NovelToon NovelToon
Jalan Kultivasi Sang Dewa

Jalan Kultivasi Sang Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Timur / Epik Petualangan
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Adit

Di sebuah desa kecil yang terlupakan dunia, seorang anak pemburu hidup dalam kemiskinan sambil merawat ibunya yang sakit parah. Setiap hari ia mempertaruhkan nyawanya di hutan demi bertahan hidup, tanpa mengetahui bahwa takdir besar sedang menunggunya.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, sang ibu mengungkap rahasia yang selama ini disembunyikan—ayahnya masih hidup, dan berada di Dunia Atas, tempat para kultivator kuat menguasai langit dan bumi.
Dengan tekad untuk menemukan ayahnya dan mengubah nasibnya, pemuda itu memulai perjalanan kultivasi dari dunia paling bawah. Bersama teman yg ditemui Nya waktu dia masih kecil, ia menghadapi monster, sekte, pengkhianatan, dan perang antar dunia demi mencapai puncak kekuatan.
Sebuah perjalanan dari seorang pemburu desa… menuju penguasa langit tertinggi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16 - Siapa yang Melindungi Siapa ?

Saat Cang Xuan hendak membuka pintu kamarnya, sebuah suara tiba-tiba terdengar dari ujung koridor.

"Tuan Muda."

Tangannya yang sudah memegang gagang pintu langsung berhenti. Ia menoleh ke arah sumber suara dan melihat salah seorang pegawai penginapan sedang berdiri tidak jauh darinya.

"Iya, ada apa?" tanya Cang Xuan.

Pegawai itu membungkukkan badan dengan sopan sebelum menjawab, "Maaf mengganggu waktu istirahat Tuan Muda."

Cang Xuan menggeleng pelan, memberi isyarat agar ia langsung menyampaikan keperluannya.

Pegawai tersebut pun melanjutkan, "Ada seorang gadis yang ingin bertemu dengan Tuan Muda."

Mendengar itu, ekspresi Cang Xuan langsung berubah bingung.

"Seorang gadis?"

"Iya."

Kebingungan di wajahnya semakin jelas.

Sejak tiba di desa ini, ia tidak merasa mengenal banyak orang. Karena itu, sulit baginya membayangkan siapa yang tiba-tiba mencarinya di penginapan pada saat seperti ini.

"Kalau boleh tahu, siapa namanya?" tanyanya.

Namun pegawai itu hanya tersenyum kecil.

"Mungkin lebih baik Tuan Muda melihatnya sendiri."

Jawaban tersebut sama sekali tidak membantu menghilangkan rasa penasaran Cang Xuan.

Meski begitu, setelah berpikir sejenak, ia akhirnya menganggukkan kepala.

"Baiklah. Aku akan menemuinya."

Pegawai itu segera mempersilakannya mengikuti arah koridor menuju ruang depan penginapan.

Beberapa menit kemudian, Cang Xuan mengikuti pegawai penginapan kembali menuju area depan yang berada di dekat meja kasir. Suasana di lantai bawah masih cukup ramai karena beberapa tamu baru saja datang untuk menginap, sementara sebagian lainnya sedang menikmati makanan malam sebelum beristirahat.

Namun begitu tiba di sana, langkah Cang Xuan langsung terhenti.

Ia melihat seorang gadis yang berdiri tidak jauh dari meja kasir sambil menunggunya.

"Ling Yue?"

Mendengar namanya dipanggil, gadis itu segera menoleh dan tersenyum.

"Hei."

Cang Xuan benar-benar tidak menyangka akan melihatnya lagi secepat ini. Baru beberapa jam yang lalu mereka berpisah di restoran, tetapi sekarang Ling Yue sudah muncul di penginapan tempat ia menginap.

"Ngapain kau di sini?" tanyanya dengan ekspresi heran. "Dan bagaimana kau tahu aku menginap di tempat ini?"

Ling Yue tidak langsung menjawab.

Sebaliknya, ia hanya memperlihatkan senyum misterius yang membuat rasa penasaran Cang Xuan semakin besar.

Beberapa saat kemudian, barulah ia berkata, "Sebenarnya aku ingin berbicara denganmu."

Nada suaranya terdengar lebih serius dibandingkan saat mereka bertemu di restoran.

"Ada sesuatu yang ingin kusampaikan."

Cang Xuan sedikit mengernyit.

"Sesuatu yang penting?"

Ling Yue mengangguk pelan.

"Bisakah kita pergi ke tempat yang lebih tenang?"

Mendengar itu, Cang Xuan terdiam sejenak sambil berpikir. Dari ekspresinya, Ling Yue memang tidak terlihat seperti sedang bercanda atau sekadar ingin mengobrol biasa.

Pada akhirnya ia menganggukkan kepala.

"Baiklah."

