NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Elva

Rumah Untuk Elva

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: elanut

Dilahirkan di keluarga kaya tidak membuat Elva Ileana bahagia. Dia diabaikan di rumah, dan menjadi korban perundungan di SMA elit tempatnya bersekolah.

Zayn Dominic, putra pemilik yayasan yang dingin, awalnya hanya menonton datar saat Elva dirundung di lorong sekolah. Namun sorenya, Zayn tidak sengaja melihat Elva di belakang gedung tua—tersenyum tulus sambil memberi makan seekor kucing liar, melupakan rasa sakitnya sendiri. Kepolosan di tengah kerapuhan itu seketika mengetuk hati dingin Zayn. Cowok paling berkuasa di sekolah itu pun membuat satu aturan mutlak: “Siapa pun yang menyentuh Elva, artinya memancing kematian dari seorang Zayn Dominic.”

Saat rumah mewahnya terasa seperti neraka, Zayn datang menjadi pelindung yang posesif. Bagi Elva, kemewahan keluarganya tidak ada artinya, karena Zayn adalah tempatnya pulang. Zayn adalah rumah yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elanut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 2

BAB 2: Neraka yang Megah dan Sepasang Mata Pengawas

Langkah kaki Elva Ileana terasa begitu berat saat menapakkan kaki di lantai marmer putih rumahnya. Rumah itu sangat megah, berdiri kokoh di kawasan elite Jakarta dengan pilar-pilar raksasa yang menjulang tinggi bak istana. Namun bagi Elva, kemegahan ini tidak lebih dari sebuah penjara bawah tanah yang dingin dan hampa udara. Tidak ada kehangatan yang menyambutnya. Aroma pengharum ruangan berharga jutaan rupiah yang menguar di udara justru selalu sukses membuat dadanya terasa sesak.

"Baru pulang, Elva?"

Sebuah suara bernada tinggi dan ketus menghentikan langkah Elva tepat di dekat tangga besar di ruang tengah. Larasati, ibu kandung Elva, sedang duduk santai di sofa beludru mewah sambil membolak-balik majalah fesyen luar negeri. Di sampingnya, mengalir teh chamomile hangat yang uapnya masih mengepul tipis.

Elva berbalik pelan, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Iya, Ma. Tadi Elva harus menyelesaikan tugas kelompok di sekolah dulu," jawabnya lirih, berusaha menyembunyikan getaran ketakutan dalam suaranya.

Larasati mendengus meremehkan tanpa repot-repot mengalihkan pandangannya dari lembaran majalah. "Alasan klasik. Kamu itu selalu punya cara untuk membuang-buang waktu. Contoh kakakmu, Nadine. Jam segini dia sudah selesai kursus kecantikan dan bersiap untuk menghadiri gala dinner bersama rekan bisnis papamu nanti malam. Dia selalu tahu bagaimana cara membuat keluarga ini bangga."

Larasati menutup majalahnya dengan hentakan kasar, lalu menatap Elva dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan penuh penilaian negatif.

"Lihat dirimu. Seragam kusut, rambut berantakan, dan wajah kusam seperti tidak terawat. Benar-benar memalukan kalau sampai ada kolega Papa yang melihatmu. Sudah bodoh dalam pelajaran, penampilan pun tidak ada anggun-anggunnya sama sekali."

Kalimat demi kalimat telak menghujam harga diri Elva. Elva meremas tali tas sekolahnya dengan erat, menahan sekuat tenaga agar air matanya tidak tumpah di hadapan ibunya sendiri. Dia sudah sangat terbiasa dengan penolakan ini, namun rasa sakitnya selalu terasa baru setiap kali diucapkan. Di rumah ini, Elva hanyalah sebuah produk gagal yang kehadirannya terus-menerus disesali.

"Maaf, Ma," cicit Elva pendek, karena dia tahu argumen apa pun hanya akan memperpanjang makian.

"Ya sudah, cepat masuk kamarmu. Jangan berkeliaran di lantai bawah. Malam ini ada tamu penting Papa yang mau datang. Mama tidak mau suasana hati mereka rusak hanya karena melihat anak pembawa sial sepertimu," usir Larasati dingin seraya kembali meraih cangkir tehnya.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Elva segera membalikkan badan dan setengah berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya yang terletak di sudut paling belakang lantai dua. Begitu pintu kayu jati kamarnya tertutup rapat, Elva menyandarkan punggungnya di balik pintu dan perlahan merosot jatuh ke lantai. Di dalam kesunyian kamar yang temaram itu, pertahanannya runtuh. Dia memeluk lututnya sendiri, membiarkan air mata yang sejak siang dia tahan mengalir deras tanpa suara.

Di tempat yang seharusnya dia sebut sebagai rumah, dia hanyalah orang asing yang kehadirannya tidak pernah diinginkan.

...****************...

Keesokan paginya, suasana SMA Pelita kembali berjalan seperti biasa. Riuh, penuh pamer kemewahan, dan sarat akan kubu-kubu pertemanan yang didasarkan pada kekayaan orang tua. Elva berjalan menyusuri koridor utama dengan kepala tertunduk, berusaha sebisa mungkin agar tidak menarik perhatian siapa pun. Dia hanya ingin hari ini berlalu dengan cepat tanpa ada gangguan.

