Dara Kirana terpaksa meninggalkan gemerlap kota untuk menetap di kaki Gunung Marapi yang selalu diselimuti kabut misterius, namun kepindahannya justru menyeretnya ke tengah pusaran rahasia kuno yang mematikan. Saat nyawanya terancam oleh insiden tak wajar di tengah hutan hujan yang lebat, sesosok pemuda dingin dan tertutup bernama Indra Bagaskara muncul menyelamatkannya dengan kekuatan yang melampaui logika manusia. Di tengah aroma tanah basah dan desas-desus tentang legenda manusia harimau yang mulai menjadi nyata, Dara menyadari bahwa ketertarikannya pada Indra bukan sekadar romansa biasa, melainkan awal dari kebangkitan darah "Pawang" dalam dirinya yang ditakdirkan untuk menjinakkan sang penguasa rimba sebelum sisi binatangnya mengambil alih kesadaran manusianya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Dinginnya Kematian dan Bara Keterasingan
Waktu di dalam perpustakaan tua itu seolah berhenti berdetak. Debu-debu yang melayang di udara tampak membeku di bawah pilar-pilar cahaya matahari pagi yang menembus jendela nako.
Dara Kirana tidak bisa bernapas. Paru-parunya seakan diisi oleh serpihan es tajam.
Tangan yang menahan punggung tangannya terasa tidak seperti kulit manusia. Sentuhan pria bernama Willem itu memancarkan suhu beku yang absolut, sedingin mayat yang baru saja ditarik dari bawah danau beku pada puncak musim dingin. Bau yang menguar dari tubuh pria itu bukanlah aroma keringat atau parfum, melainkan aroma logam berkarat, tanah basah dari liang lahat, dan amis darah yang sudah mengering selama berabad-abad.
"Dua ratus tahun," ulang Willem dengan suara berat yang memiliki aksen Belanda kental, berbisik seperti angin musim dingin yang menusuk tulang. Matanya yang sehitam jelaga menatap lurus ke kedalaman pupil Dara. Tidak ada setitik pun cahaya yang dipantulkan dari sepasang mata itu; ia adalah jurang tanpa dasar. "Aku menghabiskan dua abad tertidur di bawah tanah vulkanik yang mencekik, dikunci oleh leluhurmu yang sombong. Dan kini... alam semesta berbaik hati mengembalikan kunci itu tepat ke hadapanku."
Dara mencoba menarik tangannya, namun cengkeraman Willem, meski terlihat pelan dan santai, terasa seperti belenggu baja yang tak bisa digoyahkan. Rasa sakit mulai menjalar dari pergelangan tangan Dara hingga ke sikunya.
"L-lepaskan aku," suara Dara bergetar hebat. Ia berusaha mengumpulkan kembali otoritas dan energi Pawang yang semalam berhasil memukul mundur Bumi dan Indra. Namun, segel di telapak tangannya justru terasa kebas. Hawa dingin dari tubuh Willem entah bagaimana membekukan aliran energi spiritual di dalam darah Dara.
Pria itu menyadari perlawanan sia-sia Dara dan justru tersenyum semakin lebar. Senyum yang membuat darah Dara berdesir ngeri. Taring putih yang menyembul dari balik bibir pucat Willem tampak terlalu tajam, terlalu siap untuk merobek urat nadinya.
"Energi yang luar biasa murni," gumam Willem, menundukkan wajahnya, mendekatkan hidung mancungnya ke arah pergelangan tangan Dara, mengendus urat nadi gadis itu layaknya seorang penikmat anggur (sommelier) yang sedang menghirup aroma anggur (wine) paling langka di dunia. "Aroma Nyai Ratih mengalir deras di dalam nadimu, Nona Kecil. Darah Penengah... darah yang mampu menundukkan binatang buas, sekaligus satu-satunya cairan yang bisa membuat kaumku berjalan di bawah teriknya matahari tropis ini tanpa terbakar."
Dara membelalak. Kaumku. Ingatan tentang cerita horor, mitos-mitos kuno, dan film-film yang pernah ia tonton di Jakarta berkelebat di benaknya. Kulit pucat, dingin kematian, haus darah, terbakar oleh matahari. Pria di hadapannya ini... apakah dia perwujudan dari ketakutan umat manusia akan malam? Seorang vampir? Di tengah desa lereng gunung Sumatera?
