BERTAHUN-TAHUN DIANGGAP MANDUL, TERNYATA ITU ADALAH JEBAKAN SUAMI DAN ORANG KETIGA. SETELAH MENGETAHUI KEBENARANNYA, AKU PUN MULAI MEMBALAS DENDAM!
Novel ini misi dari editor, jika ada kesamaan dengan author lain, berarti kita sedang sama-sama mengerjakan tugas misi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Enam bulan berlalu tanpa terasa dijalani oleh Kemuning menjadi seorang janda. Rumah Kemuning yang dulu terasa sunyi kini lebih sering diisi suara tawa ringan, langkah kaki, dan obrolan sederhana yang menghangatkan ruang-ruang yang pernah dingin.
Sore menjelang malam, aroma sup ayam memenuhi dapur. Uapnya mengepul pelan saat Kemuning menuangkan ke dalam mangkuk, tangannya cekatan namun gerakannya tenang, seolah rutinitas ini menjadi cara baru untuk menata hidupnya yang dulu berantakan.
Pintu depan terbuka tanpa perlu diketuk lama. Aryasatya masuk lebih dulu dengan langkah ringan, seperti biasa, membawa suasana riang bersamanya.
“Wah, wangi banget! Mbak Kemuning masak apa lagi, nih? Perasaan tiap ke sini aku makin betah aja,” celetuk pemuda itu sambil mengintip ke dapur.
Kemuning tersenyum tipis tanpa menoleh. “Kalau kamu datang cuma buat makan, besok-besok aku tutup pintunya, ya.”
“Lho, aku kan datang sekalian nemenin Kak Arka,” balas Aryasatya cepat, lalu menoleh ke belakang. “Iya, kan, Kak?”
Arkatama yang baru masuk hanya menggeleng kecil, sudut bibirnya terangkat samar. Tatapannya sempat singgah sebentar pada Kemuning, tetapi cukup untuk membuat suasana terasa berbeda. Ada sesuatu yang tak pernah diucapkan, tapi tumbuh diam-diam di antara mereka.
Malam itu berlalu seperti malam-malam sebelumnya. Sederhana, hangat, dan tanpa beban. Namun, Aryasatya tidak pernah benar-benar diam.
“Eh, Mbak,” kata Aryasatya tiba-tiba, mencondongkan badan di meja makan. “Kalau ada pria yang sifatnya baik, sabar, ganteng dan mapan, kira-kira Mbak mau enggak nerima?”
Kemuning mengangkat alis, pura-pura tidak paham. “Itu lagi bahas siapa?”
Aryasatya melirik Arkatama dengan senyum jahil. “Ya, ada lah.”
“Satya,” potong Arkatama singkat, nadanya tenang tapi cukup untuk membuat adiknya meringis menahan rasa gemas.
“Mbak Kemuning itu janda muda dan cantik. Pastinya banyak pria di luar sana menginginkannya. Maka lebih baik pilih salah satu yang jelas-jelas sudah diketahui bebet-bibit-bobotnya,” ucap Aryasatya begitu ringan.
Arkatama melirik ke arah Kemuning. Dia ingin tahu reaksi wanita itu.
Kemuning sudah lebih dulu menunduk, menyembunyikan senyum kecil yang muncul tanpa ia sadari.
Hari itu hujan turun tanpa peringatan. Langit yang sejak siang mendung akhirnya pecah ketika Kemuning sedang berada di kota mencari peternak ayam lain untuk diajak kerjasama, sebagai pemasok. Karena permintaan ayam potong semakin banyak.
Kini, Kemuning terjebak di sebuah kafe kecil di pinggir jalan, menunggu hujan reda yang tak kunjung berhenti. Tak lama, pintu kafe terbuka. Sosok yang familiar masuk dengan bahu sedikit basah oleh air hujan.
“Mas Arka?” Kemuning terkejut.
Arkatama menghela napas ringan, lalu tersenyum. “Kebetulan lewat. Hujannya malah makin deras.”
Mereka duduk berhadapan. Di luar, hujan turun seperti tirai, memisahkan dunia mereka dari kebisingan kota. Di dalam, hanya ada suara rintik yang jatuh dan detak waktu yang terasa melambat.
Beberapa saat mereka hanya diam. Tidak canggung, tetapi juga tidak biasa.
Arkatama menatap cangkir kopinya, lalu mengangkat wajah. “Mbak Kemuning ....”
