NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Tidak Diinginkan

Pernikahan Yang Tidak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Maullll

"Pernikahan yang Tidak Diinginkan" bercerita tentang Kirana Putri, seorang wanita muda yang cantik dan berhati lembut, yang terpaksa harus menikah dengan Arga Wijaya, seorang pengusaha sukses yang terkenal dingin, tegas, dan tak tersentuh.

Pernikahan ini bukanlah hasil dari cinta, melainkan sebuah perjanjian bisnis dan kewajiban keluarga untuk menyelamatkan perusahaan ayah Kirana dari kebangkrutan. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah formalitas dan cara untuk memenuhi keinginan orang tuanya, sementara bagi Kirana, ini adalah pengorbanan besar demi keluarganya.

Sejak hari pertama, rumah tangga mereka dipenuhi dengan kebekuan. Mereka hidup satu atap layaknya dua orang asing—saling menghormati tapi jauh dari kata dekat, sering bertengkar karena salah paham, dan masing-masing menyimpan perasaan terpaksa.

Namun, seiring berjalannya waktu, di tengah sikap dingin dan pertengkaran, benih-benih perhatian mulai tumbuh perlahan. Mereka mulai melihat sisi lain dari satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: TANGAN KUAT YANG SELALU MELINDUNGI

Waktu terus berjalan, membawa serta hari-hari yang penuh warna dan kehangatan bagi keluarga Wijaya. Kandungan Kirana kini sudah menginjak usia tujuh bulan. Perutnya membulat sempurna, membuat langkahnya sedikit terbatas dan gerakannya menjadi lebih lambat dari biasanya. Namun, justru kondisi inilah yang membuat Arga semakin tidak bisa lepas dari sisi istrinya.

Protektifnya Arga kini sudah mencapai level maksimal.

Pagi itu, di ruang keluarga yang luas dan nyaman, Kirana duduk bersandar empuk di sofa besar sambil membaca majalah. Di sebelahnya, Aira sedang asyik menyusun balok warna-warni, sementara Arka sedang duduk di meja kecil mengerjakan tugas sekolahnya dengan rapi.

Tiba-tiba Kirana mencoba berdiri untuk mengambil segelas air di meja jauh. Baru saja kakinya melangkah dua langkah...

"JANGAN BANGUN DULU!!!"

Teriak keras terdengar dari arah tangga. Arga baru saja turun dari lantai atas, dan secepat kilat dia sudah berada di hadapan isterinya sebelum Kirana sempat mengambil gelas itu.

"Ya ampun, Sayang... kamu ini kenapa sih kaget-kagetan orang aja," keluh Kirana sambil memegang dadanya yang berdegup kencang.

"Ya karena kamu bahaya dong!" sahut Arga kesal tapi wajahnya penuh kekhawatiran. Dia langsung mengambil gelas itu dan menuangkan air, lalu menyerahkannya ke tangan Kirana dengan sangat hati-hati. "Kamu kan lagi hamil besar, perut udah sebesar ini, jalan aja susah. Mau ambil apa-apa panggil Ayah dong, atau panggil Bi Sumi. Jangan jalan sendiri-sendiri, nanti kesandung atau jatuh gimana?"

Kirana tertawa kecil menatap wajah suaminya yang terlihat sangat serius dan sedikit cemberut. "Aku kan cuma mau ambil air, sayang. Bukan mau lari maraton. Aku sehat kok, kuat kok."

"Enggak boleh ambil risiko!" potong Arga tegas, lalu dia berlutut di hadapan Kirana, merapikan selimut yang menutupi kaki istrinya. "Di dalam sana ada nyawa yang harus kita jaga sayang. Kamu dan bayi itu adalah harta paling berharga di dunia ini. Kalau sampai kenapa-napa, Ayah bisa gila lho."

Melihat ketulusan dan rasa sayang yang terpancar dari mata suaminya, hati Kirana meleleh seketika. Dia mengusap wajah tampan itu dengan lembut.