Kemudian ia menambahkan dengan nada santai, "Kalau memang itu penting."

Mendengar persetujuan tersebut, senyum kecil kembali muncul di wajah Ling Yue.

Tak lama kemudian, keduanya mulai berjalan meninggalkan area kasir menuju tempat yang lebih sepi di dalam penginapan.

Tidak jauh dari penginapan terdapat sebuah taman kecil yang cukup tenang. Malam perlahan turun, dan beberapa lampu batu yang tersebar di sekitar taman mulai menyala satu per satu, menerangi jalan setapak dan bangku-bangku kayu yang berada di bawah pepohonan.

Cang Xuan dan Ling Yue duduk berdampingan di salah satu bangku yang menghadap kolam kecil di tengah taman. Setelah melihat sekeliling beberapa saat, Ling Yue mengangguk puas.

"Tempat ini cukup bagus. Kurasa kita bisa berbicara dengan tenang di sini."

Cang Xuan tidak terlalu memperhatikan pemandangan di sekitarnya. Sejak awal ia lebih penasaran dengan alasan Ling Yue mencarinya hingga ke penginapan.

"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" tanyanya langsung. "Sepertinya ini cukup penting sampai kau mencariku ke penginapan."

Ling Yue menarik napas pelan sebelum menatapnya dengan serius.

"Besok kau akan melanjutkan perjalanan lagi, kan?"

"Iya." Cang Xuan mengangguk. "Aku dan orang yang bersamaku, Tuan Xin, akan melanjutkan perjalanan menuju wilayah Penguasa Benua Timur."

Ling Yue kembali mengangguk pelan.

Kemudian ia mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak diduga oleh Cang Xuan.

"Kalau begitu... apakah aku boleh ikut dalam perjalananmu?"

Cang Xuan langsung membeku.

"Ikut?"

"Iya."

Jawaban Ling Yue terdengar tegas tanpa sedikit pun keraguan.

"Aku ingin ikut dalam perjalananmu."

Untuk beberapa saat, Cang Xuan tidak langsung menjawab. Ia justru terlihat berpikir serius.

"Ling Yue." Nada suaranya menjadi lebih serius. "Perjalananku nanti tidak akan mudah. Aku harus mengunjungi seluruh benua, mencari lima gulungan petunjuk, lalu pergi ke Dunia Tengah. Setelah itu aku juga harus menemukan cara menuju Dunia Atas. Semua itu sangat berbahaya."

Namun Ling Yue hanya tersenyum tipis.

"Aku tahu."

Jawaban santainya membuat Cang Xuan sedikit mengernyit.

"Aku pernah menghadapi bahaya seperti itu."

Mata Cang Xuan langsung menyipit.

"Kenapa cara bicaramu terdengar seperti kau pernah mengalami semuanya?"

Untuk sesaat, ekspresi Ling Yue terlihat sedikit berubah. Namun perubahan itu menghilang begitu cepat hingga hampir tidak terlihat.

"Lupakan saja."

Ia segera mengalihkan pembicaraan.

"Yang penting sekarang, apakah kau setuju aku ikut?"

Cang Xuan masih terlihat ragu.

"Kurasa kau tidak akan sanggup, Ling Yue."

Mendengar itu, Ling Yue langsung mendengus kesal.

"Kau menganggapku orang biasa?"

Sebelum Cang Xuan sempat menjawab, sebuah gelombang energi tiba-tiba muncul.

Wuussh!

Sebuah pedang muncul di tangan Ling Yue. Bilah pedang itu diselimuti energi berwarna biru tua yang berkilauan lembut di bawah cahaya lampu taman. Aura yang dipancarkannya jauh lebih kuat daripada energi spiritual yang pernah dirasakan Cang Xuan sebelumnya.

Karena terkejut, Cang Xuan langsung berdiri dari tempat duduknya.

"Kau seorang kultivator?!"

Ling Yue tersenyum bangga sambil memutar pedangnya dengan santai.

"Tentu saja."

Seolah hal itu sangat biasa baginya.

"Aku juga seorang kultivator."

Cang Xuan masih menatap pedang itu dengan tidak percaya.

"Lalu... tingkat kultivasimu?"

Ling Yue menjawab tanpa sedikit pun kesombongan.

"Ranah Ling Yuan Bintang 2."

Mata Cang Xuan langsung membesar.

Ling Yuan.

Ranah keempat.

Sedangkan dirinya masih berada di Ranah Ling Fan Bintang 2.

Perbedaan kekuatan mereka sangat jauh.

"Kau... ternyata sangat kuat."

Mendengar pujian itu, Ling Yue hanya tersenyum kecil sebelum menyimpan kembali pedangnya.

Kemudian ia kembali menatap Cang Xuan.

"Jadi bagaimana?"

Nada suaranya kembali lembut.

