NovelToon NovelToon
Dunia Terlalu Kejam Untuk Aku Yang Sendirian

Dunia Terlalu Kejam Untuk Aku Yang Sendirian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kehidupan di Kantor / Penyesalan Suami
Popularitas:439
Nilai: 5
Nama Author: Agnura

karya ini aku buat atas pemikiran aku sendiri,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agnura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SETELAH PENCULIKAN KEY MASUK RUMAH SAKIT

Malam itu jalanan tampak lengang, hanya sesekali kendaraan melintas tanpa benar-benar memperhatikan sekitar. Di bawah lampu jalan yang redup, tubuh Key tergeletak tak berdaya. Pakaiannya kotor, wajahnya penuh luka, dan napasnya terdengar berat, hampir tak terdengar. Jika tidak diperhatikan dengan saksama, mungkin orang-orang akan mengira ia hanya seseorang yang kelelahan… padahal kenyataannya jauh lebih mengerikan.

Beberapa orang yang melintas mulai menyadari kejanggalan itu. Seorang pria yang sedang berjalan kaki menghentikan langkahnya, menatap tubuh Key dengan raut khawatir.

“Mbak...mbak..bisa dengar saya?” tanyanya sambil mengguncang bahu Key perlahan.

Tidak ada respons.

Seorang wanita yang kebetulan lewat juga ikut mendekat. “Ya Tuhan… ini kenapa?”

Mereka saling berpandangan, panik mulai terlihat.

“Cepat panggil ambulans!” seru pria itu.

Tak butuh waktu lama, salah satu dari mereka langsung menghubungi layanan darurat. Sementara itu, beberapa orang lain mulai berkumpul, mencoba membantu semampu mereka. Ada yang menahan kepala Key agar tidak terbentur, ada yang mencoba memastikan napasnya masih ada.

“Dia masih hidup… tapi lemah banget,” gumam seseorang.

Suara sirene akhirnya terdengar dari kejauhan. Lampu merah berkedip-kedip memecah gelapnya malam, memberi sedikit harapan di tengah situasi yang mencekam. Ambulans berhenti, dan petugas medis segera turun dengan sigap.

“Mohon minggir, beri ruang!” ujar salah satu petugas.

Mereka dengan cepat memeriksa kondisi Key—denyut nadi, pernapasan, serta luka-luka yang terlihat cukup parah. Tanpa membuang waktu, tubuh Key diangkat ke atas tandu dan dimasukkan ke dalam ambulans.

Di dalam ambulans, alat-alat medis mulai bekerja. Oksigen dipasang, luka-luka dibersihkan seadanya untuk mencegah pendarahan lebih lanjut.

“Tekanan darahnya rendah,” kata salah satu petugas dengan nada serius.

“Cepat, kita harus segera sampai ke rumah sakit,” jawab yang lain.

Sirene kembali meraung, ambulans melaju cepat membelah jalanan malam.

Beberapa waktu kemudian, pintu Unit Gawat Darurat terbuka lebar. Para perawat dan dokter sudah bersiap menyambut.

“Pasien trauma, kondisi lemah!” teriak petugas ambulans saat mendorong tandu masuk.

Key langsung dibawa ke dalam ruang penanganan. Lampu terang menyilaukan matanya yang hampir tak sadarkan diri. Suara-suara terdengar samar—perintah dokter, bunyi alat medis, langkah kaki yang tergesa.

“Segera lakukan penanganan luka dan cek kondisi internalnya,” perintah dokter.

Waktu berjalan cepat. Penanganan dilakukan secepat mungkin untuk menyelamatkan nyawanya.

Sementara itu, kabar tentang Key akhirnya sampai ke telinga Lia.

Ponselnya berdering saat ia sedang berada di rumah. Begitu mendengar kabar bahwa sahabatnya masuk rumah sakit dalam kondisi parah, wajahnya langsung pucat.

“Apa? Key di rumah sakit?” suaranya bergetar. “Di mana?”

Tanpa menunggu lama, Lia langsung bergegas. Ia bahkan tidak sempat memikirkan apa pun selain satu hal—Key.

Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi kecemasan. Bayangan tentang Key yang terluka membuat dadanya sesak.

“Bertahan ya… aku datang…” bisiknya lirih.

Sesampainya di rumah sakit, Lia berlari menuju meja informasi.

“Permisi! Pasien atas nama Key… di mana?” tanyanya dengan napas terengah.

Perawat menunjuk ke arah ruang perawatan. “Masih dalam penanganan, tapi sudah stabil. Silakan tunggu di sana.”

Lia mengangguk cepat dan segera menuju tempat yang dimaksud. Langkahnya terasa berat, hatinya dipenuhi rasa takut.

Beberapa saat kemudian, ia akhirnya diizinkan masuk.

Di atas ranjang rumah sakit, Key terbaring dengan tubuh penuh perban. Wajahnya pucat, beberapa alat medis terpasang di tubuhnya. Pemandangan itu membuat hati Lia seolah diremas.

“Key…” panggilnya pelan.

Ia mendekat, duduk di samping ranjang, menggenggam tangan sahabatnya dengan hati-hati.

“Kenapa kamu jadi begini…” suaranya bergetar, air mata mulai mengalir tanpa bisa ditahan.

Key tidak menjawab. Ia masih belum sepenuhnya sadar.

Lia menunduk, menggenggam tangan itu lebih erat. “Aku di sini… kamu nggak sendirian…”

Air mata terus jatuh. Rasa sedih, marah, dan khawatir bercampur menjadi satu.

Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tidak tahu siapa yang melakukan ini. Tapi satu hal yang ia tahu—ia tidak akan meninggalkan Key sendirian.

“Cepat sembuh… aku butuh kamu baik-baik saja…” bisiknya.

Di ruangan itu, di bawah cahaya lampu rumah sakit yang dingin, Lia tetap setia duduk di samping Key. Menunggu, berharap, dan berdoa… agar sahabatnya bisa melewati semua ini.

Dan untuk pertama kalinya, sejak malam yang penuh penderitaan itu—

Key tidak lagi sendirian.

1
EvhaLynn
Saya Sangat Menyukai Cerita Novel Mu, Semangat Ya Berkarya.
😉🤍
Agnura Lestari 🍑
siap say otw
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!