"Iya... iya. Maaf ya. Janji deh mulai sekarang nggak bakal ngapa-ngapain sendiri. Pasti panggil Ayah dulu," jawab Kirana lembut.

"Hmm... gitu dong," Arga tersenyum puas, lalu dia menempelkan telinganya ke perut besar isterinya. "Halo Nak... denger tuh? Ibu kamu janji bakal hati-hati. Kamu juga jangan nakal-nakal di dalem ya. Sehat-sehat terus ya."

DUG! DUG!

Tendangan kuat dari dalam langsung menyapa telinga Arga.

"Wah! Keras banget tendangannya! Pasti ini anaknya laki-laki deh, kekar kayak Ayah," tebak Arga sambil tertawa lebar.

"Ah belum tahu tuh! Siapa tahu cewek tapi tomboy," sanggah Kirana.

"Cewek atau cowok sama aja, yang penting sehat dan pinter kayak ibunya," jawab Arga manis, lalu mengecup perut itu dan kembali berdiri.

 

Namun, di balik kebahagiaan dan kedamaian di rumah, tantangan nyata mulai menghadang Arga di dunia luar. Seperti yang dibicarakan sebelumnya, proyek kerja sama internasional yang digarap perusahaan kini memasuki tahap paling krusial.

Arga harus memimpin rapat-rapat besar, negosiasi dengan investor asing, dan memastikan segala sesuatunya berjalan lancar. Proyek ini bernilai triliunan rupiah dan menyangkut nama baik keluarga serta ratusan karyawan.

Akibatnya, jam kerja Arga menjadi bertambah panjang.

Tapi kali ini berbeda dengan dulu. Arga belajar dari kesalahan masa lalu. Dia tidak membiarkan pekerjaan mencuri perhatiannya dari keluarga.

Suatu sore, Arga pulang dengan wajah yang terlihat sangat lelah. Kemeja rapinya sedikit kusut, dasi sudah longgar, dan kantung mata terlihat jelas. Namun begitu melangkah masuk ke rumah dan mencium aroma masakan rumah serta melihat senyum isterinya, rasa lelah itu seakan menguap entah ke mana.

"Ayah pulang!!!" teriak Aira dan Arka serempak lalu lari menyambut.

Arga langsung menyebarkan senyum terlebarnya, melupakan semua stres di kantor. Dia berjongkok dan memeluk kedua anaknya bergantian, mencium mereka penuh cinta.

"Halo ganteng! Halo cantik! Kangen Ayah nggak?" tanyanya riang.

"Banget!!!" jawab mereka serempak.

Kirana yang datang dari arah dapur melihat pemandangan itu dengan tersenyum haru. Dia melihat betapa besarnya pengorbanan suaminya. Pulang dalam keadaan lelah, tapi tetap berusaha terlihat kuat dan bahagia demi anak-anak dan istrinya.

"Mandi dulu yuk, Sayang. Makanan sudah siap," ajak Kirana lembut sambil membantu suaminya meletakkan tas kerja dan jaketnya.

"Iya Sayang. Sebentar ya, aku mau ganti baju dulu."

Saat makan malam tiba, suasana tetap hangat seperti biasa. Arga bercerita banyak hal, mendengarkan cerita Arka tentang sekolah, dan tertawa melihat tingkah lucu Aira.

Namun, setelah anak-anak tidur dan mereka berdua berada di kamar, barulah Arga menunjukkan sisi lelahnya yang sebenarnya. Dia duduk di tepi ranjang sambil memijat keningnya dengan napas panjang.

Kirana langsung duduk di belakangnya, memijat kedua bahu kokoh itu dengan lembut dan penuh kasih sayang.

"Kepala pusing ya, sayang?" tanya Kirana pelan.

"Hmm... lumayan, Ran. Banyak banget hal yang harus dipikirin. Proyeknya gede banget, resikonya juga gede. Kalau salah langkah sedikit aja, bisa berabe," jawab Arga jujur, suaranya terdengar berat.

"Terus kenapa nggak cerita dari tadi? Kamu pura-pura kuat terus di depan kita," kata Kirana sedikit sedih.