"Dalam perjalanan nanti aku bisa membantumu. Aku juga bisa melindungimu dari berbagai bahaya. Setidaknya aku tidak akan menjadi beban."

Cang Xuan menghela napas panjang.

Ia tahu dirinya sudah kalah dalam perdebatan ini.

Awalnya ia mengkhawatirkan keselamatan Ling Yue, tetapi sekarang justru dirinya yang terlihat lebih membutuhkan perlindungan.

Apalagi fakta bahwa Ling Yue jauh lebih kuat membuat sebagian besar alasannya tidak lagi berlaku.

Pada akhirnya, ia hanya bisa menyerah.

"Baiklah."

Wajah Ling Yue langsung berbinar.

"Benarkah?!"

Cang Xuan mengangguk sambil tersenyum tipis.

"Iya."

Namun kemudian ia menambahkan dengan nada bercanda.

"Tapi kalau Tuan Xin marah, itu bukan salahku."

Ling Yue langsung tertawa kecil.

"Tenang saja."

Senyum percaya diri muncul di wajahnya.

"Aku yang akan menjelaskan kepadanya nanti."

Ling Yue perlahan berdiri dari bangku taman sambil menatap Cang Xuan dengan senyum yang begitu cerah hingga sulit disembunyikan. Kebahagiaan terlihat jelas di wajahnya setelah mendengar persetujuan tersebut.

"Terima kasih, Cang Xuan."

Mendengar itu, Cang Xuan hanya tersenyum tipis. Namun di dalam hatinya, ia menyadari sesuatu yang baru. Sejak meninggalkan Desa Awan Timur, ia selalu berpikir bahwa jalan yang akan ditempuhnya harus dilalui seorang diri. Akan tetapi sekarang, untuk pertama kalinya sejak memulai perjalanan ini, ia memiliki seseorang yang akan berjalan di sisinya.

Malam semakin larut, sementara cahaya bulan perlahan menerangi taman yang tenang itu. Angin sejuk berembus lembut melewati pepohonan, seolah menjadi saksi dimulainya babak baru dalam perjalanan mereka.

Pada saat yang sama, jauh dari desa tersebut, jauh di dalam sebuah hutan yang belum pernah dijelajahi manusia biasa, sebuah pohon raksasa menjulang tinggi menembus lautan dedaunan. Di salah satu cabangnya yang besar, seekor makhluk aneh sedang duduk dengan santai sambil mengayunkan kakinya.

Tubuhnya dipenuhi bulu seperti seekor kera, tetapi wajahnya terlihat ganjil karena memiliki perpaduan antara manusia dan kera. Di tangannya terdapat sebuah pisang yang sedang dimakannya tanpa tergesa-gesa.

Kunyah.

Kunyah.

Kunyah.

Setelah menghabiskan satu gigitan besar, makhluk itu menelan makanannya lalu mengangkat kepala ke arah langit malam.

Bulan yang perlahan muncul di antara awan memantulkan cahaya keemasan di kedua matanya.

Senyuman aneh perlahan muncul di wajahnya.

"Malam yang indah..."

Suaranya terdengar pelan, tetapi mengandung sesuatu yang sulit dijelaskan.

Sesaat kemudian, mata berwarna emas itu mulai bersinar samar. Tatapannya menembus kejauhan seolah sedang mengamati sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh makhluk biasa.

Entah apa yang dilihatnya.

Entah siapa yang sedang diperhatikannya.

Namun senyum di wajahnya perlahan semakin lebar.

Di tengah hutan yang sunyi, makhluk misterius itu kembali menggigit pisangnya sambil terus menatap ke arah cakrawala yang jauh. Dan tanpa diketahui oleh siapa pun, roda takdir yang baru mulai bergerak perlahan berputar semakin cepat, membawa berbagai pertemuan dan konflik yang belum terungkap menuju masa depan yang masih tersembunyi di balik kegelapan malam.

End Chapter 16

1
asri_hamdani
tangkap 1-2 kan bisa untuk ganjel perut lapar 🤔
.: karena menurut Cang xuan menangkap hewan hewan kecil seperti kelinci ataupun kucing hutan itu hanya membuang-buang waktu karena hewan tersebut memiliki pergerakan yg cukup lincah Apalagi walaupun berhasil menangkap dia hanya mendapatkan koin yg sedikit apalagi dia mempunyai waktu terbatas yaitu jangan sampai malam hari karena banyak monster abbys yg berkeliaran oleh karena itu daripada membuang buang waktu ke hewan yg memiliki nilai koin yg sedikit menurut Cang xuan lebih baik mencari hewan yg ukuran nya cukup besar dan mendapatkan koin yg lebih banyak dibandingkan harus bersusah payah menangkap hewan ukuran kecil
total 1 replies
Kevandra
B🌻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!