Anindya Maheswari, menikah dengan Raditya Wicaksono tanpa restu dari orang tua Radit karena Anindya hanya seorang yatim piatu dan besar di panti asuhan.
Cinta tulus dari Radit membuat Anindya bertahan, berjuang bersama, banting tulang, memeras otak dan keringat. Memulai segalanya dari nol hingga akhirnya sukses.
Namun, siapa sangka setelah sukses Radit malah berkhianat? Menjalin hubungan dengan gadis yang lebih muda, memiliki seorang anak, dan bahkan selingkuhan itu sedang hamil lagi.
Membawa amarahnya yang membara, Anindya bertekad mengembalikan Radit dan keluarga nya ke keadaan semula.
“Kamu lupa satu hal. Jika aku bisa membuatmu sukses, aku juga bisa membuatnu hancur!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
.
Raditya akhirnya duduk sendirian di meja makan yang luas itu. Ia menyendok nasi dan lauk pauk yang sudah disiapkannya dengan perasaan dongkol.
"Yah sudahlah… Sudah susah-susah beli bahan makanan mahal-mahal, sayang sekali kalau nggak dimakan," gumamnya sambil memasukkan suapan pertama ke dalam mulut. "Mending aku makan sendiri, daripada buang-buang uang. Biarin tu si perempuan tua nanti nyesel kalau pulang gak ada makanan."
Radit menikmati makanannya, menampik rasa kesal yang sebenarnya bercokol dalam hati. Ada kecewa karena kini Anindya tak lagi bersikap patuh, ada ketakutan karena wanita itu yang terasa kian menjauh. Namun, ia terus menyangkalnya.
“Dia hanya sedang main tarik ulur,” gumamnya menghibur diri sendiri.
TING TONG!
Baru beberapa suapan masuk ke dalam mulut, bel pintu rumah berbunyi nyaring.
Raditya menghentikan makannya. Ia mengerutkan kening.
"Siapa yang datang sore-sore begini? Apa Anin berubah pikiran lalu memilih pulang?" batinnya heran.
Senyum miring terbit di ujung bibirnya. “Aku bilang juga apa? Dasar sok jual mahal. Kelaparan juga, kan? Sudah tahu tidak pegang uang malah keluyuran!”
Dengan percaya diri Raditya bangkit dari kursi makan dan berjalan menuju pintu depan untuk membuka pintu. Mulutnya terbuka bersiap untuk mengomeli istri yang tidak patuh.
Namun begitu pintu terbuka lebar…
"Sofia?!" Mata Raditya terbelalak sempurna. Menoleh ke dalam rumah takut ada pelayan yang tiba-tiba muncul.
“Ngapain kamu ke sini?!" tanya setengah berbisik. Pria yang tadi begitu percaya diri bisa menghempas istri tua, kini sedang ketakutan. Bagaimana kalau Anindya tiba-tiba pulang.
Sofia berdiri dengan wajah penuh iba. Wanita itu tak bisa menahan diri karena radit yang berhari-hari tidak pulang. Dan ternyata benar. Pria ini berada di rumah istri tua. Ada geram yang coba ia tahan.
“Sayang..." rengeknya pelan. "Aku kangen banget sama Mas. Aku kesepian sendirian di rumah."
Raditya baru hendak membuka mulut, tapi Sofia sudah melanjutkan ucapannya dengan nada yang mulai berubah.
"Terus uang jajan yang Mas tinggalkan waktu itu juga sudah habis. Padahal kan aku harus beli makanan bergizi terus buat jaga kandungan ini, Mas. Dede butuh nutrisi biar dia tumbuh sehat," ucapnya sambil mengelus perutnya yang mulai membesar.
Mendengar itu, Raditya menggeram kesal. Selalu saja hanya uang, uang, dan uang, yang disebut Sofia jika bertemu. Wanita itu bahkan tidak menanyakan kabarnya. Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia sudah makan?
Tapi Radit tidak mau memperpanjang masalah. Lebih tepatnya takut kedatangan Sofia diketahui orang lain. Jika sampai ada pelayan yang melapor pada Anin, buyar sudah rencananya untuk berbaikan dengan istrinya itu. Walaupun mulut menyangkal, kenyataannya dia harus mengakui masih sangat membutuhkan kehadiran Anin. Terutama untuk menstabilkan kondisi perusahaan.
Segera Radit merogoh dompet di saku celananya, lalu mengambil beberapa lembar uang merah dan memberikannya pada Sofia.
"Ini, cepatlah pergi! Sudah aku bilang jangan sekali-kali datang ke sini. Kenapa kamu membantah ucapanku?”
Sofia menerima uang itu dengan wajah masam. Ingin meledak tapi tetap harus menampilkan citra istri baik.
"Sayang… “ rengeknya. “ Kenapa semakin lama kamu ngasih uang semakin sedikit?” tanyanya dengan melirik uang di tangan yang jumlahnya sekitar dua juta. “Kamu sudah nggak sayang sama aku lagi, ya?” ratunya dengan wajah sedih.
