depan semua orang. Dia itu tipe serigala tua yang picik. Jika kau muncul di kantor dengan berjalan tegak hari ini, mereka akan segera menyadari bahwa ancamanmu sudah kembali ke puncaknya. Mereka akan menyiapkan rencana pembunuhan yang lebih rapi, lebih licik, dan mungkin lebih brutal."
Xi'er menatap mata Mo Yan dengan dalam. "Tapi, jika kau tetap terlihat lumpuh, lemah, dan menyedihkan di atas kursi roda ini, mereka akan mengira kau masih macan ompong yang tidak berdaya. Biarkan mereka merasa menang di atas angin, sampai tiba saatnya kau bangkit dan merobek tenggorokan mereka saat mereka sama sekali tidak siap. Mengerti?"
Mo Yan tertegun sejenak, menatap gadis kecil di depannya yang ternyata memiliki jiwa seorang panglima perang. "Kau benar-benar tidak hanya ingin menyembuhkan ragaku Xi'er. Kau sedang melindungiku dengan strategi kamuflase."
Malam harinya, ujian sesungguhnya dimulai. Namun, ujian ini ternyata jauh lebih berat daripada sekadar ketahanan fisik ini adalah ujian kesabaran Xi'er menghadapi sisi lain Mo Yan yang selama ini tersembunyi di balik jas mahalnya.
Jam menunjukkan pukul dua pagi. Udara di rooftop kediaman Mo Yan sangat mencekam. Angin malam yang berhembus dari arah perbukitan membawa hawa dingin yang menusuk tulang, membuat air di kolam renang terbuka yang luas itu nampak seperti cermin es raksasa di bawah sinar bulan. Zuo Fan berdiri di pojok, mengenakan mantel bulu yang sangat tebal, tangannya gemetar sambil memegang handuk dan termometer.
"Sekarang, lepaskan jubah mandimu dan masuklah ke dalam air itu. Kita akan menguji apakah syarafmu benar-benar sudah pulih dari penyakit Beku Darah." perintah Xi'er sambil memutar jam pasir di tangannya.
Mo Yan, yang biasanya hanya akan mengangguk dingin dan melaksanakan perintah, tiba-tiba berhenti di pinggir kolam. Ia mencelupkan ujung jari telunjuknya ke air dan seketika itu juga wajahnya berubah drastis. Ia menarik tangannya kembali seolah-olah baru saja menyentuh bara api.
"Xi'er, kau pasti sedang bercanda, kan?" tanya Mo Yan dengan nada yang sangat tidak percaya. "Ini jam dua pagi! Kau ingin aku sembuh atau kau sedang merencanakan pembunuhan CEO secara halus dengan cara membekukanku menjadi es mambo?"
"Ini prosedur standar medis kuno Mo Yan! Suhu ekstrem akan menunjukkan apakah sirkulasi darahmu sudah mandiri atau masih butuh bantuan ramuan. Cepat masuk!"
"Tapi ini tidak masuk akal secara medis modern!" Mo Yan mulai mengomel tanpa henti, memprotes setiap inci dari rencana Xi'er dengan kecepatan bicara yang tidak pernah Zuo Fan lihat sebelumnya. "Air ini suhunya pasti di bawah nol derajat! Kau lihat kabut tipis di atasnya? Itu tandanya air itu mematikan! Kenapa kita tidak melakukannya di bak mandi air hangat dengan aroma terapi saja? Bukankah air hangat jauh lebih baik untuk relaksasi otot?"
Zuo Fan yang berdiri di pojok sampai melongo lebar. Rahangnya hampir menyentuh lantai. Ia sudah bekerja dengan Mo Yan selama sepuluh tahun, dan ia belum pernah mendengar tuannya bicara lebih dari sepuluh kata dalam satu kalimat. Tapi sekarang? Mo Yan sedang berdiri di pinggir kolam, setengah telanjang, sambil berdebat panjang lebar seperti pengacara yang sedang membela diri.
"Dan lagi, angin ini sangat kencang Xi'er! Jika aku masuk ke sana dan keluar dalam keadaan membeku, besok aku pasti akan flu berat." lanjut Mo Yan, tangannya bergerak-gerak saat memprotes. "Bagaimana aku bisa menjalankan strategimu di kantor kalau aku harus bersin setiap lima detik? Semua orang akan tahu aku sedang sakit! Imej CEO dingin dan misteriusku akan hancur hanya gara-gara flu!"
"Tuan kaku, kau cerewet sekali! Di mana pria dingin yang dulu bicaranya irit dan selalu mengancam akan membuangku ke jalanan?!" Xi'er berkacak pinggang, napasnya memburu karena gemas.
