Keana Elvaretta percaya bahwa pisau bedah di tangannya bisa mengungkap kebenaran yang disembunyikan mayat, namun ia gagal mengungkap isi hati suaminya sendiri, Ghazali Mahendra. Menikah karena sebuah wasiat dan paksaan keadaan, Keana harus menerima kenyataan pahit bahwa ranjang pengantinnya hanyalah medan perang emosional yang dingin.Bagi Ghazali, seorang Jaksa Penuntut Umum yang ambisius dan memuja kesempurnaan, Keana hanyalah wanita "berbau formalin" yang merusak citra idealnya.
Di siang hari, mereka adalah rekan profesional yang bersinergi memecahkan kasus hukum dan forensik, namun di malam hari, mereka hanyalah dua orang asing yang berbagi luka di bawah satu selimut. Saat rahasia besar mulai terkuak dari sebuah meja otopsi, Keana menyadari bahwa dirinya selama ini hanyalah 'alamat yang salah' untuk cinta yang dikirimkan Ghazali. Mampukah Keana bertahan saat luka yang ia bedah setiap hari ternyata adalah hatinya sendiri?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Alamat Cinta yang Salah
Duniaku adalah ruang hampa udara yang dipenuhi aroma tajam campuran klorin, klorheksidin, dan molekul formaldehida yang menempel di setiap inci dinding porselen putih.Di sini, di bawah benderang lampu operasi shadowless yang menyilaukan, segalanya terasa jujur. Tidak ada kepura-puraan. Tidak ada kata-kata manis yang menyembunyikan belati. Hanya ada daging, tulang, dan kebenaran yang tertulis dalam jejak-jejak trauma tubuh.
Namun pagi ini, kebenaran itu terasa seperti racun yang merayap masuk ke pembuluh darahku.
Aku menatap lencana kecil berbentuk timbangan emas yang kini berada di ujung pinset anatomi yang kugenggam. Logam itu masih ternoda darah yang mulai mengering, mengubah warnanya menjadi merah kehitaman yang pekat. Ini adalah lencana identifikasi staf ahli Kejaksaan Agung. Dan pemiliknya kini terbujur kaku di depanku, menjadi subjek otopsi pertamaku setelah malam pernikahan yang hancur berantakan.
"Dokter? Anda berhenti bernapas selama sepuluh detik."
Suara Adrian, asistenku, memecah keheningan yang mencekam di ruang otopsi utama. Ia berdiri di seberang meja logam, matanya yang tersembunyi di balik kacamata pelindung menatapku penuh selidik. Adrian adalah orang yang sangat peka terhadap perubahan ritme kerjaku. Selama dua tahun kami bekerja bersama, ia jarang melihatku ragu.
"Aku hanya sedang menghitung interval post-mortem berdasarkan lebam mayatnya, Adrian," dustaku, suaraku terdengar datar dan profesional, meski jantungku berdentum keras menghantam rongga dada. "Lanjutkan pengambilan sampel cairan bola mata. Aku ingin data kadar kaliumnya untuk memastikan estimasi waktu kematian lebih akurat."
Aku kembali memfokuskan pandangan pada jenazah pria yang kini menjadi corpus delicti—tubuh kejahatan. Pria ini adalah staf ahli kepercayaan Ghazali. Aku pernah melihat fotonya di salah satu map berkas yang ditinggalkan Ghazali di meja kerjanya tadi malam. Berkas tentang korupsi pembangunan bendungan nasional yang melibatkan dana triliunan rupiah.
Semalam, Ghazali memaki profesiku. Ia menyebut tanganku kotor karena membedah sisa-sisa manusia yang menjijikkan. Namun sekarang, satu-satunya cara bagi suaminya yang angkuh itu untuk memenangkan kasus besarnya adalah melalui temuan dari tanganku yang "kotor" ini.
Ironi ini terasa seperti tawa hantu yang menggema di kepalaku.
Suara langkah kaki yang berat dan terburu-buru terdengar dari koridor luar. Pintu ganda ruang otopsi terbuka dengan sentakan kasar, membiarkan udara dari luar yang tidak steril merangsek masuk.
Ghazali Mahendra berdiri di sana.
