Kemuning selalu tahu hidupnya murah di mata keluarga sendiri. Sejak kedua orang tuanya meninggal, ia hanya dianggap beban—dipaksa menjadi pembantu di rumah bibinya, tidur di lantai dingin, dan menahan sakit demi membesarkan adik kecilnya seorang diri.
Suatu malam, bibinya menyerahkan Kemuning kepada seorang tuan tanah untuk melunasi hutang judi. Tanpa persetujuan. Tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira nasib Kemuning selesai saat mobil hitam itu membawanya pergi dari desa. Tapi mereka salah, karena pria yang menunggunya di kota jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan; dingin, kaya, tampan, dan memandang Kemuning seolah gadis desa itu adalah miliknya.
Kemuning membenci cara pria itu mendekat terlalu dekat, cara tatapannya selalu membuat napasnya kacau… dan cara tubuhnya gemetar setiap kali pria itu menyentuhnya hanya untuk hal-hal kecil yang seharusnya biasa saja.
Namun yang paling menakutkan bukanlah ketertarikan itu.
Melainkan rahasia besar tentang alasan Kemuning sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lada Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 - Dijual Untuk Utang
Hujan turun deras membasahi atap rumah tua milik Miranti Kusuma. Air bocor menetes dari sudut dapur yang gelap dan lembap.
Kemuning Larasati masih berdiri di depan bak cucian dengan tangan merah penuh lecet. Sementara di pundaknya, Agam Pradipta tertidur pulas sambil memeluk lehernya kecil-kecil. Gadis itu menggigit bibir menahan pegal saat memeras pakaian terakhir. Tubuhnya gemetar karena dingin sejak sore tadi hujan tidak berhenti turun. Namun Kemuning tetap berusaha tidak mengeluh sedikit pun.Ia tahu tidak ada yang peduli kalau dirinya sakit.
“Lama sekali, Kemuning!” bentak Miranti dari ruang tengah. “Cuci baju saja seperti siput bunting! Dasar pembawa sial!”
Kemuning menunduk cepat sambil mengusap wajah Agam yang hampir terbangun. “Maaf, Bi. Tadi Agam rewel karena demam.”
Miranti mendecih jijik sambil melipat tangan di dada. “Adikmu itu sama menyusahkannya dengan kamu! Kalian memang kutukan sejak orang tua kalian mati!” Suara wanita itu tajam seperti pisau yang mengiris pelan.
Kemuning diam. Sudah bertahun-tahun ia mendengar kalimat seperti itu. Tetap saja dadanya terasa sesak setiap kali nama kedua orang tuanya dihina. Tetapi ia terlalu lelah untuk melawan.
Shavira Callista muncul dari tangga sambil memainkan ponselnya. Gaun pendek yang dipakainya terlihat kontras dengan pakaian lusuh Kemuning. Begitu melihat ember cucian di dekat kaki Kemuning, bibirnya melengkung sinis. “Eh, baju aku jangan sampai bau apek kayak badan kamu.”
Belum sempat Kemuning menjawab, Shavira sengaja menumpahkan jus ke tumpukan pakaian bersih. Cairan merah itu langsung mengotori kain putih yang baru dicuci.
Kemuning membelalak panik sambil menahan Agam agar tidak jatuh dari gendongan. “Ka-kak Shavira...”
“Cuci lagi sana.” Shavira terkekeh kecil. “Lagian kamu cuma babu di rumah ini, kan?”
Miranti malah ikut tertawa kecil mendengar ucapan putrinya. Tidak ada satu pun yang merasa bersalah.
Dimas Aryasena keluar dari kamar sambil menguap kasar. Pria itu melempar bungkus mi instan bekas ke arah lantai dapur. “Ning, bikinin gue kopi. Cepat sedikit, kepala gue pusing habis kalah main kartu.”
Kemuning menatap lantai kotor itu sesaat sebelum berjongkok membersihkannya. Rambut hitam panjangnya jatuh menutupi sebagian wajah pucatnya. Meskipun memakai daster usang, kecantikannya tetap sulit disembunyikan. Kulitnya bersih dan matanya bening seperti embun pagi. Tubuhnya yang mulai dewasa membuat banyak laki-laki desa diam-diam memperhatikannya. Pinggang ramping dan wajah polos Kemuning sering menjadi bahan pembicaraan warung kopi. Sayangnya, Kemuning sendiri tidak pernah menyadari hal itu. Ia terlalu sibuk bertahan hidup demi Agam.