Arga membalikkan badan, menatap wajah istrinya. Dia menggenggam kedua tangan Kirana.

"Karena aku nggak mau masalah di luar masuk ke sini. Rumah ini tempat kita bahagia, tempat istirahat. Aku nggak mau muka kusut atau masalah kerjaan bikin kamu dan anak-anak jadi ikutan pusing atau sedih."

"Tapi Ar... kita suami isteri kan? Beban berat harusnya dibagi dua, bukan kamu pikul sendiri," ucap Kirana bijaksana. "Ingat kata Opa? Kita tim. Kalau kamu kuat, aku juga kuat. Kalau kamu lelah, aku ada buat dukung kamu."

Mendengar kata-kata itu, dada Arga terasa sesak oleh haru. Dia menarik tubuh isterinya ke dalam pelukan erat, membenamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu, menghirup aroma yang selalu menenangkannya.

"Makasih ya, sayang... makasih sudah jadi isteri yang sempurna. Aku nggak tahu harus gimana kalau hidup tanpa dukungan kamu," bisik Arga parau. "Kadang aku takut... takut nggak bisa jadi pemimpin yang baik, takut nggak bisa kasih yang terbaik buat kalian."

"Kamu sudah jadi yang terbaik kok, Ar. Kamu suami terbaik, Ayah terbaik, dan pemimpin yang hebat. Semua orang lihat itu. Cuma kamu aja yang kadang terlalu keras sama diri sendiri," bujuk Kirana sambil mengelus punggung lebar suaminya. "Istirahat ya. Besok pikiran pasti lebih jernih. Tuhan nggak bakal kasih cobaan di luar kemampuan hamba-Nya kan?"

Arga mengangguk setuju. "Iya... kamu benar. Seperti biasa, kamu selalu punya kata-kata yang bikin hati aku tenang."

Malam itu, Arga tidur dengan sangat nyenyak dalam pelukan istrinya. Beban di pundaknya terasa jauh lebih ringan karena dia tahu, dia tidak pernah sendirian. Ada tangan-tangan kuat dan hati yang tulus yang selalu siap mendukungnya.

 

Minggu-minggu berikutnya, Arga mulai menerapkan cara baru. Dia melibatkan Kirana dalam diskusi-diskusi ringan. Kadang di malam hari, sambil minum teh, mereka akan membahas strategi atau masalah yang sedang dihadapi.

Ternyata, saran dan pandangan Kirana yang tenang dan bijaksana seringkali memberikan solusi baru yang tidak terpikirkan oleh Arga.

"Wah... kamu hebat juga ya kalau soal begini," puji Arga takjub suatu malam. "Ide kamu itu fresh dan out of the box. Bener banget sih katanya, di belakang pria yang hebat ada wanita hebat."

"Kan aku juga lulusan manajemen bisnis dulu lho, masa iya bego," jawab Kirana tertawa bangga.

"Tapi serius, makasih ya. Jadi sekarang kerjaan rasanya lebih ringan karena ada partner diskusi," kata Arga sambil merangkul bahu istrinya.

Kehidupan mereka berjalan seimbang. Arga berkutat dengan dunia bisnis yang keras dan penuh persaingan, namun setiap kali pulang ke rumah, dia kembali menjadi suami dan Ayah yang lembut. Kirana menjadi tiang penyangga yang kokoh, menjaga keharmonisan rumah tangga dan menjadi tempat Arga pulang dan beristirahat.

Namun, seiring dengan membesarnya kandungan Kirana, waktu persalinan semakin dekat. Dan bersamaan dengan itu, tingkat kesibukan Arga di kantor juga mencapai puncaknya karena proyek besar akan segera di-launching.

Akankah Arga bisa membagi waktu dengan sempurna saat detik-detik penting kelahiran anak ketiga mereka tiba? Atau akankah ada drama lagi karena kesibukan yang tak terelakkan?

Satu hal yang pasti, cinta dan kepercayaan yang mereka bangun selama ini adalah pondasi yang paling kuat untuk melewati segala badai.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!