Mahesa seorang OB culun dan miskin mendapatkan kitab sakti dan merubah hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Malam Transformasi
Malam telah mencapai puncaknya. Jarum jam dinding usang di rumah petak itu menunjuk ke angka satu dini hari. Suasana di luar begitu senyap, hanya menyisakan deru angin malam yang menyelinap masuk lewat celah ventilasi udara. Nenek Mahesa telah mendengkur halus, tertidur pulas setelah meminum ramuan herbal hangat yang dibuatkan cucunya tadi malam.
Di sudut ruangan yang remang-remang, Mahesa duduk bersila di atas tikar pandan. Rasa penasaran yang tertahan sejak kemarin malam akhirnya tak bisa lagi ia bendung. Dengan gerakan pelatuk yang teramat hati-hati, ia membuka gembok kecil peti plastiknya, merogoh ke bagian paling dasar, dan mengeluarkan kitab kulit kuno itu kembali.
Begitu kitab itu berada di atas pangkuannya, sensasi hangat yang murni langsung menjalar, membuat Mahesa mengembuskan napas panjang yang lega. Ia membetulkan letak kacamatanya, menarik napas dalam-dalam, lalu membuka lembaran kulit pertama yang menguarkan aroma wangi cendana pekat.
"Aneh... kemarin waktu di gudang, aksara ini kelihatan kayak cacing meliuk-liuk yang nggak jelas artinya," gumam Mahesa lirih dengan dahi berkerut, menatap barisan simbol berlekuk yang tertulis dengan tinta emas-hitam di halaman pertama.
Namun, sesuatu yang ganjil terjadi saat Mahesa memfokuskan pandangan matanya lebih lama. Huruf-huruf kuno yang kaku itu mendadak tampak seolah-olah bergetar dan bergerak di atas lembaran kulit hewan. Saraf-saraf di dalam otaknya berdesir hebat. Secara ajaib, susunan karakter yang awalnya asing itu tiba-tiba tersusun ulang di dalam kepalanya menjadi untaian kalimat berbahasa Indonesia modern yang sangat lugas.
"Kitab Inti Jagat: Menghimpun Hawa Murni, Membasuh Raga dari Segala Noda," baca Mahesa tanpa sadar, melafalkan judul bab pertama dengan suara berbisik yang teramat pelan.
Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. "Kok... kok aku bisa langsung paham? Ini beneran aneh. Padahal aku nggak pernah belajar bahasa sansekerta atau jawa kuno," tutur Mahesa pada keheningan malam, menatap telapak tangannya yang mulai mengeluarkan sedikit keringat hangat.
Naluri batinnya mendorong Mahesa untuk terus membalik halaman berikutnya. Di sana terdapat gambar ilustrasi siluet tubuh manusia yang sedang bersila, lengkap dengan garis-garis petunjuk arah aliran energi yang bermuara di titik bawah pusar. Di bawah gambar itu, tertulis instruksi yang mengalir lancar di dalam benak Mahesa: 'Pejamkan netra, tarik napas sedalam tiga jengkal, biarkan hawa hangat mengalir mengikuti jalur urat nadi tanpa perlu dipaksa.'
"Masa cuma begini doang? Kayak meditasi biasa," bisik Mahesa meragukan teks tersebut, namun jemarinya tetap mengikuti petunjuk itu.
Ia meletakkan kitab itu terbuka di depannya, menegakkan punggungnya yang biasanya membungkuk, lalu perlahan memejamkan mata di balik kacamata tebalnya. Mahesa menarik napas panjang melalui hidung, menahannya di dada sejenak, lalu menurunkannya ke arah perut sesuai petunjuk visual yang baru saja ia rekam di ingatannya.
Wusss...
Seketika itu juga, seolah ada pintu bendungan yang mendadak jeblok di dalam tubuhnya. Aliran hawa panas yang sangat besar—namun tidak membakar—langsung meledak dari titik pusarnya. Hawa panas itu mengalir deras menyerupai aliran air sungai yang meluap, merambat naik melalui tulang belakang, memancar ke pundak, lalu menyebar ke seluruh ujung jari tangan dan kakinya.