Agam terbangun perlahan lalu merengek pelan karena demamnya belum turun. Kemuning langsung mengusap kepala adiknya dengan panik. “Nanti Kakak carikan obat, ya?” bisiknya lembut.
Agam mengangguk kecil sambil memeluk lehernya erat.
Miranti mendecih melihat mereka. “Kalau anak itu mati sekalian, hidupku malah lebih tenang.”
Kemuning spontan mengangkat kepala dengan mata memerah. “Bibi jangan ngomong begitu!”
Tamparan keras langsung mendarat di pipinya. Kepala Kemuning terlempar ke samping sampai tubuhnya membentur meja kayu. Agam menangis kencang melihat kakaknya dipukul.
Sementara Miranti menatap penuh kebencian. “Berani membantah sekarang? Sudah dikasih makan masih sok melawan!”
Kemuning menahan perih di pipinya sambil memeluk Agam erat-erat. Air matanya jatuh diam-diam tanpa suara.
Malam semakin larut ketika Kemuning berjalan ke warung kecil ujung desa. Ia memakai sweater tipis kebesaran dan sandal usang milik Shavira. Hujan rintik membuat rambut panjangnya basah dan menempel di pipi. Beberapa pria yang nongkrong di pos ronda langsung memperhatikannya diam-diam.
“Cantik banget sih itu anak.”
“Kalau bukan tinggal di rumah Miranti, udah gue lamar.”
“Badan sama mukanya bikin nggak bisa tidur.”
Suara mereka terdengar pelan tetapi cukup membuat Kemuning merinding. Kemuning mempercepat langkah sambil merapatkan sweater ke tubuhnya. Tatapan laki-laki itu membuatnya tidak nyaman. Seolah pakaian tipisnya bisa ditembus mata mereka. Kemuning hanya ingin cepat pulang membawa obat untuk Agam.
Saat kembali ke rumah, ia melihat Miranti sedang berbicara panik lewat telepon. Wajah bibinya pucat dan berkeringat meski udara dingin.
“Aku pasti bayar!” bentaknya setengah berbisik.
“Tolong kasih waktu sedikit lagi!”
Kemuning berhenti di balik pintu dapur. Ia mendengar kata “utang” disebut berkali-kali malam itu. Lalu ada satu kalimat yang membuat tengkuknya dingin.
“Gadis desa itu masih ada di rumah saya.”
Jantung Kemuning berdetak aneh. Ia tidak tahu kenapa perasaannya tiba-tiba buruk. Namun sebelum sempat berpikir lebih jauh, suara mobil terdengar dari luar rumah. Lampu putih menyinari halaman sempit mereka.
Shavira langsung berdiri heboh sambil membenarkan rambutnya. “Mah, siapa malam-malam datang pakai mobil mewah?”
Dimas buru-buru mematikan rokoknya.
Bahkan Miranti tampak gugup luar biasa.
Pintu rumah terbuka perlahan. Seorang pria tua masuk dengan jas hitam mahal dan tongkat kayu elegan di tangannya. Empat pria berbadan besar berdiri di belakangnya seperti bayangan gelap.
Ruangan kecil itu mendadak terasa sempit dan mencekam. Kemuning refleks menunduk. Namun ia tetap bisa merasakan tatapan pria tua itu jatuh padanya.
Tatapan tajam yang membuat napasnya terasa berat. Bukan tatapan cabul… tapi terlalu dalam untuk diabaikan.
Pria itu memperhatikan wajah Kemuning cukup lama. Sorot matanya berubah samar saat melihat mata bening gadis itu. Seolah ia sedang mengenang seseorang dari masa lalu. Kemuning jadi salah tingkah sendiri.
Miranti tertawa kaku sambil mempersilakan tamunya duduk. “Maaf rumah saya berantakan, Pak.”
Pria tua itu tidak menjawab. Tatapannya masih tertuju pada Kemuning. “Jadi?” suara pria itu akhirnya terdengar berat dan dingin. “Utangmu sudah jatuh tempo.”
Miranti langsung pucat. Tangannya gemetar kecil di atas pangkuan. “Saya pasti bayar, Pak. Tolong beri saya kesempatan lagi. Bisnis saya sedang susah.” Miranti hampir terdengar memohon.