Willem mengangkat wajahnya, menatap Dara dengan tatapan lapar yang tidak lagi disembunyikan. "Satu gigitan, Nona Kirana. Hanya butuh satu tegukan darimu untuk memutus sisa kutukan yang mengikatku di bayang-bayang."
Willem menarik tubuh Dara mendekat dengan kasar. Gadis itu memejamkan mata, bersiap menjerit memanggil tolong, meskipun ia tahu lorong sayap barat ini benar-benar kosong.
Namun, sebelum bibir pucat Willem sempat menyentuh leher Dara, sebuah anomali suhu yang sangat drastis menabrak udara di dalam perpustakaan.
KRAK! PRANG!
Kaca jendela nako di ujung lorong perpustakaan meledak berkeping-keping. Pecahan kacanya berserakan di atas lantai kayu, disusul oleh embusan angin panas yang luar biasa beringas, seolah seseorang baru saja melemparkan bom molotov ke dalam ruangan tersebut.
Suhu beku yang mencekik napas Dara seketika tersapu bersih, digantikan oleh hawa panas yang familiar—panas yang membakar, beraroma daun pinus kering dan amarah absolut.
Willem menghentikan gerakannya. Pria berjas kolonial itu tidak melepaskan tangan Dara, namun kepalanya menoleh dengan lambat ke arah pintu masuk perpustakaan yang kini terbuka lebar. Ekspresinya yang arogan berubah menjadi seringai muak.
Di ambang pintu, berdirilah Indra Bagaskara.
Pemuda itu terlihat jauh lebih berantakan daripada semalam. Seragam sekolahnya tidak dikancingkan, memperlihatkan kaus hitam di baliknya yang basah oleh keringat. Dadanya naik turun dengan cepat, mengembuskan kepulan uap panas. Namun yang paling mengerikan adalah tatapannya.
Mata cokelat keemasannya menyala dengan intensitas yang membutakan. Kuku-kuku di tangannya telah berubah memanjang menjadi cakar obsidian legam. Rambutnya berantakan, menutupi sebagian keningnya yang berkerut menahan murka.
"Lepaskan tangan busukmu dari kulitnya, Lintah Belanda," geram Indra. Suaranya tidak terdengar seperti manusia. Itu adalah raungan rendah dari tenggorokan seekor binatang buas yang sedang mengklaim wilayahnya.
Willem terkekeh pelan, tawa yang terdengar kering seperti gesekan daun mati. "Ah... Sang Harimau Putih. Pewaris klan Bagaskara. Kulihat darah binatang di dalam tubuhmu semakin liar, anak muda. Apakah kau sudah tidak mampu lagi menyembunyikan ekormu di balik seragam sekolah itu?"
"Kuperingatkan kau satu kali saja," Indra melangkah masuk ke dalam perpustakaan. Setiap langkah yang diambilnya meninggalkan jejak uap panas di lantai kayu. "Tempat ini adalah wilayah netral yang dilindungi oleh Perjanjian Matahari. Kau melanggar pantangan dengan memunculkan wajah mayatmu di siang hari. Lepaskan dia, atau aku akan merobek jantungmu dan menjemurnya di tengah lapangan."
Alih-alih takut, Willem justru mempertahankan senyum sinisnya. Ia menarik Dara selangkah ke belakang, masuk lebih dalam ke area bayang-bayang di antara rak buku, menghindari seberkas cahaya matahari yang menembus dari jendela yang pecah.
Dara menyadari sesuatu pada saat itu. Willem tidak berani menyentuh cahaya matahari. Setelan jasnya berasap tipis saat ujung sepatunya nyaris tersorot cahaya. Itulah sebabnya ia mencegat Dara di sudut perpustakaan yang paling gelap. Pria ini belum memiliki kekuatan penuh untuk berjalan di siang hari. Ia masih lemah. Ia hanya bayangan yang mencoba mencuri darah Dara.
"Perjanjian Matahari dibuat saat kaumku masih tersegel di dasar kawah, Kucing Kecil," balas Willem dingin. "Perjanjian itu sudah usang. Tapi kau benar... matahari kalian masih terlalu menyengat untuk seleraku. Untuk hari ini, aku akan mengalah."
Willem melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tangan Dara dengan sentakan kasar, membuat gadis itu terhuyung ke depan dan jatuh berlutut di atas lantai.