Ia masih mengenakan setelan jas formal berwarna dongker yang sangat presisi, namun kali ini dasinya ditarik longgar dan rahangnya mengetat sedemikian rupa hingga aku bisa melihat otot-ototnya menonjol. Matanya yang tajam segera menyapu ruangan, berhenti tepat pada tubuh tanpa nyawa di atas meja logam, lalu beralih padaku.
"Keluar, Adrian. Aku perlu bicara dengan Dokter Keana. Sendirian," perintah Ghazali. Suaranya rendah, namun mengandung otoritas absolut yang tidak memberi celah untuk bantahan.
Adrian menoleh padaku, menunggu isyarat. Aku hanya mengangguk pelan. Setelah Adrian meletakkan instrumennya dan keluar, ruangan itu kembali jatuh ke dalam keheningan yang menyesakkan. Hanya suara dengung konstan dari mesin pendingin jenazah yang mengisi ruang hampa di antara kami.
Ghazali melangkah mendekat. Setiap derap pantofelnya di atas lantai ubin terasa seperti hitungan mundur ledakan emosional. Ia berhenti tepat di sisi meja otopsi, memisahkan kami dengan mayat stafnya sendiri sebagai barikade.
"Bau ini..." Ghazali memejamkan mata sejenak, hidungnya berkerut menunjukkan rasa muak yang sama seperti semalam. "Bagaimana kau bisa bertahan menghirup bau busuk dan kimia ini setiap hari, Keana?"
"Ini adalah bau pekerjaan yang kau butuhkan saat ini, Ghazali," jawabku tanpa menoleh, jemariku mulai memeriksa area leher jenazah untuk mencari tanda-tanda pencekikan atau petechiae. "Kenapa kau di sini? Prosedurnya adalah menunggu laporan Visum et Repertum di kantormu, bukan menyerbu ruang otopsi."
"Bram—pria di depanmu ini—adalah satu-satunya orang yang tahu di mana kunci enkripsi dokumen korupsi itu disembunyikan," Ghazali mengabaikan pertanyaanku, suaranya kini dipenuhi urgensi yang liar. "Dia dibunuh sebelum sempat menemuiku semalam. Jika bukti itu hilang, maka seluruh dakwaanku akan rontok di pengadilan minggu depan. Aku butuh apa pun yang dia tinggalkan, Keana. Apa pun."
Aku menghentikan gerakanku. Aku mengangkat wajah, menatap mata suamiku yang berkilat penuh ambisi. Di sana, aku tidak menemukan kekhawatiran atas nyawa manusia yang hilang. Yang kulihat hanyalah ketakutan akan kegagalan kariernya.
"Kau ingin aku mencari benda mati di dalam tubuh manusia, atau kau ingin aku menemukan penyebab kematiannya?" tanyaku getir.
"Aku tidak peduli bagaimana dia mati! Aku butuh bukti itu!" Ghazali memukul pinggiran meja logam dengan kepalan tangannya. Bunyinya berdenting keras, memantul di dinding-dinding ubin yang dingin. "Kau selalu membanggakan betapa telitinya kau membedah mayat. Sekarang, buktikan itu padaku. Cari apa pun yang tidak seharusnya ada di sana."
Aku menarik napas dalam-dalam, merasakan uap formalin yang menyengat di paru-paruku. Rasanya perih, namun perih ini jauh lebih bisa kutoleransi daripada kata-katanya.
"Silakan tunggu di luar satu meter dari meja ini jika kau memaksa tetap di sini, Mas," kataku, menggunakan panggilan formalitas yang terasa hambar di lidah. "Aku akan memulai prosedur insisi Y."
Aku mengambil pisau bedah nomor 10. Dengan gerakan yang sangat terlatih dan presisi, aku memulai sayatan dari kedua bahu, bertemu di tengah tulang dada, lalu meluncur lurus ke arah kemaluan. Kulit yang mendingin itu terbelah dengan suara robekan halus yang membuat Ghazali memalingkan wajahnya sejenak, meski ia segera memaksa dirinya untuk kembali menonton.
