NovelToon NovelToon
Hasrat Kumbang Sewaan

Hasrat Kumbang Sewaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Selingkuh
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Viaalatte

Di balik nama samaran “Romeo”, ada seseorang yang hidup dari hasrat orang lain.
Semuanya tampak sederhana—transaksi, waktu, dan kesepakatan tanpa perasaan. Dunia yang dingin, terukur, dan seharusnya tidak menyisakan apa-apa. Tapi semakin lama, batas antara peran dan diri sendiri mulai kabur.
Ketika satu pertemuan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit dari sekadar pekerjaan, “Romeo” mulai menyadari bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Ada perasaan yang tak seharusnya muncul. Ada masa lalu yang perlahan mengejar. Dan ada kenyataan yang memaksa dirinya melihat hidup dari sisi yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.
Di saat yang sama, kehidupan di luar peran itu mulai retak—membuka rahasia, luka lama, dan tanggung jawab yang tak bisa lagi dihindari.
Kini, ia harus memilih: tetap menjadi “Romeo” yang dibayar untuk memenuhi hasrat, atau kembali menjadi dirinya sendiri… dengan segala konsekuensi yang menunggu.
Karena tidak semua kumbang sewaan bisa terbang bebas setelah selesai bekerja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viaalatte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

BRAK!

Pintu kembali digedor keras sampai rumah kecil itu terasa bergetar.

Gilang langsung mengenali suara itu.

Saat pintu dibuka, seorang pria gempal penuh tato sudah berdiri di depan rumah bersama dua orang lainnya.

Wajahnya terlihat kasar seperti biasa.

“Wah, lengkap ya satu keluarga,” katanya sambil menyeringai.

Ibunya Gilang langsung terlihat tegang di kursi roda.

Pria itu melangkah sedikit maju. “Jangan harap lo bisa santai, Gilang.”

Gilang diam, rahangnya mengeras.

“Uang lima puluh juta kemarin?” pria itu tertawa pendek. “Itu bahkan nggak cukup buat bayar bunganya doang.”

Gilang langsung mendengus kasar. “Sebenarnya utang bapak gue itu berapa sih?!”

Pria bertato itu menyeringai kecil. “Delapan ratus juta. Udah sama bunga.”

“Gila…” Gilang langsung menatap tajam. “Bunga apaan bisa segede itu?”

Pria itu malah tertawa pendek. “Bayar hukum itu memang mahal.”

Suasana rumah langsung terasa makin tidak nyaman.

“Bapak lo dulu rela ngutang demi bebas dari penjara,” lanjutnya santai. “Tapi ujung-ujungnya mati juga.”

Sekar langsung menunduk, sementara Putri terlihat mulai takut.

Dan pria itu masih belum berhenti.

“Ingat ya,” katanya sambil menunjuk Gilang pelan. “Utang itu dibawa mati.”

Senyumnya makin tipis.

“Jadi mending lo bayar sekarang… daripada bapak lo menderita terus di alam sana.”

Ucapan itu langsung membuat Gilang hilang kesabaran.

“Tutup mulut kotor lo!” bentaknya.

BUGH!

Tinju Gilang langsung mendarat di wajah pria bertato itu sampai tubuhnya sedikit oleng ke samping.

Sekar langsung terkejut. “Kak!”

Suasana mendadak kacau.

Dua pria di belakang penagih utang itu langsung maju, sementara pria bertato tadi menyeka sudut bibirnya yang mulai berdarah.

Tapi anehnya,dia malah tertawa.

Pria bertato itu menyeka darah di sudut bibirnya pelan, lalu tertawa kecil seolah pukulan Gilang tadi tidak berarti apa-apa.

“Cuma segini?” ejeknya.

Tangan besarnya langsung mencengkeram kerah baju Gilang kasar sampai tubuh Gilang tertarik maju.

“Lo mau bayar nggak?” katanya rendah.

Gilang menatap tajam tanpa menjawab.

Tatapan pria itu kemudian bergeser ke arah Sekar.

Senyumnya berubah nakal.

“Kalau nggak…” katanya santai, “adik lo juga boleh.”

Rahang Gilang langsung mengeras makin kuat.

“Sialan lo…” desisnya sambil menepis tangan pria itu dari kerah bajunya.

Tangannya buru-buru mengambil ponsel dari saku.