Pria tua itu mengetukkan tongkatnya sekali ke lantai. Suara kecil itu langsung membuat ruangan sunyi. “Kau sudah diberi terlalu banyak kesempatan. Nah, sekarang bayar.”
Miranti menelan ludah susah payah. Lalu perlahan matanya beralih ke arah Kemuning. Tatapan itu membuat bulu kuduk Kemuning berdiri. Ada sesuatu yang salah. Sangat salah. “Saya… punya gadis itu.” Suara Miranti bergetar pelan. “Dia masih muda, cantik, dan penurut. Saya bisa menyerahkannya.”
Kemuning membelalak tidak percaya. Obat di tangannya jatuh ke lantai. “Bibi?” suaranya bergetar panik. “Apa maksud Bibi?”
Miranti berdiri kasar lalu menarik rambut Kemuning tanpa belas kasihan. Agam langsung menangis histeris melihat kakaknya diseret.
“Kamu diam saja!” bentak Miranti. Sudah untung aku pelihara selama ini!
“Sakit, Bi…” Kemuning mencoba melepaskan tangan itu sambil menangis. “Jangan pisahkan aku dari Agam…Aku mohon…”
“Memohon?” Miranti tertawa sinis. “Kamu pikir hidupmu berharga? Kalau bukan karena wajah cantikmu, kamu sudah kubuang dari dulu!” Ucapan itu terasa lebih menyakitkan dari tamparan.
Agam memeluk kaki Kemuning sambil menangis keras. “Kak Ning jangan pergi…” Suara kecil itu membuat dada Kemuning terasa hancur. Ia memeluk adiknya erat sambil ikut menangis.
Salah satu pengawal maju hendak menarik Kemuning. Pria itu mencengkeram pergelangan tangannya terlalu keras. Tubuh Kemuning refleks gemetar ketakutan. Rasa sakit membuat air matanya makin deras.
“Lepaskan.” Suara dingin pria tua itu langsung menghentikan semuanya.
Pengawal itu buru-buru melepaskan tangan Kemuning.
Ruangan kembali sunyi mencekam. Pria tua itu menatap pengawalnya tajam. “Jangan perlakukan dia sembarangan.” Nada suaranya tenang, tetapi cukup membuat semua orang tunduk.
Kemuning mengangkat wajah perlahan dengan napas tidak teratur. Untuk pertama kali malam itu, ia benar-benar melihat pria tersebut. Wajahnya tegas dan berwibawa meski usia tak lagi muda. Matanya tajam, tetapi anehnya tidak membuat Kemuning merasa kotor. Justru tatapan itu terasa… melindungi.
Namun ketakutan Kemuning tetap lebih besar dari segalanya. Ia memeluk Agam semakin erat saat para pengawal mendekat lagi. “Jangan ambil aku…” isaknya putus asa. “Aku cuma punya Agam…”
Miranti malah mendorong tubuh Kemuning ke depan. “Bawa saja dia sekarang. Dia milik kalian mulai malam ini.” Wajah wanita itu sama sekali tidak menunjukkan penyesalan.
Hujan kembali turun deras saat Kemuning diseret keluar rumah. Kaki gadis itu nyaris lemas di halaman becek. Agam berlari kecil mengejar sambil menangis memanggil kakaknya. Suara tangis bocah itu menghancurkan hati siapa pun yang mendengarnya.
“Kak Niiing!”
“Jangan pergi…”
“Agaaam takut…”
Tangisan itu membuat Kemuning histeris. Ia berusaha turun dari mobil hitam mewah yang sudah terbuka di depannya. Namun tubuhnya ditahan para pengawal. Air hujan membasahi rambut dan wajah cantiknya yang penuh air mata. Dadanya naik turun karena panik.
“Aku mohon…Jangan pisahkan aku dari adikku…” Kemuning menangis sampai suaranya serak. Tetapi tidak ada yang peduli.
Pintu mobil akhirnya tertutup keras.
Suara hujan menggema di dalam keheningan kabin mewah itu. Kemuning meringkuk gemetar di sudut kursi sambil menangis tanpa suara. Sementara pria tua di sampingnya terus memperhatikan wajahnya diam-diam. Lama sekali pria itu tidak bicara. Sampai akhirnya ia menghela napas pelan. Tatapannya melembut samar saat melihat mata Kemuning yang merah karena menangis. Lalu bibirnya bergerak perlahan. “Kau benar-benar mirip ayahmu.”