Mahesa tersentak hebat, namun matanya terasa sangat berat untuk dibuka. Tubuhnya mendadak kaku, terkunci dalam posisi bersila yang sempurna. Rasa hangat itu perlahan berubah menjadi rasa kantuk yang teramat sangat masif, sebuah gelombang kelelahan spiritual yang langsung merenggut kesadarannya dalam hitungan detik. Mahesa ambruk ke samping, jatuh terbaring di atas tikar pandan dalam kondisi tertidur pulas dengan kitab kuno yang masih terbuka di sampingnya.
Tepat saat Mahesa memasuki alam tidur yang mendalam, proses pembersihan luhur (cleansing) pada tubuhnya dimulai secara otomatis.
Dari pori-pori kulit tubuh kurusnya, perlahan-lahan keluar cairan kental berwarna hitam keabu-abuan yang beraroma sangat anyir dan pekat. Itu adalah seluruh zat racun, sisa-sisa kelelahan fisik bertahun-tahun, serta sumbatan-sumbatan pada jalur urat darah yang selama ini membuat tubuh Mahesa tampak lemah, pucat, dan ringkih. Cairan hitam itu merembes keluar dalam jumlah banyak, menodai sebagian kaus seragam biru mudanya yang usang.
Bersamaan dengan keluarnya cairan kotor tersebut, struktur tulang dan otot di dalam tubuh Mahesa mengalami rekonstruksi total yang luar biasa rapi. Bunyi gemertak halus dari sendi-sendinya terdengar saling bersahutan di dalam keheningan rumah petak. Tulang belakangnya yang semula agak membungkuk akibat terlalu sering menunduk dan mengepel lantai, perlahan-lahan melurus, memanjang, dan mengokoh sekeras baja.
Otot-otot dadanya yang semula rata dan kurus mulai memadat, melebar membentuk bidang yang tegap dan maskulin. Lengan tangan yang biasanya lemas kini membentuk guratan otot-otot kering yang tegas dan sarat akan tenaga tersembunyi. Bahkan struktur rahang wajahnya bergeser sedikit, mempertegas garis dagu yang tegas, sementara kulit wajahnya yang semula kusam dan penuh noda hitam akibat debu jalanan perlahan-lahan rontok, digantikan oleh lapisan kulit baru yang bersih, segar, dan sehat.
Di dalam tidurnya, Mahesa tidak merasakan sakit. Ia justru merasa seolah-olah sedang berenang di dalam kolam air hangat yang dipenuhi kelopak bunga cendana. Energi murni dari Kitab Inti Jagat terus bekerja layaknya seorang pemahat ulung yang sedang merombak sebuah patung batu yang rusak menjadi sebuah mahakarya yang sempurna dan macho.
Ketika fajar mulai menyingsing dan berkokoknya ayam tetangga memecah keheningan gang, mata Mahesa perlahan terbuka. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, menghirup udara pagi yang entah mengapa terasa sepuluh kali lebih segar dan jernih masuk ke dalam paru-parunya.
"Eungh..." Mahesa melenguh pelan, meregangkan kedua tangannya ke atas.
Krek! Krek! Krek!
Suara letupan sendi yang sangat bertenaga terdengar dari kedua tangannya. Mahesa tertegun, menatap kedua telapak tangannya sendiri yang kini tampak bersih tanpa ada lagi guratan kapalan kasar akibat memeras kain pel. Kulitnya tampak lebih cerah, dan lengan kemejanya terasa sangat ketat menjepit otot lengan barunya yang mendadak membesar.
"Lho, kok... kok bajuku jadi sempit begini? Terus bau apa ini? Kok anyir banget?" tanya Mahesa pada dirinya sendiri dengan kepanikan yang mulai merayap, menyadari bahwa seluruh tubuh dan pakaiannya tertutup lapisan cairan hitam tipis yang lengket.
Ia segera bangkit berdiri, namun gerakannya yang terlalu bersemangat justru membuatnya melompat setinggi setengah meter tanpa sengaja, hampir saja kepalanya membentur langit-langit rumah petak. Mahesa mendarat kembali di lantai dengan kaki yang terasa seringan kapas, tanpa mengeluarkan suara benturan sedikit pun.
"Astaga! Ini badanku kenapa bisa begini?!" pekik Mahesa tertahan dengan mata membelalak lebar, menatap tak percaya ke arah tubuhnya yang kini tampak jauh lebih tinggi, tegap, dan macho, bahkan tanpa perlu bercermin di toilet lantai dasar Graha Subroto lagi.