Dengan napas yang mulai tidak beraturan, Gilang membuka aplikasi mobile banking lalu mentransfer sejumlah uang lagi saat itu juga.

Pria bertato tadi melirik nominal transfer itu, lalu tersenyum puas.

“Jangan pernah datang ke sini lagi,” kata Gilang dingin. “Nanti gue transfer sisanya.”

Pria itu tertawa kecil. “Nah gitu dong,” katanya santai. “Kalau dari tadi nurut, kan enak.”

Gilang menatap layar ponselnya beberapa detik setelah transfer berhasil.

Sisa saldonya langsung turun drastis.

Kurang dari dua puluh juta.

Ia menghembuskan napas pelan sambil memejamkan mata sebentar.

Uang transferan dari Valeria yang kemarin terasa besar itu ternyata habis begitu cepat.

Suasana rumah langsung berubah sunyi setelah orang-orang itu pergi.

Makanan di meja yang tadi terasa hangat sekarang seperti kehilangan rasanya.

Tidak ada yang benar-benar bicara.

Wildan menunduk sambil terus mengunyah pelan. Air matanya jatuh satu per satu ke piring, tapi ia tetap diam seolah berusaha tidak menangis.

Sementara Gilang hanya duduk di kursinya, menatap kosong ke meja makan tanpa benar-benar berselera lagi.

Setelah makan malam selesai, Gilang keluar rumah dan duduk di kursi panjang depan teras.

Malam sudah semakin sepi.

Ia hanya duduk diam sambil menatap langit gelap di atas sana.

Beberapa menit kemudian terdengar suara roda bergerak pelan.

Ibunya keluar dengan kursi rodanya lalu berhenti di dekat Gilang.

Tangannya terangkat, mengelus kepala anak laki-lakinya itu perlahan.

“Belum tidur, Nak?” tanyanya pelan.

Gilang tersenyum kecil lalu menggeleng. “Belum ngantuk, Bu.”

Ia menoleh pelan ke arah ibunya. “Kenapa Ibu belum istirahat?”

Ibunya tersenyum tipis sambil tetap mengusap rambut Gilang perlahan. “Ibu kepikiran kamu.”

Ibunya menatap Gilang lama sebelum akhirnya bicara pelan. “Anak semuda kamu harus kerja lebih keras dari orang lain.”

Gilang diam mendengarkan.

“Harusnya sekarang kamu masih dinafkahi orang tua,” lanjut ibunya lirih. “Tapi malah kamu yang cari uang buat ibu dan adik-adik.”

Gilang langsung menggeleng kecil. “Jangan ngomong begitu, Bu…”

Tapi ibunya hanya tersenyum tipis, meski matanya mulai terlihat berkaca-kaca.

Ibunya mengusap kepala Gilang sekali lagi lalu tersenyum pelan. “Apa pun pekerjaan kamu sekarang… Ibu cuma berharap semuanya berkah dan halal ya, Nak.”

Kalimat itu langsung membuat Gilang terdiam.

Tangannya perlahan mengepal di atas lutut.

Tatapannya turun, tidak sanggup langsung melihat wajah ibunya.

Tiba-tiba ponsel Gilang berdering.

Nama yang muncul di layar membuat wajahnya sedikit berubah.

Tante Jesica.

Gilang langsung mereject panggilan itu, lalu mematikan layar ponselnya begitu saja.

Ibunya memperhatikan sebentar. “Kenapa nggak diangkat?”

Gilang cepat menggeleng kecil. “Nggak penting, Bu. Cuma teman ngajak nongkrong.”

Ibunya mengangguk pelan tanpa curiga, sementara Gilang kembali menatap jalanan depan rumah dengan pikiran yang tidak tenang dedari tadi.

Deru motor memecah sunyi malam depan rumah Gilang.

Lampunya menyapu pagar bambu kecil rumah mereka sebelum akhirnya berhenti tepat di depan.

Gilang otomatis menoleh.

Seorang pria turun dari motor gede berwarna hitam. Jaket kulitnya gelap, sementara helm fullface masih menutupi wajahnya rapat.

Pria itu tidak langsung bicara.

Ia hanya berdiri diam beberapa detik di depan rumah Gilang.

1
hrarou
kasian gilang sayang 🥺
Viaalatte: huhu iya kak🥺, makasih sudah mampir🥰♥️
total 1 replies
Viaalatte
yok baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!