Lima mahasiswa KKN terjebak di Desa Larangan, desa gaib yang tidak ada di Google Maps.
Hari ketiga, Rani hilang dari kamar terkunci. Di kasurnya hanya ada selendang merah dan tanah kuburan. Kepala desa cuma bilang: "Tumbal pertama sudah diambil."
Setiap jam 01.00, gamelan dari hutan memanggil nama mereka. Sosok wanita berkebaya merah menatap dari sumur tua belakang balai desa.
Ternyata 7 tahun lalu ada mahasiswi KKN dibunuh dan dibuang ke sumur itu. Arwahnya menuntut 5 nyawa.
Mereka harus temukan tulang mahasiswi itu sebelum purnama, atau jadi penghuni tetap desa. Masalahnya, satu orang harus jadi tumbal sukarela untuk turun ke sumur.
Akankah mereka pulang selamat? Atau pulang tinggal nama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 TAMAT : PULANG BAWA NAMA
"Di Jakarta lu ga punya siapa-siapa."
"Justru itu," jawab gue. "Utang kata tinggal 1.132 kata. Harus fokus. Di Solo kebanyakan jagung bakar, susah konsen."
Fajar nyodorin amplop coklat. Ada logo Polri. "Titipan dari Kapolres, Min. Surat rekomendasi. Katanya kalo lu mau nulis novel polisi biar akurat, hubungin gue. Gratis konsultasi nembak."
Rendi ngasih stiker gede. Gambar asu ireng pake helm proyek. "Tempel di laptop lu. 'Bengkel Asu Kober Cabang Jakarta'. Biar kalo laptop rusak, gue kirim teknisi. Sekalian promosi."
Dina sama Sari ngasih rantang susun isi 4. Berat. "Bekel, Min. Jangan jajan mulu. Anak kos di Jakarta sering tipes. Ini ada oseng tempe, telor dadar, sambel, sama kerupuk. Cukup buat 3 hari."
Gue ketawa nahan haru. Dulu berangkat KKN 1988 dibekelin jimat sama doa Kuncen. Sekarang berangkat kejar 50k kata dibekelin rantang sama stiker bengkel.
"Min," Sari tiba-tiba narik lengan gue. Mukanya serius banget. "Janji satu hal ya. Apapun yg lu tulis di Jakarta... jangan bikin kami mati lagi di cerita. Capek, Min. Utang nyawa udah lunas."
Gue salim sama mereka satu-satu. Tangan Dina dingin. Tangan Bayu hangat. Tangan Fajar kapalan. Tangan Rendi bau oli. Tangan Sari wangi jamu.
"Janji," kata gue. "Kalian udah lunas. Udah jadi bapak-bapak rebutan cabai. Ga ada lagi yg mati. Sekarang giliran gue yg lunasin utang... kata."
Bus AKAP ngebul item. Kenek teriak kenceng: "WONOGIRI-JAKARTA! YG KE JAKARTA CEPET NAIK! TIKET HABIS!"
Gue naik tangga bus. Duduk di bangku 7D, pinggir jendela. Dari kaca, gue liat mereka berlima masih dadah-dadah.
Rendi teriak: "Min! Jangan lupa kirim pulsa!"
Bayu teriak: "Update kata tiap hari!"
Fajar hormat gaya tentara: "Selamat bertugas, Penulis!"
Dina sama Sari cuma senyum. Mata Sari berkaca-kaca.
Bus jalan. Terminal Tirtonadi makin kecil. Pasar Gede kelewat. Polsek tempat Fajar ngatur parkir kelewat. Bank tempat Bayu jadi kepala cabang kelewat. Bengkel Asu Kober kelewat.
Semua ketinggalan. Tapi ga kerasa kehilangan. Karena udah lunas. Udah selesai. Udah ikhlas.
Gue buka laptop di pangkuan. Baterai 80%. Buka file Noveltoon.
*Judul:* `KKN Desa Larangan: Kami Pulang Tinggal Nama`
*Total kata saat ini:* 33.393
*Target kontrak:* 50.000
Kurang 16.607 kata lagi. $50.
Gue mulai ngetik, ngetes keyboard.
_BAB 35 - JAKARTA: UTANG KATA_
_Di kos sempit Tebet ukuran 3x4, seorang mantan anak KKN nyicil nulis di meja triplek. Di luar ada suara klakson mobil, bukan suara gamelan. Di leher ga ada lonceng penutup, adanya headset butut. Di meja ga ada sesajen, adanya mie Indomie rebus sama kopi sachet..._
Gue hapus lagi. Belum sreg.
Bus ngebut di jalan tol. Sawah ngebentang. Langit biru. Terang benderang.
Ga ada mendung. Ga ada purnama. Ga ada suara "ting" dari lonceng. Ga ada bau kemenyan.
Cuma ada suara mesin diesel, bau keringet kenek, sama lagu dangdut dari speaker bus.
Normal. Berisik. Hidup.
Gue ngeluarin rantang. Buka tutup pertama. Bau oseng tempe Dina langsung nyebar. Penumpang sebelah ngiler.
"Mbak, bagi dong," kata bapak-bapak di sebelah.
Gue bagi kerupuk satu. "Silakan, Pak. Bekel dari Solo."
Sambil ngunyah, gue natap ke luar jendela. Ngelamun.
18 tahun lalu gue ke Desa Larangan bawa nyawa. Pulangnya... tinggal nama. Nama temen-temen yg selamat.
Sekarang gue ke Jakarta bawa nama. Nama mereka. Cerita mereka. Beban mereka. Tawa mereka.
Di dompet ada KTP, SIM, kartu perpus, sama foto KKM 1988 yg dikasih Bayu. Foto lusuh. Kami berlima + Sari + 3 anak. Di belakang ada tulisan spidol: "NASABAH PRIORITAS PERTAMA SAYA."
Di tas ada stiker "Bengkel Asu Kober". Di tangan ada amplop rekomendasi dari Kapolres.
Gue ga sendirian.
Kenek lewat. "Mas, tiketnya?"
Gue kasih tiket. Kenek liat rantang gue. "Wah, bekal dari rumah ya, Mas? Mantap. Ibu saya juga kalo saya merantau dibawain gini."
Gue senyum. "Iya, Pak. Ibu-ibu..."
Bus ngelewatin hutan jati. Bentar doang. Sekilas, di bawah pohon jati paling gede, gue ngeliat kayak ada asu item lagi duduk. Diam. Matanya nyala bentar. Terus dia angguk ke gue. Pelan.
Terus ilang ketutup pohon.
Gue kaget. Jantung deg. Tapi terus... gue senyum.
"Jagain jalan ya, Kober," bisik gue pelan.
Bapak sebelah nengok. "Mas ngomong sama siapa?"
"Eh, nggak Pak. Doa aja biar selamat."
Gue tutup laptop. Narik napas panjang.
Utang nyawa lunas. Utang BRI lunas. Utang cerita horor... lunas.
Tinggal satu utang lagi. Utang kata. 16.607 kata.
Dulu kami pulang tinggal nama.
Sekarang... gue pulang bawa nama.
Nama Fajar si Kapolsek humanis.
Nama Bayu si Kepala Cabang termuda.
Nama Rendi si raja bengkel.
Nama Dina si pelukis sejarah.
Nama Sari si penjaga lonceng.
Nama Asu Kober... si satpam desa.
Dan utang kata... sebentar lagi lunas juga.
Bus masuk tol. Jakarta udah keliatan dari jauh. Gedung-gedung tinggi. Bukan segoro. Bukan demit.
Cuma ada... hidup yg harus dilanjutin.
TAMAT.