"Aku menikahimu karena terpaksa, jadi jangan pernah berharap ada cinta di rumah ini."
Bagi Arvin Dewangga, Zoya Alana Clarissa hanyalah orang asing yang dipaksakan masuk ke hidupnya. CEO dingin itu membangun dinding es yang tinggi, namun Zoya tetap bertahan dengan ketenangan dan keteguhan di balik cadarnya.
Di antara penolakan yang menyakitkan dan rahasia masa lalu yang membayangi, mampukah kesabaran Zoya meluluhkan keangkuhan Arvin? Ataukah perpisahan menjadi satu-satunya cara untuk menemukan kebahagiaan masing-masing?
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Novel => Di Balik Cadar Zoya.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 2
Sinar matahari pagi menembus celah gorden raksasa di penthouse mewah milik Arvin Dewangga. Zoya terbangun tepat sebelum azan Subuh berkumandang. Di rumah ini, tidak ada suara muazin yang terdengar jelas seperti di lingkungannya dulu, namun jam alarm di ponselnya menjadi pengingat setia.
Setelah menunaikan kewajibannya, Zoya berdiri di tengah ruang tengah yang luas. Semalam, ia hanya melihat rumah ini dalam temaram lampu kuning yang dramatis.
Kini, di bawah cahaya terang, rumah itu tampak lebih seperti galeri seni daripada tempat tinggal. Segalanya didominasi warna abu-abu, hitam, dan putih. Dingin, minimalis, dan tanpa nyawa.
Zoya melangkah menuju dapur. Ia mendapati sisa sarapan buatannya kemarin masih berada di posisi yang sama, hanya saja nasi goreng itu sudah mengeras. Arvin benar-benar hanya memakan tiga sendok.
"Sabar, Zoya. Langkah kecil tetaplah sebuah langkah," bisiknya pada diri sendiri sambil membereskan piring-piring kotor.
Ia memutuskan untuk tidak menyerah. Pagi ini, ia menyiapkan menu yang berbeda, bubur ayam lembut dengan taburan emping dan seledri yang ditata cantik. Ia juga membuat segelas jus jeruk segar untuk menetralisir aroma kopi hitam yang menjadi kesukaan suaminya.
Pukul 07.15, derap langkah sepatu pantofel terdengar menuruni tangga melingkar. Arvin muncul dengan setelan jas charcoal yang sangat pas di tubuh tegapnya. Wajahnya tampak segar setelah mandi, namun rautnya langsung berubah datar saat melihat Zoya sedang mengelap meja makan.
Zoya hari ini mengenakan gamis berwarna nude dengan cadar senada. Penampilannya sangat kontras dengan desain interior rumah yang futuristik.
"Tuan Arvin, sarapan sudah siap," sapa Zoya lembut, tangannya masih memegang kain lap.
Arvin menghentikan langkahnya tepat di depan meja makan. Ia menatap piring berisi bubur itu, lalu beralih menatap Zoya dengan tatapan tajam yang mengintimidasi.
"Sudah kubilang kemarin, jangan merepotkan dirimu sendiri," suara Arvin terdengar berat di keheningan pagi. "Aku punya asisten yang bisa memesankan makanan dari restoran bintang lima kapan pun aku mau. Aku tidak butuh masakan rumah yang... seperti ini."
Zoya menunduk sedikit, namun ia tetap berdiri tegak. "Masakan rumah lebih sehat, Tuan. Dan ini adalah bentuk pengabdian saya. Saya tidak merasa direpotkan."
Arvin mendengus sinis. Ia menarik kursi, namun alih-alih duduk, ia hanya mengambil gelas jus jeruk itu dan meminumnya sedikit.
"Dengar, Zoya. Di rumah ini ada aturan tambahan yang lupa kusampaikan semalam. Jangan pernah memindahkan satu pun benda di ruang kerjaku atau di lantai atas. Dan jangan pernah menyentuh koleksi jam tanganku di lemari kaca."
"Saya mengerti," jawab Zoya singkat.
"Satu lagi," Arvin melirik tas kuliah Zoya yang tergeletak di kursi pojok. "Kau kuliah jam berapa?"
"Pukul sembilan, Tuan."
"Pergilah dengan taksi online. Jangan pernah meminta sopir kantorku untuk menjemputmu kecuali aku yang memerintahkannya. Aku tidak ingin orang-orang di kantor bertanya-tanya siapa wanita yang sering berada di mobilku."
Kata-kata itu seperti duri kecil yang menusuk hati Zoya. Arvin tidak hanya menolaknya secara emosional, tapi juga mencoba menghapus keberadaannya secara sosial. Baginya, Zoya adalah rahasia yang memalukan untuk diungkapkan.
"Baik, Tuan. Saya mengerti posisi saya," ucap Zoya pelan.
Arvin tidak menjawab lagi. Ia meletakkan gelas jus itu kembali ke meja, masih tersisa separuh lalu melangkah pergi meninggalkan aroma parfum wood and musk yang maskulin namun terasa dingin bagi Zoya.
Setelah Arvin pergi, rumah itu kembali sunyi. Zoya segera bersiap menuju kampus. Sebagai mahasiswi semester akhir, ia memiliki banyak tanggung jawab akademik.
Namun, fokusnya hari ini sedikit terbelah. Pikirannya terus tertuju pada bagaimana ia akan menghabiskan waktu di rumah itu tanpa merasa seperti orang asing.
Di kampus, Zoya mencoba bersikap normal. Namun, sahabatnya, Kiara, langsung menyadari ada yang berbeda.
"Zoya! Kok mata kamu sembab gitu? Kamu habis nangis?" tanya Kiara saat mereka duduk di kantin.