Mata hitam jelaga Willem menatap lurus ke arah Indra. "Jaga Pawangmu baik-baik, Bagaskara. Karena setelah matahari terbenam... Marapi tidak akan lagi menjadi milik kalian."
Setelah membisikkan ancaman tersebut, tubuh Willem perlahan-lahan memudar. Ia tidak berlari, ia tidak melompat. Ia seolah terserap ke dalam bayang-bayang rak buku yang gelap, melebur bersama ketiadaan, meninggalkan aroma amis darah yang perlahan disapu oleh udara panas Indra.
Dara masih berlutut di lantai, memegangi pergelangan tangannya yang terasa beku dan sakit. Napasnya memburu, otaknya menolak mencerna bahwa ia baru saja berhadapan dengan makhluk abadi penghisap darah dari era kolonial.
TAP. TAP.
Langkah kaki Indra mendekat. Hawa panas dari tubuh pemuda itu menyapu tubuh Dara, mengusir rasa gigil yang ditinggalkan oleh Willem.
Namun, bukannya rasa aman yang dirasakan Dara, melainkan teror baru.
Indra berdiri menjulang di atasnya. Saat Dara mendongak, ia tidak melihat pahlawan yang datang menyelamatkannya. Ia melihat pemangsa lain yang sedang marah besar.
Tiba-tiba, Indra membungkuk dan mencengkeram lengan atas Dara dengan sangat kuat, menarik gadis itu berdiri secara paksa. Dara mengaduh kesakitan saat punggungnya dihempaskan—tidak terlalu keras, namun cukup untuk mengintimidasi—ke arah deretan rak buku di belakangnya.
Kedua tangan Indra membanting keras pada rak buku di sisi kiri dan kanan kepala Dara, mengurung gadis itu sepenuhnya. Serpihan debu berjatuhan dari buku-buku tua di atas mereka.
Dara menahan napas. Jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Aroma kayu pinus yang terbakar menusuk hidungnya. Suhu tubuh Indra begitu panas hingga Dara merasa seperti sedang berdiri di depan oven yang terbuka.
Mata keemasan Indra menyala terang, memancarkan amarah, frustrasi, dan sesuatu yang lebih dalam—sebuah penderitaan yang tak tertahankan.
"Apa kau sudah gila?!" bentak Indra, suaranya berupa geraman tertahan yang menggetarkan tulang dada Dara. "Apa kau tidak punya insting bertahan hidup sama sekali?! Berjalan sendirian di sayap kosong, di gedung tua peninggalan Belanda, di saat aroma darahmu menyebar ke seluruh lembah layaknya suar pembawa pesan?!"
"Aku... aku hanya ingin mencari buku sejarah," jawab Dara terbata-bata, mencoba mendorong dada Indra. Namun dada pemuda itu sekeras batu karang dan memancarkan panas yang membuat telapak tangan Dara memerah. "Lepaskan aku, Indra. Kau menyakitiku."
Indra tidak bergeser satu sentimeter pun. Urat-urat di pelipisnya menonjol tajam. "Mencari sejarah? Kau pikir buku-buku lapuk ini bisa menyelamatkanmu? Kau baru saja berhadapan dengan Opsir Darah! Kutu busuk abadi yang akan menancapkan taringnya ke lehermu dan meminummu sampai kering agar ia bisa berjalan di siang hari!"
"Aku tidak tahu kalau dia ada di sini!" balas Dara, suaranya mulai meninggi, didorong oleh keputusasaan dan adrenalin. "Aku bahkan tidak tahu apa itu Opsir Darah sampai detik ini! Kalian semua merahasiakan segalanya dariku! Kakekku pergi ke hutan, sahabat baruku menyuruhku menjauh darimu, dan kau... kau terus menatapku seolah aku adalah makanan yang sedang kau tahan untuk tidak kau kunyah!"
Kata-kata Dara menghantam Indra seperti palu godam. Rahang pemuda itu mengeras sedemikian rupa hingga terdengar bunyi gemeletuk tulang.
Indra menundukkan wajahnya, mendekatkan hidungnya ke ceruk leher Dara. Dara memejamkan mata erat-erat, jantungnya berdebar liar, bersiap menerima gigitan mematikan. Namun, yang dilakukan Indra hanyalah menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma murni dari tubuh gadis itu dengan keputusasaan seorang pecandu.