Duniaku berubah menjadi serangkaian observasi medis. Aku memeriksa lapisan adiposa, memotong tulang rawan iga menggunakan gergaji osilasi, dan mengekspos rongga dada.
"Tidak ada trauma internal yang signifikan di paru-paru," gumamku lebih kepada diriku sendiri. "Namun, lihat ini..."
Aku merogoh ke dalam rongga esofagus. Ada sesuatu yang mengganjal, sebuah anomali tekstur yang tidak seharusnya ada di saluran pencernaan bagian atas. Menggunakan klem panjang, aku menarik keluar sebuah benda kecil yang terbungkus plastik polimer kedap air.
Ghazali menahan napas. Matanya membelalak saat melihat benda itu.
"Micro-SD," desisnya. Ada binar kemenangan yang mendadak muncul di wajahnya, sebuah binar yang tidak pernah ia tunjukkan saat menatapku sebagai istrinya. "Bram menyembunyikannya dengan cara menelannya sebelum dia dieksekusi. Dia tahu mereka akan menggeledah pakaiannya, tapi tidak akan sempat membedah perutnya."
Aku membersihkan bungkusan plastik itu dengan larutan salin, lalu meletakkannya di atas nampan perak instrumen. "Secara medis, ini menyebabkan obstruksi jalan napas parsial sebelum ia ditusuk di bagian jantung. Ini tindakan nekat."
Ghazali segera mengulurkan tangannya untuk mengambil benda itu. "Berikan padaku."
Aku menarik nampan itu menjauh. "Tidak bisa, Ghazali. Ini adalah barang bukti tindak pidana. Sesuai prosedur Pasal 133 KUHAP, aku harus menyerahkannya kepada penyidik kepolisian, dalam hal ini Komisaris Herman, untuk dicatat dalam berita acara penyitaan."
Wajah Ghazali berubah merah padam. Agresi hukum yang biasa ia tunjukkan pada terdakwa kini ia arahkan sepenuhnya padaku. "Aku adalah Jaksa Penuntut Umum utama kasus ini! Aku adalah dominus litis, pemilik perkara ini! Aku berhak atas bukti itu lebih dari siapa pun di gedung ini!"
"Dan aku adalah Dokter Forensik yang melakukan pemeriksaan medis hukum, Ghazali," balasku dengan nada yang tak kalah tajam. Aku melepaskan sarung tangan lateksku dengan bunyi snap yang bergema. "Jika aku menyerahkannya langsung padamu tanpa prosedur rantai bukti yang sah, pengacara lawan akan mematikan bukti ini dalam sekejap karena dianggap cacat prosedur. Kau ingin menang di pengadilan, atau kau hanya ingin memuaskan egomu sekarang?"
Ghazali terdiam. Dadanya naik turun karena amarah yang tertahan. Ia menatapku seolah baru pertama kali melihatku—bukan sebagai wanita pesanan wasiat yang menjijikkan, tapi sebagai lawan bicara yang setara dan berani menentangnya.
"Kau benar-benar keras kepala, Keana," ucapnya dengan suara rendah yang mengancam.
"Aku hanya melakukan pekerjaanku. Sesuatu yang kau hina semalam sebagai 'darah kotor dan nanah pembusukan'," balasku telak.
Ghazali tertawa sinis, sebuah suara kering yang tidak mengandung kegembiraan. "Jangan merasa menang hanya karena kau menemukan kartu memori ini. Di dunia hukum yang sebenarnya, kau hanyalah saksi ahli yang keterangannya bisa kubeli atau kubuang sesukaku. Jangan pernah lupakan posisimu dalam keluarga Mahendra."
Ia berbalik, melangkah menuju pintu. Namun di ambang pintu, ia berhenti tanpa menoleh ke belakang.
"Ibu memintamu datang ke jamuan makan malam jam tujuh nanti. Jangan terlambat. Dan demi Tuhan, Keana... hilangkan bau ini dari kulitmu. Aku tidak ingin Maia merasa tidak nyaman karena harus menghirup aroma kamar mayat."
Deg.
Nama itu. Maia.