"Pria itu sedang kedinginan sekarang!" balas Mo Yan tidak mau kalah. "Lihat air itu, ada riak kecil yang menyeramkan. Bagaimana kalau tiba-tiba aku kram di tengah kolam? Kau mau melompat menyelamatkanku? Dengan tubuhmu yang sekecil kucing itu, kita berdua hanya akan menjadi pajangan di dasar kolam sampai Zuo Fan harus menjelaskan pada media bahwa Mo Yan mati konyol bersama tabibnya di jam dua pagi!"
Zuo Fan menatap Xi'er dengan wajah yang sangat syok. "Nona Lin... apakah ini benar-benar Tuan Mo? Apakah ramuan tadi pagi mengandung zat yang merusak kestabilan emosinya?"
Xi'er hanya menghela napas panjang, memijat dahinya yang pening. "Itu bukan efek ramuan Zuo Fan. Itu hanya sifat aslinya yang keluar karena dia merasa sudah punya tempat untuk mengadu. Sepertinya, dibalik jas mahalnya yang kaku, ada seorang pria bawel yang terperangkap selama bertahun-tahun."
"MO YAN! MASUK SEKARANG ATAU AKU AKAN MENYUNTIKMU DENGAN JARUM TIDUR DAN MELEMPARMU SENDIRI KE DALAM!" teriak Xi'er yang kesabarannya sudah mencapai batas akhir.
Mendengar ancaman jarum tidur yang sangat ia takuti, Mo Yan akhirnya bungkam. Dengan wajah cemberut yang sangat kekanak-kanakan, sebuah pemandangan yang membuat Zuo Fan ingin segera memotretnya jika ia tidak takut dipecat, Mo Yan akhirnya menceburkan dirinya.
Byur!
"DINGIIIIIIIIIIN! XI'ER, AKU BERSUMPAH JIKA AKU MATI MEMBEKU, AKU AKAN MENGHANTUIMU SETIAP KALI KAU INGIN MAKAN KEPITING!" teriak Mo Yan dari dalam kolam. Ia mulai berenang dengan gerakan yang sangat agresif, membelah air dengan kecepatan tinggi agar suhu tubuhnya tidak turun drastis.
Selama tiga puluh menit penuh, drama tidak berhenti. Mo Yan tidak berhenti mengoceh dari tengah kolam. "Kaki kiriku terasa seperti digigit ribuan semut es! Xi'er, apakah jam pasirmu itu rusak? Kenapa pasirnya jatuh sangat lambat?! Kau pasti sengaja menaruh pasir yang lebih berat agar aku di sini lebih lama kan?!"
Meskipun telinganya panas mendengar ocehan Mo Yan, mata Xi'er tetap fokus menatap gerakan kaki pria itu di bawah air yang jernih karena bantuan lampu kolam. Ia tersenyum diam-diam. Tidak ada satu pun tanda kekakuan. Gerakan Mo Yan sangat presisi dan kuat. Kutukan Beku Darah itu benar-benar sudah musnah, kalah oleh keteguhan syaraf yang kini sudah pulih total.
Saat Mo Yan akhirnya naik ke permukaan, tubuhnya gemetar hebat. Xi'er segera berlari, bukan hanya membawakannya handuk, tapi ia langsung memeluk pria itu dengan sangat erat, menyalurkan panas tubuhnya ke dada Mo Yan yang basah kuyup.
Seketika, semua omelan dan protes Mo Yan terhenti. Ia terpaku, merasakan kehangatan yang tulus dan detak jantung Xi'er yang berdegup kencang karena rasa khawatir yang mendalam.
"Masih ingin protes lagi Tuan bawel?" bisik Xi'er di dadanya.
Mo Yan terdiam sejenak, lalu tangannya yang masih dingin membalas pelukan Xi'er dengan sangat protektif. "Mungkin... omelanku tadi hanya karena aku ingin kau memperhatikanku lebih banyak, bukan sebagai pasien, tapi sebagai pria yang sedang kedinginan."
Zuo Fan yang melihat adegan itu langsung berbalik badan 180 derajat, pura-pura sangat tertarik meneliti tekstur dinding di belakangnya. Ia menyadari satu hal yang pasti, Mo Yan mungkin sudah sembuh secara fisik, namun secara mental, sang CEO dingin itu kini telah jatuh sepenuhnya ke dalam perangkap kasih sayang sang Tabib Agung. Dan di balik strategi kursi roda besok, Mo Yan kini memiliki alasan yang jauh lebih kuat untuk bangkit dan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik ketenangan hidupnya bersama Xi'er.
Makasih double up nya othor tayaaaangg/Kiss/