NovelToon NovelToon
Benih Rahasia Sang Dokter

Benih Rahasia Sang Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Anak Genius / Dokter Genius
Popularitas:26k
Nilai: 5
Nama Author: lala_syalala

Ashela Safira, seorang gadis yang membanting tulang demi melunasi utang ayahnya, terpaksa merelakan kesucian yang ia jaga selama ini direnggut oleh pria asing.

Merasa harga dirinya telah hancur, ia memilih melarikan diri dan menghilang setelah malam panjang itu. Namun, di tengah pelariannya, Ashela justru mendapati dirinya hamil.

Sementara itu, Elvano Gavian Narendra, seorang dokter berhati dingin, terbangun dan mendapati gadis yang bersamanya telah pergi.

Rasa sesal seketika menghantamnya saat melihat bercak merah di atas ranjang, yaitu sebuah tanda bahwa ia telah menodai seorang gadis asing yang bahkan tidak ia ketahui identitasnya.

Bagaimana kelanjutannya???
YUKKKK GAS BACAAAA!!!

IG @LALA_SYALALA13
YT @NOVELLALAAA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu Paling Berpengaruh

Matahari baru saja naik di ufuk timur, namun bagi Elvano Gavian Narendra, hari sudah dimulai sejak empat jam yang lalu.

Di pusat kebugaran pribadinya yang berdinding kaca, Elvano melakukan deadlift dengan beban yang sanggup membuat pria biasa mengerang kesakitan.

Keringat membasahi kaos hitamnya, menonjolkan otot-otot punggung yang kokoh dan lengan yang penuh urat menonjol yaitu tanda dari disiplin diri yang sangat ekstrem.

Elvano bukan sekadar anak pemilik rumah sakit. Di usianya yang menginjak 30 tahun, ia telah menyandang gelar spesialis bedah toraks dan kardiovaskular. Ia adalah aset paling berharga di Narendra Hospital.

Namanya seringkali muncul di jurnal medis internasional, bukan karena koneksi ayahnya, melainkan karena tangannya yang dikenal sangat presisi dan dingin di meja operasi.

Selesai berlatih, Elvano melangkah menuju kamar mandi. Guyuran air dingin menghantam kulitnya yang tegap. Ia menatap pantulan dirinya di cermin yang beruap. Rambut hitam pekat yang selalu tertata rapi, alis tebal yang hampir selalu bertaut, dan sepasang mata elang yang seolah bisa menembus apa pun yang ia lihat. Wajahnya adalah perpaduan antara ketampanan aristokrat dan ketegasan militer. Namun, di balik itu semua, ada sebuah tembok besar yang ia bangun untuk menjauhkan semua orang.

"Satu hari lagi yang membosankan," gumamnya dengan suara bariton yang rendah.

Pukul delapan pagi, Elvano sudah berada di rumah sakit. Ia melangkah menyusuri koridor VIP dengan langkah lebar dan berwibawa.

Setiap perawat yang berpapasan dengannya otomatis menunduk hormat, sebagian dari mereka tidak bisa menyembunyikan rona merah di pipi saat melihat dokter paling tampan sekaligus paling ditakuti itu lewat.

"Dokter Elvano, laporan pasien di kamar 402 menunjukkan penurunan saturasi oksigen semalam," lapor seorang dokter residen yang mengekor di belakangnya dengan gugup.

Elvano tidak berhenti melangkah. Ia mengambil papan jalan dari tangan residen tersebut, membacanya sekilas dengan kecepatan luar biasa.

"Beri dia dosis tambahan furosemide dan pantau fungsi ginjalnya setiap dua jam. Jika dalam empat jam tidak ada perbaikan, siapkan ruang operasi. Dan satu lagi..." Elvano berhenti mendadak, membuat si residen hampir menabrak punggungnya.

Elvano berbalik, menatap tajam juniornya itu. "Kenapa laporan ini baru sampai ke tanganku sekarang? Apakah kamu menunggu pasien itu berhenti bernapas baru melapor?"