Lidahku mendadak kelu. Seluruh argumen profesional yang kubangun runtuh seketika saat nama mantan kekasihnya itu diucapkan dengan nada yang begitu protektif. Maia Anindita, pengacara brilian yang kabarnya akan menjadi lawan Ghazali di kasus bendungan ini. Wanita yang selalu wangi bunga mawar, wanita yang selalu bersih, wanita yang seharusnYa menjadi pemilik alamat cinta di hati Ghazali.
"Maia akan datang?" tanyaku, suaraku nyaris hilang.
"Dia pengacara utama dari pihak konsorsium bendungan. Tentu saja dia akan hadir untuk membicarakan negosiasi pra-peradilan dengan ibu," jawab Ghazali dingin. "Siapkan dirimu. Jangan memalukan aku di depannya."
Pintu tertutup dengan dentuman yang memekakkan telinga.
Aku berdiri mematung di samping jenazah Bram. Kakiku terasa lemas, seolah seluruh energi di tubuhku telah disedot habis. Aku menatap tanganku yang gemetar. Tangan yang baru saja membedah mayat untuk menyelamatkan karier pria yang bahkan tidak sudi menyebut namaku dengan cinta.
"Dokter?" Adrian masuk kembali, wajahnya penuh kekhawatiran. "Wajah Dokter pucat sekali. Apakah ada komplikasi pada jenazahnya?"
Aku menggeleng pelan, mencoba menelan pahit yang menggantung di kerongkongan. "Tidak, Adrian. Komplikasinya bukan pada jenazah ini. Tapi pada hidupku."
Aku menunduk, menatap kartu memori yang masih berada di atas nampan. Kartu itu menyimpan rahasia triliunan rupiah. Namun, tidak ada satu pun teknologi di dunia ini yang bisa menyimpan rahasia bagaimana cara membuat suamiku mencintaiku.
Aku adalah seorang ahli forensik. Aku bisa menentukan waktu kematian dengan margin kesalahan hanya beberapa jam. Aku bisa menebak jenis senjata hanya dari pola luka tusukan. Tapi aku benar-benar buta saat harus mendiagnosis kapan tepatnya harapan di hatiku ini mati.
"Adrian, selesaikan penjahitan luka insisinya," kataku sembari melangkah menuju wastafel. "Aku harus membersihkan diri. Sangat bersih."
Aku menyalakan kran air hingga maksimal. Aku mengguyur tanganku dengan sabun antiseptik dosis tinggi, menggosoknya hingga kulitku memerah dan perih. Aku ingin menghilangkan bau formalin ini. Aku ingin menghilangkan bau kematian ini. Tapi semakin keras aku menggosok, semakin kuat aroma itu seolah mengejekku.
Formalin ini adalah identitasku. Dan di mata Ghazali, identitas itu adalah sebuah kesalahan alamat.
Aku menatap cermin di atas wastafel. Wajah di sana tampak begitu asing. Gaun pengantin semalam sudah berganti jas lab putih yang kaku. Mata yang semalam menangis kini dipaksa untuk fokus pada mikroskop. Aku adalah wanita yang berdiri di antara dua luka: luka mayat yang kubedah untuk mencari keadilan, dan luka hatiku yang kubedah sendiri setiap kali Ghazali menyebut nama wanita lain.
Pukul enam sore nanti, aku harus berganti peran lagi. Dari dokter yang memegang kendali menjadi istri yang terabaikan di meja makan para orang asing. Aku harus duduk di sana, mencium aroma parfum mahal Maia, dan berpura-pura bahwa hatiku tidak sedang membusuk di bawah tawa mereka.
Aku mematikan kran air. Keheningan kembali meraja. Di ruang otopsi ini, mayat-mayat itu setidaknya punya jawaban atas penderitaan mereka. Sementara aku? Aku hanya punya pertanyaan yang tidak akan pernah dijawab oleh Ghazali.
Kenapa harus aku, jika hatimu masih miliknya?
Aku melangkah keluar dari ruangan, meninggalkan bau formalin dan kartu memori itu. Tapi saat aku berjalan di lorong rumah sakit, aku tahu pasti... bau itu tidak akan pernah benar-benar hilang. Ia sudah mendarah daging, sama seperti rasa sakit yang kini menjadi napasku.
baca part ini aku merinding
nunggu update selanjutnya kak😍