Kemuning menoleh. “Iya?”
Ada jeda. Napas Arkatama terdengar lebih berat dari biasanya.
“Aku enggak mau muter-muter lagi. Aku suka sama Mbak,” kata Arkatama dengan nada lembut, tetapi mengandung ketegasan kalau ucapannya itu sungguh-sungguh.
Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa hiasan. Namun, justru itu yang membuatnya terasa lebih dalam.
Kemuning terdiam, tangannya yang tadi memegang cangkir perlahan berhenti. Matanya tidak langsung menatap, seolah butuh waktu untuk mencerna.
“Aku tahu Mbak sudah banyak lewatin hal berat,” lanjut Arkatama. “Aku tahu semuanya enggak mudah. Tapi aku serius.”
Hening kembali turun, lebih berat dari sebelumnya. Suara Kemuning akhirnya keluar, lirih. Ia menarik napas pelan. “Aku juga sudah mulai nyaman, Mas.”
Arkatama menatapnya dengan mata berbinar, ada harapan yang perlahan muncul. Jantungnya pun ikut berdebar dan di dalam perutnya terasa sesuatu bergejolak.
“Tapi aku takut,” lanjut Kemuning jujur. “Aku bukan perempuan yang utuh lagi.”
Alis Arkatama sedikit berkerut. “Maksud Mbak?”
Kemuning menunduk menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca. Suaranya melemah. “Rahimku. Aku enggak tahu apakah aku masih bisa punya anak.”
Kalimat itu terasa seperti luka lama yang kembali dibuka. Namun kali ini, ia mengatakannya tanpa air mata, hanya dengan rasa takut yang tersisa.
Arkatama tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Kemuning beberapa detik, lalu menghela napas pelan.
“Aku enggak jatuh cinta sama rahim Mbak,” kata Arkatama akhirnya. “Aku jatuh cinta sama Mbak.”
Kemuning terdiam dan terkejut. Karena kebanyakan pria setelah menikah ingin punya anak.
“Apa pun yang terjadi di masa lalu itu bukan kesalahan Mbak,” lanjut pria itu. “Hal itu enggak mengurangi siapa Mbak sekarang.”
Tatapan Kemuning perlahan terangkat. Ada sesuatu yang bergetar di sana.
“Aku enggak butuh kesempurnaan,” tambah Arkatama. “Aku cuma butuh Mbak.”
Hujan di luar masih turun, tetapi di dalam dada Kemuning, sesuatu mulai mencair. Sebelum ia sempat menjawab, Arkatama kembali bicara, kali ini lebih mantap.
“Aku enggak mau cuma dekat seperti ini terus,” katanya. “Aku mau hubungan yang jelas.”
Kemuning menatapnya, jantungnya berdegup lebih cepat.
“Aku mau serius sama Mbak,” lanjut Arkatama. “Kalau Mbak siap aku ingin kita menikah.”
Waktu seperti berhenti. Kemuning membeku di tempat. Matanya membesar, napasnya tertahan. Ia tidak menyangka Arkatama sampai berani sejauh ini.
“Mas Arka.” Suara Kemuning hampir tidak keluar meski mulutnya terbuka.
Semua kenangan lama tiba-tiba menyeruak. Luka akan pengkhianatan. Rasa sakit yang pernah menghancurkannya. Ketakutan itu datang lagi, tanpa permisi.
“Aku takut, Mas ...,” bisik Kemuning.
Arkatama tidak memotong. Ia menunggu Kemuning menyelesaikan ucapannya.
“Aku takut semuanya terulang lagi,” lanjut Kemuning. “Aku takut enggak cukup baik sebagai seorang istri.” Tangan Kemuning gemetar di atas meja.
Arkatama perlahan menggeser tangannya, mendekat, tetapi tidak menyentuh. Memberi ruang, tapi tetap ada.
“Kita enggak harus buru-buru,” kata Arkatama pelan. “Aku bisa nunggu.”
Kemuning menutup mata sejenak. Hatinya berisik, antara ingin percaya dan takut jatuh lagi. Setelah sekian lama, Kemuning kembali dihadapkan pada pilihan yang benar-benar ia takuti.
***
Sambil menunggu update bab berikutnya, yuk, baca juga karya temanku ini:
hhmmm lavanya, skrg kamu makin terjerumus