Namun, tanpa disadari oleh Elva, di lantai dua gedung utama, sepasang mata elang tengah mengawasinya dengan intens sejak dia melangkah melewati gerbang sekolah.

Zayn Dominic berdiri bersandar pada pembatas koridor lantai atas. Sebelah tangannya memegang kaleng kopi dingin yang belum dibuka, sementara matanya lurus terarah pada figur kecil Elva yang berjalan sendirian di bawah sana. Dari tempatnya berdiri, Zayn bisa melihat dengan jelas bagaimana Elva tampak begitu rapuh, seolah satu senggolan kecil saja bisa membuatnya hancur.

"Zayn, lo lagi liatin apa, sih? Serius amat," tanya Leo, salah satu teman satu geng Zayn yang baru saja datang sambil membawa bola basket di lengannya.

Zayn tidak langsung menjawab. Dia meneguk kopinya santai, lalu membuang pandangan ke arah lapangan.

"Bukan apa-apa. Cuma lagi liat cuaca," jawabnya pendek dengan nada dingin yang biasa.

Leo mengernyitkan dahi, ikut melihat ke arah bawah, namun dia tidak menemukan hal yang menarik selain murid-murid yang berlalu-lalang. "Aneh lo. Ya sudah, yuk ke kantin. Anak-anak yang lain sudah nungguin di sana."

"Duluan aja. Gue masih ada urusan," tolak Zayn tanpa ekspresi.

Leo yang sudah hafal dengan tabiat Zayn yang keras kepala dan tidak suka dibantah akhirnya hanya bisa mengedikkan bahu.

"Oke, jangan telat masuk kelas. Hari ini jamnya Pak Hartono, bisa diamuk kita kalau telat."

Setelah Leo pergi, Zayn kembali mengalihkan pandangan ke tempat Elva berjalan tadi. Namun, gadis itu sudah tidak ada di sana. Zayn mendengus pelan, merasakan setitik kekecewaan yang aneh di hatinya. Mengapa dia jadi begitu peduli pada siswi lugu itu? Kemarin sore, setelah melihat cara Elva memperlakukan kucing liar di belakang sekolah, bayangan wajah polos gadis itu terus berputar di kepala Zayn. Ada dorongan posesif yang mendadak muncul dalam dirinya—sebuah keinginan mutlak untuk mengawasi dan memastikan tidak ada yang merusak ketenangan gadis itu.

...****************...

Jam istirahat kedua tiba. Elva memutuskan untuk pergi ke perpustakaan sekolah yang letaknya agak terpencil di ujung gedung barat. Tempat itu biasanya sepi karena anak-anak SMA Pelita lebih memilih menghabiskan waktu di kantin elite atau bersantai di kafe mini sekolah. Bagi Elva, perpustakaan adalah zona aman terbaik untuk menghindari Clarissa dan komplotannya.

Dia duduk di meja paling pojok, berlindung di balik rak-rak buku besar yang menjulang tinggi. Elva membuka buku novel fiksi miliknya, mencoba menenggelamkan diri ke dalam cerita fiksi demi melupakan kenyataan pahit hidupnya sejenak.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.

BRAKK!

Sebuah tumpukan buku tebal sengaja dijatuhkan dengan keras di atas meja Elva, membuat gadis itu tersentak kaget hingga novelnya terlepas dari genggaman. Jantung Elva berdegup kencang saat dia mendongak dan mendapati Clarissa sudah berdiri di depannya dengan senyum sinis yang mengerikan. Di belakangnya, dua dayang setianya, mika dan Siska, berjaga dengan tangan bersedekap.

"Oh, jadi di sini tempat persembunyian si anak haram?" cibir Clarissa dengan suara yang setengah berbisik namun penuh penekanan.

"A-aku bukan anak haram, Clarissa," bantah Elva dengan suara bergetar. Dia mencoba mengambil novelnya yang jatuh, namun dengan cepat mika menginjak buku tersebut dengan sepatu sekolahnya.

"Jangan berani membantah ya, Elva! Kakak gue satu arisan sama nyokap lo, dan semua orang di lingkaran mereka tahu kalau lo itu cuma anak sialan yang nggak pernah dianggap ada di rumah!" Clarissa maju, mencengkeram dagu Elva dengan kasar hingga gadis itu meringis kesakitan.

"Kemarin lo beruntung karena ada Zayn yang lewat. Tapi sekarang? Di perpustakaan sepi begini, nggak bakal ada yang datang menyelamatkan lo."

Mata Elva mulai berkaca-kaca. Cengkeraman di dagunya terasa begitu menyakitkan, namun yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa rahasia kelam keluarganya dijadikan bahan olok-olok di sekolah.

"Lepas, Clar... sakit..."