"Ma-maaf, Dok, semalam dokter jaga mengira..."

"Aku tidak butuh perkiraanmu. Di rumah sakit ini, kita bekerja dengan data, bukan asumsimu," potong Elvano dingin. "Perbaiki kinerjamu, atau jangan pernah masuk ke ruang operasiku lagi."

Tanpa menunggu jawaban, Elvano melanjutkan langkahnya. Ia dikenal sebagai Dokter Es bukan tanpa alasan.

Baginya, empati yang berlebihan hanya akan mengaburkan logika medis. Pasien butuh kesembuhan, bukan simpati yang tidak berguna.

Siang harinya, ketenangan Elvano terusik oleh sebuah panggilan telepon. Di layar ponselnya tertera nama Mama Zoya. Ia menghela napas panjang sebelum mengangkatnya.

^^^Elvano: [Ya, Ma?]^^^

Mama Zoya: [Elvano! Kenapa nadamu seperti sedang bicara dengan pasien?] suara wanita di seberang sana terdengar ceria namun menuntut.

Mama Zoya: [Jangan lupa, malam ini adalah anniversary ke-30 Narendra Hospital. Seluruh dewan komisaris akan hadir. Dan kau, sebagai wajah masa depan rumah sakit ini, tidak boleh terlambat.]

^^^Elvano: [Aku punya jadwal visit pasien malam ini, Ma.] ^^^

Elvano mencoba memberi alasan, meski ia tahu itu sia-sia.

Mama Zoya: [Bohong. Mama sudah mengecek jadwalmu pada sekretarismu. Kau kosong setelah pukul tujuh malam. Dan Elvano... Mama sudah mengundang putri dari keluarga Handoko. Dia cantik, lulusan manajemen bisnis dari London, dan dia sangat...]

^^^Elvano: [Ma, Aku datang untuk acara rumah sakit, bukan untuk mencari istri. Jika Mama terus memaksakan ini, aku tidak akan datang sama sekali.] potong Elvano dengan nada tegas.^^^

Mama Zoya: [Baiklah, baiklah! Dasar keras kepala,] keluh Mama Zoya.

Mama Zoya: [Tapi setidaknya pakai jas yang sudah Mama kirimkan ke apartemenmu. Jangan pakai jas putih doktermu itu ke pesta dansa!]

Elvano menutup telepon tanpa berpamitan. Ia memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Dunia medis yang penuh darah dan ketegangan baginya jauh lebih mudah dipahami daripada permainan politik keluarga dan perjodohan.

...****************...

Sementara itu, di sudut lain kota yang jauh lebih berisik dan berdebu, Ashela Safira sedang berjuang dengan rasa kantuknya di kantor logistik. Ia baru saja menyelesaikan laporan pengiriman barang saat ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat dari agen penyalur tenaga kerja paruh waktu masuk.

[Asha, posisi server untuk Gala Dinner di Hotel Grand Hyatt malam ini masih tersedia. Shift pukul 6 sore sampai 1 pagi. Gaji 1,5 juta plus tips kalau kamu beruntung. Mau ambil?]

Mata Ashela langsung membelalak. 1,5 juta untuk satu malam? Itu hampir setengah dari gaji bulanannya di supermarket. Tanpa berpikir dua kali, jemarinya yang lentik segera mengetik balasan.

^^^Ashela: [Saya ambil, Kak. Kirimkan detail seragam dan lokasinya.]^^^

Ashela menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang keras. Ia menghitung cepat dalam kepalanya. Uang itu bisa ia gunakan untuk membayar cicilan hutang bulan ini lebih awal, dan mungkin ia bisa menyisihkan sedikit untuk membeli sepatu baru.

Menjadi pelayan panggilan seperti ini sering Ashela lakukan yang sering kali gajinya lebih besar dari pada pekerjaan nya.

Sepatu kerjanya yang sekarang sudah sangat tipis solnya, bahkan ia bisa merasakan panasnya aspal jalanan saat berjalan kaki.