Raditya menghela napas panjang, wajahnya terlihat lelah dan putus asa.
"Fia, mengertilah! Perusahaan sedang ada masalah. Aku baru saja mengeluarkan uang banyak untuk ganti rugi pada perusahaan lain. Itu masih belum jika nanti ada komplain susulan. Jadi untuk sementara kamu harus bisa berhemat. Setidaknya sampai kondisi perusahaan pulih. Mengerti?”
“Tapi, Sayang… aku butuh uang tambahan. Perutku semakin besar dan pergerakan ku semakin sulit. Aku butuh membayar perawat untuk membantu aku dan Nino,” rengek Sofia lagi.
Mendengar itu, Raditya menghela napas panjang lalu menggeleng cepat.
"Sudah nggak ada uang lagi. Dan nggak perlu nyewa perawat segala. Nanti biar aku hubungi Ibu untuk menemanimu," ucap Raditya tegas.
"Udah sana cepet pulang! Jangan lama-lama di sini! Nanti ketahuan Anin bahaya!" Raditya langsung mengusirnya panik.
Sofia mendengus kesal tapi tidak lagi berani membantah karena wajah Radit yang sudah terlihat merah padam. Akhirnya ia hanya bisa menganggukan kepala lalu melangkah pergi dengan gontai. Bagaikan sosok wanita yang begitu pasrah.
Namun, begitu ia masuk kembali ke dalam taksi yang memang menunggu, wajahnya berubah drastis.
"Dasar buaya buntung! Huh! Kalau bukan karena uang, memangnya aku bakal cari-cari kamu?!" umpatnya kesal. “Uang dua juta bisa buat apa? Sekali njajan dengan Nino pasti ludes. Apa benar perusahaan dalam masalah? Tapi tadi aku baru lihat postingan istri tua itu dan temannya beli perhiasan. Apa jangan-jangan si Radit itu membohongi ku? Dasar sial. Awas saja dia!”
*
Keesokan harinya, Sofia sedang duduk bersantai di sofa empuk dengan kakinya yang selonjor di tepi meja, sambil asyik menggeser-geser layar ponsel, scrolling media sosial, ketika bel pintu rumahnya berbunyi.
Sofia mengernyitkan dahi, lalu menurunkan kaki dari atas meja. Berjalan perlahan dengan tangan di belakang pinggang hingga perut besarnya membusung ke depan, dan melihat siapa yang datang.
Matanya langsung berbinar saat melihat sosok wanita paruh baya yang berdiri di sana dengan membawa tas besar. Itu Ibu Mertuanya! Ibu dari Raditya!
Sofia langsung tersenyum lebar, teringat Raditya yang pernah bercerita bahwa hubungan antara Ibu mertua dengan Anindya yang tidak pernah akur. Lagipula, selama ini sikap ibu mertua lumayan baik padanya.
Sofia segera memasang wajah paling manis, paling polos, dan paling lembut lalu tersenyum ramah.
"Assalamualaikum, Bu...!" sapa Sofia dengan suara mendayu-dayu. "Aduh, Ibu. Maafin Fia ya, Bu. Pasti Mas Radit yang meminta ibu menemani aku di sini. Aku jadi merepotkan Ibu,” ucapnya seakan merasa bersalah. Padahal dalam hatinya bersorak, setelah ini ia tak perlu lelah membereskan rumah sendirian. Akan ada yang bisa disuruh-suruh.
Bu Anita tersenyum tipis. "Waalaikumsalam. Tidak repot, Sayang
Ibu seneng bisa nemenin kamu sama Nino." ucapnya membelai rambut Sofia. “Radit tidak salah pilih,” batinnya. “Wanita ini sangat lembut dan tahu sopan santun.”
Sofia langsung merangkul lengan ibu mertua dengan manja, lalu menuntunnya masuk dan duduk. "Fia senang banget lho akhirnya ada yang nemenin. Fia kan sendirian. Ada Ibu di sini, Fia jadi seperti ketemu Ibu kandung."
Sofia benar-benar mengerahkan seluruh kemampuannya dalam berakting. Pura-pura menyiapkan ini dan itu untuk mendapat pujian dari Ibu mertua. Tapi sambil sesekali merintih dan akhirnya tetap Bu Anita sendiri yang melakukan segalanya sendirian.
"Bu, tadi Fia mau masak sop iga nih buat makan siang. Ibu suka gak?" tawar Sofia sambil memegangi pinggangnya.
"Ya ampun, Fia… sudah kamu duduk saja. Ibu bisa ambil sendiri nanti!” Bu Anita menuntun Sofia untuk kembali duduk di sofa. “ Kamu ini benar-benar berbeda dengan si Anin itu.”
Senyum Sofia semakin lebar. Rencananya berjalan mulus.
apa lgi yg lbih mnyedihkn slain nsibnya s pcundang....udh pd tngkat dewa bkln dpt tender,taunya zonk...😛😛😛....
smntra anin,dia udh bngkit plus dpt dkungn dr bnyak orng yg pduli sm dia....ga sbr nunggu s pcundang hncur.....