"Sakit? Ini belum seberapa dibanding kekesalan gue karena lo belum ngerjain tugas sejarah gue!" Clarissa mengangkat tangannya, bersiap untuk melayangkan sebuah tamparan keras ke pipi Elva. Elva memejamkan matanya rapat-rapat, bersiap menerima rasa sakit yang akan datang.

Namun, tamparan itu tidak pernah mendarat.

Suasana perpustakaan mendadak menjadi begitu dingin dan mencekam. Clarissa tertegun saat pergelangan tangannya ditangkap di udara oleh sebuah tangan kekar yang begitu kuat. Cengkeraman itu begitu kencang hingga membuat Clarissa memekik kesakitan.

"Lepas! Siapa sih yang berani—" Kalimat Clarissa terputus seketika saat dia menoleh dan mendapati siapa sosok yang sedang berdiri di sampingnya.

Zayn Dominic.

Cowok itu berdiri dengan ekspresi wajah yang luar biasa dingin. Matanya yang tajam menatap Clarissa bagikan pisau yang siap menguliti mangsanya. Aura intimidasi yang menguar dari tubuh Zayn membuat mika dan Siska langsung mundur beberapa langkah dengan wajah pucat pasi.

"Z-Zayn? Sejak kapan kamu di sini?" tanya Clarissa dengan suara yang mendadak gagap, rasa takutnya kini tidak bisa disembunyikan lagi.

Zayn tidak menjawab pertanyaan itu. Dia justru melepaskan tangan Clarissa dengan sentakan kasar hingga gadis itu terdorong ke belakang. Zayn maju satu langkah, berdiri tepat di depan Elva seolah-olah menjadi tameng pelindung bagi gadis itu.

"Gue pernah bilang kemarin, jangan pernah menghalangi jalan gue," ucap Zayn, suaranya rendah, berat, namun mengandung ancaman yang sangat nyata.

"Dan sekarang, gue buat aturan baru untuk lo, Clarissa. Dan untuk kalian semua yang ada di sekolah ini."

Zayn melirik sekilas ke arah Elva yang masih gemetar di kursinya dengan air mata yang mengalir di pipi, lalu kembali menatap Clarissa dengan pandangan mematikan.

"Mulai hari ini, siapa pun yang berani menyentuh atau mengganggu Elva Ileana, artinya kalian sedang memancing kematian dari seorang Zayn Dominic. Paham?"

Mendengar dekrit mutlak tersebut, seisi ruangan perpustakaan yang sepi itu mendadak tercekat. Clarissa menatap Zayn dengan tidak percaya, namun kilat keseriusan di mata anak pemilik yayasan itu membuat nyalinya ciut seketika. Dia tahu betul bahwa Zayn tidak pernah main-main dengan ucapannya. Satu kata saja dari Zayn, maka Clarissa dan keluarganya bisa didepak dari sekolah ini dalam sekejap.

"P-paham, Zayn. Maaf," cicit Clarissa akhirnya. Tanpa membuang waktu lagi, dia segera memberi isyarat kepada dua temannya untuk pergi dari perpustakaan secepat mungkin.

Setelah komplotan perundung itu hilang dari pandangan, suasana perpustakaan kembali hening.

Zayn menghela napas pendek, lalu membalikkan tubuhnya menghadap Elva. Dia melihat bagaimana gadis itu masih menunduk dalam, dengan bahu yang naik-turun menahan tangis.

Zayn berjongkok di depan meja Elva, menyamakan tinggi badannya dengan gadis itu. Dia mengambil novel Elva yang tadi sempat diinjak, menepuk-nepuk debunya dengan telaten, lalu meletakkannya kembali di depan Elva.

"Udah aman. Nggak usah nangis lagi," ucap Zayn. Nada suaranya melembut secara signifikan, sangat jauh berbeda dengan suaranya yang membentak Clarissa beberapa detik yang lalu.

Elva perlahan mendongak, menatap wajah tampan Zayn yang berada begitu dekat dengannya melalui sisa-sisa air mata. Jantungnya berdegup dengan ritme yang tidak beraturan, bukan lagi karena rasa takut, melainkan karena kehadiran cowok di depannya ini.

"K-kenapa kamu menolongku, Zayn?" tanya Elva lirih dengan suara serak. "Aku bukan siapa-siapa. Aku... tidak berharga."

Zayn menatap lurus ke dalam manik mata bulat Elva yang polos. Tangan Zayn terangkat perlahan, seolah hendak menghapus air mata di pipi gadis itu, namun dia menahannya di udara dan kembali menurunkannya.

"Di mata mereka, mungkin lo bukan siapa-siapa," jawab Zayn dengan nada yang begitu tegas dan penuh keyakinan.

"Tapi mulai hari ini, lo berada di bawah perlindungan gue. Dan gue nggak suka kalau ada orang yang berani menyentuh milik gue."

Kata-kata posesif itu bergema kuat di indra pendengaran Elva. Di tengah dunia yang begitu kejam dan keluarga yang membuangnya, kehadiran Zayn sore itu terasa seperti sebuah keajaiban. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Elva merasa ada seseorang yang berdiri tegak untuk melindunginya.

1
anggita
like👍 iklan☝, Elva... Zayn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!