Ia tidak tahu apa itu Narendra Hospital atau siapa itu Elvano. Baginya, hotel bintang lima hanyalah sebuah gedung megah di mana orang-orang kaya membuang uang mereka, sementara ia berdiri di sana hanya untuk memastikan gelas-gelas mereka tetap terisi.

Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Hotel Grand Hyatt sudah dipenuhi oleh mobil-mobil mewah berplat nomor cantik.

Karpet merah membentang dari lobi hingga ke ballroom utama. Harum parfum mahal dan denting gelas kristal mulai memenuhi udara.

Elvano tiba dengan mobil Lamborghini hitamnya yang elegan. Ia keluar mengenakan jas hitam custom-made yang membungkus tubuh atletisnya dengan sempurna.

Setiap gerakannya memancarkan aura kekuasaan dan kemewahan yang tenang. Begitu ia memasuki ruangan, perhatian hampir seluruh tamu tertuju padanya.

"Dokter Elvano, selamat atas keberhasilan operasi transplantasi minggu lalu!" sapa seorang kolega.

Elvano hanya mengangguk sopan, memberikan senyum formal yang tidak sampai ke mata. Ia segera memisahkan diri ke sudut yang lebih sepi, mencoba menghindari kerumunan. Namun, matanya terus berpendar, merasa tidak nyaman dengan atmosfer yang begitu semu ini.

Di area persiapan pelayan, Ashela sedang sibuk mengancingkan kemeja putihnya. Ia mengenakan rompi hitam dan rok kain yang pas di tubuhnya. Rambutnya disanggul rapi ke atas, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih dan mulus. Tanpa riasan yang tebal, kecantikan alaminya justru terpancar dengan kuat.

"Ingat semuanya," instruksi kepala pelayan malam itu. "Tamu kita malam ini adalah orang-orang paling berpengaruh di negeri ini. Jangan ada kesalahan sedikit pun. Terutama untuk meja utama, di sana ada keluarga Narendra."

Ashela menarik napas dalam-dalam. "Keluarga Narendra," bisiknya pelan. Ia hanya berharap pekerjaannya cepat selesai agar ia bisa segera pulang dan tidur.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

1
Khansa Caca
ayolah cerita nya hanya disitu situ saja langsung ke pointnya Thor biar lebih seru 🤭🙏
Eliermswati
wah akhirnya leo bs ngobrol bareng ayahnya😍😍 smngt leo smg cpt smbh dan bs main lg😍😍 smngt thor up nya
4_amiraa_ Tadzkiyaa_
meleleh dehh leo ngobrol dg bapaknya.. bgmn perasaan ashilla ituuu.... whaaaa pasti terenyuh yaaa.... sukaaaaa semangat up thor😍💪🙏
elfanaya 💞
Sepertinya kamu belum sadar kalau itu anakmu el
Mita Paramita
seru banget 😁😁😁 lanjut Thor 🔥🔥🔥
Ari Atik
deg-segan banget,ikut tahan bafas...😊😊
semoga mereka bisa berkumpul bersama...
Ari Atik
sejauh ini,ceritanya menarik...

next...
4_amiraa_ Tadzkiyaa_
huhu bayangin alat2 n riuhnya r operasi... seru kaa👍🙏
🇧🇬
al udah deg2an kurang darah dan ketahuan! 🦖
chiara azmi fauziah
buat asela bahagia thor please
Nurilbasyaroh
mudah mudahan cepet ketahuan klo leo itu anak y
NN
lanjuttt
Deliz Diaz Dla FM B
Semangat ya
tia
lanjut thor
Wardi's
best bgt ka author..
Wardi's
omegat.. sampe deg2an bacanya...
NN
alur cerita bagus, lanjut thor
elief
lanjut thor💪
Tutuk Isnawati
bagus ceritanya
Lala_Syalala: Terima kasih atas dukungan nya kak, semoga suka sama ceritanya🙏🙏😊😊🤗🤗🤗🤗😍😍😍😍
total 1 replies
Asni Kenedy
lanjutttt
semangat othor💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!