Dara bisa merasakan embusan napas Indra yang panas menerpa kulit lehernya. Saat pemuda itu menghela napas panjang, suhu tubuhnya secara ajaib menurun sedikit, dan otot-otot di lengannya yang menegang perlahan mengendur. Energi Pawang yang menguar dari pori-pori Dara bertindak seperti anestesi bagi gejolak Nafsu Rimba di dalam darah Cindaku tersebut.
Namun, jeda kedamaian itu hanya berlangsung dua detik.
Indra tersentak mundur seolah baru saja disengat aliran listrik. Pemuda itu menjauhkan dirinya dari Dara, mundur tiga langkah dengan napas tersengal. Tangannya mengusap wajahnya sendiri dengan kasar, berusaha setengah mati mengembalikan akal sehat manusianya yang nyaris tergelincir oleh insting buasnya.
"Pergi," kata Indra parau. Ia menolak menatap mata Dara, membuang pandangannya ke arah jendela yang pecah.
"Apa?"
"Kemas barang-barangmu, dan kembali ke Jakarta malam ini juga," perintah Indra dingin. Namun kali ini, tidak ada nada ancaman dalam suaranya. Yang ada hanyalah keputusasaan yang absolut.
Dara menatap pemuda itu. Untuk pertama kalinya sejak ia tiba di Lembah Marapi, Dara melihat melampaui monster Harimau Putih yang menakutkan, dan melihat sosok pemuda berusia delapan belas tahun yang sedang hancur di bawah beban kutukannya sendiri.
Mata keemasan Indra meredup, menyisakan sorot kelelahan yang luar biasa. Kantung mata yang menggelap, bibir yang pucat, dan tubuh yang terus-menerus memancarkan uap—Indra sedang terbakar dari dalam. Menahan Nafsu Rimba sambil sekaligus menahan hasrat untuk mendekati Dara adalah siksaan neraka baginya.
"Aku tidak bisa pergi, Indra," suara Dara melembut. Amarahnya memudar, digantikan oleh simpati yang terasa asing sekaligus tepat. "Kedua orang tuaku meninggal dalam kecelakaan pesawat itu. Aku tidak punya rumah lagi di Jakarta. Tidak ada keluarga yang tersisa selain Kakek Danu."
Indra mematung. Informasi itu jelas baru baginya. Pemuda itu menoleh perlahan, menatap Dara dengan pandangan kosong. Keterkejutan terlihat jelas di balik matanya yang memudar keemasannya.
"Kau... yatim piatu?" bisik Indra, lebih pada dirinya sendiri.
Dara mengangguk pelan, air mata menetes hangat di pipinya. "Dunia di luar sana sudah menolakku, Indra. Ibuku menghabiskan seumur hidupnya melarikan diri dari takdir ini, dan pada akhirnya, alam semesta memaksaku kembali ke sini dengan cara yang paling kejam. Aku tidak bisa lari lagi. Aku tidak punya tempat untuk lari."
Keheningan yang memilukan turun menyelimuti perpustakaan tua tersebut. Serpihan debu kembali melayang tenang dalam sorotan matahari.
Indra menatap gadis rapuh di hadapannya. Gadis yang menjadi kunci dari segala kewarasan dan kegilaannya. Jika Dara tetap berada di desa ini, nyawa gadis itu akan terus diincar oleh kaum Ajag, oleh klan Cindaku lainnya yang mulai lapar, dan yang paling mematikan... oleh gerombolan Opsir Darah yang dipimpin oleh Willem.
Namun, ironisnya, sebagian dari jiwa harimau di dalam diri Indra bersorak mendengar bahwa Dara tidak memiliki tempat lain untuk pergi. Monster egois di dalam dadanya meraung menuntut agar ia menyimpan gadis ini untuk dirinya sendiri, menyembunyikannya di dalam hutan terdalam agar tidak ada satu makhluk pun yang bisa menyentuhnya.
"Kau tidak mengerti, Dara," suara Indra berubah menjadi bisikan yang sangat pelan, sangat rapuh, membuat dada Dara ikut terasa nyeri mendengarnya. "Kalau kau tetap di sini... kalau aromamu terus mengundang mereka... aku tidak akan bisa melindungimu setiap saat. Dan yang lebih buruk..."