Zoya menggeleng pelan di balik cadarnya. "Hanya kurang tidur, Kiara. Kan tahu sendiri, baru pindah rumah pasti capek beres-beres."
"Eh, gimana suami kamu? Ganteng banget kan si Arvin Dewangga itu? Aku masih nggak nyangka kamu nikah sama konglomerat muda paling diincar se-Jakarta," Kiara mulai heboh sendiri.
Zoya hanya tersenyum pahit yang tentu saja tidak terlihat oleh Kiara. "Dia... orang yang sangat disiplin. Sangat fokus pada pekerjaannya."
'Dan sangat membenciku,' tambah Zoya dalam hati.
~~
Sore harinya, Zoya pulang lebih awal. Ia menyempatkan diri mampir ke supermarket untuk membeli beberapa perlengkapan dapur dan bahan makanan.
Ia berniat membuat makan malam yang lebih spesial. Namun, saat ia melangkah masuk ke penthouse, ia dikejutkan oleh pemandangan yang tidak menyenangkan.
Seorang wanita cantik dengan pakaian yang sangat modis, rok mini dipadukan dengan blazer mahal sedang duduk di ruang tamu. Rambutnya dicat kecokelatan dan ia sedang menyesap wine sambil melihat-lihat majalah.
Zoya tertegun di pintu masuk dengan kantong belanjaan di tangan.
Wanita itu menoleh. Matanya memicing saat melihat Zoya dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Oh, jadi kamu... orang yang dibawa Papanya Arvin ke rumah ini?"
Zoya meletakkan belanjanya. "Maaf, Anda siapa?"
Wanita itu berdiri, melangkah mendekati Zoya dengan aroma parfum yang menyengat. "Aku Valerie. Sahabat dekat Arvin. Atau lebih tepatnya, orang yang seharusnya ada di posisimu kalau saja orang tua Arvin tidak kuno."
Valerie menatap cadar Zoya dengan pandangan merendahkan. "Arvin sudah cerita padaku soal pernikahan konyol ini. Dia bilang kamu hanya pajangan untuk menenangkan hati orang tuanya. Kasihan sekali ya, harus memakai penutup muka sepanjang hari hanya untuk menarik perhatian pria yang bahkan tidak mau menatap matamu."
Zoya merasakan darahnya berdesir. Ini adalah serangan pertama dari dunia Arvin. Namun, ia tidak membalas dengan kemarahan. Ia justru menatap Valerie dengan tenang.
"Tuan Arvin tidak menceritakan soal kedatangan tamu hari ini. Jika Anda ingin menunggunya, silakan. Tapi mohon maaf, saya harus ke dapur untuk menyiapkan makan malam suami saya," ucap Zoya dengan penekanan pada kata 'suami'.
Valerie mendengus kesal. "Suami? Kita lihat saja sampai kapan kamu bisa bertahan dengan sebutan itu, Zoya."
Malam semakin larut saat Arvin akhirnya pulang. Ia tampak sangat lelah. Saat melihat Valerie di ruang tamunya, Arvin sedikit terkejut namun tidak tampak keberatan.
"Val, kenapa belum pulang?" tanya Arvin sambil melepas jam tangannya.
"Nungguin kamu, Vin. Tadi istri shaliha mu itu nyuruh aku nunggu di sini sambil pamer kalau dia lagi masak buat kamu," adu Valerie dengan nada manja yang dibuat-buat.
Arvin melirik ke arah dapur, di mana Zoya sedang menata makanan di meja. Ia menghela napas panjang. "Val, pulanglah. Aku sedang lelah sekali."
Setelah mengantar Valerie ke pintu, Arvin berjalan menuju meja makan. Zoya sudah menyiapkan sup iga hangat yang aromanya memenuhi seluruh ruangan.
"Siapa yang mengizinkan wanita itu masuk?" tanya Arvin tanpa basa-basi.
"Dia sudah ada di sini saat saya pulang, Tuan. Dia bilang dia sahabatmu," jawab Zoya tenang.
Arvin duduk, namun ia tidak menyentuh supnya. Ia menatap Zoya yang berdiri tak jauh dari sana. "Besok, jangan biarkan siapa pun masuk tanpa seizinku. Termasuk dia. Aku tidak suka urusan rumah tanggaku dicampuri orang luar."
"Saya mengerti, Tuan Arvin. Tapi, bukankah Anda sendiri yang bilang kalau kita punya dunia masing-masing?" balas Zoya sedikit berani.
Arvin terdiam. Ia merasa tertohok dengan ucapan Zoya. Selama ini, ia terbiasa mendominasi pembicaraan, namun wanita di balik cadar ini punya cara bicara yang tenang namun menusuk.
"Makanlah supnya, Tuan. Ini masih hangat. Saya akan kembali ke kamar," ucap Zoya.
Saat Zoya berbalik, Arvin melihat pergelangan tangan Zoya yang sedikit merah. Rupanya, Zoya sempat terkena uap panas saat memasak tadi, namun ia tidak mengeluh.
Arvin memegang sendoknya. Ia menatap punggung Zoya yang menghilang di balik pintu kamar bawah. Ada perasaan aneh yang mulai merayap di hatinya, sesuatu yang ia sebut sebagai gangguan, namun sebenarnya adalah rasa bersalah yang ia sangkal.
Ia mencicipi sup itu. Hangat dan menenangkan. Di tengah kesendiriannya di rumah megah yang ia banggakan, rasa masakan Zoya adalah satu-satunya hal yang terasa nyata.
Namun, keangkuhan Arvin masih terlalu tinggi. Ia menghabiskan supnya, tapi setelah itu, ia sengaja meninggalkan mangkuknya di meja tanpa mencucinya, seolah ingin menegaskan kembali posisi Zoya sebagai orang yang melayaninya.
...----------------...
To Be Continue .....