Indra mengangkat tangan kanannya. Kuku-kukunya memanjang kembali menjadi cakar obsidian di luar kendalinya, bergetar hebat.
"Bulan baru tinggal tiga hari lagi," lanjut Indra, matanya memancarkan horor pada dirinya sendiri. "Puncak dari Nafsu Rimba akan mematikan seluruh sisi kemanusiaanku. Aku tidak akan lagi bisa mengenalimu sebagai manusia. Jika kau berada di desa ini saat malam tanpa bulan itu tiba... aku yang akan mencarimu. Aku yang akan menghancurkan pintu rumahmu, dan aku... aku yang akan menjadi monster yang mengakhiri hidupmu."
Pengakuan itu meluncur dengan penderitaan fisik yang nyata. Indra membenci dirinya sendiri. Ia membenci takdir yang menjadikannya mesin pembunuh, dan ia membenci fakta bahwa satu-satunya hal yang bisa menyembuhkannya adalah sesuatu yang berisiko ia hancurkan.
Dara terdiam. Ia menatap cakar hitam yang bergetar di tangan Indra, lalu menatap telapak tangannya sendiri yang dibalut perban elastis. Segel Pawang di balik perban itu berdenyut dengan ritme yang hangat, seolah memberikan respons afirmasi padanya.
Pawang Rimba bukanlah mangsa. Pawang Rimba adalah Penengah. Sang Penakluk.
Gadis yang dua hari lalu meringkuk ketakutan di bawah jendela kamarnya kini mengambil satu langkah ke depan. Ia tidak menjauhi cakar mematikan itu, melainkan melangkah mendekatinya.
"Aku tidak akan lari," ucap Dara, suaranya bulat, jernih, dan tidak bergetar sama sekali.
Indra menatapnya tak percaya. "Kau bodoh atau apa? Aku baru saja memberitahumu bahwa aku bisa membunuhmu!"
"Lalu cobalah untuk tidak membunuhku," tantang Dara, mengangkat dagunya, menatap langsung ke dalam mata emas yang sedang bergolak itu. "Kakek bilang kekuatanku adalah penawar. Semalam aku tidak sengaja mendinginkanmu saat kau sedang sekarat menahan panas. Jika kehadiranku bisa membuatmu menjadi gila, maka aku akan belajar bagaimana caranya membuatmu tetap waras. Karena jika monster-monster berdarah dingin dari masa lalu itu benar-benar mengincarku... kau dan aku tidak punya pilihan selain bekerja sama, Indra."
Mata Indra melebar. Angin berhembus melalui jendela yang pecah, mempermainkan rambut hitamnya. Keberanian gadis manusia di hadapannya ini benar-benar di luar nalar. Dara Kirana menatap kematian tepat di matanya dan menolak untuk berkedip.
"Kau sedang bermain api, Pawang," bisik Indra. Hawa panas dari tubuhnya perlahan menyusut, tunduk pada resonansi ketenangan yang dipancarkan oleh tekad baja Dara.
"Aku sudah kehilangan segalanya," balas Dara tenang. "Aku tidak takut terbakar."
Lonceng sekolah berbunyi nyaring dari kejauhan, memecah ketegangan magis di antara mereka. Waktu istirahat telah berakhir. Realitas dunia manusia memanggil mereka kembali dari perdebatan takdir.
Indra menutup matanya, mengambil napas panjang, dan cakar di tangannya menyusut kembali menjadi jari-jari pemuda normal. Ia menatap Dara untuk terakhir kalinya—sebuah tatapan panjang yang memuat seribu peringatan, perlindungan, dan pengakuan tanpa kata.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Indra memutar tubuhnya dan berjalan cepat keluar dari perpustakaan, meninggalkan Dara yang berdiri sendirian di tengah ruangan debu dan kepingan kaca.
Saat tubuh Dara akhirnya rileks, lututnya kehilangan kekuatan. Ia merosot duduk di lantai ubin dingin, menyandarkan punggungnya pada rak buku. Jantungnya baru menyadari bahwa ia telah memompa darah terlalu cepat.
Perang yang lebih besar dari sekadar pertikaian antara cakar harimau dan taring serigala kini telah mengintip dari balik tirai sejarah. Dan Dara Kirana, suka atau tidak, baru saja mengikatkan dirinya pada monster paling berbahaya di lembah ini untuk bertahan hidup.